Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LINGKUNGAN

Agar Dugong dan Lamun Lestari

Keberadaan dugong dan lamun terancam punah. Pemerintah luncurkan rencana aksi nasional (RAN) untuk penyelamatan. Berharap skema RAN bisa lebih efektif dan terarah.

Kulit tubuhnya berwarna putih, konstruksi fisik menyerupai sapi. Duyung atau dugong berbeda dengan ikan kebanyakan. Meskipun hidup di air, ia menyusui anaknya sehingga masuk dalam spesies mamalia. Bahkan, ia masih satu kerabat dengan gajah. Sayang, hewan eksotik dan unik itu kini terancam punah.

Bahkan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan dugong sebagai spesies hewan terancam punah. Bagian tubuhnya kerap diperdagangkan secara ilegal. Atas dasar itu juga, Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam (CITES) melarang perdagangan barang-barang produksi olahan hewan ini.

Namun, persoalan-persoalan tersebut bukan faktor tunggal yang mengancam keberlangsungan hidup dugong. Angka kelahiran yang rendah serta keberadaan parasit dan hewan pemangsa seperti ikan hiu, paus pembunuh, dan buaya juga ikut berkontribusi.

Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan, di Eropa populasi dugong punah sejak 1917. Setelah 13 tahun, datanglah penyakit yang menyerang lamun, sejenis rumput laut, sehingga tak ada satu pun lamun yang tumbuh di sana. Dari kejadian itu, ada benang merah keterkaitan antara dugong dan lamun. Ketika dugong punah, maka habitat lamun pun habis. Padahal, keberadaan dan manfaat lamun sendiri memang terbilang krusial bagi ekosistem perairan.

Di Indonesia, lamun banyak tersebar di wilayah pesisir yang belum banyak aktivitas manusia. Umumnya tumbuh di daerah pasang-surut dan sekitar pulau karang. Luas padang lamun di Indonesia saat ini sekitar 150.000 hektare atau 1.500 kilometer persegi. Dari jumlah itu, luas padang lamun di kawasan Indonesia bagian barat sekitar 4,4 hektare dan di kawasan Indonesia bagian Timur sekitar 146.300 hektare.

Karena laju kerusakan lamun berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman punahnya dugong, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya melakukan konservasi melalui Keputusan Menteri KP Nomor 79/Kepmen-KP/2018 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut Tahun 2018-2022.

Dengan RAN, pengelolaan konservasi dugong dan lamun akan merujuk pada dokumen yang ada di dalam RAN. Rujukan itulah yang akan digunakan pemerintah dan pihak lain yang terlibat dalam upaya penyelamatan. Termasuk lembaga nirlaba dan swasta.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Dirhamsyah, mengatakan dugong adalah hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, “Jadi dugong sama sekali tidak boleh diperjual-belikan dan memang populasinya sangat turun drastis,” kata Dirhamsyah kepada GATRA.

Meski demikian, Dirhamsyah melanjutkan, saat ini belum ada riset tentang populasi jumlah dugong di Indonesia. Pada 1970, LIPI pernah bekerja sama dengan peneliti dari Belanda menghitung jumlah dugong. Hasilnya ditemukan estimasi jumlah dugong di Indonesia sekitar 10.000 ekor. Akan tetapi, informasi yang ia peroleh dari paper peneliti di luar negeri populasi itu hanya tinggal sekitar 1.000 ekor pada 2002. “Bisa dibayangkan sekarang berapa?” ia mengungkapkan.

Dugong sendiri, berdasarkan catatan LIPI, hidup di laut tropis hingga subtropis. Ada sekitar 48 negara, termasuk Indonesia, yang menjadi habitat dugong. Di Indonesia, populasi dugong berada di Selat Lembeh (Sulawesi Utara), Kepulauan Biak Teluk Cendrawasih (Papua), Kepualauan Aru (Maluku), Flores, dan Alor (Nusa Tenggara Timur). Sementara itu, di wilayah barat ada di Bintan (Kepulauan Riau), yang berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Dugong rata-rata bisa hidup hingga usia 70 tahun. Di sisi lain, dia baru bisa melahirkan pada umur 6 tahun ke atas. Sementara itu, siklus kehamilannya 14 bulan dan hanya melahirkan satu anak. Kalau hanya melahirkan satu ekor dan dia menyusui kurang-lebih 2,5 tahun. “Lama sekali, kalau mati, ya sudah 2,5 tahun berikutnya baru dia bisa hamil, itu pun dengan catatan belum dirusak semua,” kata Dirhamsyah.

Sementara itu, lamun sebagai ekosistem tempat dugong makan dan bermain juga tidak begitu menarik bagi banyak lembaga untuk mengurusinya. Padahal, jika dilihat dari sisi ekosistem, terumbu karang dan lamun adalah satu kesatuan yang memiliki fungsi masing-masing. Sebagai contoh, di daerah pinggiran pantai ada mangrove, di tengahnya ada lamun dan di ujung pantai ada terumbu karang. Mangrove berfungsi untuk menahan sedimentasi dari darat dengan akarnya. Selanjutnya, lamun yang menyaring sedimentasi itu dan yang mendapatkan manfaat langsungnya adalah terumbu karang.

Untuk tahap awal, rencana aksi nasional penyelamatan dugong dan lamun akan fokus di empat lokasi, yakni Bintan (Kepualauan Riau), Kotawaringin (Kalimantan Barat), Alor (Nusa Tenggara Timur), dan Tolitoli (Sulaewesi Tengah). “Targetnya kalau ini sudah sukses kita bisa replika di beberapa daerah,” kata Dirhamnsyah.

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP, Andi Rusandi, mengatakan bahwa rencana aksi nasional penyelamatan duyung dan lamun yang diatur melalui Peraturan Menteri (Permen) KKP Nomor 79 Tahun 2018 terbit karena kedua spesies laut itu sudah terbilang langka. Bahkan, ia mengaku tak pernah melihatnya secara langsung. “Saya hanya lihat di internet saja,” katanya.

Karena itu, menurut Andi, tingkat urgensinya sudah semakin mendesak karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu ada dukungan masyarakat dan bersinergi dengan kementerian atau lembaga lainnya. Misalnya, untuk kawasan konservasi yang di kelola KLHK maka berkoordinasi dengan KLHK. Selanjutnya, RAN ini akan ada turunannya, yakni rencana aksi daerah (RAD). “Kini tinggal soal waktu saja, sambil sosialisasi RAN berjalan," ia menerangkan.

Sandika Prihatnala, Dara Purnama, dan M. Egi Fadliansyah

-----------Infografis -----------

Ciri Khas Dugong dan Lamun

Dugong (duyung)
Merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia dan satu-satunya satwa ordo Sirenia (sapi laut) yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pesisir laut.
- Berumur panjang, bisa hidup hingga 70 tahun
- Berukuran besar, panjang tubuhnya bisa mencapai 3 meter dan berat 450 kg
- Herbivora, satu-satunya mamalia pemakan lamun dan berperan menyeimbangkan ekosistem lamun
- Petualang, dapat ditemukan di cekungan sepanjang samudera hindia dan pasifik
- Kuat, mampu menahan napas dalam air hingga 12 menit sambil mencari makan dan berenang

Lamun
Tumbuhan berbunga yang tumbuh membentuk padang rumput (padang lamun) di dasar perairan pesisir yang dangkal
- Menyimpang lebih dari dua kali lipat CO2 (85 ribu ton/km2) yang disimpan hutan di darat
- Menyaring limbah dan menjaga kualitas air
- Menjadi rumah tinggal dan mencari makan bagi banyak biota laut
- Tersebar hanya 0,2 % dari seluruh perairan di Bumi
- Melindungi pantai dan area pesisir yang rentan abrasi
Sumber: Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com