Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Indonesia Harus Selalu Aman

Industri pariwisata rentan terganggu isu keselamatan dan keamanan. Banyak destinasi wisata dunia dikunjungi karena menyodoran kedua elemen itu. Indonesia harus bisa mempertahankan aspek keselamatan dan keamanan bila ingin memajukan industri pariwisatanya.

Sebagai sumber ekonomi baru, banyak negara menganggap sektor pariwisata cukup menjanjikan pertumbuhan ekonomi. Tren itu terlihat dari data kunjungan wisatawan mancanegara yang meningkat. World Tourism Cities Federation (WTCF), yang berbasis di Beijing, menyebutkan bahwa pada 2017 jumlah total kunjungan wisatawan mancanegara meningkat menjadi 11,9 milyar. Angka tersebut naik 6,8% secara tahun ke tahun (year on year).

Sementara itu, pendapatan dari sektor wisata secara global diperkirakan mencapai US$5,3 trilyun. Jika perkiraan itu benar, maka pendapatan pariwisata global diproyeksikan mencapai US$5,6 trilyun dengan perkiraan jumlah total kunjungan wisatawan mancanegara akan mencapai 12,7 milyar tahun ini.

Cina sendiri pada tahun lalu menyumbangkan sekitar 4,5 milyar wisatawan. Angka ini yang tertinggi di dunia. Sementara itu, Amerika Serikat menuai pendapatan pariwisata tertinggi sebesar US$10,3 trilyun. WTCF sendiri saat ini memiliki 128 anggota kota, mencakup 62 negara dan wilayah.

''Momentum keseluruhan ekonomi global, perbaikan infrastruktur, pemasaran, dan kebijakan visa yang menguntungkan di banyak negara mempercepat ekonomi pariwisata global,'' kata Song Rui, Kepala Pusat Penelitian Pariwisata yang berada di bawah koordinasi Chinese Academy of Social Sciences, seperti dikutip dari Antara.

Negara-negara maju sepertinya masih mendominasi popularitas tujuan pariwisata. Data UNWTO pada 2016 menyebut, Prancis masih menjadi yang paling popular dengan 82,6 juta pengunjung dari luar negeri. Kedua adalah Amerika Serikat dengan 77 juta pengunjung, dan di posisi ketiga ada Spanyol dengan 75,6 juta pengunjung. Sementara itu, Inggris ada di posisi tujuh dengan 35,8 juta pengunjung.

Angka itu terbilang wajar, karena Prancis, AS, Spanyol, dan Cina merupakan negara dengan jumlah penduduk besar. Prancis sendiri berpenduduk 66,9 juta, AS 325 juta, Cina 1,3 milyar, serta Spanyol 46,6 juta. Tiap-tiap negara itu pun punya tempat wisata andalan yang sudah cukup populer. Semisal Prancis, yang dikenal karena menara Eiffel-nya, AS punya patung Liberty di New York. Bahkan, areal yang dulu hancur karena peristiwa teror Menara Kembar WTC, kini punya situs wisata Ground Zero. Sebuah prasasti yang dibangun untuk mengenang para korban teror.

Yang mengejutkan justru negara-negara berpenduduk sedikit, tapi jumlah turisnya jauh melebihi jumlah penduduk.Andorra, misalnya, dengan penduduk sebanyak 77.000, jumlah turisnya 23,6 juta pada 2014. Itu artinya, satu penduduk melayani 33,5 turis. Berurutan ada Makau, Karibia, Kepulauan Virgin Britania Raya, dan Kepulauan Turks dan Caicos. Total, ada 51 daerah tujuan yang jumlah turisnya lebih banyak daripada jumlah penduduk setempat.

Di sisi lain, ada tren yang cukup menarik menurut data World Economic Forum tahun 2017. Kota-kota di Asia mendominasi 10 besar kota yang paling banyak dikunjungi turis di dunia. Di antaranya Hong Kong (26,6 juta), Bangkok (21 juta), Singapura (16,6 juta), Makau (15,4 juta), Shenzen (12,6 juta), dan Kuala Lumpur (12,3 juta).Di antara kota-kota itu ada London (19,2 juta), Dubai (14,9 juta), Paris (14,4 juta), dan New York (12,7 juta).

''Asia-Pasifik adalah daerah yang menonjol mendorong perubahan,'' kata Wouter Geerts, analis perjalanan dari Euromonitor International. Ia berharap, hal ini akan terus berkembang dalam dekade mendatang dengan Singapura mengalahkan London sebagai kota ketiga yang paling banyak dikunjungi pada 2025.

Sementara itu, bagi negara-negara di Eropa, menurut Euromonitor, ada penurunan tren dari kunjungan turis di Eropa karena dipengaruhi sejumlah isu keamanan dan ekonomi semisal gelombang kedatangan pengungsi, Brexit, serta serangan teroris. Tercatat, hanya Paris dan London yang masih terbilang tangguh. Sementara itu, beberapa tujuan seperti Yunani, Italia, dan Spanyol ada pertumbuhan positif selama 2016.

***

Sejalan dengan tren global, industri pariwisata di Indonesia ikut menggeliat. Tampak dari pendaptan sektor pariwisata Indonesia yang meningkat signifikan. Pada 2015, devisa dari sektor pariwisata Indonesia tercatat sebesar US$12,225 milyar atau berada di posisi ke empat di bawah devisa hasil minyak dan gas (migas) sebesar US$18,574 milyar, crude palm oil (CPO) sebesar US$16,427 milyar, dan batu bara US$14,717 milyar.

Kemudian, pada 2016, devisa dari pariwisata tercatat sebesar US$13,568 milyar. Melompat ke posisi kedua setelah devisa hasil CPO yang sebesar US$15,965 milyar. Bahkan tahun ini pariwisata melompat menjadi andalan penopang devisa. Diprediksi, pada 2018 pendapatan sektor pariwisata menembus US$20 milyar atau naik sekitar 20% dari 2017, yang menembus sekitar US$16,8 milyar. Peningkatan itu berasal dari target 17 juta wisatawan mencanegara yang tahun ini diperkirakan tumbuh 22% dibandingkan dengan tahun lalu.

Prediksi itu juga tak lepas dari penetapan program Visit Wonderful Indonesia Year 2018 (ViWi 2018) oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Arief menetapkan 18 destinasi unggulan dalam pameran pariwisata Fitur Madrid yang berlangsung 17--21 Januari 2018. Seluruh destinasi unggulan itu memenuhi syarat 3A, yaitu accessibility, amenities, dan attraction.

Selain dari sisi kebijakan yang mendorong pertumbuhan sektor wisata, Indonesia juga maju karena hal lain. Yakni, unggulnya sumber daya alam dan daya saing harga. Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) Report pada 2017, yang digagas World Economic Forum, menyebut Indonesia kini berada pada peringkat ke-42. Naik delapan peringkat dari tahun sebelumnya. Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan Turki, Barbados, Arab Saudi, Vietnam, dan Filipina. Namun, kita masih ketinggalan jika dibanding Thailand yang berada di peringkat ke-34, Malaysia (ke-26), dan Singapura (ke-13).

TTCI mengukur berdasarkan faktor-faktor dan kebijakan pemerintah. Sektor wisata dan perjalanan memberikan kontribusi pada perkembangan dan daya saing suatu Negara. Pada 2017 ada 136 negara yang masuk dalam daftar daya saing pariwisata dunia. Indeks daya saing terdiri dari empat sub-indeks, yaitu enabling environment (iklim pendukung), travel and tourism policy and enabling condition (kebijakan dan kondisi yang mendukung pariwisata), infrastruktur, serta sumber daya alam dan budaya.

Indonesia punya potensi untuk menjadi yang terdepan, setidaknya di Asia Tenggra, karena memiliki wilayah yang paling luas dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, bahkan Thailand. Ketiga negara itu tidak punya wilayah seluas Indonesia, namun berhasil memaksimalkan potensi yang dimiliki. Thailand, misalnya, punya komoditas utama, yakni Otomotif dan Pariwisata. Bangkok sudah mashyur dengan ragam wisata dari alam hingga budayanya.

Berbeda dengan Indonesia yang saat ini masih menyandarkan pendapatannya pada sektor konsumsi, investasi, baru pariwisata. Padahal, Indonesia punya banyak ragam budaya dan berpotensi mengalahkan negara tetangganya jika punya resep jitu. Bali, yang paling populer, misalnya, dikenal luas sebagai "pulau para dewa". Dengan kultur budaya Hindu dan toleransi yang tinggi, Bali menjelma sebagai destinasi paling favorit di dunia. Sampai-sampai, ketika turis asing ditanya soal Indonesia, Bali menjadi jawaban utama dibandingkan destinasi wisata lain.

***

Faktor biaya, tujuan wisata, dan budaya menjadi pertimbangan penting bagi turis internasional untuk menentukan tujuan liburan. Namun, sebuah studi yang dikutip dari CNN menyebut tak ada yang lebih penting daripada keselamatan dan keamanan. Studi global persepsi dan tren perilaku konsumen yang dilakukan terhadap 70 negara menyebut, lebih dari dua pertiga responden global menganggap keselamatan dan keamanan menjadi perhatian terbesar saat memilih perjalanan internasional. Mengesampingkan faktor biaya pada peringkat kedua mencerminkan dampak dari krisis ekonomi yang tidak disadari konsumen.

Yang terbaru, misalnya, akibat letusan gunung berapi Kilauea sejak awal Mei, yang memuntahkan lava dan semburan gas hingga kini, 1.700 orang terpaksa mengungsi. Bahkan cadangan energi yang berada di fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi pun ikut diungsikan, karena aliran lava hanya berjarak 250 meter dari landasan sumur terdekat.

Para pekerja bergegas menutup fasilitas itu untuk mencegah lepasnya gas-gas beracun. Sumur ke-11 hingga terakhir di Puna Geothermal Venture (PGV), yang memberikan aliran listrik di 25% Big Island, pun tak beroperasi. Dalam sepekan, sekitar 227.124 liter pentana, bahan kimia yang mudah terbakar, yang disimpan di fasilitas itu telah dipindahkan.

Ilmuwan survei geologi AS, Wendy Stovall, mengatakan kabut asap telah memanjang 24 kilometer ke arah barat, di mana lava mengalir ke Samudra Pasifik, di sebelah selatan Big Island. Asap tersebut bisa berubah arah jika arah angin berubah. Observatorium Gunung Api Hawaii mengatakan, emisi sulfur dioksida juga meningkat tiga kali lipat.

US Geological Survey (USGS) melihat, sejak saat itu aliran lava mengalir hingga 5 kilometer ke lautan, menghancurkan rumah-rumah dan mengakibatkan ribuan orang dievakuasi. Hingga kini, lava mengalir hampir setiap hari. Salah satu dampaknya, Hawaii memperingatkan pelancong untuk menjauh demi keamanan.

Sebagai kawasan yang dikenal masyhur karena industri wisatanya, Hawaii jelas terpukul. Kapal pesiar membatalkan persinggahannya di Big Island, kamar-kamar hotel kosong sepanjang musim panas, meskipun ada tawaran potongan harga. Padahal, pemilik hotel dan pemandu tur sangat bergantung pada pengunjung Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii, yang jumlahnya mencapai 2 juta orang per tahun. Mereka khawatir, pendapatan berkurang drastis.

Otoritas pariwisata Hawaii menjelaskan, pemesanan kamar hotel untuk musim panas di Big Island, Hawaii, turun hampir 50% sejak gunung berapi mulai menyemburkan lava dan gas beracun pada 3 Mei. Dikutip dari Time, direktur eksekutif dewan pariwisata di Big Island, Ross Birch menyebut kerugian pariwisata Hawaii akibat letusan Kilauea berkisar US$5 juta.
Big Island telah menjadi primadona wisata yang tumbuh pesat dibandingkan dengan kawasan lain. Meraup sekitar US$2,5 milyar dana pengunjung. Luas Big Island kira-kira seukuran Connecticut dan menarik 1,5 juta hingga 1,7 juta turis setiap tahun.

Bencana geologi serupa Hawaii juga kerap terjadi di Indonesia. Dalam kasus letusan Merapi, misalnya. Dampak letusan gunung di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu diperkirakan mencapai Rp4,23 trilyun. Namun, pasca-letusan, ekonomi kembali menguat karena masyarakat dan pemerindah daerah serta stakeholder setempat mampu mengubah kawasan terdampak merapi menjadi kawasan wisata. Misalnya, menjadikan kawasan bekas aliran lava menjadi jalur trekking wisata menggunakan kendaraan.

Hal yang sama terjadi pada Thailand. Pada 2014 lalu, kudeta militer di "negeri gajah putih" itu berakibat pada keluarnya travel warning (peringatan perjalanan) dari 45 negara. Thailand benar-benar kerepotan, karena 10% pendapatan negara disumbangkan dari sektor wisata. Sementara itu, di Indonesia, selain kebencanaan, politik, dan terorisme menjadi faktor yang paling menghambat industri pariwisata.

Tengok saja peristiwa bom Bali I (Oktober 2002) dan bom Bali II (Oktober 2005), yang disebut-sebut sebagai peristiwa teror paling parah dalam sejarah Indonesia. Provinsi Bali merugi secara ekonomi, sosial, dan keamanan. Jumlah wisatawan turun lebih dari setengahnya, mencapai 57% akibat adanya travel warning dari Australia, dan sejumlah Negara Eropa. Padahal, pendapatan Bali didominasi dari sektor wisata. Industri perhotelan terpukul dan banyak yang kolaps karena rendahnya tingkat hunian. Itu belum termasuk restoran, industri kerajinan, pertanian, transportasi, serta jasa.

Ahli geologi tata lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Oki Oktariadi mengatakan, dampak bencana dalam jangka pendek sudah pasti berdampak sosial dan ekonomi. Apalagi bagi sektor wisata yang memang rentan akan bencana (alam atau karena manusia). Tetapi dalam jangka panjang, justru dalam setiap bencana letusan misalnya akan ada perubahan. Nilai lahan, misalnya, menjadi lebih subur. ''Abu vulkanik itu seperti pupuk. Dengan ada letusan makin subur. Dalam jangka panjang pasti subur,'' katanya.

Berapa lama pulihnya suatu kawasan akibat bencana, menurut Oki, tergantung pada bagaimana menjalankan konsep mitigasi. Jalur mitigasi dengan jalur wisata menurutnya satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.

Sandika Prihatnala
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.36 / Tahun XXIV / 5 - 11 Juli  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com