Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Capung Penindas Warganet Cina

Prototipe fitur mesin pencari buatan Google, Dragonfly, akan menempatkan warga Cina pada peningkatan risiko penindasan pemerintah. Google didesak untuk membatalkan proyek itu.

Google kini sedang menggarap mesin pencari untuk pengguna Android di Cina. Mesin pencari itu bakal dinamai Dragonfly atau Capung. Setelah menuai sejumlah protes dari pengguna Google, politisi, dan pegawai Google sendiri, kini prototipe Dragonfly semakin dikritik banyak kalangan di berbagai belahan dunia, terutama di Amerika Sendiri.

Badai kritik bermunculan, karena seperti diberitakan oleh theguardian.com pada Rabu, 19 September lalu, prototipe rahasia Google untuk Cina itu dilaporkan menautkan nomor ponsel pengguna ke istilah penelusuran yang telah mereka gunakan. Fitur tersebut akan memungkinkan Pemerintah Cina untuk mengaitkan pencarian dengan individu.

Menurut laporan The Intercept, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan para pegiat hak asasi manusia karena akan menempatkan warga Cina pada peningkatan risiko represi pemerintah jika mereka mencari topik yang dianggap pemerintah sensitif secara politis.

Prototipe mesin telusur Dragonfly pertama kali diungkap pada awal Agustus lalu oleh Intercept. Dragonfly dikatakan telah dikonseptualisasikan sebagai usaha patungan antara Google dan perusahaan yang berbasis di Cina. Keduanya akan memiliki kemampuan untuk memperbarui daftar kata-kata pencarian yang dilarang, yang dapat mencakup subjek yang diharapkan.

Menurut Intercept, kata-kata terlarang tersebut di antaranya adalah “hak asasi manusia” dan “protes mahasiswa” tetapi juga dapat memperpanjang ke istilah pencarian seperti “Hadiah Nobel”. Selain itu, beberapa outlet berita dan platform informasi seperti BBC dan Wikipedia akan diblokir, karena mesin pencarian tidak hanya akan menyasar teks yang dicurigai, namun juga gambar.

Sensor ketat pada mesin pencari tersebut merupakan kebijakan represif yang disebut oleh Human Rights Watch sebagai “serangan yang luas dan berkelanjutan terhadap hak asasi manusia” di bawah Presiden Cina Xi Jinping, yang menjabat sejak akhir 2012.

Kebebasan mendapatkan dan menyebarkan informasi di Cina masih sebatas mimpi. Apalagi setelah keluarnya undang-undang keamanan siber pada bulan Juni 2017. Di aturan terbaru tersebut ditambahkan soal pembatasan tambahan pada kebebasan internet, termasuk larangan menyebarkan berita tanpa izin di media sosial.

Menurut Freedom House. Sebuah lembaga think tank asal AS yang nonpartisan, sebelumnya pihak Apple telah menghapus lebih dari 600 aplikasi dari App Store, termasuk VPN yang digunakan untuk menghindari situs web yang diblokir oleh pemerintah. Hal itu dilakukan Apple atas alasan bisnis semata, yakni agar bisa masuk ke Cina.

Dalam kekuasaan Jinping, penguasa telah mempromosikan “kedaulatan siber”, yang mendorong negara-negara untuk mempertahankan kontrol atas bagaimana penduduknya menggunakan internet di dalam wilayah teritorialnya sendiri. Kebijakan tersebut bertentangan dengan internet terbuka dan gratis yang paling sering didukung oleh negara-negara demokratis, seperti inisiatif Koalisi Kebebasan Online.

Proyek Google bernama Dragonfly tersebut sangatlah ironis, karena sebelumnya Google telah digembar-gemborkan sebagai contoh keberanian perusahaan untuk menolak upaya Cina untuk menyensor mesin pencarian. Google, yang kini menghadapi kritik keras, termasuk secara internal, memilih untuk bergeming dan meneruskan proyek itu.

Beberapa karyawan Google memilih berhenti. Sementara itu, sekitar 1.400 karyawan menandatangani surat internal yang menuntut lebih banyak informasi dari Google mengenai keinginan perusahaan untuk kembali ke Cina.

Perkembangan yang meningkat belakangan ini terjadi setelah pengungkapan pada awal tahun ini yang berkaitan dengan pekerjaan Google untuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan Proyek Maven-nya. Proyek tersebut berambisi mengembangkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengumpulan dan analisis citra gambar yang dihasilkan drone.

Kontrak itu tidak diperbarui oleh Google setelah pengunduran diri beberapa karyawan dan tekanan serupa dari karyawan Google, setelah digembar-gemborkan sebagai contoh keberanian perusahaan karena menolak upaya Cina untuk menyensor pencarian dan sekarang harus menghadapi kritik keras.

Dalam sebuah pernyataan dari juru bicaranya, pihak Google mengatakan bahwa setiap laporan tentang mesin pencari baru di Cina masih terlalu dini atau prematur. “Kami telah berinvestasi selama bertahun-tahun untuk membantu pengguna Cina, mulai mengembangkan Android, dari aplikasi seluler seperti Google Translate dan File Go, serta development tools kami. Tetapi pekerjaan kami pada pencarian telah menjadi eksplorasi, dan kami tidak sedang dekat dengan peluncuran produk pencarian di Cina,” demikian bunyi pernyataan itu.

Pada pertemuan perusahaan pada bulan Agustus, CEO Google Sundar Pichai dilaporkan membuat pernyataan serupa. Hal itu terungkap dari orang-orang yang akrab dengan diskusi dan telah menyampaikannya kepada Bloomberg.

Seperti di banyak industri, menurut CNNIC, Cina merupakan pasar yang menggiurkan bagi Google karena negara ini memiliki 802 juta pengguna internet. Angka itu jauh lebih dari dua kali lipat dari jumlah pengguna internet gabungan di Amerika Serikat dan Inggris.

Sejak Proyek Dragonfly menjadi konsumsi publik, Google belum merilis rincian lebih lanjut. Sementara itu, surat terbuka dari 14 kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, terus mendesak untuk rincian lebih lanjut dan komitmen dari Google untuk “melindungi terhadap pelanggaran hak asasi manusia”.

Campuran ekspresi kekecewaan dan jijik pada laporan tentang Dragonfly, Sophie Richardson, direktur Human Rights Watch di Cina, mengatakan dia sedih melihat Google tidak hanya berjalan menjauh dari apa yang disebutnya sebagai “pendekatan berprinsip” pada 2010. Tetapi sekarang “meringkuk ke kanan” kepada Pemerintah Cina.

“Google harus bersikeras pada standar tertinggi yang mungkin,” katanya, daripada membantu Pemerintah Cina untuk membangun “perangkap tikus” yang lebih baik. Richardson mengemukakan mestinya Google mampu nelawan pertarungan yang baik dan berprinsip.

G.A. Guritno
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.5 / Tahun XXV / 29 Nov - 5 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Infoproduk
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com