spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ALKISAH
spacer
 
Vonis Maya Ary Sigit
Kisah Penangkapan Maya 4 Bulan Lalu

Jakarta, 13 Oktober 2000 00:55
NARKOTIKA mengoyak keluarga Cendana. Raden Roro Gusti Maya Firanti Noer, 29 tahun, ditangkap petugas Kepolisian Resor (Polres) Jakarta Barat. Cucu menantu mantan Presiden Soeharto itu ketahuan nyabu di hotel, Kamis sore, 24 Agustus lalu.

Awalnya, polisi terkesan menutup-nutupi penangkapan Maya, istri Ari Sigit, ini. Namun, setelah berita penangkapan itu muncul di koran, Kepala Polres Jakarta Barat, Senior SUperintedant Adjie Rustam Ramdja, membeberkan kasusnya kepada wartawan. "Maya ditangkap Kamis sore sekitar pukul 15.00 WIB di pelataran parkir Hotel Olimpic," tutur Adjie Rustam.

Maya ditangkap, menurut Adjie Rustam, tanpa sengaja. Kala itu, ibu tiga anak ini berada di kamar 303 Hotel Olimpic, di Jalan Mangga Besar VII, Lokasari, Jakarta Barat. Kabarnya, ia sudah berada di hotel itu sejak hari sebelumnya. Siang itu, Maya bersama seorang pria setengah baya -belakangan diketahui bernama Ferry- keluar dari kamar hotelnya.

Ferry berjalan menuju pertokoan Lokasari, sedangkan Maya berjalan ke pelataran parkir di depan hotel. Wanita berambut sebahu yang mengenakan kaus putih lengan panjang, dikombinasikan dengan celana selutut warna gelap, itu berjalan santai sambil melempar senyum kepada beberapa karyawan hotel. Kacamata hitamnya tidak dipakai, tapi diletakkan di atas jidat. "Matanya terlihat agak sayu," kata seorang karyawan Olimpic.

Sampai di pelataran parkir, wanita kelahiran Jakarta, 20 September 1970, ini bergegas masuk ke sebuah Mercedes New Eyes bernomor polisi B 1446 MP. Sesaat kemudian, Maya keluar dari mobilnya. Ia memanggil satpam hotel bernama Adriansyah. Maya minta dibelikan voucher pulsa Pro-XL untuk mengisi handphone-nya seharga Rp 100.000. Untuk itu, ia menyerahkan dua lembar uang pecahan Rp 50.000 bergambar Soeharto.

Adriansyah, yang ditemani satpam Sodirin, membelikan voucher itu di Plaza Lokasari, sekitar 300 meter di belakang hotel tersebut. Sementara itu, Maya menunggu di dalam mobilnya. Ternyata, satu dari dua lembar uang pemberian Maya itu palsu.

Duit tersebut ketahuan palsu setelah penjual voucher pulsa prabayar itu mengecek keasliannya. Buru-buru ia mengejar Adriansyah dan Sodirin, yang sudah 100 meter keluar dari Plaza Lokasari. "Bang, uangnya palsu, nih," pekik karyawan toko itu sembari mengacungkan duit palsu tersebut. Adegan ini mengundang perhatian banyak orang.

Kebetulan di dekat situ ada seorang bintara polisi. Duduk perkara sesungguhnya pun dijelaskan. Nah, setelah paham, polisi itu mengajak Adriansyah dan Sodirin menemui Maya. Naluri polisi ini terusik. Ia mengontak Polres Jakarta Barat untuk meminta bantuan, guna pengusutan lebih jauh.

Di depan Maya, polisi ini menanyakan asal-usul uang palsu tersebut. Tentu saja, menantu putra sulung Soeharto, Sigit Harjojudanto, itu mengaku tidak sengaja menyimpan uang palsu. Yang membuat penasaran, Maya bersikeras menolak digeledah polisi. Akhirnya, penolakan itu luntur juga, setelah tiga orang petugas dari Polres Jakarta Barat dipimpin Kapten Asrofi mendatangi Maya.

Saat di tas hitam milik Maya digeledah, diperoleh barang lain: dua bungkus plastik kecil berisi shabu-shabu, masing-masing berisi satu gram dan setengah gram kristal putih. Kristal haram itu diselipkan di dalam kitab suci Al-Quran ukuran mini. Masya Allah.

Di dalam tas, polisi juga menemukan seperangkat alat untuk mengisap shabu-shabu. Berupa dua lembar aluminium foil, kompor kecil, korek gas, bong kecil, tabung kaca, serta gunting kecil. Di laci dashboard mobilnya, polisi juga menemukan bungkusan plastik kecil berisi shabu-shabu seberat satu gram. "Tapi yang diakui sebagai miliknya cuma shabu-shabu yang disimpan di dalam tas," kata Adjie Rustam.

Berdasar temuan itu, polisi juga memeriksa kamar hotel yang ditempati Maya. Di kamar deluxe bertarif Rp 240.000 per malam itu, polisi tak menemukan barang bukti lain. Kemudian Maya digelandang ke markas Polres Jakarta Barat untuk menjalani pemeriksaan. Sementara itu, ketiga orang reserse ditugaskan mengawasi mobil Timor warna perak yang diduga milik Ferry. "Mobil itu kita sita. Setelah kita tunggu sampai malam, orang itu tidak muncul," kata Adjie.

Dalam pemeriksaan, menurut Kolonel Adjie Rustam, Maya mengaku bahwa shabu-shabu yang disimpan di dalam tasnya itu dibeli dari Ferry. Harganya Rp 250.000 per gram. Shabu-shabu itu, katanya, merupakan barang yang tersisa karena sekitar setengah gram sudah dinikmatinya bersama Ferry.

Kepada polisi yang memeriksa, Maya mengaku sebagai istri Ari Sigit, cucu mantan Presiden Soeharto. Pengakuan ini diperkuat kartu tanda penduduk (KTP) yang dimilikinya. Di KTP itu, Maya yang nama lengkapnya Raden Roro Gusti Maya Firanti Noer beralamat di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 6, RT 03/ RW O6, Menteng, Jakarta Pusat, tempat tinggal Ari Sigit. "Dia juga mengaku tinggal di Jalan Cendana," tutur Adjie Rustam.

Meski begitu, polisi tidak serta-merta mempercayainya. Sebab, menurut Kolonel Adjie, banyak tersangka kasus narkotika yang sering mengklaim punya hubungan keluarga dengan orang beken. Maka, untuk membuktikannya, polisi mengantar Maya ke rumah di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 6, Jakarta Pusat, Kamis malam pekan lalu, selepas isya.

Di rumah besar dan mewah itu cuma ada pembantu. Maya turun dari mobil, tapi menolak diantar masuk rumah. "Mungkin, waktu itu dia shock. Wajahnya terlihat pucat," kata sumber Gatra di Polres Jakarta Barat. Rumah Nomor 6 itu, kabarnya, ditempati Ari Sigit dan Maya di siang hari. Jika malam, pasangan ini tidur di rumah orangtuanya, di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 12.

Kala diantarkan ke rumah Nomor 12, Maya justru menolak turun dari mobil. Bahkan, dia minta kembali ke kantor polisi. Keesokan harinya, Ari Sigit menemui Maya di ruang reserse Polres Jakarta Barat. Kehadiran Ari Sigit di kantor polisi itu dibenarkan Kolonel Adjie.

"Tapi saya tidak sempat ketemu, karena waktu itu saya tidak di kantor," kata Kapolres Jakarta Barat itu. Meski tersangka cucu mantu orang kuat di zaman Orde Baru, Adjie menyatakan tidak pernah ragu untuk melakukan penyidikan. "Yang penting hukum harus kita tegakkan. Semua orang sama di depan hukum," katanya.

Maya tidak ditempatkan di sel tahanan, melainkan di ruang tamu reserse. Sebab, kantor polisi ini tidak memiliki ruang tahanan wanita. Berdasarkan penyidikan polisi, diketahui bahwa Maya berada di kamar hotel itu tidak hanya dengan Ferry. Kabarnya, ada dua pria lain yang ikut pesta shabu-shabu di kamar itu. Dua pria muda itu sudah pergi dua jam sebelum Ferry dan Maya keluar dari kamar hotelnya.

Hingga Sabtu pekan lalu, polisi masih merahasiakan indentitas dua pria tersebut. "Mereka sedang kita buru. Kalau kita buka sekarang, saya khawatir mereka melarikan diri," tutur Adjie Rustam.

Ferry, yang dikenal sebagai gembong pengedar narkotika, juga belum tertangkap. "Dia itu seorang bandar besar, yang biasa mengedarkan narkoba di kalangan atas," kata Adjie. Karena alasan itu, Kapolres Jakarta Barat menangani kasus ini ekstra hati-hati. Itulah sebabnya, ia sengaja tidak terburu-buru mengungkapkan kasus itu kepada wartawan.

Bahkan, kabarnya, Maya sudah lama berlangganan barang haram itu dari Ferry. Kristal setan itu biasanya diambil di kamar-kamar hotel. Di tempat itu pula, kini para pencandu shabu-shabu rame-rame menyedot narkotika. Namun, Hotel Olimpic bukanlah tempat langganan Maya nyabu. Hotel itu baru dibuka 6 Juni lalu.

Sedangkan Ari Sigit yang sudah lama digosipkan bermain narkotika, konon, terpengaruh oleh istrinya. Bagi Ari, bermain narkotika hanyalah ikut trend di kalangan atas. Ia cuma ikut-ikutan, dan tak sampai kebablasan atau nyandu. Malah, belakangan ini, Ari sudah insaf. Dan, tentang berbagai tudingan itu, berkali-kali Ari Sigit melontarkan bantahan. "Tak pernah berhubungan dengan narkotika."

Memang, terdengar isu, belakangan ini rumah tangga Ari-Maya goyah. Sumber ketidakharmonisan pasangan muda yang kaya itu tak lain soal Anisya Banowati. Meski Anisya sudah berumah tangga dengan artis sinetron Ajie Pangestu, Maya sering menjadikannya sebagai sumber keributan. Kabarnya, keretakan ini berujung kerapnya Maya keluyuran tanpa didampingi suami.

Tentang isu ketidakharmonisan ini, Ari Sigit tak mau berkomentar. Atas kejadian penangkapan ini, ia merasa prihatin. "Ya, saya ambil hikmahnya saja," kata Ari Sigit kepada Gatra. Selebihnya, Ari belum bersedia bercerita lebih banyak. Hanya saja, sumber Gatra mengatakan, keluarga besar Sigit Harjojudanto akhir pekan lalu terlihat sibuk "membahas" kasus ini.

Mereka mengadakan pertemuan untuk mengambil langkah yang tepat. Sejauh ini, belum ada pengacara yang ditunjuk untuk mendampingi Maya. Padahal, perkara hukum yang menyerimpung ibu rumah tangga ini tergolong berat. Menurut polisi, Maya mengakui memiliki 2,5 gram shabu-shabu. Maya dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dan dijebloskan ke penjara.

Sebagai contoh, Rabu 12 Juni lalu, Ahian Santoso, lelaki yang disebut-sebut kekasih Zarima, dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara plus denda Rp 6 juta oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Ahian Santoso alias Yeye, 31 tahun, terbukti membawa dan menyimpan shabu-shabu seberat satu gram. Heddy Lugito, Dwitri Waluyo, dan Sigit Indra

[Gatra Nomor 33, 1 Juli 2000]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 21 November 2018 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer