Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Silmy Karim & Komik Prancis-Belgia

Siapa sangka, pria berpenampilan maskulin dan pernah bergelut di bidang persenjataan ini ternyata kolektor komik anak-anak. Silmy Karim mengaku hobi membaca komik sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Bagi Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. ini, membaca komik memberi kesenangan tersendiri. Saking cintanya, Silmy ogah meminjamkan komiknya ke orang lain.

Silmy punya berbagai judul koleksi komik karya sejumlah penulis komik asal Prancis-Belgia. Komik-komik tersebut dikumpulkannya sejak tahun 1980-an. Beberapa judul komik yang ada di rak bukunya di antaranya Petualangan Tintin, Asterix, Johan Pirlouit, Nina, dan Tanguy-Laverdure. Judul terakhir menjadi komik favorit Silmy. “Untuk yang sampai tahun 1992-an, saya lengkap (koleksi komik Tanguy-Laverdure),” katanya kepada Hendry Roris Sianturi dari GATRA, Senin pekan lalu.

Dulu di saat usia anak-anak, ungkap Silmy, ia sangat ingin membeli komik, namun karena tak punya uang, ia harus memutar otak agar bisa membaca komik. Biasanya, Silmy kecil mendatangi toko buku yang menjual komik favoritnya. Alih-alih membeli buku komik, Silmy membaca komik edisi terbaru di toko tersebut. “Dulu waktu kecil bisa dua sampai tiga komik selesai dibaca sehari. Kadang minjam juga,” katanya.

Sekarang, intensitas baca komiknya mulai menurun karena rutinitas pekerjaan. Kalaupun punya waktu, pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 19 November 1974, ini membaca komik sambil menyaksikan televisi. “Bacanya tidak seperti dulu. Kadang bacanya nonton TV sambil ngemil juga,” ujar eks Direktur Utama PT Pindad ini.

Silmy enggan mengkoleksi komik Jepang. Menurut Silmy, membaca komik Prancis-Belgia lebih menyenangkan daripada komik Jepang, selain urusan selera juga karena ukuran kertasnya lebih besar. “Koleksi saya lebih banyak era komik Prancis-Belgia,” katanya.

***

Saffan & Menghargai Pelatih

Atlet Sapwaturrahman Sanapiah kini menjadi role model pelatihan atletik di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sejak November. Bersama dengan rekan sejawatnya sprinter Lalu Muhammad Zohri, Sapwaturrahman memberikan porsi latihan untuk para atlet lokal. Proses pelatihan yang digagas oleh Pelatnas PB PASI itu juga mendatangkan coach senior Harry Marra.

Tentang pelatihan itu, Saffwan, sapaan akrabnya, mempraktekkan ragam teknik yang diberikan Harry Mara. Dasar latihan yang diajarkan kepada para atlet yakni teknik berlari serta penempatan posisi tangan dan kaki. Namun dasar berlatih tak melulu soal teknis dan keahlian. Dalam sesi latihan tersebut, pelatih kawakan asal Amerika Serikat itu menanamkan kepada para atlet untuk menghargai pelatih.

Pesan dari Harry Mara diingat betul oleh pemuda kelahiran Brang Biji, Sumbawa, itu. "Meskipun mereka agak kesulitan komunikasi dalam bahasa asing dengan coach Harry Mara, mereka tetap antusias dan mau berusaha," kata Saffwan kepada wartawan GATRA Annisa Setya Hutami.

Saffwan menekankan kepada para juniornya untuk tidak mengabaikan pesan serta hormat pada pelatih dalam setiap keadaan. Itu menurutnya menjadi resep keberhasilan. "Coach juga menyampaikan nasihat bahwa menjadi seorang atlet harus selalu fokus pada teknik, percaya diri, serta menghargai pelatih," ungkapnya.

Pemuda 24 tahun itu percaya dengan adanya proses pelatihan yang berkesinambungan bukan tidak mungkin akan lahir atlet lokal yang akan mengharumkan nama bangsa. Saffwan yakin sejumlah atlet yang menjalani rangkaian latihan di "Pulau Seribu Masjid" itu memiliki masa depan cerah karena didukung fisik yang prima serta kekuatan tungkai yang baik.

"Dengan adanya kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka. Mereka jadi sangat semangat dan saya juga ikut semangat. Pesan saya sama seperti coach Harry Mara, yaitu tetap fokus berlatih," kata atlet peraih medali perunggu lompat jauh pada ajang Asian Games 2018 tersebut.

***

Joko Kuncoro Adi & Cita-Cita Jaksa

Joko Kuncoro Adi ternyata seorang atlet menaruh minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Seiring dengan aktivitasannya berlatih di lintasan, sprinter spesialis nomor lari 100 meter dan 200 meter ini juga rajin kuliah. Sampai saat ini, Adi tercatat sebagai mahasiswa semester 5 di Fakultas Hukum, Universitas Airlangga Surabaya.

Pofesinya sebagai atlet yang juga mahasiswa mengharuskan Adi pandai-pandai membagi waktu. Pada Desember ini, misalnya, ia harus fokus di sesi latihan pelatnas PB PASI untuk kejuaraan Asean University Games di Myamnar. Di kejuaraan itu, Adi memasang target emas di setiap nomor yang dikutinya. Agar bisa konsentrasi pelatnas, ia berencana mengambil cuti kuliah.

''Nanti ketika ujian akhir semester, saya izin minta dispensasi dulu sama pelatih. Semester depan saya baru cuti," ujarnya kepada Dara Purnama dari GATRA.

Bagi atlet berusia 21 tahun itu, atletik sudah mendarah daging. Sejak kecil, Adi sudah mengenal dunia atletik. Ia bahkan sering diajak latihan oleh kakak kandungnya, Lucya Febrianti, atlet lompat tinggi. Saat di bangku SMA, ia mulai menjajal kemampuan melalui ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan masuk tim Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). "Dapat reward dapat uang karena menang. Saya senang karena [lomba] dapat uang tambahan. Ini membuat saya semakin semangat latihan," katanya, mengenang.

Ada sederet prestasi yang diukir Adi. Ia menjadi juara 3 Kejurnas Junior nomor 200 meter pada 2016. Pada Kejurnas Senior untuk nomor estafer 4x100 meter pada 2017 dan 2018 prestasinya menanjak dengan meraih juara 1 . "Karena saya turun tim, kebersamaan dalam tim menjadi hal yang tidak bisa saya lupakan. Teman-teman saling support untuk kemajuan bersama," katanya.

Berkah dari prestasi gemilangnya itu, pada penghujung Oktober lalu, Adi kembali dipanggil untuk latihan di pelatnas tahun ini. Ia berharap mampu mendulang prestasi tanpa mengabaikan dunia pendidikan hingga mengapai cita-citanya menjadi seorang jaksa. "Saya berharap bisa sukses di kedua bidang dan membanggakan keluarga saya kelak," kata Adi.

***

Mamat Alkatiri & Budaya Papua Lewat Stand Up

Sebelumnya, Mamat Alkatiri mengaku sempat terseok-seok meniti karier. Komika asal Papua itu bahkan harus rela meninggalkan cita-citanya menjadi seorang dokter gigi. Ia tercatat sebagai mahasiwa di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

Pria bernama lengkap Mohammed Yusran Alkatiri tersebut awalnya hanya coba-coba. Ia melihat rekannya Ari Kriting, yang notabene juga berasal dari Indonesia timur, berhasil meniti karier di industri hiburan Tanah Air. “Sukanya tuh pas tahun 2012 nonton Ari Kriting di TV. Ternyata ada orang Indonesia timur yang nongol lewat stand up comedy,” ujarnya kepada wartawan GATRA Wanto. Berikut cerita utuhnya:

Bagaimana awal perjalanan karier sebagai komika?

Waktu itu saya ikutan audisi tapi enggak dapat golden ticket. Tahun selanjutnya saya coba lagi dan dapat, tapi sayangnya enggak ditelepon. Baru pada 2016 saya lolos audisi, dapat tiket, serta menjadi runner up. Rasanya di atas panggung tuh deg-degan takut kalau enggak lucu.

Bagaimana studi Anda setelah berhasil masuk ke dunia lawak?

Kalau kuliah sekarang masih tertunda di UMY. Sekarang lebih banyak di Jakarta. Kan job-nya banyak di sini. Alhamdulillah job terus ada.

Ada sesuatu yang Anda perjuangkan lewat stand up comedy?

Jujur saja di Kabupaten Fakfak tempat saya berasal, bahasa serta kebudayaan di sana sudah mulai luntur. Ada modernisasi serta transmigrasi pada era Presiden Soeharto dulu. Biasanya kalau di atas panggung tema utamanya adalah Papua, karena dari sana saya berasal. Apa yang ada dipikiran saya langsung dikeluarkan. Kan temanya banyak.

Bagaimana kalau ada yang kasih job tapi dana minim? Apa mau?

Kalau masalah royalty enggak boleh disebar ya, ha, ha, ha.... Tapi kalau ada acara bernuansa Papua, saya siap tidak bayar. Tapi harus jelas acaranya apa? Biasanya ada mahasiswa Papua di kampus-kampus buat acara.

Apa pesan untuk remaja Papua agar sukses?

Saya awalnya ngejar gelar dokter gigi, malah terjun di dunia stand up comedy. Mungkin memang di sini dunia saya. Program studi tinggal dua tahun lagi, kalau enggak selesai di-DO. Pesan saya kepada remaja Papua coba saja peruntungan dan terus berusaha. Tidak ada yang tahu masa depan.

Cover Majalah GATRA edisi No.7 / Tahun XXV / 13 - 19 Des 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com