Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Gedung Sekolah Tahan Gempa ala Lego

Sekolah Indonesia membangun gedung sekolah di area terdampak gempa Lombok. Arsitekturnya berbasis sistem modular seperti mainan lego, sehingga waktu pengerjaannya sangat singkat. Bangunan kokoh dan tahan gempa.

Sebuah sekolah mungil berdiri di atas puing-puing reruntuhan sekolah yang rubuh digoyang gempa di Desa Kerandangan, Batulayar, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Hanya terdiri dari dua kelas saja. Masing-masing kelas berukuran 4,9 meter x 4,9 meter, dan mampu menampung 15 siswa. Istimewanya, sekolah yang dinamai Raudhatul Athfal (RA) Riyadlul Wardiyah -setingkat dengan taman kanak-kanak--ini dibangun hanya dalam tempo dua pekan. Sangat singkat. Umumnya, untuk mendirikan bangunan seukuran RA Riyadlul Wardiyah butuh waktu enam bulan.

Gedung baru sekolah RA Riyadlul Wardiyah ini merupakan bantuan dari Sekolah Indonesia, yakni program bantuan tanggap darurat pasca-bencana yang digagas Ikatan Alumni Arsitektur Fakultas Teknik UI (ILUNIArsUI), Ikatan Alumni Fakultas Teknik UI (ILUNI FTUI), FTUI dan Fusi Foundation. Rancangan Sekolah Indonesia dikerjakan oleh tim arsitektur FTUI yang dipimpin Prof. Yandi Andri Yatmo.

Selain sekolah RA Riyadlul Wardiyah, masih banyak bangunan sekolah yang juga hancur akibat bencana gempa Lombok. berkekuatan 7,0 skala richter, awal Agustus silam. Total ada 577 bangunan sekolah yang rusak akibat terdampak gempa. ''Sekolah Indonesia merupakan solusi untuk melakukan rekonstruksi bangunan sekolah pasca bencana dengan cepat di Lombok,'' kata Yandi saat ditemui GATRA di Gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis pekan lalu.

Menurut Yandi, jika harus menunggu sampai enam bulan untuk bisa mendapatkan bangunan sekolah baru, yang paling dirugikan adalah para siswa. Mereka terpaksa berlama-lama mengikuti proses belajar di tenda darurat, yang tentu saja kondisinya tidak nyaman. ''Makanya, perlu cepat-cepat dibangun gedung sekolah baru,'' Yandi melanjutkan.

Bangunan Sekolah Indonesia dapat dikerjakan dengan waktu singkat karena menerapkan desain berbasis sistem modular, yakni menggunakan komponen material hasil pabrikasi yang kemudian masing-masing kompenan disatukan. Tiap komponen material disusun sesuai dengan kebutuhan bangunan tersebut. ''Komponennya dipasang secara plug and play atau bisa diartikan bongkar-pasang layaknya permainan lego,'' Yandi menerangkan.

Karena menggunakan sistem moduler, pembangunannya dapat menyesuaikan dengan kebutuhan ruang, kondisi lapangan dan ketersedian material. Misalnya, jika dikemudian hari dibutuhkan ruang kelas yang lebih luas, tidak perlu mengubah total bangunan. Tapi cukup dengan menambah komponen yang diperlukan untuk memperluas ruang kelas. ''Jadi pembangunan sekolah ini fleksibel, sesuai dengan luas tanah, rombongan belajar dan konfigurasi ruang belajar yang mendukung dan permanen,'' kata Yandi.

Material komponennya adalah bahan bangunan yang mudah dibeli di pasar. Misalnya, tiang fondasi berupa rangka baja. Atapnya menggunakan rangka baja yang terbuat dari metal sheet. Sedangkan untuk dindingnya menggunakan glassfibre-reinforced concrete (GRC) board atau lebih dikenal dengan sebutan papan semen. Jika tidak ada GRC board, dindingnya dapat diganti dengan material lain, seperti kain terpal ataupun bilik bambu. ''Tapi kami tidak menyarankan mengganti komponen GRC board dengan tripleks, karena tripleks mudah rusak jika terkena air,'' kata Yandi.

Meski proses pembangunannya cukup singkat, Yandi mengklaim kekuatan bangunannya serupa dengan kekuatan bangunan yang dikerjakan dengan cara konvensional. Karena bangunan Sekolah Indonesia menggunakan material yang telah teruji kekuatannya dan mememuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). ''Untuk ketahanannya, usia bangunan ini bisa mencapai 30 tahun hingga 40 tahun, juga tahan gempa,'' ujar Prof. Paramita Atmodiwirjo, anggota tim perancang Sekolah Indonesia.

Karena dibuat untuk kondisi tanggap bencana, rancang bangun Sekolah Indonesia memiliki katalog komponen. Isi katalog itu memuat apa saja komponen yang dibutuhkan untuk mengerjakan bangunan Sekolah Indonesia. Misalnya, untuk membangun satu ruang kelas, dibutuhkan empat komponen dinding, satu komponen pintu, satu komponen jendela, dan satu komponen atap. ''Semakin banyak atau besar ruangan yang dibangun, semakin banyak komponen yang dibutuhkan,'' ujar Paramita.

Sujud Dwi Pratisto dan Riana Astuti

++++

Unit Satu Ruang Kelas
Komponen dinding + pintu + jendala ( masing-masing 1 )
Komponen dinding (3)
Komponen strktur dan perkerasan (1)
Komponen atap (1)

Unit Dua Ruang Kelas
Komponen dinding + pintu + jendala (2)
Komponen dinding + pintu (1)
Komponen dinding (4)
Komponen struktur dan perkerasan (2)
Komponen atap (2)

Paket Bangunan Sekolah

I. Sekolah Taman Kanak-Kanak
Tipe A :
Ruang Kelas (2)
Toilet (1)
Selasar (2)

Tipe B
Ruang kelas (4)
Ruang guru (1)
Toilet (2)
Ruang antara (1)
Kelas terbuka (1)
Selasar (7)

II. Sekolah Dasar
Tipe A :
Ruang kelas (5)
Ruang guru (1)
Selasar (5)

Tipe B :
Ruang kelas (6)
Ruang guru (1)
Laboratorium (1)
Toilet (2)
Ruang antara (3)
Kelas terbuka (1)
Selasar (7)

Tipe C :
Ruang kelas (6)
Ruang guru (1)
Laboratorium (1)
Toilet (2)
Ruang antara (3)
Kelas terbuka (1)
Perpustakaan (1)
Selasar (8)
Sistem Soal energy (1)
Sistem water harvesting (1)

Sumber: Tim perancang Sekolah Indonesia.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com