Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Jali, Si Penurun Gula Darah

Tanaman jali bisa digunakan untuk menurunkan kadar gula darah. Hal itu dibuktikan Nanny Djaja dalam disertasinya. Cara mengonsumsinya bisa dicampur dengan makanan lain.

Perjuangan penderita diabetes sungguh berat. Upaya untuk menurunkan kadar gula darah boleh dibilang sulit. Berbagai obat diminum, pola makan sehat sudah dilakukan, tapi belum bisa menjamin kadar gula darah turun.

Maka sebagian peneliti berupaya mencari cara alternatif. Salah satunya yang dikerjakan Nanny Djaja. Ahli gizi yang mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Sudirman, Jakarta Pusat, ini melirik tanaman Jali (Coixlacaryma-jobi). Jali tergolong tanaman sereal yang mengandung fruktooligosakarida (FOS) dalam setiap 100 gram biji jali.

Jali sudah jarang ditemukan, bahkan mungkin, anak muda sekarang tidak mengenalnya lagi. Kini, meski tak sebanyak dulu, biji ini masih ada di pasar-pasar tradisional. Padahal di sejumlah negara, tanaman ini masih menjadi makanan tambahan bersama kacang hijau, sebagai salah satu menu sarapan.

Sejak kecil sampai saat ini Nanny menyukai biji Jali. "Saya waktu kecil suka. Dicampur dengan kacang hijau atau dimakan tanpa makanan pendukung lainnya," ujarnya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA, seusai promosi doktornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis pekan lampau.

Selama ini, Jali dikonsumsi untuk mengatasi kesulitan buang air besar dan penimbunan lemak. Nanny tertarik untuk mengetahui manfaat lain dari tanaman ini. Dari beberapa literatur yang dibaca, Jali dapat pula menurunkan kadar gula darah.

Dalam penelitiannya, Nanny tidak membuat biji Jali sebagai makanan tunggal, tetapi mencampurnya dengan yogurt. Menurutnya, pada saat diabetes, terjadi ketidakserasian mikrobiota usus (disbiosis). Nah, yogurt mengandung probiotik Lactobacillus acidophilus (La5) dan Bifidobacterium (Bb12). Sedangkan Jali berisi prebiotik berupa FOS. "Dengan percampuran tersebut akan terdapat perpaduan antara probiotik dan prebiotik," katanya.

Probiotik adalah mikroorganisme yang dapat memberikan efek baik bagi kesehatan. Sejumlah bakteri probiotik terdapat di usus dan dikembangkan menjadi suplemen. Adapun prebiotik merupakan senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus.
Senyawa ini berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme baik dalam sistem pencernaan.

Pemikiran tersebut lantas diterapkan penelitian disertasinya. Di situ Nanny menggarap risetnya pada 60 pasien diabetes tipe-2 (DM 2) yang tergolong ringan. Sebagian besar dari mereka menjalani aktivitas fisik ringan dan bertekanan darah 120/80 hingga 130/90 mmHg.

Pasien itu dibagi dalam 2 kelompok, yaitu pengonsumsi yogurt saja dan pengonsumsi yogurt serta Jali, yang masing-masing 30 pasien.

Pencampuran yogurt plus Jali diklaim Nanny sebagai yang pertama kali di Indonesia. Caranya 100 miligram yogurt dicampur dengan 25 gram jali rebus.

Para pasien kemudian diminta mengonsumsi campuraan itu pada sarapan dan sebagai makanan ringan pada siang hari. Sebelum dicobakan pada diabetesi, Nanny mencicipi cita rasanya lebih dulu. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan penilaian asupan makanan (jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi selama 24 jam sebelumnya). Dilakukan pula penilaian terhadap aspek lain, seperti penghitungan protein dan karbohidrat. Semua itu dilakukan pada kedua kelompok tadi.

Selain asupan nutrisi, Nanny juga melihat kadar gula darah puasa (GDP) dan glycated albumin (GA). GA adalah ikatan albumin dan gula darah. GA kerap dipakai sejumlah dokter karena dianggap merupakan tolok ukur gula darah yang lebih peka dan lebih efektif.

Kedua kadar tersebut diukur sebelum dan sesudah pemberian yogurt atau yogurt + Jali. GDP kelompok pertama menurun dari 130 mg/dl (miligram per desiliter) menjadi 128 mg/dl. Pada kelompok kedua, GDP-nya turun dari 129 mg/dl menjadi 110 mg/dl. Sementara itu, kadar GA grup pertama turun dari 18,61% menjadi 18,54% setelah pemberian yogurt. Di lain pihak, GA grup kedua mengalami penurunan signifikan dari 17,88% menjadi 17,19% sehabis mengonsumsi yogurt + Jali.

Nanny juga menggunakan obat diabetes metformin pada kedua kelompok tadi. Walhasil penurunan signifikan GDP lebih tampak pada kelompok yogurt + Jali + metformin, yaitu turun 18,64 mg/dl. Angka ini lebih besar daripada yogurt + metformin yang justru bertambah kadar GDP-nya sebanyak 0,15 mg/dl.

Hal serupa terjadi pula pada kadar GA. Penurunan GA pada kelompok kedua yang campurannya ditambah dengan metformin sebanyak -0,34%. Di sisi lain, kelompok pertama plus metformin hanya turun 0,15%. Namun, pemberian metformin, berdasarkan riset Nanny, menurunkan GDP dan GA jauh lebih sedikit daripada tanpa metformin.

Setelah diamati selama 12 pekan, Nanny mendapatkan hasil: pencampuran yogurt dan Jali terbukti menurunkan kadar gula darah waktu puasa, penurunan berat badan, dan penurunan peradangan epitel usus. Epitel usus adalah jaringan sel yang melapisi usus besar dan usus halus serta berperan penting dalam proses pencernaan.

Meski begitu, ia meminta para diabetesi untuk berhati-hati mengonsumsi campuran yogurt dan jali. Hal ini dikarenakan hasil fermentasi dari yogurt berbentuk glukosa. "Harus dipilih yogurt dengan kadar glukosa sangat rendah. Jangan mengekstrak dari FOS-nya itu sendiri," katanya.

Lantaran terbilang baru, Nanny berencana memproduksi campuran makanan ini dan bekerja sama dengan salah satu perusahaan industri makanan. Namun, ia belum dapat memperkirakan kapan pelaksanaannya, karena ia masih harus mengurus hak paten.

Penggunaan herbal dalam mengontrol gula darah tentu akan membantu meningkatkan harapan hidup diabetesi. Jumlah diabetesi di Indonesia, berdasarkan data International Diabetes Foundation, sebanyak 8,5 juta orang. Diperkirakan, jumlahnya lebih dari itu lantaran banyak yang belum didiagnosis.

Sebagian besar dari mereka kurang memperhatikan pola makan dan menjaga kalorinya sehingga kadar gula darahnya terus meningkat. Oleh karena itu, perlu diberikan asupan gizi dan pemilihan jenis makanan yang baik.

Menurut promotor sekaligus spesialis penyakit dalam FKUI, Profesor Pradana Suwondo, riset Nanny mengkaji manfaat nutrisi khususnya yogurt yang diperkaya dengan probiotik dan ditambah dengan prebiotik jali. "Ternyata lewat penelitian ini yogurt jali tadi dapat memperbaiki profil kardiobetabolik atau risiko-risiko kardiovaskuler pada penyandang DM tipe-2 dibandingkan hanya diberikan yogurt saja," ujarnya.

Pradana menambahkan, penelitian ini terkait dengan salah satu pilar tatalaksana diabetes melitus yang terkait dengan pola makan dan gizi bagi diabetesi. Pilar lain adalah edukasi, aktivitas fisik dan pengobatan.

Ia berharap, temuan Nanny segera memperoleh paten sehingga masyarakat segera memperoleh mafaat dengan mengonsumsi campuran yogurt itu. "Saya sekarang juga mengonsumsi yogurt, tapi yang ada di pasaran," ujarnya sembari tertawa.

Meski begitu, menurut Pradana, studi Nanny belum bisa membuktikan campuran yogurt + Jali menurunkan derajat inflamasi rendah pada saluran cerna. Hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Yang menjadi masalah, saat ini yogurt jali tidak tersedia di pasaran. Sementara harga yogurt berkualitas baik di pasaran sama dengan harga satu tablet obat diabetes. Jadi?

Aries Kelana dan Umaya Khusniah
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com