Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Latihan Fisik Pengontrol Gula Darah

Dosen FKUI menawarkan latihan fisik alternatif buat pasien diabetes tipe-2. Agar gula darahnya tetap terkontrol dan pasien tetap bugar. Hasil promosi doktor. Hak patennya segera diproses.

Taryono patut merasa bersyukur. Pada usia yang sudah menginjak 78 tahun, ia masih merasa bugar. Secara rutin ia berolahraga jalan cepat selama sejam di komplek perumahan Kranggan Permai, Bekasi. "Setiap pukul 4.30 sampai 5.30, saya jalan cepat," ujarnya kepada GATRA, Senin lalu.

Kendati rutin berolahraga, ayah 3 anak dan kakek 8 cucu ini, sudah tahu banyak caramenontrol gula darahnya. "Kalau pas olahraga keluar keringat dingin, saya langsung pulang," kata Taryono. Sesampai di rumah ia beristirahat dan makan permen. Tak lama, gejala tersebut hilang.

Keringat dingin merupakan salah satu gejala hipoglikemik--turunnya kadar gula darah di bawah normal. Kadar gula darah normal adalah 70-130 miligram per desiliter (mg/dl). Hipoglikemik tak boleh dianggap remeh lantaran risikonya bisa mengakibatkan jantung pasien berdegung kencang, dan bahkan koma.

"Saya juga pernah latihan fisik di rumah sakit," katanya. Sejak itulah, gula darahnya berangsur-angsur normal, di bawah 150-200 mg/dl. Latihan fisik merupakan salah satu jenis olahraga yang ditujukan untuk mengontrol gula darah penyandang diabetes alias diabetisi. Berbagai latihan fisik, seperti senam plonanis pun diselenggarakan di beberapa tempat pelayanan kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit.

Meskipun demikian, kata Nani Cahyani, dokter kesehatan olahraga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, implementasi latihan fisik dalam penatalaksanaan diabetes melitus (DM) tipe-2 masih rendah. "Ini salah satunya disebabkan belum lengkapnya petunjuk rinci program latihan dan acuan pelaksanaannya," katanya kepada GATRA. Diabetes tipe-2 adalah jenis diabetes katrena pankreas tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup untuk mengubah gula darah menjadi energi. Penyakit ini biasanya diakibatkan pola hidup yang tidak sehat seperti mengonsumsi makanan/minuman yang manis atau berkalori tinggi.

Karena itulah, Nani merasa perlu untuk mengevaluasi latihan fisik ini. Ia lantas merancang latihan fisik berbasis kondisi pasien diabetes tipe-2 yang kemudian dievaluasi efeknya dengan randomized controlled trial (RCT).

Dengan begitu, dapat diperoleh program latihan yang dipastikan aspek keamanannya, selain juga efektif dan bermanfaat sebagai pilihan penyandang DM tipe-2. Hasil rancangannya itu dibuktikan dalam ujian promosi doktornya yang di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Senin siang lampau.

Nani merancang program latihan yang mengombinasikan high intensity interval training (HIIT) 3 kali dan latihan beban 2 kali per pekan. Intensitasnya pun ditingkatkan secara bertahap. Setiap siklus interval training dalam HIIT terdiri atas latihan berintensitas tinggi (high intensity exercise-HIE) dengan target beban 85%VO2max selama 1 menit, diikuti 4 menit latihan intensitas rendah (low intensity exercise-LIE).

Uji coba dilakukan pada 18 pasien diabetes yang gula darahnya di bawah 250 mg/dl dan tidak memiliki komplikasi. Sedangkan kelompok lain adalah 15 relawan sehat sebagai kontrol. Latihan dilakukan di laboratorium Pusat Olahraga dan Latihan FKUI yang lengkap peralatannya.

Di situ peserta melakukan latihan interval training, seperti menggunakan treadmill dan sepeda statis. Pada peralatan tadi dipasang kombinasi kecepatan dan dilakukan terus-menerus. Interval training biasa dilakukan untuk mengecek kesehatan jantung seseorang. Intensitas latihan yang sama untuk kedua kelompok.

Begitu pun jenis latihan beban. Terdapat 9 latihan beban yang meliputi tubuh bagian atas, anggota gerak bawah bawah dan batang tubuh. "Jadi, (latihan beban) sebenarnya bertujuan agar semua otot besar terlibat dalam latihan," ucapnya.

Keseluruhan latihan dirancang untuk dilaksanakan dalam 12 pekan atau 3 bulan. Latihan tersebut ditargetkan selama 30 menit seminggu sekali. Kedua jenis latihan ini juga dilengkapi dengan edukasi terprogram setiap bulan.

Hasilnya, ia melihat bahwa interval training hanya menurunkan stres oksidatif. Tapi, begitu dikombinasikan dengan latihan beban, ambilan oksigennya meningkat. Begitu pula antioksidan di dalam tubuh ikut naik. Selain itu, kombinasi HIIT dan latihan beban itu memperlihatkan peningkatan kebugaran, perbaikan pengendalian glikemik, dan penurunan stres oksidatif secara komprehensif.

Penurunan stres oksidatif ditandai sekaligus oleh penurunan pembentukan radikal bebas dan peningkatan aktivitas pembentukan antioksidan. Dengan stres oksidatif yang rendah, komplikasi penyakit dapat dicegah.

Latihan ini diyakini aman dan berpotensi dapat mengendalikan komplikasi lanjut penyakit diabetes tipe-2. "Kita belum bisa bilang sekarang (apakah dapat mencegah komplikasi). Tapi kalau dilakukan penderita diabetes dalam jangka panjang, mudah-mudahan kita bisa lihat apa dampaknya terhadap pencegahan komplikasinya," katanya lagi.

Namun, semua ini bisa dicapai berkat dukungan supervisi latihan oleh dokter spesialis kedokteran olahraga, yang memastikan setiap peserta latihan dalam kondisi siap berlatih dan melakukan pemantauan pembebanan setiap sesi latihan.

Nani berharap kombinasi HIIT dan latihan beban dapat menjadi pilihan protokol latihan fisik terstruktur bagi diabetisi berusia 35-64 tahun tanpa komplikasi berat, yang malakukan latihan di fasilitas yang memiliki treadmill atau ergocycle, serta peralatan untuk latihan beban. Meskipun begitu, ia berharap fasilitas pelayanan kesehatan yang terlibat dalam tatalaksana diabetes di Indonesia ikut menyiapkan pasien yang memenuhi persyaratan dan mempunyai akses ke tempat latihan.

Riset tersebut tentu sangat membantu para diabetisi mengelola gula darahnya, yang kini jumlah kasusnya sekitar 10 juta orang. Maklum, urusan mengontrol gula darah bukan perkara mudah. Pasien harus melakukan diet dengan mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis dan berkalori tinggi.

Kemudian, mereka juga harus beraktivitas fisik yang juga terkontrol. Sebab olahraga berlebih justru akan membuat pasien mengalami penurunan kadar gula darah secara drastis atau yang disebut hipoglikemik. Jika dibiarkan pasien bisa lemas, pusing, dan bahkan koma.

Menanggapi studi tersebut, Minarma Siagian, dokter fisiologi FKUI, mengatakan bahwa studi Nani terbilang terapi tanpa obat. "Olahraga untuk menghabiskan gula agar tidak tinggi di pembuluh darah," ujarnya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA.

Latihan yang dirancang juga terbilang baru, karena tidak bersifat massal, seperti di beberapa rumah sakit selama ini. Pada senam massal, derajat penyakit peserta tak dibedakan. Nah dengan metode Nani, khusus untuk pasien, akan diukur kadar gulanya. Disesuaikan dengan kondisi pasien.

Ia sependapat dengan Nani bahwa stres oksidatif harus diturunkan. Ini karena diabetes disinyalir disebabkan stres oksidatif. Ini menimbulkan beberapa hormon meningkat dalam tubuh untuk mengatasinya," lanjutnya. Sebut saja, hormon kortisol dan tiroid menjadi naik, sehingga meningkatkan kadar gula darah.

Saat stres, tubuh manusia membutuhkan gula sebagai bahan bakar untuk menghadapi stres. Namun di sisi lain hormon-hormon stres malah meningkatkan kadar gula. "Ini dapat memicu diabetes," katanya.

Aries Kelana dan Umaya Khusniah

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com