Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Meraup Dolar dari Tanaman Hias Air Tawar

Punya modal keanekaragaman hayati tinggi, tanaman hias air Indonesia banyak dicari pasar. Jenis bucephalandra dihargai US$300 di Eropa. Bisa jadi potensi ekspor baru. Sayang, budi daya belum jalan. Mengandalkan ambil langsung dari alam.

Mendulang uang dari hobi. Itulah yang dialami Iwa Kusjiwa, 49 tahun. Ketua Komunitas Aquascape Karawang ini punya kios yang menjual berbagai peralatan aquascape. Banyak yang mengira aquascape ada kaitannya dengan budi daya ikan, padahal bukan. Di aquascape, ikan justru hanya pendamping. Fokusnya adalah kehadiran tanaman air, kayu, batu dan media tumbuh tanaman lainnya. “Ikan hanya mengisi aquascape maksimal 30% itu pun jenis ikannya sesuai fungsinya. Aquascape itu seni mendekorasi taman dalam air. Aquascape itu memang untuk tanaman,” kata pemilik kios D'LIMA Aquascape itu.

Bisnisnya tak sebatas jual-beli, Iwa juga menerima jasa dekorasi dan perawatan. Ia punya tim yang terdiri dari empat orang karena permintaan pasar cukup besar. Sebulan bisa ada 10 kali panggilan. Ongkosnya variatif, mulai Rp300.000 hingga Rp2 juta. Tergantung ukuran dan konsepnya.

Tanaman jadi unsur utama dalam aquascape. Selama ini, pemasok tanaman yang dijual Iwa berasal dari Bogor, Tanggerang, dan Jawa Timur. Untuk pemula, ia menyarankan untuk memilih cryptocoryne dan vallisneria. Perawatan mudah, harga juga murah. Melihat peluang bisnis tanaman hias air, Iwa menambah portofolio usahanya: pembudi daya tanaman.

Potensi ekonomi tanaman akuatik cukup menggiurkan. Booming tanaman air 2009-2010 di Indonesia menarik orang buat berdagang komoditas ini. Sayang, budi daya belum berkembang baik. Kebanyakan mengambil langsung dari alam. Tentu ini mengancam kelestarian tanaman. Seperti yang terjadi pada jenis bucephalandra.

Tanaman endemik Kalimantan banyak diburu, terutama oleh pehobi dari Eropa. Kementerian Kelautan telah mengindentifikasi 195 spesies dari ratusan famili buche. Tanaman ini diburu karena karakteristiknya kuat, tapi pertumbuhannya lama dan susah beranak. Lagi pula ini endemik yang hanya ada di Borneo.

“Harganya fantastis. Di Eropa sekitar US$300 untuk satu rhizome (rimpang). Di Jakarta pasarannya Rp50.000 hingga Rp500.000,” kata peneliti Balai Riset Budi Daya Ikan Hias (BRBIH) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Media Fitri Isma Nugraha.

Untuk mencegah degradasi spesies buche akibat pengambilan massal, KKP menggandeng Kementerian Pertanian (Kementan) untuk membudidayakan bucephalandra dan beberapa jenis lainnya yang potensial ekspor dengan teknik in-vitro untuk perbanyakan. Dengan memanfaatkan sifat totipotensi pada selnya, tanaman air dapat hidup di luar habitatnya dan dapat dipanen sebanyak yang diinginkan. Tanaman air juga tumbuh secara seragam serta bebas patogen. Sudah ada 222 item tanaman yang diekspor, di antaranya yang termasuk diminati adalah moss atau lumut, pakis, dan keladi air.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Pertanian, Kementan, Mastur, mengatakan bahwa kerja sama konservasi ini penting karena sumber daya genetik Indonesia bukan hanya harus dilestarikan, melainkan juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspor. "Tersedia bibit dalam jumlah banyak, tepat, seragam, dan bebas hama penyakit sehingga nilai ekspornya lebih tinggi lagi,” kata Mastur.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, Sjarief Widjaja, mengatakan baha kondisi geografis Indonesia membuat negara kita jadi laboratoium hidup sumber megabiodiversitas dunia.

Keanekaragaman tanaman hias air punya potensi ekonomi besar di level domestik ataupun ekspor. Bank Indonesia merilis data pada 2000-2004 nilai ekspor tanaman hias air Indonesia sebesar US$1.054.229. Pada 2006, nilai ekspornya sebesar US$676.404 dengan jumlah tanaman yang di ekspor sebanyak 882.149 jenis. “Kita belum mendata lagi [permintaan ekspor], tapi perkiraan kita sekitar US$1,2 juta per tahun karena sudah banyak peminat aquascape,” kata Sjarief.

Jenis tanaman akuatik yang potensial untuk dikembangkan karena permintaan ekspornya tinggi adalah anubias, cryptocoryne, cadaca dan moss (lumut). Menurutnya, pengembangan bisnis tanaman akuatik bisa digabungkan dengan jasa dekorasi aquascape. Pemerintah mendorong dari sisi produksinya dengan penyediaan bibit hasil budi daya, agar tidak mengeksploitasi habibat alami tanaman.

“Kalau dengan cara budi daya biasa, terlalu lama dan butuh lahan luas. Maka kita pilih kultur jaringan skala lab,” ujarnya.

Putri Kartika Utami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com