Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Usaha Jamur Berbuah Zakat

Memberi zakat sudah menjadi kebiasaan Rial Aditya. Itu berkat keuntungan dari berbisnis jamur tiram. Berkat investasi syariah

Rial Aditya tak menyangka bisnisnya berbuah manis. Investasi syariah yang dikembangkannya sejak 3 tahun lalu, ternyata menarik minat banyak orang. Apalagi setelah banyak yang mengetahui bisnisnya di website rumajamur.com. Total dana yang diolah Rumajamur mencapai Rp60 juta-70 juta.

Rial berharap, sistem investasi syariah ini dapat membantu memperkuat jaringan di berbagai area usaha dan pengembangan usaha kerakyatan terutama di sektor pertanian. Pria berusia 35 tahun ini memulainya dari bisnis kecil-kecilan: bisnis jamur tiram putih. Sarjana lulusan Jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung, itu merintis usaha jamur pada 2014.

Pilihannya jatuh pada budi daya jamur tiram, setelah berkunjung ke wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Di situ, ia mengetahui bahwa daerah tersebut merupakan sentra budi daya jamur tiram yang terbesar di Indonesia. Budi dayanya tidak memerlukan lahan luas dan tidak mengenal musim. Ini yang menarik minat Rial.

Ia mulai menawarkan ide bisnisnya ini kepada teman-temannya, termasuk salah satu dosen di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sang dosen bersedia menjadi investor pertama. Dengan modal awal Rp25 juta, Rial dibantu 3 kawannya memulai usaha.

Ternyata saat memulai usaha, kenyataan tak sesuai yang dibayangkan. Setelah 3 bulan, dari 10.000 baglog jamur yang dikembangkan, hanya menghasilkan 15 kg jamur. Padahal target awal sebanyaj 4-5 ton. ''Dulu 1 kg itu harganya Rp6.000. Kalau hasilnya 15 kg dikali Rp6.000, ya cuma balik modal Rp90.000,'' katanya, ketika ditemui Aulia Putri Pandamsari dari GATRA di kebun RumaJamur, Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung.

Ketika melapor ke investor, Rial deg-degan, khawatir dimarahi. Sebab, hanya dirinya yang mengerjakan, sedangkan teman-temannya hanya sebagai penggembira. ''Tetapi dari situ saya belajar satu pelajaran yang nempel sampai sekarang: apa pun hasilnya harus berani bertanggung jawab,'' katanya.

Rial pun mencari penyebab kegagalan langkah awalnya. Rupanya, bibit jamur yang dibelinya dari seorang produsen bukan bibit murni, melainkan bibit turunan atau bibit filial ke-7 atau ke-20. Memang tidak bisa dibedakan bibit jamur turunan atau asli. Hanya penjualnya yang mengetahui.

Rial tak patah arang. Ia lalu mengembangkan bibit jamur secara mandiri. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari belajar dari sejumlah petani hingga bekal ilmunya semasa kuliah. Teknik budi daya jamur yang dikembangkan Rial cukup sederhana, yaitu menggunakan kultur jaringan. Caranya, dengan mengambil jaringan jamur yang akan ditanam pada media PDA (potato dextrose agar). Lantas dimasukkan dalam sebuah tabung reaksi yang disimpan dalam ruang isolasi yang steril.

Percobaan pertama dilakukan di gudang kecil berukuran 1x2 meter, di belakang rumahnya. Dengan akuarium bekas dan panci presto sebagai pengganti autoklaf, jamur-jamur yang dibuat dalam ruangan kecil itu menghasilkan belasan juta rupiah.

Tak hanya urusan bibit, Rial pun membenahi jaringan bisnisnya. Ia mendirikan merintis perusahaan bernama CV Ganesha Mycosoft. Lewat usaha inilah ia lantas memproduksi bibit jamurnya cuma sampai 3 turunan. Tujuannya, menjaga kualitas bibit tersebut.

Dalam tempo sebulan, usahanya menghasilkan sekitar 100 tabung reaksi bibit F0, 500 botol F1 yang berukuran 400 gram, 2000 botol F2 yang juga berukuran sama, dan sekitar 15.000 baglog F3 dengan berat 1 hingga 1,5 kg.

Harga yang dipatok pada aneka bibit tersebut pun beragam. Untuk bibit murni atau F0 harganya Rp100.000 per tabung reaksi, bibit induk (F1) Rp35.000 hingga Rp50.000 per botol, bibit tebar (F2) Rp7.500 hingga Rp10.000 per botol.

Budi daya jamur sebanyak 25.000 baglog dapat menghasilkan sekitar 12,5 ton dalam kurun waktu 3 bulan dengan harga jual Rp7.000-8.500 per baglog. Jenis-jenis jamur yang dikembangkan kebanyakan jamur tiram putih, tetapi ada juga jamur tiram cokelat, jamur tiram pink dan kuning, jamur shiitake, shiitake, dan lingzhi.

Teknik lain yang digunakan Rial adalah mengembangkan pembuatan baglog atau media jamur yang terdiri dari serbuk gergaji, kapur, dan dedak. Baglog itu kemudian dipadatkan dengan mesin dan dikukus selama 3-4 jam. Mesin pengukus tersebut dapat menghasilkan 600 baglog. Setelah panen, jamur yang tumbuh bisa dipetik dan dikirim kepada para pengepul yang kemudian disalurkan ke sejumlah pasar induk di Jakarta, Bandung, dan Bekasi.

Setelah sukses dalam pembuatan dan budi daya bibit jamur, Rial pun melebarkan usahanya ke bidang lain, yaitu kuliner jamur. Jamur-jamur diolah menjadi produk olahan. Di antaranya seperti burger jamur, siomay jamur, bakpao jamur, abon jamur, rending jamur, dan katsu jamur.

Pemasarannya berkembang hingga seluruh Indonesia. Bagi yang berminat bisa bekerja sama dengan melakukan franchise produk olahan jamur milik Rial. Target Rial adalah menciptakan sekitar 99 kedai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Harga 1 franchise yang ditawarkan kedai RumaJamur adalah Rp15 juta. Dengan menjadi master franchise ia dapat mendapat keuntungan atau margin hingga 40% dari bahan baku ke tiap outlet di area master franchise.

Rial ingin membuat bisnis yang bergerak dari hulu ke hilir. Seperti memproduksi bibit dari lab kemudian di hilirnya mengolah produk tersebut menjadi produk olahan jamur. Namun, tantangannya, belum ada asosiasi petani jamur, bahkan di Cisarua sekalipun. Mereka hanya tahu bahwa jamur harus dikukus selama 3- 4 jam, tetapi tapi tak tahu alasannya. Mereka juga bekerja sendiri-sendiri.

Tak mengherankan jika tiap tahun ada saja pengusaha jamur yang bangkrut dan muncul yang baru lagi. Maka, ''Dua tahun ini saya lagi coba rintis suatu paguyuban petani jamur Cisarua atau Pattimura. Niatnya Rumajamur jadi learning center bagi siapa pun yang minat,'' katanya.

Keuntungan dari dana hasil usaha tersebut, kemudian sebesar 20% disisihkan, yang 2,5% untuk zakat dan 17,5% buat sedekah produktif. Zakat tersebut lantas disalurkan kepada lembaga-lembaga atau yayasan pengumpul zakat.

Sebesar 17,5% itu disalurkan sebagai sedekah produktif bagi orang-orang yang membutuhkan. ''Walaupun nominalnya kecil, sekitar Rp50.000 saja, bisa diberikan kepada tukang asongan, penjaja gorengan yang sedang butuh modal tambahan,'' kata Rial.

Aries Kelana
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com