Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Impor Gandum, Beban Berat Neraca Dagang

Tata niaga impor gandum belum diatur, padahal angka impor terus meningkat. Pengganjal untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan. Rendahnya produksi jagung untuk pakan ternak turut mengerek impor gandum.

Ibarat di jalan tol, impor gandum dan tepung meslin melaju mulus. Bahkan, komoditas berkode HS (harmonized commodity) 1001.90 itu menjadi penyumbang terbesar defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) di sektor pangan. Bandingkan saja dengan komoditas beras, jagung, atau gula rafinasi. Impor sedikit saja, teriakan heboh langsung bermunculan di sana-sini.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sejak 2014, impor gandum dan tepung meslin terus meningkat. Pada 2014, nilai impornya sebesar US$729,7 juta. Pada 2015 mencapai US$1,45 milyar, 2016 sebesar US$ 2,87 milyar, dan pada 2017 mencapai US$3,5 milyar. Sepanjang Januari-September 2018, impor gandum dan meslin sudah menyentuh angka US$ 2,94miliar.

Hinga akhir 2018, impor gandum diprediksi melonjak. Apalagi, Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) telah menyepakati pembebasan bea masuk 500.000 ton gandum pangan Australia ke Indonesia. Akibat IA-CEPA ini, impor gandum bisa meningkat 7%.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang 2017, impor gandum mencapai 11,4 juta ton. Perinciannya 80% untuk kebutuhan pangan, sisanya untuk pakan ternak dan trader komoditas. Pada semester I tahun 2018, impor gandum sudah mencapai 4,59 juta ton.

Menurut peneiti Center of Reform on Economic (CORE), Dwi Andreas Santosa, persentase laju pertumbuhan gandum per tahun lebih dari 6%. ''Impor gandum kita sudah sangat tinggi. Importir tertinggi di dunia,'' katanya kepada Gaytra.

Menurut Dwi, proporsi gandum melebihi ambang batas 25% sebagai pangan pokok. Jika tidak direm, bukan tidak mungkin makanan pokok masyarakat Indonesia berubah dari beras menjadi terigu. Neraca perdagangan pun semakin defisit karena 100% gandum berasal dari luar negeri. ''Bagi saya, 25% saja, ini menjadi kondisi kritis,'' kata guru besar IPB itu.

Peningkatan permintaan gandum pakan turut mendompleng impor gandum. Penyebabnya, kata Dwi, karena ketersediaan jagung dalam negeri terbatas. Padahal, porsi jagung dalam komposisi ransum (pakan jadi), sebesar 55%. ''Jika ketersediaan jagung sedikit dan harga melonjak, substitusinya sebagai pakan, adalah gandum,'' katanya.

Menurut Dwi, dengan meningkatkan produksi jagung, pemerintah dapat memangkas impor gandum untuk pakan ternak. Ia justru mempertanyakan data Kementerian Pertanian yang menyatakan bahwa produksi jagung surplus. ''Maka, benahi data sehingga ketika kita putuskan sesuatu, apa yang kita putuskan itu tepat,'' katanya.

Dwi mengatakan, gandum telah menggantikan makanan pokok manusia dan hewan di Indonesia, yaitu beras dan jagung. Karena itu, katanya, jika impor gandum dihambat, impor beras yang justru meningkat. ''Pemerintah jadi dilematis. Karena di satu sisi, gandum membantu program pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras,'' katanya.

Berdasarkan data World Instant Noodles Association (WINA) per Mei 2018, konsumsi olahan terigu seperti mi instan di Indonesia pada 2017 mencapai 12,62 milyar bungkus atau nomor dua terbesar di dunia setelah Cina. Wajar saja, di tengah pelemahan rupiah, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) tetap panen untung dari penjualan mi instan. Total penjualannya mencapai Rp19,3 trilyun sepanjang Januari-September 2018.

Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat, Khudori, mengatakan bahwa konsumsi terigu per kapita sebanyak 24 kg dalam setahun. Ia memproyeksi impor gandum tahun ini sebesar 12 juta ton lebih, 3 juta lebih untuk pakan, dan sisanya untuk terigu.

Khudori menilai, pemerintah mengistimewakan impor gandum dibandingkan komoditas yang lain. Salah satu indikatornya, kata Khudori, pemerintah membebaskan bea masuk 500.000 ton gandum Australia ke Indonesia. Harga gandum pun semakin kompetitif dan akan diikuti dengan peningkatan permintaan. ''Sehingga ketergantungan kita terhadap impor gandum makin tinggi,'' katanya.

Untuk mengurangi impor, Khudori menyarankan pemerintah agar mengembangkan diversifikasi tepung terigu, seperti tepung mocaf (modified cassava flour) atau tepung olahan singkong, tepung pisang, tepung beras, sorgum, tepung ubi ungu, dan tapioka. ''Yang paling dekat dengan tepung terigu itu tepung mocaf. Tepung singkong yang dimodifikasi,'' ujarnya.

Menurut Khudori, pemerintah dapat mewajibkan perusahaan tepung menggantikan bahan baku dari gandum menjadi cassava. Jumlahnya, katanya, bisa dimulai dari 10%. ''Jika berjalan baik, pemerintah bisa menaikan yang 10% Itu dan penghematan devisanya pasti sangat besar,'' ujarnya.

Direktur Jenderal Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, mengakui bahwa impor gandum telah membebani neraca perdagangan. Hanya saja, defisitnya harus dikendalikan, bukan semua impor komoditas diatur terlalu ketat. ''(Gandum) dibutuhkan untuk bahan baku industri,'' ujarnya kepada GATRA.

Menurut Oke, adanya kesepakatan pembebasan bea masuk impor gandum antara Indonesia dan Australia karena sampai saat ini tata niaga impornya belum diatur. Seain itu, Indonesia bukanlah produsen gandum. ''Mungkin hal ini juga yang melandasi kesepakatan tersebut,'' katanya.

Menurut Oke, diversifikasi bahan baku terigu ini belum siap dilakukan di Indonesia. Pasalnya, dari perbandingan harga dan suplai, terigu lebih efisien. "Tidak mudah tentunya (diversifikasi). Coba tanya industri yang sudah berjalan. Apakah (produsen mie instan) sudah siap untuk mengonversi bahan bakunya seketika,'' katanya.

Hendry Roris P. Sianturi
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com