spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Minoritas Cina Berbicara
Generasi Oksigen Petai Cina

topik-ags-21-oke

Jakarta, 21 Agustus 2002 00:26
BELAKANGAN, sosok Agnes Monica muncul seolah tanpa henti di televisi. Entah itu lewat sinetron, kuis, ataupun iklan. Popularitas dara 16 tahun ini memang sulit ditandingi artis lain seumurnya. Tak kurang dari tiga serial sinetron laris ditayangkan di tiga stasiun televisi: Pernikahan Dini di RCTI, Kejarlah Daku Kau Kutangkap di SCTV, dan Ciuman Pertama di Trans TV secara bersamaan memasangnya sebagai pemeran utama.

Pada saat yang sama, iklan yang ia bintangi juga tak kurang banyaknya. Mulai iklan minuman segar, pewangi cucian, sabun pembersih muka, sampo, T-shirt, hingga iklan sepeda motor.

Sosok Agnes Monica memang sedang laris luar biasa. Rumah-rumah produksi berebut menawarkan kontrak baru untuk bisa memakai artis ini dalam produksi sinetron dan iklan mereka. Penggemarnya pun datang dari kalangan yang beragam. Tak hanya kalangan muda, Satrio Nugroho, seorang karyawan sebuah perusahaan swasta di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berusia 40-an tahun, misalnya, sangat menyenangi sosok Agnes Monica. "Wajahnya segar, dan enak dilihat," katanya. Fakta bahwa Agnes Monica keturunan Cina tak pernah jadi persoalan bagi Satrio.

Di televisi, Agnes Monica memang tak pernah menjadi wakil etnis Cina semata. Ia bisa muncul sebagai sosok anak sebuah keluarga dengan ibu dan bapak yang bernama Jawa, atau sebagai perempuan muda yang tak punya latar belakang Cina sama sekali. Hal serupa dialami Ferry Salim, 35 tahun, aktor keturunan Cina yang juga laris di televisi. Walau dikenal cocok memerankan sosok etnis Cina, Ferry juga bisa muncul sebagai tokoh dengan latar belakang tak berbau Cina sama sekali. Dan sebagaimana Agnes Monica, Ferry Salim juga punya penggemar fanatik tak sedikit.

Walau kehadiran Agnes Monica, Ferry Salim, dan beberapa artis sinetron Tionghoa, seperti Leony atau Roger Danuarta, merajai televisi, wakil generasi muda keturunan yang mencatatkan pengaruh dalam kehidupan bangsa Indonesia jelas tak cuma mereka. Di bidang olahraga, masih ada nama-nama seperti Angelique Wijaya, Wynne Prakusya, dan Hendrawan. Bahkan di bidang-bidang yang selama ini terlihat jarang disentuh warga keturunan, seperti politik, wakil generasi muda keturunan Cina juga muncul menonjol.

Misalnya Hendry Kuok, 29 tahun, aktivis muda yang pernah mewakili Partai Rakyat Demokratik di Komisi Pemilihan Umum menjelang Pemilu 1999. Lalu ada Esther Yusuf, pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang merupakan pendiri lembaga Solidaritas Nusa Bangsa. Lembaga inilah yang berhasil mendesakkan agar pemerintah meratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai penghapusan diskriminasi. Atau ada pula nama Alvin Lie Ling Piao, 41 tahun, anggota DPR dari Partai Amanat Rakyat yang vokal.

Agnes Monica Di bidang lain ada nama Lin Che Wei, 34 tahun, analis ekonomi yang dengan berani membongkar kecurangan-kecurangan di balik penjualan sejumlah aset Grup Salim dan restrukturisasi kredit Grup Texmaco. Apakah kemunculan kelompok anak muda Tionghoa ini bisa dikatakan sebagai babak baru peran keturunan Cina dalam zaman baru yang berupaya menghapus segala pengharaman terhadap hal-hal berbau Cina hasil warisan Orde Baru?

"Kiprah mereka memang belum begitu besar. Tapi, paling tidak merupakan awal kebangkitan generasi Cina di Indonesia," kata Dr. Jamaluddin Ancok, dosen Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kepada Sujoko dari Gatra. Menurut dia, kiprah anak muda Cina peranakan dalam berbagai bidang ini memang belum menunjukkan gambaran bangkitnya generasi muda Cina secara keseluruhan. "Tapi, ini juga tak bisa dikatakan sekadar mode yang akan cepat lenyap," kata Ancok, yang istrinya seorang keturunan Cina.

Yang menarik, anak-anak muda keturunan Tionghoa ini tak merasa kalah dalam mencintai Indonesia dibandingkan dengan anak-anak muda etnis lain. Agnes Monica, misalnya, tak pernah merasa lebih rendah atau lebih tinggi ketimbang warga lain hanya karena ia warga keturunan Cina. "Dari awal, Papi dan Mami telah menanamkan dalam diri saya kecintaan pada Indonesia. Juga kesadaran persamaan derajat dengan warga lain," katanya. Ia sama sekali menolak prasangka yang kerap menuding warga peranakan Cina sebagai keturunan para kolaborator, pendukung Belanda, yang tak mendukung ide kemerdekaan Indonesia.

Menurut Agnes, Soerjo Siswono --kakeknya dari pihak ibu-- memegang peran sangat besar membantu pejuang kemerdekaan Indonesia di Medan, Sumatera Utara. "Ia menyuplai obat-obatan untuk para pejuang kita, juga jadi kurir yang keluar masuk hutan untuk mengantar surat-surat para pejuang," kata Agnes. Baginya, persoalan pribumi dan nonpribumi sudah lama selesai. "Pandangan yang membelah warga keturunan dengan warga pribumi sudah bukan zamannya lagi," tutur Agnes.

Menurut Agnes Monica, keuletan dalam bekerja, kegigihan, dan sikap pantang menyerah warga keturunan harus disinergikan dengan kelebihan warga pribumi: patriotisme yang tinggi dan kegigihan mempertahankan harga diri. "Kalau sifat-sifat ini bisa disandingkan, akan timbul kekuatan yang mahadahsyat, yang bisa membawa kita keluar dari krisis," katanya. Irma Seavana, seorang sahabat Agnes, memang melihat artis ini tak lagi punya hambatan kelompok etnis dalam bergaul.

Irma malah melihat, teman-teman bergaul Agnes lebih banyak dari kalangan pribumi dibandingkan dengan yang berasal dari kalangan keturunan Tionghoa. "Saya salut, dia bergaul tanpa beban dengan siapa pun," kata Irma Seavana. Kesediaan bergaul dengan berbagai kalangan juga tampak pada Alvin Lie. Di dinding ruang kerjanya di Gedung MPR/DPR lantai XX, Alvin Lie memasang lukisan kaligrafi ayat Al-Quran. "Itu pemberian seorang teman. Nggak ada salahnya dipasang, itu kan doa," kata Alvin yang beragama Katolik.

Angie-linchewei Dokter Sofyan Tan, 43 tahun, pendiri Yayasan Sultan Iskandar Muda di Medan, juga punya keyakinan kuat untuk tak membeda-bedakan sesama warga negara. "Petai Cina tak pernah menyediakan oksigen cuma bagi orang Cina," dokter lulusan Universitas Methodist Indonesia ini membuat perumpamaan. Tak mengherankan jika sekolah Yayasan Sultan Iskandar Muda --kini satu di antara sekolah favorit di Medan-- merupakan model sekolah ideal tempat berbaurnya warga pribumi dengan warga keturunan.

Semua golongan masyarakat, kaya atau miskin, dari suku dan agama mana pun tak ragu mendaftar di sekolah yang didirikan Sofyan Tan itu. Dalam tahun ajaran kali ini, 43% siswa beragama Buddha, 40% Islam, dan 17% Kristen. Sementara itu, komposisi pribumi dan nonpribuminya 47 berbanding 43. "Saya bangga, orang tak lagi melihat saya sebagai orang Cina dalam mengelola pendidikan," kata Sofyan Tan kepada M. Rizal Harahap dari Gatra.

Meruntuhkan tembok-tembok prasangka dan diskriminasi memang menjadi obsesi Sofyan Tan sejak muda. Menurut Sofyan Tan, ia sempat harus empat kali gagal dalam ujian negara untuk memperoleh gelar dokternya, karena menghadapi dosen penguji yang punya pandangan sempit dan penuh prasangka terhadap warga keturunan Cina. Baru setelah Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, mengawasi langsung pelaksanaan ujian, ia bisa lulus. "Saya tak dendam, malah bertekad membabat habis diskriminasi seperti itu," kata Sofyan.

Sofyan Tan memang tahu benar betapa buruknya prasangka rasial. Pada 1966, pasca-Gerakan 30 September, ia menjadi saksi hidup pembakaran rumah-rumah kediaman warga keturunan Cina oleh penduduk pribumi, termasuk milik para tetangganya di kawasan Sunggal, Medan. Tapi, Sofyan Tan juga tahu benar, betapa prasangka dan diskriminasi rasial bukan sesuatu yang tak bisa dihapus. Pada 1966 itu, kediaman keluarga Sofyan menjadi satu-satunya rumah warga keturunan Cina yang luput dari pembakaran.

"Pada saat itu, saya tak tahu, kenapa rumah kami tidak dibakar," kata Sofyan. Ia baru menemukan jawabannya ketika ayahnya meninggal pada 1980. Sofyan yang sedang berduka sangat kaget ketika hampir seluruh tetangganya yang pribumi melayat ke kediaman ayahnya. Tak hanya itu, para pemuda kampung itu pun bergilir berjaga-jaga pada malam hari di sekitar rumah itu. "Padahal, ayah saya cuma tukang jahit," katanya. Dari pemuka kampung yang menemuinya, Sofyan tahu jawabannya. Ayah Sofyan ternyata bisa memenangkan hati para tetangganya, sehingga hampir seluruh penghuni kampung menganggapnya sahabat.

Beribadah di kuil Pengalamannya itulah yang menyebabkan Sofyan yakin benar bahwa prasangka dan diskriminasi bisa dihapus. Sofyan terbukti benar. Ketika terjadi kerusuhan rasial di Medan pada Mei 2000, ketegangan antara penduduk pribumi dan warga keturunan Cina tak terasa di kawasan Sunggal. "Sebab, sedikitnya 1.400 penduduk Sunggal pernah menjadi anak didik saya," katanya. Bagi Sofyan, sejak dulu Sunggal adalah kampung halamannya, sementara Indonesia adalah tanah airnya.

Sofyan masih ingat, ketika ia kecil, ayahnya dengan tekun menceritakan kisah perjuangan para founding father Indonesia. Pernah suatu kali, ia merengek minta ikut les bahasa Inggris, tapi sang ayah tak mengabulkan permintaannya. Alih-alih, sang ayah memintanya untuk ikut les bahasa Indonesia. "Sekali tinggal di Indonesia, tetap di Indonesia. Jadi, harus belajar bahasa Indonesia, bukan bahasa lain," kata Sofyan, mengulang ucapan ayahnya.

Tapi, kini zaman tentu berubah. Alvin Lie malah merasa lebih nyaman menyekolahkan ketiga anaknya di luar negeri. "Di luar negeri, mereka bisa belajar lebih mandiri," katanya. Alvin percaya, bagaimanapun, mental seorang perantau berbeda. "Mentalnya lebih tangguh," kata Alvin. Namun, yang lebih penting, Alvin Lie ingin ketiga anaknya dapat melihat Indonesia dari perspektif lain. Melihat Indonesia dari Indonesia kadang membuat seseorang tak terlalu menghargai. "Tapi, sekali kita melihatnya dari luar, kita pasti merasa jauh lebih menghargai negeri sendiri," katanya.

Itu pula yang menyebabkan Alvin Lie, yang menyelesaikan pendidikan di Singapura, Inggris, dan Skotlandia tak pernah berpikir untuk berganti kewarganegaraan. Bahkan peristiwa kerusuhan 12 Mei empat tahun lalu, yang jelas menimbulkan trauma bagi warga keturunan Cina, tak bisa menghapus kecintaan Alvin Lie kepada Indonesia. "Indonesia is my life," katanya. Alvin percaya, era reformasi bakal lebih memberi harapan bagi pupusnya paradigma lama yang dulu sangat mengintimidasi warga keturunan Cina.

Tapi, perjalanan menuju Indonesia baru yang bebas prasangka rasial tampaknya membutuhkan waktu lama, dan tak mudah. Lihat saja bagaimana pekan lalu Solidaritas Nusa Bangsa mengumumkan temuan adanya praktek baru diskriminasi rasial yang diterapkan Pemerintah Daerah Bekasi, Jawa Barat. Menurut Solidaritas Nusa Bangsa, Kepala Dinas Kependudukan Bekasi justru mulai menetapkan kebijakan mengenai kewajiban bagi WNI keturunan untuk membuat surat keterangan model K1. Surat keterangan itu dimaksudkan untuk mempermudah pengurusan surat-surat kependudukan lain bagi pemegangnya.

Namun, untuk mengurus surat itu, pemohonnya antara lain perlu melampirkan salinan surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), keputusan presiden (keppres) mengenai pemberian kewarganegaraan, dan berita acara pengambilan sumpah milik pribadi atau orangtua. Solidaritas Nusa Bangsa menyesalkan kebijakan ini, karena di DKI Jakarta pun, peraturan yang mewajibkan WNI keturunan memiliki dokumen seperti K1 telah dicabut.

warga cina di mall Peraturan ini oleh Solidaritas Nusa Bangsa jelas dinilai diskriminatif karena hanya ditujukan kepada WNI keturunan. Aturan ini pun bertentangan dengan keppres dan instruksi presiden, yang menyatakan bahwa setiap WNI keturunan yang telah memiliki kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan akta kelahiran tak perlu lagi melampirkan SBKRI untuk membuktikan bahwa mereka warga negara Indonesia yang sah.

Kebijakan diskriminatif ini jelas merupakan ironi, karena pada 25 Juni 1999 Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Pasal 2 ayat 1 konvensi itu jelas-jelas menyatakan, "Setiap negara peserta berusaha tak akan terlibat dalam praktek diskriminasi rasial terhadap individu, kelompok orang, atau lembaga...." Perjuangan membabat prasangka dan diskriminasi memang tak mudah. Tapi, sebagian generasi muda keturunan Cina, seperti Alvin Lie dan Sofyan Tan, telah memulai langkah. Mudah-mudahan saja, kelak persamaan derajat tak lagi menjadi teori semata.

[Krisnadi Yuliawan, Amalia K. Mala, Zainal Dalle, dan Asmayani Kusrini]
[Laporan Khusus, GATRA, Nomor 40 Beredar Senin 19 Agustus 2002]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 15 November 2018 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdot123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer