Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Berebut Dukungan Gusdurian

Para capres bergantian sowan ke keluarga Gus Dur di Ciganjur. Ikhtiar untuk mendapat dukungan elektoral Gusdurian atau NU kultural. Keputusan menunggu hasil istikharah para kiai sepuh.

Untuk urusan sowan ke keluarga Gus Dur, Joko Widodo lebih cekatan dari Prabowo Subianto. Presiden ke-7 RI itu datang ke kediaman Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid, Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada 7 September lalu. Kunjungan itu bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun mendiang Gus Dur ke-78. “Ngobrol ringan saja. Tidak ada yang spesifik. Pak Jokowi membicarakan Asian Games dan menanyakan kabar Ibu (istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid –Red.),” kata putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, yang akrab dipanggil Yenny Wahid.

Yenny menggambarkan pertemuan Jokowi dengan Sinta berlangsung hangat dan non-formal. Diselingi cerita anekdot dan derai tawa. Sinta mengambilkan langsung hidangan bubur untuk tamu VVIP-nya itu, Jokowi memberikan buah tangan album foto kunjungan Sinta ke Istana Negara.

Selang tiga hari, giliran Sandiaga Uno, bakal cawapres penantang petahana berkunjung ke Ciganjur. Sandiaga seperti sahabat karib buat Yenny, yang enam tahun lebih muda. Mereka berdua sering WhatsApp-an memperbincangkan hal-hal yang bersifat formal dan informal. Suami Yenny, Dhohir Farisi adalah kader Gerindra seperti Sandiaga. “Ibunya Mas Sandi (Mien Rachman Uno –Red.) adalah teman Ibu saya,” kata Direktur Wahid Institute itu.

Jokowi, kata Yenny, tidak secara langsung membawa “proposal” penawaran untuk gabung dengan tim pemenangannya. Namun Yenny mengaku ada satu-dua menteri Jokowi yang membuka komunikasi ke arah sana. Sementara itu, Sandiaga terang-terangan mengajak Yenny untuk mendukungnya dan bekerja sama dalam pilpres 2019 di tim sukses. “Saya belum jawab,” ia mengungkapkan.

Misi Sandiaga kian dipertegas dengan kedatangan Prabowo Subianto ke Ciganjur pada Kamis, 13 September siang. Prabowo datang menemui Sinta bersama sobatnya, pengusaha Maher Al Gadri (anggota Dewan Pembina Gerindra), Waketum Gerindra Sugiyono, dan Fuad Bawazier. “Kita bahas soal khilafah, geopolitik, konflik di Yaman. Pak Prabowo kan pengetahuannya luas sekali,” kata Yenny.

Sebelum ini, nama Yenny masuk dalam bursa cagub Gerindra untuk pilkada Jawa Timur lalu. Namun ia menolak dengan alasan tidak mendapat restu beberapa kiai sepuh NU dan keluarga. Selain itu, penolakan Yenny dilatari alasan tidak ingin merusak keutuhan suara NU di Jawa Timur.

Singkat cerita, Yenny sebagai representasi elite NU Gusdurian belum menjawab tawaran kubu Jokowi dan Prabowo. “Saya dianggap jomblo politik, makanya banyak yang meminang,” ucapnya sembari tertawa. Pilihan dukungan Gusdurian, kata Yenny, akan ditentukan dari hasil istikharah ulama yang punya kedekatan langsung dengan Gus Dur.

Meski demikian, sebagai kisi-kisi, Yenny menyebut beberapa kriteria yang dijadikan pertimbangan dalam memilih pasangan capres dan cawapres tertentu. Pertama, tokoh tersebut haruslah sosok yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kedua, sosok yang punya kepedulian sosial. Ketiga, memiliki komitmen yang tinggi terhadap toleransi, keberagaman, dan inklusivitas, serta mempunyai komitmen yang baik dalam penegakan hukum.

“Lalu kita lihat apa yang diberikan Gus Dur. Pak Jokowi dapat kopiah dari beliau, Pak Prabowo disebut orang yang paling ikhlas. Itu semua kita timang,” kata Yenny.

***

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantoro, menegaskan bahwa kubu Prabowo-Sandiaga memang berminat meminang Yenny Wahid sebagai bagian dari tim pemenangan. Namun ia tidak dapat memastikan posisi dalam tim yang ditawarkan. “Nama-nama masih digodok,” ujarnya.

Menurut Ferry, bagi sebagian kalangan NU, pengaruh Gus Dur masih sangat besar. Bergabungnya Yenny di timses Prabowo-Sandiaga akan menarik dukungan suara Gusdurian dan kubu NU kultural ke gerbong mereka. Di sisi lain, Prabowo juga terus melakukan komunikasi politik dengan kalangan NU struktural melalui pertemuan dengan Ketua PBNU Said Aqil Siradj. “Keyakinan kami akan dukungan NU struktural kepada Prabowo- Sandi sangat besar mengingat pada pilpres 2014 beliau (Said Aqil –Red.) juga mendukung Prabowo,” ia menjelaskan kepada Riana Astuti dari GATRA.

Kubu Jokowi-Ma'ruf tidak seterang-terangan calon kompetitornya. Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago, mengatakan bahwa sebelum kunjungan ke Ciganjur tempo hari, Jokowi sering bertemu denga Sinta Nuriyah lewat silaturrahmi yang bersifat kekeluargaan. “Pak Jokowi ke Ciganjur untuk sowan. Minta nasihat, minta petunjuk,” ujarnya.

Sebelum ini, strategi Jokowi memilih Ma'ruf Amin sebagai cawapres diprediksi meningkatkan dukungan elektoral warga NU di pilpres mendatang. Temuan Exit Poll Pilpres 2014 oleh Indikator Politik Indonesia, menyebut dukungan warga NU lebih banyak diberikan untuk pasangan Prabowo-Hatta Rajasa (43,1%) daripada untuk pasangan Jokowi-JK (42,2%). Selisihnya sangat tipis, dan hasil akhirnya layak diperdebatkan mengingat ada sekitar 14,7% responden-pemilih warga NU yang merahasiakan pilihannya saat itu.

Namun menjelang pilpres 2019, sejumlah survei memprediksikan situasi di 2014 tidak berulang. Pasca-pendaftaran pasangan capres-cawapres ke KPU, Alvara Research Center membuat sigi yang mendapati 53,8% warga NU memilih Jokowi-Ma'ruf dan sekitar 35,7%-nya memilih Prabowo-Sandiaga.

Hasil senada didapat dari survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia pada 12–19 Agustus 2018 lalu. Dari 41,3% basis responden NU (dari total responden pemilih Muslim) di survei tersebut, 54,7%-nya mendukung Jokowi-Ma'ruf. Sedangkan warga NU yang mendukung Prabowo-Sandiaga sebesar 27%, dengan responden yang belum memutuskan sebanyak 18,3%.

***

Peneliti dan Direktur Program Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Sirajuddin Abbas, menguraikan beberapa karakteristik NU sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Karakteristik pertama adalah pentingnya unsur hierarki simbolik bagi kaum nahdliyyin. Yang dimaksud hierarki simbolik adalah tokoh-tokoh yang menjadi simbol kebanggaan, otoritas, dan kehormatan warga NU. “Salah satunya adalah keluarga Gus Dur,” ia menjelaskan kepada wartawan GATRA Dara Purnama.

Bagi warga NU, dengan karakteristik ini, kedatangan tokoh politik ke rumah Gus Dur untuk sowan, cium tangan Sinta Nuriyah, secara simbolik dipahami sebagai ekspresi hormat dan respek politisi bersangkutan terhadap kebesaran simbol Gus Dur dan terhadap warga NU.

Karakteristik kedua adalah, secara elektoral warga NU tidak pernah terkonsolidasi. Artinya, walaupun karakter dan watak keagamaan mereka relatif seragam, secara politik warga NU terpolarisasi. Warga NU sudah terbiasa membedakan antara wilayah kultural yang selama ini berlangsung di lingkungan NU, wilayah keagamaan, dan otoritas secara struktural. "Terkait dengan aspek budaya, otoritas simbolik, kultural, dan struktural mungkin dapat terkonsolidasi. Tapi untuk urusan politik, selama ini tidak pernah menyatu,” Sirajuddin memaparkan.

Temuan SMRC terkait hasil pilpres 2014 mendapati sekitar 49% dari total pemilih Islam di Indonesia yang merupakan warga NU atau yang mengaku sangat dekat dengan tradisi NU. Total pemilih nasional pada pilpres 2014 sekitar 185 juta penduduk. Dari jumlah tersebut, 87% adalah pemilih muslim. Jumlahnya 161 juta pemilih. Dari 161 juta pemilih muslim tersebut, 49% atau sekitar 78,8 juta pemilih di antaranya merasa dekat dengan NU.

Berdasarkan hasil pileg 2014, warga NU tersebar hampir di semua partai politik. PKB sebagai parpol yang paling dekat dengan NU meraup 9,2% suara NU atau sekitar 7 juta suara. Jumlahnya sama dengan dukungan suara NU untuk Gerindra. Sementara itu, PPP hanya memeroleh 6,3% suara NU. Suara NU untuk PKB dan PPP masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan perolehan suara Partai Golkar dan PDI Perjuangan dari kaum nahdliyyin. Golkar memeroleh sekitar 11% dan PDI Perjuangan meraup lebih dari 20% suara NU.

Paparan itu kurang-lebih dapat memberikan gambaran besarnya suara NU dan inklusivitas warga NU dalam memberikan suaranya. Menurut Sirajuddin, Jokowi dan Prabowo mengerti dengan baik situasi itu. Bagi Jokowi, kunjungan ke Ciganjur adalah kesempatan untuk lebih mengoptimalkan dukungan NU di luar dukungan potensial yang diperolehnya dari sosok Ma'ruf Amin. Sementara itu, bagi Prabowo, kunjungan itu dipandang dapat memperbesar peluang kubunya untuk menyeimbangkan dukungan suara NU yang telah diprediksi lebih berat ke kubu sebelah.

Jokowi dan Prabowo, Sirajuddin melanjutkan, tahu persis bahwa kekuasaan di dalam NU itu tidak semata-mata tepusat kepada pengurus struktural NU. Keduanya paham bahwa di dalam NU ada karakteristik non-formal dengan jumlah populasi signifikan. “Dan seringkali dalam tradisi NU, yang non-formal itu punya pengaruh yang tidak kalah pentingnya,” ujarnya.

Bambang Sulistiyo dan Andhika Dinata
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.47 / Tahun XXIV / 20 - 26 Sep 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com