spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Pemindahan Ibukota Negara ke Kalsel, Bukan Palangka Raya

Banjarmasin, 5 Pebruari 2002 10:15
Drs.H.Armain Janit, yang dikenal sebagai "ekonom" nya Kalimantan Selatan, berpendapat jika ibukota negara RI dipindahkan dari Jakarta, sebaiknya bukan ke Palangka Raya (Kalteng), melainkan lebih tepat ke Kalsel.

"Wilayah Kalsel lebih strategis dan memiliki berbagai potensi pendukung, termasuk sarana pelabuhan dan jalur perdagangan ke berbagai daerah maupun ekspor-impor," kata Armain yang juga Ketua BKPMD Kalsel itu di Banjarmasin, Selasa.

Ia sependapat dengan Ketua MPR Amien Rais, yang melontarkan gagasan pemisahan ibukota ekonomi dan ibukota politik, tetapi untuk ibukota ekonomi akan lebih tepat jika dipindahkan ke wilayah Kalsel yang memiliki akses yang mudah ke berbagai wilayah.

"Jika melihat berbagai situasi dan kondisi Ibukota Negara yang saat ini sangat kompleks, sudah selayaknya kedepan dipindahkan ke daerah lain yang memiliki daya dukung, seperti Kalsel," ujarnya.

Ia mengemukakan berbagai alasan perlunya pemikiran ke depan untuk memindahkan Ibukota Negara tersebut, antara lain, ketersediaan lahan di DKI Jakarta Raya dan sekitarnya yang tampaknya cukup sulit untuk dikembangkan.

"Kalau dipaksakan bertahan di Jakarta, investasi di berbagai bidang sangat mahal, jauh lebih murah jika dipindahkan di luar Jakarta," ujarnya.

Menyinggung gagasan Presiden Pertama RI, Ir.Soekarno yang ingin menjadikan Pahandut (kini Palangka Raya), ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, sebagai Ibukota Negara, dia berpendapat, hal itu merupakan isyarat yang harus ditangkap dan ditindaklanjuti oleh generasi penerus.

"Isyarat Presiden Sorkarno tahun 1958 itu menunjukkan bahwa ke depan Ibukota Negara di Jakarta akan tidak layak, karenanya harus dipindahkan ke lokasi yang paling tepat di Pulau Kalimantan," tandas alumnus Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu.

Ia menilai, firasat Proklamator Kemerdekaan RI itu tampaknya memiliki jangkauan yang jauh ke depan, guna menatap negara dan bangsanya pada masa mendatang.

"Kalau kita melihat kondisi obyektif Ibukota Jakarta belakangan ini, diperkirakan dalam 25 - 30 tahun mendatang sudah tidak memungkinkan lagi dipertahankan sebagai Ibukota Negara yang nyaman dan aman," ujar Armain.

Oleh sebab itu, sebagai penyangga maupun pintu gerbangnya Kalimantan adalah Kalsel, karena mempunyai akses yang cukup luas dan banyak, seperti ketersediaan perhubungan udara, laut serta infra struktur penunjang lain, disamping ketersediaan lahan yang masih memungkinkan, lanjutnya.

Mengenai situasi dan kondisi keamanan Kalimantan yang dikaitkan dengan konflik antar etnis beberapa waktu lalu, Kepala BKPMD Kalsel itu berpendapat, hal tersebut disebabkan kurangnya pemerataan keadilan.

Jika pemerataan keadilan bisa terwujud, maka kemakmuranpun akan dapat tercapai, yang pada gilirannya mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Jangan terbalik mendahulukan kemakmuran, karena hal itu justru bisa menimbulkan kondisi keamanan dan ketertiban tidak abadi," demikian Armain Janit.

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 21 November 2018 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer