Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Maju-Mundur Aplikasi Pak Ustad

Sempat kewalahan karena pertumbuhan pengguna yang tinggi dan beberapa kali terganjal regulasi, kini PayTren mengklaim sebagai aplikasi pembayaran berbasis syariah terbesar di Indonesia.

Langkah panjang dan tidak mudah. Begitulah gambaran yang terjadi saat Ustad Yusuf Mansur merintis perusahaan teknologi finansial (tekfin) syariah. Perusahaan aplikasi pembayaran yang kini bernama PT Veritra Sentosa Internasional (Treni) dan menawarkan produk PayTren ini telah memiliki lebih-kurang 2,2 juta user di seluruh dunia. Jumlah itu berkembang setiap harinya dengan penambahan 1.000 hingga 3.000 user.

Pada awalnya, Veritra Sentosa Internasional (VSI) adalah perusahaan yang menjalankan sistem multilevel marketing (MLM) dan menawarkan produk kesehatan. Transformasi pun terjadi pada 2013, tatkala Yusuf Mansur bertemu dengan Hari Prabowo, yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Treni. Keduanya saling berbagi pembicaraan mengenai teknologi.

Akhirnya muncul ide untuk membuat produk pembayaran berbasis internet. Hari pun diajak bergabung oleh Ustad Yusuf Mansur ke perusahaannya. “Muncul ide dari Ustad, lalu saya mengembangkan menjadi aplikasi,” kata Hari kepada GATRA.

Maka, pada Agustus 2013, PT Veritra Sentosa Internasional hadir dengan wajah baru dan melepas produk bernama V-Pay ke pasaran. Kala itu, Ustad Yusuf Mansur memberikan amanah kepada Hari untuk membenahi perusahaan dalam waktu tiga hari. Hari membentuk tim sendiri yang tak lain adalah mitra kerjanya di masa lalu. Sebelum bergabung bersama VSI dan Yusuf Mansyur, pada 2007 Hari pernah mengembangkan konsep produk yang sama namun dengan cara yang lebih manual, yakni pembayaran berbasis pesan singkat.

Produk payment gateway yang digagas Hari sempat bekembang dengan pengguna mencapai 30.000 orang. Namun waktu itu, ia kena semprit Bank Indonesia (BI). Karena sistem yang dibangun Hari ada regulasinya. Akhirnya, usaha yang dirintis Hari harus berhenti di tengah jalan. “Sampai saya bertemu dengan Ustad Yusuf Mansur pada 2013 dan kita punya ide yang sama,” katanya.

Pada 22 Agustus 2013, V-Pay dirilis dan langsung mendapat sambutan baik. Hari mengklaim, dalam waktu seminggu terjadi penambahan member hingga 30.000 dan terus bertumbuh. Ketika menyentuh 300.000 lebih pengguna pada pertengahan 2014, V-Pay mulai cegukan. Fondasi teknologi yang dibangun belum mampu memfasilitasi pergerakan member sebanyak itu.

Alhasil, perusahaan mengalami masa stagnan. Sebagai contoh, ada pengguna yang membeli pulsa, namun baru menerimanya seminggu kemudian. “Padahal potensinya luar biasa pertambahan member pada 2014 mencapai 500.000 . Karena permintaan banyak tapi kita enggak bisa men-deliver ini dengan baik,” kata Hari.

Buntutnya, kredibilitas perusahaan tergerus. VSI pun mengalami kerugian yang sangat besar. Tidak sedikit karyawan yang mengundurkan diri. “Di saat begitu, Ustad bilang sama saya bahwa selama ini kita salah karena berharap pada manusia. Ustad mengatakan, mulai hari ini kita yasinan selama 40 hari bersama seluruh karyawan,” katanya.

Setelah berusaha demikian, Hari merasa ada mukjizat. Pada minggu pertama, salah satu bank di Indonesia menawarkan bantuan kepada VSI yang sedang mencari partner kerja sama untuk memperbesar market pembayaran listrik PLN.

Berbekal pengalaman tersebut, VSI memakai jasa pengacara untuk membenahi sistem manajemen perusahaan. Dalam perjalanannya diketahui, ternyata nama VSI juga dipakai oleh pemilik lain di Bandung. Merekalah yang menerima complain member saat V-Pay tengah bermasalah. “Saya lapor Ustad. Akhirnya Ustad memutuskan untuk meminta maaf. Saat mendatangi si pemilik VSI tersebut, suasana sangat cair dan kita memutuskan untuk mengganti nama perusahaan berikut produknya,” katanya.

VSI pun berganti menjadi Treni, dan V-Pay berubah menjadi PayTren. Awal 2015 menjadi titik balik kebangkitan Treni bersama PayTren. Jumlah user pun melejit hingga saat ini sudah mencapai 2,2 juta.

Sampai saat ini, Treni sudah memiliki sekitar 200 karyawan, 30 di antaranya adalah tenaga IT. “Semua regulasi kita penuhi dari Kementerian Perdagangan, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Bank Indonnesia dan DSN MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia). Sampai saat ini pemerintah dan berbagai insistusi banyak mendukung kita. Apalagi kita menjadi perusahaan yang 100% murni produk lokal,” katanya.

Salah satu pengguna PayTren yang sudah merasakan manfaatnya adalah Dini Mildawati. Warga Bandung, Jawa Barat ini menggunakan PayTren agar bisa mengisi pulsa sendiri. Dia pernah ribut dengan suaminya lantaran ditelepon orang tidak dikenal setelah mengisi pulsa di counter. “Saya gabung 2014 karena saya dan keluarga memang butuh pulsa. Awalnya saya enggak langsung jalankan sistem bisnisnya, hanya menjadi pengguna karena butuh pulsa isi sendiri. Biar aman,” tuturnya kepada GATRA.

Kini, ia tidak hanya menjadi pengguna. Tapi juga menjadi penjual lisensi aplikasi PayTren. Selain untuk membeli pulsa, ia bisa menggunakannya untuk membayar berbagai tagihan. Dari listrik, air, hingga televisi kabel.

Menurut Hari Prabowo, ada lebih banyak lagi kegunaan PayTren. Misalnya, untuk membeli tiket pesawat, kereta api, hingga voucher permainan online. “Sebagai perusahaan tekfin, kita mendapatkan izin dari BI, sementara untuk sisi bisnis kita mendapatkan izin dari Kementrian Perdagangan dan BKPM. Kedua pola ini sudah mendapatkan sertifikat syariah,” kata Hari.

Saat PayTren sedang berkembang, lagi-lagi mereka terganjal aturan. Oktober 2017 lalu, Bank Indonesia membatasi aktivitas uang elektronik (Unik). Termasuk PayTren. Ada aturan ketentuan saldo maksimum Rp1 juta bagi Unik. Sebelumya uang mengendap atau deposit user PayTren bisa mencapai Rp5 juta dengan limit transaksi mencapai Rp20 juta per bulan. Melalui penyempurnaan aturan, bank sentral pun merevisi ketentuan tersebut melalui PBI Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik. Saldo maksimum uang elektronik dari Rp1 juta kini menjadi Rp 2 juta.
“Karena kemarin ini ada pembatasan dari Bank Indonesia sehingga agak pusing. Rata-rata perputaran uang sebelum ada pembatasan bisa mencapai Rp12 milyar sampai Rp13 milyar per hari. Begitu pembatasan berkurang menjadi sekitar Rp6 milyar per hari,” kata Hari.

Sistem yang diadopsi PayTren juga hampir mirip dengan MLM. Bedanya, bila kebanyakan MLM menawarkan passive income, bagi PayTren itu haram. Juga, di dalam PayTren tidak ada istilah umum yang biasa digunakan pada kebanyak MLM seperti rekrut, gabung, upline, downline, sponsor, dan istilah lainnya. Syarat untuk menjadi pebisnis pun juga ada beberapa akad yang harus dipenuhi.

“Jadi prinsipnya, jadilah dulu pengguna yang benar. Kalau bicara MLM, banyak dari mereka yang gak peduli dengan produk. Di kita wajib pakai [produknya] dulu. Kalau mau jadi pebisnis, pindah akad dulu. Dari pengguna menjadi pebisnis,” katanya.

Untuk menjadi pebisnis, user juga harus memenuhi syarat minimal menjual dua lisensi aplikasi kepada dua orang. Jika berhasil melakukan penjualan, maka user tipe dua ini otomatis sudah menjadi agen perusahaan karena telah membantu menjualkan lisensi. Pada saat lisensi diaktifkan, ada sejumlah biaya pendaftaran yang harus dibayarkan senilai Rp350.000 kepada perusahaan.

Cavin R. Manuputty dan Dara Purnama
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com