Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Indonesia Butuh Roadmap Industri Halal

Halal Industri dalam Ekonomi Global Ada banyak contoh perencanaan dalam penyusunan ekonomi Islam, baik dalam tataran negara maupun global. Salah satu roadmap mengenai ekonomi Islam global yang dewasa ini menjadi acuan penting masyarakat dunia adalah ''State of The Global Islamic Economy Report'' yang diterbitkan oleh Dinar Standard dan Thomson Reuters.

Sapta Nirwandar
Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center

Dunia terus mengalami perubahan secara dinamis di segala bidang: ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, dan lainnya. Ada yang menyebut kebangkrutan Yunani, rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin korea Utara Kim Jong Un, dan skandal kebocoran data pengguna facebook sebagai kejadian-kejadian yang tidak terprediksi. Situasi ketidakpastian semacam itu yang melatari penulis Amerika, Bob Johansen dalam buku Leaders Make The Future, menggambarkan dunia global sekarang sedang menghadapi yang disebut dengan VUCA (vulnerable, uncertainty, complexity and ambiguity).

Belum lagi dunia juga menghadapi digital ekonomi yang mengubah lanskap produk, pemasaran, distribusi dan faktor-faktor jasa lainnya. Kita sekarang dengan mudah pesan layanan transportasi, makanan dan barang, serta jasa seperti pijat, asisten rumah tangga lewat jari tangan kita, secara online. Semua jadi serbamudah, cepat dengan harga yang sangat kompetitif. Lahirnya Bukalapak, Tokopedia, Gojek, Grab, Hijup.com, halaltraveling dan lain-lain, pada era disrupsi akibat teknologi ini memang harus disikapi dan diantisipasi, bukan hanya sebagai ancaman melainkan juga sebagai peluang.

Salah satu contoh yang menarik adalah di dunia ritel. Dengan kehadiran e-commerce, sebagian ahli berpendapat bahwa ritel konvensional akan segera tamat. Tapi sejumlah brand ritel, antara lain ''MUJI'' (penyedia house hold dan consumer goods asal Jepang) berhasil bertahan dan terus berkembang dengan melakukan pembaruan bisnis dan peningkatan servis di tengah-tengah badai disrupsi.

Lalu pertanyaannya, di era VUCA dan teknologi disrupsi saat ini apakah kita masih memerlukan roadmap atau perencanaan ke depan yang mungkin setiap kali harus kita ubah atau sesuaikan dengan waktu?

Pada hakikatnya rencana, mimpi, visi, roadmap baik secara individu, korporasi, dan bahkan negara, selalu dibutuhkan sebagai panduan arah, cita-cita dan target atau tujuan. Dari sisi organisasi, perencanaan juga bagian penting untuk mengoptimalkan sumber daya dan SDM secara terintegrasi. Yang penting di era VUCA dan disrupsi ini, penyusunan rencana atau perencanaan harus mengantisipasi dan juga memprediksi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi (seperti pelampung dalam pesawat).

Jadi perencanaan, peta jalan, masih penting dan relevan. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang founding fathers Amerika Serikat, Benjamin Franklin: If you fail to plan, you are planning to fail.

Halal Industri dalam Ekonomi Global Ada banyak contoh perencanaan dalam penyusunan ekonomi Islam, baik dalam tataran negara maupun global. Salah satu roadmap mengenai ekonomi Islam global yang dewasa ini menjadi acuan penting masyarakat dunia adalah ''State of The Global Islamic Economy Report'' yang diterbitkan oleh Dinar Standard dan Thomson Reuters.

Laporan itu memuat statistik umat muslim dunia yang kini mencapai 1,8 milyar jiwa atau 24% dari total populasi penduduk dunia yang mencapai 7 milyar jiwa. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan hidup umat muslim kini meningkat seiring dengan fakta pertumbuhan ekonomi kaum muslim itu sendiri. Faktor utama penyebab peningkatan kebutuhan akan produk halal ini adalah kesadaran masyarakat muslim global tentang pentingnya mengonsumsi dan menggunakan produk halal.

Kesadaran itu, saat ini, juga tumbuh pesat dikalangan muslim milenial global atau biasa disebut ''Generasi M'' yang sangat akrab dengan teknologi digital. Generasi M sering ditandai pula dengan gaya hidup modern, tetapi tetap menjaga nilai-nilai Islam dalam berpakaian, pola konsumsi makan minum, akses hiburan dan lain-lain.

Sebagai ilustrasi menarik, dapat kita lihat 59 negara OIC (Organization Of Islamic Cooperation) dengan PDB mencapai US$6,4 trilyun serta menguasai 60% sumber daya alam berupa minyak bumi dan gas. Rata-rata pertumbuhan PDB negara OIC 6,3% lebih tinggi dari pertumbuhan PDB global yaitu 5,3%. Hal itu menunjukkan bahwa meningkatnya kebutuhan umat Islam memberi dampak bisnis dan ekonomi yang besar.

Untuk menangkap peluang itu, belakangan ini banyak inisiasi bisnis mengaitkan pelbagai elemen industri yang mempertemukan kebutuhan dan penyedian kebutuhan umat muslim itu sebagai sebuah gaya hidup halal atau halal lifestyle.

Dalam laporan Dinar Standard dan Thomson Reuters itu, paling tidak ada sepuluh sektor dalam halal industri yang memberi kontribusi besar, Yakni halal food, travel, clothing and fashion, pharmaceutical, cosmetics, media and recreation, finance/bank, hospital and medical trend, education, serta art and culture. Pilar-pilar sektor ekonomi Islam ini menjadi panduan yang relevan untuk dijadikan pembahasan yang terkait dengan upaya Indonesia menyusun peta jalan industri halal.

Untuk kebutuhan daging sapi dan ayam, negara-negara OIC mengimpor dari Australia, Selandia Baru dan Brasil. Sedangkan untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi terbesar dari Korea, Cina, Prancis dan Italia. Belum lagi soal media rekreasi (kreasi media, game digital) yang menjadi pemasok terbesarnya adalah Singapura. Yang mendominasi kebutuhan makanan olahan halal, disuplai oleh Nestle, Carrefour dan Unilever. Mode/fashion dikuasai sebagian besar oleh negara non-OIC (Cina, India dan Italia).

Dari gambaran dan data di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan hidup dari umat muslim telah menjadi bisnis besar yang kue ekonominya tidak selalu dimiliki oleh para pengusaha muslim. Sebab, memang tidak ada larangan untuk produk halal yang diproduksi oleh non-muslim. Sebaliknya produk halal karena baik dan sehat (good food dan healthy food) dapat juga dikonsumsi oleh non-muslim.

Selain itu, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia (85% merupakan umat muslim dari jumlah penduduk 250 juta), adalah pasar potensial bagi produk dan jasa halal. Sebagai contoh menurut data dari Korea Institute of Halal Industry (KIHI) pada 2015 Indonesia masih mengimpor produk kosmetik dan farmasi dari Korea dengan nilai total US$37,7 juta. Indonesia juga masih mengimpor produk makanan dari Thailand. Apalagi daging sapi, Indonesia merupakan pelanggan yang baik dari Selandia Baru dan Australia.
Potensi sektor pariwisata halal juga sangat menjanjikan. Pengeluaran wisata muslim global 2016 mencapai US$169 milyar atau 11.8% dari pengeluaran konsumsi wisata global. Tercatat pada 2016 jumlah wisatawan muslim yang berkunjung ke Indonesia mencapai 2.7 juta jiwa.

Fenomena ini sudah saatnya memicu pebisnis Indonesia untuk memperluas usaha dalam sektor-sektor halal lndustri. Sebab prospeknya, sebagaimana terpapar dalam angka-angka di atas, sangat menjanjikan, baik bagi kebutuhan Indonesia maupun negara-negara OIC.

Pada titik itu, perencanaan, peta jalan sangat diperlukan dalam upaya menempatkan peran Indonesia tidak hanya sebagai pasar potensial, namun juga pemain aktif dalam kue besar halal industri.

IHLC dan Dinar Standard Untuk memberikan gambaran sistematis dengan dilengkapi data sehingga relatif mudah di baca oleh masyarakat pengusaha dan peminat industri halal, Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) dan Dinar Standard dari Dubai yang berpengalaman dalam menyusun Report Global Economy, bekerja sama menyusun peta jalan industri halal Indonesia.

Diharapkan, strategi roadmap ini dapat memberikan perspektif industri halal di Indonesia dengan objektif menetapkan skala pertumbuhan konsumen halal industry, arah pengembangan ekspor dengan memperhitungkan situasi ekonomi Islam global dan para pemain dalam industri halal global.

Sebelum Indonesia, negara-negara yang telah mempunyai perencanaan, visi roadmap, sepanjang pengetahuan penulis, adalah Malaysia. Negara tetangga itu bahkan sudah mempunyai Halal Industry Development Master Plan 2006-2023 yang disusun Halal Development Corporation (HDC) yang sudah terncana dengan baik.

Lalu Dubai - Uni Emirat Arab yang selalu ingin menjadi leading sector keuangan Islam dunia telah memiliki ''The Road Map a Head Dubai as The Worlds Capital of Islamic Economy''. Thailand sudah mempunyai rencana Halal Diamond yang menitikberatkan pada ekspor produk makanan yang ditangani oleh riset center di Chulalongkorn University yang berkembang maju.

Tentu roadmap industri halal Indonesia yang tengah disusun ini bukan merupakan suatu rancangan kebijakan seperti yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan fungsi pengaturan dan regulasi. Namun selain sebagai bahan informasi bagi para pemangku kepentingan industri halal, roadmap ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan kebijakan yang dapat mengkaselarasi industri halal di Indonesia. Semoga, insya Allah.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com