Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Beda Data Menuai Gaduh

Kebijakan impor beras kembali menimbulkan gaduh. Pemerintah memiliki perbedaan data soal beras. Menanti data pangan satu pintu dari BPS.

Di papan tulis glassboard ruang kerja Direktur Serealia Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto, terdapat guratan angka neraca beras nasional yang menunjukkan tingkat produksi cukup aman. ''Itu mengasumsikan kebutuhan beras per kapita sebesar 115 kilogram per tahun. Jika angka itu dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia kurang-lebih 260 juta jiwa, maka kebutuhan beras nasional sebesar 30 juta ton,'' kata Bambang.

Produksi beras nasional, Bambang melanjutkan, kini mencapai 48 juta ton lebih. Kalaupun ada kebutuhan untuk industri, permintaannya tidak melebihi 1% dari total konsumsi beras. ''Paling enggak ini cukup dan enggak perlu impor,'' ujar Bambang pada Selasa, 25 September lalu.

Hitungan sederhana itu rupanya tidak ampuh menahan laju impor beras. Hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Kementerian BUMN pada Maret lalu sepakat, Bulog harus mengimpor 2 juta ton beras tahun ini. ''Itu sudah keputusan di dalam rakor Menko,'' kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kepada GATRA.

Sebenarnya, seorang pejabat di Kementan mengatakan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman sudah memprotes rencana kebijakan impor beras di rakortas. Bahkan Amran pernah meninggalkan rapat sebelum selesai, karena usulnya tidak digubris. ''Izin 2 juta ton itu, kita enggak ikut-ikutan. Pada waktu pembahasan kan dissenting opinion. Pak Menteri sudah menolak,'' kata sumber GATRA tersebut.

Namun, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, data proyeksi produksi dari Kementan selalu meleset. Pasalnya, cadangan beras di gudang Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak pernah meningkat. Kalaupun stok beras Bulog saat ini mencapai 2,4 juta ton, itu karena disuplai dari beras impor sebesar 1,4 juta ton.

Darmin mengatakan, stok aman beras di gudang Bulog berada di kisaran 2 juta ton. Karena jika di bawah angka itu, Darmin khawatir harga beras berpotensi naik dan melebihi patokan harga eceran tertinggi. ''Jadi, saya agak heran bahwa yang diributkan impor, dihubungkan dengan gudang yang penuh. Itu penuh karena impor beras,'' kata Darmin.

Berdasarkan data Kementan, produksi beras nasional sebesar 47.196.006 ton pada 2017, sedangkan total konsumsi sebesar 34.279.182 ton. Maka pada tahun itu, neraca beras surplus mencapai 12.916.825 ton. Kalkulasi ini mengacu pada tingkat konsumsi beras, yaitu 124,89 kg/kapita/tahun.

Untuk 2018, masih berdasarkan ARAM I alias "angka ramalan satu" Kementan, produksi beras nasional mencapai 48.294.390 ton. Dengan rincian kualitas beras, premium 10%-20%, medium 79%-89%, sisanya kurang dari 1% adalah beras khusus. Sedangkan angka konsumsi beras, berdasarkan data Bappenas dan BPS (Badan Pusat Statistik), berkisar 114,6 kg/kapita/tahun atau sekitar 30 juta ton konsumsi nasional 2018.

Jika ditambah dengan kebutuhan pakan ternak, industri, dan faktor susut/ tercecer, maka total konsumsi beras 2018 berkisar 32 juta ton. Mengacu hasil produksi tahun ini, seharusnya beras nasional bisa surplus sebesar 16 juta ton lebih.

Menurut Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sumarjo Gatot Irianto, tren hasil produksi beras mengalami peningkatan sejak 2014. Menurut Sumarjo, peningkatan ini terjadi karena ada perluasan lahan sawah. Merujuk data BPS 2017, telah terjadi penambahan luas lahan sawah dari 2015 ke 2016 sebesar 99.000 hektare.

Sebaliknya, Kepala Staf Presiden Moeldoko pernah menilai produksi beras tidak mencukupi kebutuhan nasional. Karena, terjadi penyusutan lahan sebesar 24% secara wajar karena pembangunan. Lahan pertanian berkurang karena adanya pembangunan jalan tol, pembukaan kawasan industri, dan kawasan perumahan. Tapi Sumarjo berdalih, ''Konversi itu paling banyak terjadi di kota-kota besar.''

April lalu, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertahanan Nasional sudah menjelaskan, alih fungsi lahan sawah menjadi non-sawah secara empirik mencapai 150.000-200.000 hektare setiap tahun. Sementara itu, kemampuan maksimal membuat cetak sawah baru hanya sekitar 60.000 hektare setiap tahun.

Menurut Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Kementerian ATR Tanah, Budi Situmorang, potensi kehilangan lahan sawah sebesar 40.000 hektare dalam setahun. Apabila lahan sawah berkurang, ia menambahkan, maka akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional. ''Memang ada upaya pemerintah untuk mencetak sawah. Tapi itu tidak mengejar konversi yang terjadi,'' katanya.

Sumarjo kembali menjelaskan, penambahan lahan sawah bukan hanya dari program cetak sawah saja. Menurut Sumarjo, peningkatan lahan juga diperoleh dari konversi lahan perkebunan menjadi sawah non-irigasi. Pada 2016, sawah non-irigasi mencapai 3,40 juta hektare, atau meningkat sebesar 68.000 dari tahun 2015 yang sebesar 3,33 hektare.

Kementan juga melakukan inovasi untuk menggenjot produksi beras. Sumarjo mengatakan, Kementan telah melakukan program padi lahan kering, padi lahan suboptimal spesifik lokasi, dan pengembangan padi khusus, budi daya padi inbrida sawah, pengembangan budi daya padi rawa, dan pengembangan padi berbasis koorporasi. ''Jadi bukan dari sawah saja. Lahan kering juga kita optimalkan jadi padi,'' katanya.

Dengan data produksi beras surplus, Sumarjo geregetan melihat kebijakan impor beras yang dilakukan Kemendag. Pasalnya, gara-gara impor, harga gabah bisa anjlok. Akibatnya, penghasilan petani berkurang. Apalagi, rata-rata petani di Indonesia hanya memiliki lahan padi yang sempit, sekitar setengah hektare. ''Jadi dapatnya sedikit,'' ujarnya.

Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rusli Abdullah, menilai gaduh soal impor beras disebabkan karena tidak adanya data acuan yang pasti mengenai produksi dan konsumsi beras. Karena itu, Rusli meminta BPS agar segera mengeluarkan data terbaru.

Saat ini, BPS sedang menyelesaikan pengumpulan data dengan metode pencatatan yang lebih rinci, yakni kerangka sampel area (KSA). BPS bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi akan mengamati 192.000 titik di seluruh provinsi di Indonesia. Pengamatan menggunakan satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta aplikasi perangkat lunak yang akan memantau kondisi lahan pertanian secara berkala.

Selama menunggu data dari BPS, kata Rusli, Presiden Joko Widodo perlu turun tangan menjadi mediator kisruh impor beras. Tujuannya, agar tidak menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan petani. ''Pemerintah harus cepat bertindak dan jangan terlambat memutuskan. Harga beras naik karena pasokan enggak ada. Apabila impor terlalu banyak, harga juga bisa jatuh,'' katanya kepada wartawan GATRA Annisa Setya Hutami.

Hendry Roris Sianturi

++++

Produksi Gabah dan Beras Lima Tahun Terahir
2014 Gabah tersedia: 65.674.673 ton Produksi beras: 43.851.369 ton
2015 Gabah tersedia: 69.893.799 ton Produksi beras: 43.851.369 ton
2016 Gabah tersedia: 73.561.869 ton Produksi Beras: 46.152.717 ton
2017 Gabah Tersedia: 73.224.747 ton Produksi Beras: 47.196.006 ton
2018* Gabah tersedia: 76.975.438 ton Produksi Beras: 48.294.390 ton
*Diolah dari data Kementerian Pertanian dan *ARAM (Angka Ramalan) I BPS 2018 revisi 21 Agustus 2018

++++

Provinsi Penghasil Padi Terbesar 2018
1.Jawa Timur: 13.000.475 ton
2. Jawa Barat: 12.494.919 ton
3. Jawa Tengah: 11.401.821 ton
4. Sulawesi Selatan: 6.196.737 ton
5. Sumatera Utara: 5.423.154 ton
Sumber: ARAM I BPS Tahun 2018

++++

Luas Baku Lahan Sawah Nasional
2015 Sawah Irigasi: 4.751.091 hektar Sawah Non Irigasi: 3.336.302 hektar Total: 8.087.393 hektar
2016 Sawah Irigasi: 4.781.495 hektar Sawah Non Irigasi: 3.404.975 hektar Total: 8.186.470 hektar
Sumber: BPS

++++

Provinsi dengan Lahan Sawah Terluas 2016
1.Jawa Timur: 1.087.018 hektar
2.Jawa Tengah: 963.665 hektar
3.Jawa Barat: 913.976 hektar
4.Sulawesi Selatan: 649.190 hektar
5.Sumatera Selatan: 615.184 hektar
Sumber: BPS

++++

Prognosa Produksi dan Kebutuhan Beras Tahun 2018 (dalam ton)
Perkiraan kebutuhan beras Perkiraan Neraca Domestik (Bulanan) Perkiraan Neraca Kumulatif Bulan (Tahun 2018)
Ketersediaan Produksi beras Konsumsi langsung (rumah tangga) Konsumsi tidak langsung (Pakan, industri, dll)
Total 1 2 3 4 5=3+4 6 7=stok awal + 6 Stok Awal

978.536 Januari 2.329.985 2.130.640 390.489 2.521.129 -268.732 709.806 Februari 4.841.634 2.129.953 390.363 2.520.316 2.160.092 2.869.898 Maret 7.239.671 2.129.953 390.363 2.520.316 4.478.257 7.348.172 April 5.140.180 2.129.953 390.363 2.520.316 2.448.696 9.796.869 Mei 3.585.355 2.134.075 391.119 2.525.194 940.769 10.737.637 Juni 4.512.618 2.229.351 408.580 2.637.930 1.724.418 12.462.055 Juli 4.656.503 2.129.953 390.363 2.520.316 1.981.126 14.443.180 Agustus 4.193.526 2.131.670 390.678 2.522.348 1.531.534 15.974.714 September 3.592.545 2.129.953 390.363 2.520.316 952.597 16.927.312 Oktober 2.917.320 2.129.953 390.363 2.520.316 299.858 17.227.169 November 2.656.662 2.129.953 390.363 2.520.316 47.879 17.275.048 Desember 2.628.390 2.131.327 390.615 2.521.942 18.923 17.293.971 Sumber: Kementerian Pertanian

++++

Perkiraan Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Angka Tetap 2017
I. Produksi Gabah Kotor (Gabah Kering Giling/ GKG): 81.148.594 ton
II. Konsumsi Gabah: 5.923.847 ton dengan rincian, -Kebutuhan benih/ bibit (0,9%): 730.337 ton -Kebutuhan untuk pakan (0,44%): 357.054 ton -Bahan baku industri bukan makanan (0,56%): 454.432 ton -Tercecer (5,4%): 4.382.024 ton
III. Gabah Tersedia (GKG bersih): 75.224.747 ton
IV. Beras tersedia (62,74% dari Gabah bersih): 47.196.006
V.Konsumsi Beras: 34.279.182 ton dengan rincian, -Konsumsi langsung: 32.707.555 ton -Pakan ternak/ ungags (0,17%): 80.233 ton -Industri bukan makanan (0,66%): 311.494 ton -Susut/ tercecer (2,5%): 1.179.900 ton
VI. Neraca: 12.916.825 ton (surplus)
VII. Perkiraan jumlah Penduduk: 261.890.900 jiwa
VIII. Konsumsi beras per kapita kg per tahun: 124.89
Sumber: Kementerian Pertanian

++++

Perkiraan Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Beras Angka Ramalan (ARAM) I Tahun 2018
I. Produksi Gabah Kotor (Gabah Kering Giling/ GKG): 83.037.150 ton
II. Konsumsi Gabah: 6.061.712 ton dengan rincian, -Kebutuhan benih/ bibit (0,9%):747.334 ton -Kebutuhan untuk pakan (0,44%): 365.363 ton -Bahan baku industri bukan makanan (0,56%): 465.008 ton -Tercecer (5,4%): 4.484.006 ton
III. Gabah Tersedia (GKG bersih): 76.975.438 ton
IV. Beras tersedia (62,74% dari Gabah bersih): 48.294.390
V.Konsumsi Beras: 31.620.900 ton dengan rincian, -Konsumsi langsung: 30.012.697 ton -Pakan ternak/ ungags (0,17%): 82.100 ton -Industri bukan makanan (0,66%): 318.743 ton -Susut/ tercecer (2,5%): 1.207.360 ton
VI. Neraca: 16.673.490 ton (surplus) VII. Perkiraan jumlah Penduduk: 261.890.900 jiwa VIII. Konsumsi beras per kapita kg per tahun: 114,6
Sumber: Diolah dari data BPS dan Kementerian Pertanian
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.4 / Tahun XXV / 22 - 28 Nov 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com