spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Pemain Tua di Pasar Kopi

Menyeduh Kopi (GATRA/Jongki Handianto)TAK jelas, berapa banyak merek kopi yang beredar di pasar. Antara daerah satu dengan daerah lain sering tak sama. Sebab, ditengah persaingan berbagai merek kemasan kopi moderen, terselip pula produk tradisional hasil olahan industri rumahan. Tak mengherankan jika jumlahnya dari tahun ke tahun naik turun, timbul tenggelam. Satu pergi (bangkrut) diganti merek baru lagi, dan seterusnya.

Dari sekian produk tua yang ada, hanya sebagian kecil yang bisa bertahan, dan hingga kini masih berkembang. Inilah beberapa di antaranya:

Kopi Warung Tinggi:
Tertua dari Jakarta

MEREK ini terhitung yang tertua dibanding merek-merek lainnya. Perusahaan kopi ini didirikan oleh Liauw Tek Siong yang dikenal sebagai "Sang Pemula" produsen kopi perorangan di Indonesia.

Berawal dari usaha kedai makanan dan minuman di Jalan Molenvliet Oost, kini Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, pada 1878. Liauw mulai melirik kesenangan orang-orang Belanda menyeruput kopi dan menyediakan minuman segar itu di warungnya. Bahan baku biji kopi ia beli dari perempuan penjaja yang setiap hari datang ke warungnya. Biji-biji kopi itu kemudian disangrai dan ditumbuknya sendiri sampai siap diseduh.

Pelan tapi pasti, ia kemudian sadar bahwa kopi berpotensi besar dikembangkan sebagai lahan bisnisnya. Ia lalu mendirikan toko kopi berjuluk Tek Sun Ho. Toko itu yang juga menjual bubuk kopi kemasan itu ditanganinya sendiri sampai 1927. Pada tahun itu juga ia menyerahkan pengelolaan harian toko kepada anaknya, Liauw Tian Djie.

Minum Kopi ala Warung Kopi (GATRA/Jongki Handianto)Di tangan sang anak, toko kopi ini boleh dibilang kian maju. Tian Djie pun memperbarui proses produksi tokonya dengan mengganti alat sangrainya. Pembaruan alat ini dilakukannya untuk memenuhi peningkatan produksi karena permintaan langganannya meningkat pesat.

Pada ulang tahun keenam puluh tokonya, Tian Djie membuat gebrakan baru. Terinspirasi oleh perempuan penjaja kopi yang dahulu datang setiap hari ke toko itu, ia pun menjadikan gambar perempuan menjunjung keranjang di kepala sebagai logo usahanya. Ia pun mulai merambah pasar ekspor, yakni ke Belanda.

Setelah peristiwa berdarah G-30-S/PKI pada 1965, pemerintah Indonesia memberlakukan peraturan pengindonesiaan semua nama Cina. Sejak itu pula Tian Djie menggunakan merek dagang "Warung Tinggi" pada setiap kemasan kopinya.

Kini, di tangan generasi ketiga, Liauw Tiam Yan yang memimpin perusahaan sejak 1969, perusahaan itu telah memakai peralatan modern dan tempat produksinya dipindahkan ke Tangerang. Tujuan ekspor produknya pun meluas sampai ke Jepang dan negara-negara Timur Tengah.

Pada 2001, perusahaan ini dipecah dua. Yang satu tetap memakai merek dagang "Warung Tinggi", sedang lainnya menggunakan merek dagang baru, yakni "Bakoel Koffie". Merek dagang yang terakhir inilah yang sampai sekarang masih dipegang oleh keturunan asli Liauw Tek Siong.

Kopi Kapal Api:
Karya Anak Fujian

PENDIRI perusahaan kopi yang berbasis di Surabaya ini, Go Soe Loet, boleh bangga. Produk perusahaan yang dirintis pria asal Fujian, Cina Daratan, itu kini menempati posisi teratas dalam pasar kopi di Indonesia. Dalam data yang diolah dari berbagai sumber, Kopi Kapal Api merebut 65% pasar kopi nasional. Ia mengalahkan merek-merek lain yang tak kalah populer.

Kopi Kapal Api (Dok. GATRA)Go Soe Loet yang mulai merantau ke Indonesia sejak awal abad XX itu mulai mendirikan usahanya pada 1927. Ketika itu naluri bisnisnya mengatakan, peluang dagang masih begitu terbuka untuk kopi. Sehari-hari, sembari menjual sayur-mayur, ia melihat banyak orang suka menyeruput kopi. Alhasil, ia memutuskan menjual kopi dengan merek dagang sendiri, yaitu "Kapal Api".

Pada awalnya, untuk menekan harga agar terjangkau oleh masyarakat luas, Soe Loet mencampur produk kopi bubuknya dengan jagung. Tetapi, tak seperti kopi lainnya di pasar yang rata-rata bermutu rendah, ia berusaha tetap menjaga kualitas rasa dan aroma kopinya. Kemasan produknya sampai tahun 1970-an memang masih dalam bungkus kertas.

Pada 1968, anak kedua Soe Loet, Soedomo Mergonoto, mulai bergabung ke perusahaan ini sebagai tenaga penjual. Kala itu, produksinya masih beberapa ratus kilogram per hari. Sepuluh tahun kemudian, pada 1978, saat Soedomo dipercayai mengendalikan perusahaan, sebuah gebrakan dilakukan perusahaan ini. Kopi Kapal Api mulai tersedia dalam kemasan seratus gram.

Malah, dengan berani ia memutuskan memasang iklan (siaran niaga) di TVRI pada akhir 1970-an, lewat kontrak selama tiga bulan. Perusahaan ini relatif menjadi pelopor dalam iklan kopi di layar kaca. Dengan memilih pelawak Jawa Timur yang lagi naik daun, Paimo Srimulat, sebagai bintang iklan, nama Kopi Kapal Api pun cepat melesat. Berbarengan dengan itu, tingkat penjualannya pun meningkat berlipat-lipat. Hanya dalam waktu empat tahun, pada 1984, perusahaan ini telah memakai mesin yang mampu memproduksi 500 kilogram kopi per jam. Kini, Kopi Kapal Api sudah memiliki mesin dengan kapasitas produksi yang jauh lebih besar, yakni 5 ton per jam.

Kopi Aroma:
Yang Bertahan di Banceuy

BICARA soal kopi di Bandung, niscaya ingatan orang tertuju ke Kopi Aroma. Dirintis sejak 1930 oleh Tan Houw Sian, perusahaan kopi yang berlokasi di Jalan Banceuy itu kini ditangani oleh generasi kedua, anak tunggalnya, Widyapratama yang kerap disapa Pak Widya.

Minum Kopi ala Kafe di Cafe Excelso (GATRA/Eric Samantha)Perusahaan ini sejak awal sudah berkembang. Pada 1936 Houw Sian sudah mampu membeli mesin pengolah buatan Jerman merek Probat. Perusahaan ini punya keunikan tersendiri. Bukan saja karena hanya mengolah kopi langsung dari tangan petani di Aceh, Lampung, hingga Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi langganannya. Houw Sian menurunkan tradisi menyimpan dulu kopinya selama beberapa tahun sebelum diolah. Untuk jenis Robusta penyimpanan itu selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika disimpan dulu selama 8 tahun.

Menurut Widya, tradisi itu tetap ia pertahankan karena berkaitan erat dengan kualitas rasa kopi produksi perusahaannya. Malah, rumahnya di Jalan Banceuy No. 51 yang berdiri di atas lahan seluas 1.300 meter persegi itu tetap dipertahankan sebagai tempat penjemuran, gudang penyimpanan, pabrik pengolahan, sekaligus toko.

Kopi yang menggunakan merek dagang Koffie Fabriek Aroma ini rupanya sengaja tak dikembangkan sebagai produksi massal. Widya yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran ini punya alasan sendiri untuk tetap bertahan dengan kondisi usahanya itu. Ia tak mau lebih repot bila perusahaan itu menjadi lebih besar lagi.

Seperti ayahnya dulu, Widya turun ke lapangan memilih sendiri biji kopi di perkebunan langganannya. Sebab, ia tetap ingin mempertahankan kualitas rasa kopi produk perusahaannya yang tidak besar itu. Malah, bubuk kopinya yang dijual seharga Rp 30 ribu per kilo untuk jenis Robusta dan Rp 38 ribu per kilo untuk jenis Arabika itu hanya dapat dijumpai di toko Jalan Banceuy itu saja.

Walau demikian, toh, banyak orang mengenal kualitas kopi yang sampai kini masih diolah dengan mesin kuno buatan Jerman itu. Lebih-lebih, orang jadi mudah mengingat merek Aroma setelah singgah di toko berarsitektur art deco itu.

Erwin Y.S. dan Taufik Abriansyah (Bandung)
[Ragam, GATRA, Edisi 47 Beredar Jumat 3 Oktober 2003]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Artikel lain? (marble@ya..., 16/10/2003 00:05)
Usul untuk tim Gatra: Bagaimana kalo artikel berikutnya bisa membahas soal kopi domestik kita? Seperti Kopi Kerinci, Kopi Medan, Kopi Bali, Kopi Lampung, atau barangkali Kopi2 khas daerah Kalimantan atau Sulawesi, Maluku, dsb. yang mungkin publik penggemar kopi belum tahu banyak? Mungkin lebih menarik lagi untuk diketahui...
 
 
spacer
  
  Selain kapal api ? (richtuel@ya..., 10/10/2003 10:05)
Membaca artikel kopi ini, sungguh-sungguh menarik sekali, saya tertarik dengan produk merek Aroma, kalau boleh tau dimanakah kami bisa mendapakannya di Amerika/New York ? atau apakah bisa kami pesan lalu kami transfer pembayarannya dan kopi dikirimkan !
GATRA tolong dong ???
 
 
spacer
  
  1 yg lupa (baladewis@ya..., 06/10/2003 14:16)
satu yang lupa di bahas oleh gatra dalam hal kopi ini,yaitu SANTOS maklum saya sudah lebih dari 15 tahun tak pernah ganti kopi selain santos yang di export dari Indonesia ini,gerangan perusahan apakah yang membuatnya?
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 21 November 2018 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer