Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Gelombang Otak Pengganti Remote Control

Para periset Samsung dan periset Swiss mengembangkan teknologi antarmuka komputer otak pengganti remote control televisi. Proyek riset yang dinamai Pontis ini diklaim membantu pasien lumpuh untuk menonton televisi.

Sejak televisi ditemukan pada 1884, teknologinya terus mengalami kemajuan. Bahkan dalam lima dekade terakhir, kemajuan teknologi yang disematkan pada televisi berkembang sangat revolusioner. Pabrikan pembuat televisi semakin sering menawarkan kecanggihan teknologo televisinya kepada konsumen untuk memenangi pangsa pasar.

Kejutan teranyar disampaikan oleh Samsung. Pada sebuah ajang Konferensi Pengembangan Samsung (SDC) di San Francisco dua pekan lalu, seperti diberitakan oleh CNet, raksasa teknologi asal ''Negeri Ginseng'' itu mengumumkan riset untuk televisi terbaru yang dinamai proyek Pontis. Teknologi unggulan yang akan disematkan pada televisi baru tersebut adalah sebuah televisi yang dapat dikendalikan oleh otak.

Proyek ini awalnya ditujukan untuk menolong para penyandang disabilitas yang karena keterbatasan fisiknya tidak bisa menggerakkan pengendali jauh alias remote control televisi. Dalam keterangannya, Samsung kini sedang mengembangkan perangkat lunak yang memungkinkan seseorang dengan keterbatasan gerak mampu mengontrol televisi tanpa perlu menggunakan remote control. Misalnya untuk pasien yang lumpuh seperti penderita quadriplegia, yang hanya bisa menggerakkan leher dan kepala -sementara tangannya tak bisa digerakkan.

Tak lama lagi, keinginan yang ada di otak individu akan bisa mengontrol fitur televisi, di antaranya memindahkan saluran sesuai dengan keinginan, memilih fitur-fitur yang ada di dalam televisi, dan melakukan kontrol volume serta kontrol lain yang ada di layar, layaknya memencet tombol remote control.

Perangkat yang saat ini terus dalam level uji coba itu masih berupa prototipe dan belum diproduksi secara massal. CNet melaporkan, prototipe tersebut berupa headset yang terdiri dari 64 sensor untuk mengumpulkan gelombang otak pengguna. Teknologi antarmuka komputer otak atau computer-brain interface (BCI) ini akan menghubungkan pengguna dengan televisi.

Selain memanfaatkan gelombang otak, dalam uji coba tersebut ditunjukkan pula bagaimana pengguna diminta untuk menatap perangkat pelacak mata yang telah dikembangkan oleh Samsung. Perangkat pelacak mata (eye tracker) ini akan melengkapi keseluruhan prototipe yang akan membantu pengguna memilih film yang tayang di televisi, sesuai dengan keinginan.

Saat ini, para periset mengambil sampel dan pola gelombang otak manusia untuk menentukan cara otak berpikir dalam mengambil tindakan, ketika orang tertarik menonton atau menghendaki sesuatu di televisi. Sistem yang dipakai adalah membaca sinyal dari gelombang otak untuk membuat asumsi, lalu dikonfirmasi melalui gerakan mata.

Tim periset Samsung kemudian mengombinasikan indikator dari lingkungan dan pemindai otak untuk membangun model. Setelah itu, model yang ada akan digabungkan dengan aplikasi dari teknologi machine learning (pembelajaran mesin) yang dibangun dengan menggunakan algoritma.

Kalau sudah jadi, sistem ini akan menggabungkan sensor pemantau otak dengan hardware pelacakan mata yang mampu mengidentifikasi pilihan, apa yang diinginkan pengguna. Untuk pengembangan ke depan, Samsung berambisi membuat sistem yang lebih cerdas, sebuah teknologi di mana mereka dapat menerima perintah hanya melalui gelombang otak.

Bayangkan, pengguna hanya perlu memikirkan untuk mengubah volume, maka sistem akan bertindak secara mandiri mengubah volume sesuai dengan keinginan yang ada di otak. Kemampuan ini tentu saja akan sangat membantu orang-orang dengan keterbatasan fisik.

Untuk proyek Pontis ini, Samsung melakukan kolaborasi dengan ilmuwan dari Swiss. Proyek dimulai sejak tiga bulan lalu melalui kemitraan dengan pusat neuroprosthetics dari Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Swiss. Klaim seorang ilmuwan yang masuk dalam pusat penelian itu mengatakan bahwa teknologi mereka lebih kompleks dan cerdas dibandingkan dengan teknologi yang pernah ada sebelumnya.

Jika sudah jadi, hasil proyek Pontis itu dapat digunakan dengan cara yang praktis dan mudah karena standarnya diperuntukkan khusus bagi penyandang disabilitas. ''Ini tentang bagaimana kami bisa menyediakan aksesibilitas kepada orang-orang yang tidak dapat bergerak atau memiliki keterbatasan ekstrem pada gerakan mereka,'' kata Ricardo Chavarriaga, seorang ilmuwan senior di EPFL yang tergabung di dalam Pontis.

Berdasarkan informasi sebelumnya, teknologi membaca keinginan orang dengan membaca dari gelombang otak ini akan disematkan pada smartphone. Akan tetapi, adopsi ke televisi yang memiliki layar lebih lebar dirasa akan lebih cepat terealisasikan. Pertimbangan lainnya, menurut Head of Public Affair Samsung Swiss, Martin Kathriner, televisi ada di setiap rumah dan diakses oleh banyak orang. Dalam pengembangannya, televisi dapat dimanfaatkan sebagai smart home hub, yang akan lebih menarik dan bermanfaat untuk aplikasi teknologi otak.

Purwarupa kedua perangkat proyek Pontis itu, menurut Samsung, akan muncul pada kuartal pertama 2019. Perangkat itu nantinya akan diujicobakan di sebuah rumah sakit yang ada di Swiss. ''Kami akan mulai mengeksplorasi bagaimana situasinya, kini prototipenya telah diketahui oleh para pasien,'' kata Kathriner.

Jika sudah sempurna, teknologi ini bukan saja akan membantu para penyandang keterbatasan fisik, namun bakal diminati oleh orang normal. Meskipun smartphone sudah banyak menyita waktu manusia, aktivitas mendapatkan hiburan di depan televisi akan sulit dihilangkan sepenuhnya. Karena itu, pengembangan teknologi para perangkat televisi menjadi salah satu yang tercepat di dunia.

Lihat saja revolusi kemajuan teknologi layar, dari liquid crystals display (LCD), TV plasma, organic light emitting diode (OLED), lalu televisi digital (DTV), dan TV resolusi tinggi (high definition TV -HDTV). Kemudian berkembang lagi dalam bentuk video resolusi ultra-tinggi (ultra-high definition video -UHDV) dan direct broadcast satellite TV (DBS).

Dari aspek konten muncul teknologi pay per view, televisi internet, web TV, video atas-permintaan (video on-demand -VOD), Gambar-dalam-gambar (picture-in-picture -PiP), auto channel preset, dan smart TV. Sementara itu, untuk perangkat pelengkapnya muncul teknologi cable CARD, pemprosesan cahaya digital (digital light processing -DLP), high-definition multimedia interface (HDMI), broadcast flag, sampai digital rights management (DRM).

Untuk urusan pengendalian televisi tanpa remote control, sekitar lima tahun lalu Samsung sudah mengenalkan seri F8000 dengan prosesor Quadcore. Keunggulan seri ini ada pada kenyamanan dalam melakukan navigasi berpindah-pindah aplikasi, layanan online dan on-air TV yang makin cepat tanpa gejala lag.

Samsung juga menyematkan fitur smart interaction yang memungkinkan pengguna mengatur setting tanpa memakai remote control. Pengguna hanya perlu menggerakkan tangannya di depan smart TV untuk perintah seperti membuka aplikasi, menggeser halaman atau melakukan zoom sebuah gambar.

Untuk memakai fitur smart interaction, pengguna harus memfungsikan sebuah pop-up camera di bagian atas televisi. Kamera ini berfungsi mengenali gerakan tangan pengguna. Selain motion control, pop-up camera juga dapat mengenali voice command dan juga face recognition.

Smart TV ini juga dibekali dengan intelligent picture viewing yang membuat kualitas gambar lebih optimal berdasarkan konten yang dipilih pengguna. Selain itu, kemampuan screen mirroring memungkinkan pengguna telepon pintar Samsung yang memiliki fitur all share cast menampilkan isi layar smartphone pada layar smart TV.

G.A. Guritno

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com