Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Desa Para Empu Keris

Desa Aeng Tong Tong di Sumenep, Madura, terkenal sebagai pusat berkumpulnya para empu. Penetapan sebagai Desa Keris menjadikannya sebagai destinasi wisata khusus.

Sore itu, Ika Arista, 28 tahun, terlihat tekun memahat keris. Sesekali, ia melihat gambar yang dibuat sesuai dengan permintaan pemesan. Ika mendapat pesanan keris Mataram motif luk (lekuk) sembilan dengan "pamor junjung drajat".

"Mohon maaf, soal harga, tidak bisa diberitahukan karena ini keris ageman. Untuk yang lain, harganya biasanya Rp500.00o hingga Rp2 jutaan. Tergantung tingkat kerumitannya," kata Ika kepada GATRA.

Dalam dunia perkerisan, keris ageman (dari bahasa Jawa yang berarti pakaian) adalah keris yang lebih mengedepankan keindahan fisik. Keris semacam ini biasanya dipakai untuk acara-acara adat. Fungsinya terutama untuk aksesoris alias perhiasan si pemakai.

Ika adalah satu-satunya empu perempuan di Desa Aeng Tong Tong, sebuah desa yang dikenal sebagai sentra perajin keris. Desa ini terletak di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Saat mengunjungi desa itu, pada pekan lalu, GATRA mendengar suara dentuman yang berasal dari rumah-rumah warga. Bisa dibilang tak ada kebisingan lain, selain suara besi yang ditempa dan gemerisik suara mesin gerinda.

Terdapat tiga dusun di desa tersebut, yakni Duko, Endenah, dan Gendis. Di dukuh pertama itulah kebanyakan empu keris. Hampir seluruh penduduk di dukuh itu menjadi pembuat keris. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumenep pada 2014, terdapat 684 perajin keris. Dari jumlah itu, 85% di antaranya tinggal di Desa Aeng Tong Tong, selebihnya tersebar di desa tetangga.

Keunikan Desa Aeng Tong Tong tak hanya pada soal banyaknya empu, tetapi juga dari nama desa itu. Aeng Tong Tong tidak ada hubungannya dengan dunia perkerisan. Nama ini berasal dari kata 'aeng' yang berarti air, dan 'tong-tong' yang berarti menjinjing. Nama itu menggambarkan kondisi desa tersebut yang jarang ada sumber air. Bidang pertanian hampir tidak mungkin dilakukan. Para warga mendapatkan air dari luar wilayah mereka yang dibawa dengan cara menjinjing. Dari situlah asal mula nama Aeng Tong Tong.

Namun, kini, bagi Kabupaten Sumenep, keberadaan Desa Aeng Tong Tong menjadi berkah tersendiri. Pada Maret 2018 lalu, desa itu ditetapkan sebagai Desa Keris. Harapannya, Desa Aeng Tong Tong bisa menjadi destinasi wisata khusus.

Penetapan itu memang punya dampak positif. Menurut Kepala Urusan Perencanaan Desa Aeng Tong Tong, Robid Dhamiri, setelah ditetapkan Bupati Sumenep sebagai Desa Keris, Desa Aeng Tong Tong banyak dikunjungi wisatawan. Kebanyakan memang wisatawan domestik. "Mahasiswa juga banyak yang datang untuk melakukan penelitian," katanya.

Pada umumnya, perajin keris di Desa Aeng Tong Tong bekerja secara sendiri-sendiri. Mereka memanfaatkan teras, dapur, lahan di samping rumah masing-masing, sebagai tempat kerja.

Empu keris paling terkenal di desa ini adalah Murka'. Keris buatan empu Murka' sering menjadi juara dalam pameran keris. Karena itu, tak mengherankan bila dia diburu oleh para kolektor dari berbagai kawasan termasuk dari Eropa. Pada 2013, ia memperoleh penghargaan sebagai "Maestro Seni Tradisional" dari pemerintah. Sang maestro ini meninggal pada 2015, dalam usia 72 tahun.

Menurut putra kedua empu Murka', Larip Effendi, sebelum memulai proses pembuatan keris, ayahnya melakukan tirakat. Proses pembuatan kerisnya pun membutuhkan waktu yang lama, yakni 7-12 bulan. "Maklum, kerisnya bukan untuk komersial. Jadi, bukan keris sembarangan," katanya.

Sepeninggalan empu Murka', belum ada lagi empu keris di Aeng Tong Tong yang memiliki keahlian lengkap seperti empu Murka'. Meskipun demikian, tetap ada maestro lain yang bermunculan. Mereka antara lain empu Susanto, Niwari, dan Muhammad Anwar, yang masing-masing memiliki keahlian khusus.

Susanto memiliki piawai dalam hal bentuk dan motif keris, sehingga dikenal sebagai "empu lukis". Empu Niwari ahli dalam menghaluskan permukaan keris. Berdasarkan keahliannya itu ia mendapat julukan "empu serkel'. Adapaun empu Muhammad Anwar dikenal sebagai empu yang memiliki keahlian khusus membuat warangka alias pembungkus keris.

Saat ini, keris sebagai pusaka Indonesia telah mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang memiliki nilai filosofis yang tinggi. Nama Kabupaten Sumenep pun sudah tercatat di UNESCO. Berdasarkan pendataan pada 2012, dari seluruh wilayah Asia Tenggara, jumlah empu yang terbanyak ada di Sumenep, Madura.

Desa Aeng Tong Tong sebagai Desa Keris dipercaya bakal bertahan. Pasalnya, di desa tersebut, pembuatan keris merupakan tradisi yang berlangsung puluhan tahun. Bahkan menurut Robid, kerajinan keris menjadi mata pencaharian utama bagi warga desa itu. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak SMP-SMA pun menjadi perajin. Biasanya, sepulang sekolah, mereka membantu membuat keris. "Malam setelah ngaji, anak-anak itu melanjutkan membuat keris lagi," katanya.

Abdul Hady J.M.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.5 / Tahun XXV / 29 Nov - 5 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Infoproduk
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com