Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Rahasia Genetika Suku Pengembara Laut

Suku Bajau punya kekhasan fenotipe dan genotipe sehingga mampu menyelam lebih lama dibanding orang pada umumnya. Hasil adaptasi dari kebiasaan menyelam yang berlangsung turun-temurun. Memperkaya hasil penelitian genom di Indonesia.

Orang-orang suku Bajau tersohor sebagai penyelam ulung. Mereka mampu berlama-lama menahan napas saat menyelam di laut tanpa alat bantu selam. Ketika menangkap ikan di dalam laut, para penyelam tradisional suku berjuluk "pengembara laut" ini hanya mengenakan kacamata menyelam dari batok kelapa dan tombak.

Keistimewaan suku yang hidup nomaden di perairan Sulawesi dan beberapa perairan Nusantara itu menarik perhatian para peneliti dari Pusat Genetika Universitas Copenhagen, Denmark. Mereka secara khusus meneliti kemampuan suku Bajau dalam menahan napas di dalam air. Hasil penelitian ini baru saja dipublikasi di jurnal ilmiah internasioal, Cell, edisi April lalu. Jurnal yang memuat penelitian ilmiah di bidang sains mulai dari biologi molekuler, genetika, hingga genom ini diterbitkan oleh Cell Press, Amerika Serikat.

Dari hasil penelitian itu, para peneliti menyimpulkan bahwa orang-orang suku Bajau secara genetik telah beradaptasi. Karena itu, secara fenotip--bentuk organ tubuh hasil adaptasi genetika dengan lingkungannya--ukuran limpa mereka 50% lebih besar daripada limpa orang-orang pada umumnya. Inilah yang membuat orang orang suku Bajau mampu menyelam lama tanpa alat bantu pernapasan. Penelitian yang dimotori mahasiswa tingkat doktoral Universitas Copenhagen, Melissa A. Ilardo, itu dilakukan pada 2015 - 2017.

Awalnya Ilardo tertarik dengan sebuah literatur yang menyebut bahwa selama lebih dari ribuan tahun orang-orang suku Bajau dikenal sebagai penyelam andal yang mampu menyelam hingga belasan menit tanpa alat bantu pernapasan. Atas ketertarikan tersebut, pada medio 2015, Ilardo melakukan penelitian terhadap masyarakat suku Bajau yang menetap di pesisir pantai di Desa Jayabakti, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Di desa itu, Ilardo dan timnya mengamati kebiasaan masyarakat Bajau yang menangkap ikan dengan cara menyelam di laut. Dari hasil pengamatan diketahui setiap hari, satu orang Bajau dewasa mampu menghabiskan waktu hingga lima jam untuk menangkap ikan. Durasi penyelamanan, rata-rata berlangsung hingga belasan menit. Selaku ahli genetika, Ilardo penasaran dengan genetika orang-orang suku Bajau, apakah berbeda dari genetika orang-orang pada umumnya sehingga mereka mampu menahan napas lebih lama di dalam air.

Lalu, Ilardo mengambil sampel 59 orang suku Bajau dari berbagai usia dan jenis kelamin untuk dilakukan penelitian. Ia menggunakan alat ultrasonografi (USG) portabel untuk mengetahui organ bagian-dalam pada orang-orang suku Bajau.

Sebagai pembanding, Ilardo menggunakan sampel 34 orang suku Saluan untuk diperiksa organ bagian dalamnya. Suku tinggal di satu kabupaten dengan suku Bajau yang sedang diteliti Ilardo, yakni Kabupaten Banggai. Bedanya, suku Saluan merupakan masyarakat agraris yang berprofesi sebagai petani.

Hasilnya, Ilardo menemukan keistimewaan fenotipe dan genotipe orang-orang suku Bajau. Secara fenoptipe, mereka memiliki ukuran limpa 50% lebih besar dari ukuran limpa orang-orang suku Saluan. Bahkan, orang Bajau yang tidak pernah atau jarang menyelam pun memiliki ukuran limpa yang besar. ''Ketika kami melihat itu, kami berpikir: oke, sesuatu sedang terjadi dan kemungkinan itu, genetik,'' kata Ilardo seperti dikutip Theatlantic.com.

Limpa adalah organ tubuh yang berperan sebagai gudang sel-sel darah yang memuat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Ketika seseorang menahan napas, organ yang berada di bagian kiri atas perut itu berkontraksi mengeluarkan sel-sel darah dan meningkatkan kadar oksigen. Mamalia yang juga memiliki limpa besar dan piawai menyelam adalah anjing laut. Dengan limpa yang besar, anjing laut mampu menahan napas cukup lama saat mencari ikan di dalam laut.

Selain membandingkan organ tubuh, Ilardo dan timnya juga mengambil sampel darah orang-orang suku Bajau dan orang-orang suku Saluan. peneliti itu kemudian membandingkan DNA (deoxyribonucleic acid) mereka. DNA adalah asam amino pembawa sifat atau genetik. Dari hasil uji laboratoriun, ternyata DNA orang-orang suku Bajau memiliki keunikan, yakni adanya gen yang dikenal dengan sebutan PDE10A. Gen ini tidak ditemukan pada DNA orang-orang suku Saluan.

Dari hasil penelitiannya, Ilardo dan timnya menyimpulkan bahwa gen PDE10A yang ada pada orang-orang suku Bajau ada kaitannya dengan kadar hormon tiroid yang lebih tinggi. Hormon tersebut pada gilirannya membuat limpa orang-orang suku Bajau menjadi berukuran lebih besar.

Tak hanya gen PDE10A, DNA orang-orang suku Bajau juga mengandung gen BDKRB2, yakni gen yang dikaitkan dengan kemampuan menyelam pada manusia. Berikutnya ada gen FAM178B. Gen ini memengaruhi kadar karbon didoksida dalam darah yang berperan penting dalam mengendalikan karbon dioksida saat seseorang menahan napas. Sebagaimana diketahui, gen FAM178B juga dimiliki orang-orang suku Tibet yang hidup di pengunungan Himalaya.

Menurut ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler, Eijkman, Profesor Herawati Sudoyo, penelitian yang dilakukan Ilardo cs merupakan penelitian yang menggunakan metode whole genome sequencing atau pengurutan genom (keseluruhan informasi genetik yang dimiliki suatu sel atau organisme).

Untuk analisis genetika populasinya, penelitian ini menggunakan data Pan-Asian Genome Project. Lembaga Eikjmen berperan penting dalam memasok data-data untuk Pan-Asian Genome Project terutama yang terkait genom di Indonesia. ''Walapun saat ini kami hanya menggunakan 50.000 SNP (single nucleotide polymorphism),'' kata Hera kepada GATRA.

Penelitian ini, menurut Hera, bermanfaat bagi penelitian genom di Indonesia karena memberikan informasi hubungan fisiologi dan genetika. ''[Penelitian] ini dapat digunakan untuk kepentingan medis,'' ujar Hera.

Hingga saat ini, kata Hera, Lembaga Eijkman telah melakukan penelitian genom di Indonesia mulai dari Indonesia Bagian Barat hingga Indonesia Bagian Timur. ''Yang sudah kita teliti lebih dari 80 suku dan lebih dari 14 pulau,'' ujarnya.

Sujud Dwi Pratisto

Cover Majalah GATRA edisi No.48 / Tahun XXIV / 27 Sep - 3 Okt 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com