Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Syuci Indriani dan Pesan Pelatih

Syuci Indriani adalah atlet para-swimming masa depan Indonesia. Pada usia 17 tahun, ia memiliki segudang prestasi. Syuci menggondol empat medali sekaligus di ajang pararenang Asian Para Games pertengahan Oktober lalu. Ya, ia meraih dua medali emas untuk nomor renang 100 meter gaya dada SB 14 dan nomor 200 meter gaya ganti putri SM14.

Selain emas, Syuci mendapatkan satu medali perak dan satu perunggu. Medali perak untuk nomor 100 meter putri gaya kupu-kupu S14, sedangkan medali perunggu didapatnya pada 200 meter putri gaya bebas S14.

Panen medali tersebut melambungkan nama atlet kelahiran Riau, 28 Januari 2001, itu. Atas prestasinya itu Syuci mengucap syukur dan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya. ''Saya enggak nyangka dengan hasil keringat saya bisa mendapat empat medali di even Asian Para Games kemarin,'' kata dara manis itu kepada wartawan GATRA Andhika Dinata.

Syuci menyebut Ketua Umum National Paralyimpic Comittee (NPC) Indonesia Senny Marbun, Ketua Inapgoc Raja Sapta Oktohari, Menpora Imam Nahrawi, dan jajaran pelatihnya, sebagai sosok yang berperan penting mendukungnya berprestasi dalam ajang Asian Para Games lalu. ''Mereka sudah membesarkan nama saya dari awal Pelatnas 2013 sampai dengan sekarang,'' ujar Syuci sembari tersenyum.

Meski memiliki seabreg prestasi, Syuci tetap ingin menjadi sosok yang rendah hati. Ia teringat pesan pelatihnya agar tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak sombong. Kedua pelatihnya: Bhima Kautsar dan Dinda Ayu Sekartaji, melihat bakat istimewa pada diri atlet tunagrahita itu. Mereka menyatakan Syuci punya masa depan yang panjang untuk menjadi juara dunia. ''Saya selalu ingat kata pelatih, tetaplah rendah hati. Walaupun sudah sukses, jangan sampai rasa sombong itu ada dalam dirimu,'' ujarnya menirukan pesan pelatihnya.

Selain itu, pelatih juga menekankan kepada Syuci untuk tetap konsisten menjaga pola latihan dengan tidak mengurangi frekuensi dan intensitas. Yang tak kalah penting adalah pesan untuk selalu berbagi dengan banyak orang yang kesusahan. ''Pelatih juga bilang jangan lupa bersyukur kepada Allah yang memberikan kamu rezeki. Saya juga harus menjaga kesehatan dan pola makan,'' ucap Syuci.

Dengan keberhasilannya di ajang Asian Para Games 2018 lalu, Syuci berhak membawa pulang bonus dari pemerintah sebesar Rp3,75 milyar. Angan-angannya memberangkatkan orangtuanya umrah ke Tanah Suci terbayar sudah.

Selebihnya, Syuci akan memanfaatkan dana tersebut untuk investasi masa depan. Ia punya gagasan untuk membangun kolam renang atlet, kelak. ''Iya saya memang mau buat kolam renang untuk NPC. Biar nanti ada banyak generasi muda yang berpotensi menjadi atlet pararenang,'' ucapnya penuh semangat. Amin.

***

Haris Halim Setiadi dan Gawang Bambu

Perjuangan Haris Halim Setiadi untuk menjadi atlet andal tak segampang membalikkan telapak tangan. Atlet PB PASI di cabang lari gawang 110 meter itu mengenang proses panjangnya merintis karier di kancah atletik. Kala duduk di bangku sekolah dasar, ia kesengsem betul dengan olahraga voli. Namun, di daerah asalnya: Banyuwangi, Jawa Tengah, voli belum begitu berkembang. Saat itu pula lewat bimbingan sang ayah, ia banting setir ke cabang olahraga lain, yakni atletik.

Haris mulai tekun atletik sejak 2010. Nomor pertama yang dijajalnya adalah lompat jauh dan lompat jangkit. Dari lompat jangkit itu, karier atletiknya pun tumbuh dan berkembang. "Waktu SMP saya sempat mengikuti kejuaraan pelajar di Jember. Setelah beberapa bulan latihan saya menang juara 1 lompat jangkit sekabupaten," ucapnya kepada wartawan GATRA, Riana Astuti.

Tak cukup di situ, Haris beralih minat dari lompat jangkit ke lari gawang. Saat ia kelas 3 SMP, ayahnya melihat nomor lari gawang sepi peminat. Oleh sang ayah, Haris didorong untuk turun di nomor tersebut. Tapi, lagi-lagi kendala peralatan menjadi penghalang. Namun, Haris dan ayahnya tak kehilangan akal. Mereka lantas membikin sendiri peralatan latihan berupa gawang-gawang kecil yang terbuat dari bambu. "Saya dan ayah menggunakan uang pribadi untuk membuat gawang bambu. Waktu itu saya pikirkan dari gawang kecil [karier] saya bisa berkembang," katanya.

Gawang bambu yang sederhana itu menjadikan semangat Haris kian menggebu. Atlet berusia 20 tahun itu kian rajin mengikuti kejuaraan. Ia dibimbing oleh ayahnya yang juga mantan atlet. Haris menjajal nomor latihan yang berbeda-beda, mulai dari nomor 60 meter dan 100 meter.

Kegigihan usaha itu berbuah manis. Haris menjadi juara 2 pada kejuaraan atletik kala itu. Sejak saat itu, ia menjadi atlet binaan PB PASI di bawah naungan Ketua Umum PB PASI, Bob Hasan. "Impian saya memang menjadi atlet. Dari kakek, nenek, ayah, dan ibu saya atlet," katanya lagi.

***
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com