Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Penantang Baru YouTube

Instagram masih belum mengungkapkan rencana monetisasi konten di IGTV. Banyak potensi yang bisa digali dan tingkatkan, seperti berpromosi, membangun merek dan pencitraan.

Sejak diluncurkan di sebuah acara di San Francisco, Amerika Serikat, Rabu, 20 Juni lalu, IGTV (Instagram televisi) langsung menyedot perhatian pengguna Instagram. Co-founder dan CEO Instagram, Kevin Systrom, memenuhi janjinya untuk meluncurkan secara global aplikasi anyar tersebut pada ponsel berbasis Android dan iOS tidak lebih dari sepekan. Dalam postingan-nya, Systrom mengatakan bahwa IGTV merupakan aplikasi baru untuk menonton video vertikal berdurasi panjang dari para pembuat Instagram.

Meski ada aplikasi IGTV yang berdiri sendiri, pengguna dapat menonton dari dalam aplikasi Instagram karena sudah terhubung dan tinggal menekan ikon-nya. Langkah ini membuat seluruh komunitas yang berjumlah satu milyaran dapat menggunakannya dari awal. Sejak diluncurkan pada 2010, dan video di Instagram lima tahun lalu, kini populasi penguna Instagram yang besar tampaknya menjadi alasan IGTV lahir.

Pasar pengguna sudah jelas, kini tantangan terbesarnya adalah apakah platform yang dibangun IGTV benar-benar mampu menggaet penggunanya. Systrom menyodorkan beberapa potensi dari IGTV. Pertama, bagaimana pengguna ponsel dapat mengeksplorasi video layar penuh dan vertikal. IGTV dibuat untuk menampilkan video sesuai dengan cara pengguna memegang ponsel, vertikal dan layar penuh.

Kedua, berbeda dari IG Stories yang dibatasi hanya satu menit, IGTV memberikan keleluasaan durasi hingga satu jam. Ketiga, dari segi tampilan diupayakan sederhana. Layaknya televisi, IGTV bisa langsung diputar begitu aplikasi dibuka. Pengguna bisa mulai menonton konten ciptaan orang-orang yang diikuti dan diminati di Instagram.

Bisa dikata, IGTV simpel dan intuitif karena diputar segera setelah pengguna membuka aplikasi. Pengguna tidak harus mencari atau menjelajah untuk memulai. Selain itu, sangat mudah untuk menjalankan beberapa fungsi sekaligus.

Fitur yang disediakan dengan menggeser ke atas untuk menemukan lebih banyak dan beralih ke ''Untuk Anda,'' ''Mengikuti,'' ''Populer,'' dan ''Terus Menonton.'' Pengguna secara interaktif juga dapat menyatakan menyukai, berkomentar, dan mengirim video kepada teman-teman secara langsung.

Ada embel-embel kata TV dalam IGTV. Ini seperti lazimnya televisi memiliki beberapa saluran (channel), IGTV pun juga punya saluran dengan pencipta atau kreator sebagai salurannya. Ketika seseorang mengikuti pembuat konten di Instagram, saluran IGTV mereka pun akan muncul untuk bisa ditonton.

Dan, siapa pun dapat menjadi pembuat atau kreator konten. Ia dapat mengunggah video di aplikasi IGTV-nya atau di web untuk memulai sebuah saluran TV milik sendiri. Systrom mengklaim, IGTV memulai babak baru video di Instagram. Ia berharap setiap harinya Instagram selalu bisa menjadi tempat untuk terhubung dengan orang-orang yang menginspirasi, mendidik, dan menghibur.

Keluarnya IGTV, menurut hasil riset Instragram, berpijak pada fakta bahwa orang saat ini mulai jarang menonton TV. Mereka lebih sering menonton video digital dari ponsel pintar (smartphone). Komposisinya 40% berbanding 60%. Pada 2021, video seluler akan menyumbang 78% dari total lalu lintas data seluler.

Selain itu, para pemirsa muda menghabiskan lebih banyak waktunya dengan hasil karya pembuat atau kreator konten amatir. Kaum milenial ini, klaim Instagram, lebih sedikit berhubungan dengan kreator profesional.

Nah, apa dampaknya bagi bisnis? Mungkin tidak bisa dijawab seketika. Namun, potensinya tentu sangat besar dan dampaknya pun akan begitu luas. Video vertikal berdurasi lebih panjang di Instagram membantu pengguna menjadi semakin dekat dengan permirsa. Ini juga akan mempermudah video ciptaan seseorang ditemukan oleh orang-orang baru di Instagram.

Instagram mengungkapkan, dengan menggunakan video berdurasi lebih panjang dan permanen untuk menyampaikan cerita yang lebih dalam, efek kedekatan akan makin lengket. Membangun hubungan yang lebih kuat dengan calon pelanggan bisa menggali dan meningkatkan banyak potensi, seperti berpromosi, membangun merek, dan pencitraan. Pengguna dapat menampilkan dimensi lain dari bisnis mereka tanpa dibatasi oleh satu jenis konten, durasi, dan format.

Kemunculan IGTV di Instagram, langsung dibandingkan dengan YouTube, platform go-to untuk konten video kreasi amatiran hingga profesional, yang telah mapan. Kini, dari aspek ukuran dan popularitasnya, YouTube tidak terkalahkan, baik oleh layanan seperti Vimeo dan Twitch. Namun, Instagram terbukti mengalahkan sejumlah kompetitornya, karena inovasinya.

Bagi para kreator konten video, saat ini rumah utama mereka adalah YouTube, namun IGTV memiliki pontensi besar untuk menjadi rumah kedua bagi kreasi mereka. Selama ini banyak konten YouTube yang juga di dibagikan atau berakhir di platform lain, seperti Twitter, Facebook atau Instagram. Ke depan, tampaknya, baik YouTube maupun IGTV akan berebut kebiasaan dan tren pada masa depan. Untuk berita, hiburan dan saran konsumen, orang bakal semakin beralih ke influencer.

Langkah yang lebih maju sudah ditemukan YouTube terkait dengan cara memonetisasi video. Sistem yang dibangun di dalamnya memungkinkan pembuat konten untuk melakukan lebih dari sekadar mem-posting konten yang disponsori. Pembuat konten memiliki andil juga dalam hal memonetisasi video yang diunduh di YouTube. Untuk urusan monetisasi ini, YouTube adalah pilihan prioritas para kreator konten.

Lalu, bagaimana dengan monetisasi di IGTV. Saat ini IGTV masih terbebas dari kemunculan iklan. Instragram tentu tidak akan menutup mata pada platform barunya yang mampu menjangkau lebih dari 800 juta pengguna bulanan. Kreasi dan kebijakan di Instagram bisa saja secara otomatis berlaku di IGTV. Namun, sejauh ini Instagram belum mengungkapkan tentang rencananya untuk membantu pembuat konten memonetisasi konten kreasi mereka.

G.A. Guritno

++++

Batasan dan Kelebihan Instagram TV
1. Format vertikal video IGTV. Aspek ratio video vertikal adalah 9:16 sama dengan Instagram Stories. Mengeksplorasi ruang vertikal ini menjadi tantangan bagi para kreator video. Sementara untuk video dengan perspektif horizontal yang diunduh ke platform ini akan tampil tegak. Tidak bisa secara otomatis, pengguna perlu merebahkan ponsel untuk melihatnya dalam perspektif horizontal.

2. Platform IGTV dibuat untuk bisa menyatu dengan aplikasi berbagi foto Instagram dan Facebook. Video di IGTV yang otomatis masuk ke highlights profil pengguna, jika dikehendaki bisa terlihat di halaman Facebook milik mereka. Pengguna tinggal mencentang pilihan itu. Sedangkan YouTube tidak menyatu dengan media sosial lain.

3. Durasi Video IGTV maksimal satu jam. Namun pada tahap awal ini, pengguna biasa hanya bisa mengunggah video sepanjang 10 menit. Video berdurasi satu jam hanya bisa diunggah oleh kreator konten atau pengguna dengan banyak pengikut.

4. IGTV tidak bisa digunakan untuk siaran langsung, seperti IG Stories. Namun peluang siaran langsung di IGTV terbuka lebar. Sementara di YouTube, siaran langsung bisa dimanfaatkan untuk urusan komersial sekalipun, seperti peluncuran produk.

5. Saat ini IGTV bebas atau tidak ada iklan. Namun pengguna bisa memanfaatkan platform ini sebagai tempat yang pas untuk mempromosikan sesuatu. Tapi, ke depan, mungkin tidak beda jauh dari YouTube, yang memungkinkan kreator konten dan Instagram bisa mengeruk duit dari iklan.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com