Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Ayo Budi Daya Ikan Bebas Risiko

Budi daya perikanan yang rentan kini lebih aman dengan skema asuransi. Memberikan kepastian usaha sekaligus meningkatkan inklusi keuangan yang ditargetkan mencapai 75% pada tahun depan.

Pembudi daya Ikan skala kecil kini bisa bernapas lebih lega. Budi daya perikanan yang biasanya penuh risiko kini lebih aman dengan hadirnya Asuransi Perikanan bagi Pembudi Daya Ikan Kecil (APPIK). Skema asuransi hasil kolaborasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini merupakan pengembangan dari Asuransi Usaha Budi Daya Udang (AUBU) yang dijalankan sejak Desember tahun lalu.

“Asuransi ini khusus untuk pembudi daya ikan kecil agar semakin terasa manfaatnya di masyarakat,” Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebijakto, mengungkapkan dalam peluncuran asuransi tersebut di Hotel Pullman, Jakarta, pekan lalu.

Slamet mengatakan, produk asuransi ini adalah langkah konkret KKP menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Khususnya, melindungi pembudi daya ikan skala kecil yang selama ini tidak terjamin. Risiko yang dilindungi APPIK sendiri merupakan area budi daya yang rusak akibat bencana alam dan wabah penyakit ikan yang berdasarkan hasil analisis risiko berpotensi menyebabkan gagal panen.

Ke depan, tidak menutup kemungkinan peruntukan asuransi akan diperluas. Kini, pihaknya mulai menyusun desain produk asuransi usaha pembudidayaan ikan untuk budi daya dengan teknologi semi maupun intensif.

Juru Bicara OJK, Sekar Putih Djarot, menyebut bahwa APPIK memberikan perlindungan dari bencana alam dan penyakit yang menyebabkan matinya komoditas ikan lebih dari atau sama dengan 50%. Bedanya, tahun lalu hanya komoditas udang sementara saat ini bertambang dengan komoditas lain seperti bandeng, nila, dan patin.

Lebih lanjut, luasan lahan yang ditetapkan pada APPIK sebesar 10.220 hektare, tersebar di 59 kabupaten/kota di Indonesia dengan pembudi daya sebanyak 6.914 orang. Nilai premi yang ditetapkan berkisar dari Rp90.000 hingga Rp225.000 per tahun, sesuai dengan luasan lahan. Adapun subsidi premi dari APBN sebesar Rp2,987 milyar. Selain itu, pembudi daya juga akan mendapatkan santunan apabila terjadi klaim dengan nilai maksimal per tahun mulai dari Rp1,5 juta sampai Rp 7,5 juta sesuai dengan satuan luasan lahan budi daya.

Misalnya, untuk seorang pembudi daya nila payau, dengan luas rata-rata kolam 1 hektare, premi yang didapat Rp150.000 per tahun dengan santunan maksimum mencapai Rp5 juta. Lain kondisinya dengan pembudi daya bandeng dengan luas lahan 1 hektare, premi yang didapat Rp90.000 dengan maksimum santunan Rp3 juta.

Dengan skema itu, OJK menilai akan memberi kepastian usaha bagi pembudi daya ikan kecil dan membantu peningkatan inklusi keuangan dengan target 75% pada 2019 atau naik 25% dibandingkan dengan capaian saat ini. “Dari sisi asuransi ini, kita perlu kerja keras,” ia mengungkapkan.

Sambil berjalan, ia berharap tahun depan asuransi ini akan menjangkau pemasaran produk yang lebih luas. Tidak hanya mengandalkan subsidi APBN melainkan juga meluncurkan produk asuransi perikanan yang mandiri.

Sandika Prihatnala, Aulia Putri Pandamsari, dan M. Egi Fadliansyah

***

Premi & Santunan Asuransi Perikanan Bagi Pembudi Daya Ikan Kecil

Ikan Patin

Dua siklus per tahun

Kolam rata-rata 250 meter persegi

Premi per siklus: Rp45.000

Premi per tahun: Rp90.000

Santunan per siklus: Rp1,5 juta

Maksimum santunan per tahun: Rp 3 juta

Nila Payau

Dua siklus per tahun

Kolam rata2 1 ha

Premi per siklus: Rp75.000

Premi per tahun: Rp150.000

Santunan per siklus : Rp2,5 juta

Maksimum santunan per tahun : Rp5 juta

Nila Tawar

Tiga siklus per tahun

Kolam rata-rata 200 meter persegi

Premi per siklus : Rp45.000

Premi per tahun : Rp135.000

Santunan per siklus : Rp1,5 juta

MKaksimum santunan per tahun : Rp4,5 juta

Bandeng

Dua siklus per tahun

Kolam rata2 1 ha

Premi per siklus : Rp45.000

Premi per tahun : Rp90.000

Santunan per siklus : Rp1,5 juta

Maksimum santunan per tahun : Rp3 juta

Polikultur

Tiga siklus per tahun

Kolam rata2 1 ha

Premi per siklus : Rp75.000

Premi per tahun : Rp225.000

Santunan per siklus : Rp2,5 juta

Maksimum santunan per tahun : Rp7,5 juta

Udang

Tiga siklus per tahun

Kolam rata2 1 ha

Premi per siklus : Rp75.000

Premi per tahun : Rp225.000

Santunan per siklus : Rp2,5 juta

Maksimum santunan per tahun : Rp7,5 juta

Sumber: OJK

-----------Infografis II ------------

Potensi Perikanan Budi Daya

Produksi 2017: 10,45 juta ton

Target produksi 2018: 24,08 juta ton

Pada 2019, tingkat konsumsi ikan diprediksi 50 kg per kapita, per orang

Pada 2019, 60% total kebutuhan ikan nasional dipasok dari perikanan budi daya

Sampai 2021, diperkirakan tingkat konsumsi ikan dunia per kapita 19,6 juta ton per tahun (FAO)

2030 diprediksi naik menjadi 22,5 juta ton per tahun

Kenaikan itu memacu peningkatan produksi perikanan budi daya hingga mencapai 172 juta ton

Sumber : KKP dan FAO (diolah)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com