Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Bisnis Legit Kaveling Kurma

Berawal dari pemanfaatan lahan tidur, Kampoeng Kurma di Jonggol, Bogor, kini mencapai luas 300 hektare. Sebagian dijual dalam bentuk kaveling. Konsep serupa kini berkembang di berbagai pelosok Jawa Barat. Menjnajikan hasil panen yang menggiurkan.

Saat berkunjung ke kawasan Sukaresmi, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, CEO Kampoeng Kurma, Arfah Al Hafidz melihat ada banyak lahan-lahan yang tidak produktif. Secar spontan muncul gagasan untuk menanami lahan tersebut dengan pohon kurma, tanaman yang biasa tumbuh di negara-negaraTimur Tengah.

Pemilihan kurma bukan tanpa sebab. Arfah bersama sang istri, Sari Kurniawati, pernah melakukan sejumlah riset tentang kurma. Ide itu muncul ketika membaca majalah pertanian yang saat itu memuat artikel tentang budi daya pohon kurma. Di Thailand,budi daya kurma tropis sudah berlangsung puluhan tahun.

Dalam pandangan Arfah, kondisi alam Negeri Gajah Putih itu 'sebelas-duabelas' alias mirip dengan Indonesia. ''Kita berpikir, kalau di Thailand saja bisa menanam pohon kurma tropis dan bahkan sudah panen lebih dari 10 tahun, berarti Indonesia ketinggalan banget ya,''kata Sari Kurniawati, Direktur Finance Kampoeng Kurma.

Ide tersebut kemudian direalisasikan oleh Arfah dengan mendirikan Kampoeng Kurma. Semula, Arfah dibantu Sari menanam bibit pohon kurma tropis di lahan-lahan tak produktif itu. Setelah berjalan sekitar 2,5 tahun, bibit pohon kurma tumbuh menjadi pohon dewasa dan mulai berbuah pada usia 4 tahun.

Melihat pohon kurma dapat tumbuh dengan bagus, Arfah kemudian mengembangkan perkebunan kurmanya. Lahannya diperluas. Kebetulan, beberapa warga di Sukaresmi menawarkan lahan seluas 300-an hektare. Arfah menyambut tawaran tersebut. Setelah pembebasan lahan, Arfah menyulap lahan-lahan tak produktif itu menjadi perkebunan kurma. Ia lalu, menjualnya dalam bentuk kaveling-kaveling.

Dari 300 hekatare lahan tersebut, ternyata hanya sepertiganya yang bisa dijual untuk menjadi kavling produktif. Satu kaveling terkecil yang ditawarkan oleh Kampoeng Kurma adalah lahan dengan 500 meter persegi. Sebagai bentuk apresiasi kepada pembeli,setiap kaveling ditanami lima bibit pohon kurma.Pohon itu mulai berbuah pada usia 4 sampai 10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia 90 tahun. Pembeli bisa mewariskan potensi investasi ini kepada keluarganya.

Arfah mulai merintis kaveling Kampung Kurma pada Oktober 2016. Ia mulai melakukan riset dan studi banding ke Thailand. Ternyata, di sana, pohon kurma sudah mulai dapat dipanen pada usia tiga tahun. Padahal di beberapa negara asal kurma, seperti Arab Saudi, pohon itu baru berbuah pada usia 10 tahun. Selain waktu tanam yang lebih singkat, ternyata harga kurma di Thailand cukup menggiurkan, per kilo ratusan ribu rupiah.

CoFounder Kampoeng Kurma, Risky Irawan, ikut melakukan riset di Thailand. Sebelumnya, selama tujuh tahun Risky melakukan studi literasi tentang potensi budi daya kurma. "Kalau kita pelajari komparasi dari sana ternyata komoditas kurma yang paling laris di Asia Tenggara itu adalah kurma tropis. Selain bisa tumbuh di areal tropis, nilai jualnya ternyata luar biasa. Namanya kurma Barhi," kata Risky.

Risky menceritakan, ia menanyai salah satu pembudi daya kurma di Thailand tentang alasan menanam kurma dan bukan pohon produktif yang lain."Dia menjawab, kurma potensi ekonominya besar,'' kata Risky.

Tak hanya bisnisnya yang legit, ternyata kurma punya keistimewaan di hati petani Thailand yang mayoritas beragama Buddha. Jawaban petani kurma membuat Risky merinding. ''Mereka bilang kami ingin mendapatkan berkah nabi Anda (Muhammad SAW). Bayangkan orang non-muslim saja berbicara begitu kepada saya," kataRisky.

Harga kurmatropis jenis barhi di Thailand, jika dikonversi ke rupiah Rp700.000 per kilogram. Jika diasumsikan binis Kampoeng Kurma di Indonesia yang juga memakai bibit kurma barhi, potensi keuntungannya sangatlah besar. Di Thailand,kata Risky, saat panen,satu pohon rata-rata memiliki16 sampai 18 tandan.Tiap-tiap tandan menghasilkan 50-60 kilogram dalam satu kali masa panen.

Harga kurma barhi termurah Rp300.000 hingga Rp320.000per kilo. "Kita asumsikan satu pohon menghasilkan buah 240 kilogram, lalu dikalikan Rp100.000, maka satu pohon berpotensi menghasilkan minimal Rp24 juta sekali panen," kataRisky.

Kampoeng Kurma berupaya melakukan terobosan agar dana yang ditanamkan investor tetap aman dan terus menghasilkan keuntungan bagi investor. Apalagi pada tahun ke-16 pohon kurma sedang produktif menghasilkan buah.Untuk itu, Kampoeng Kurma menawarkan akad jual beli tanah kaveling produktif, di mana tanah tersebut diberikan nilai dengan pohon kurma.

"Kita lakukan jual beli tanah karena di dalam Islam kepemilikan tanah itu, misalnya 100 meter, maka 100 meter ke dalam perut bumi dan 100 meter ke angkasa adalah milik si pembeli.

Sehingga apa pun yang tumbuh di atasnya mutlak menjadi milik si pembeli. Jadi ini murni jual beli," katan Riskykepada GATRA. . Konsep pemberdayaan tersebut berupa pengelolaan pohon kurma yang sudah menjadi hak milik si pembeli. Untuk pengelolaan bukan hanya dilakukan oleh manajemen Kampoeng Kurma melainkan juga melibatkan masyarakat sekitar, khususnya muslim yang sudah terlatih. "Konsep ini (Kampoeng Kurma) membuat pemilik tanah untung, masyarakat untung, dan pemerintah terbantu.Jadi titik poinnya betul-betul pemberdayaan umat karena kita melibatkan berbagai macam aspek," kata Risky.

Kampoeng Kurma tidak hanya menawarkan kaveling tanah produktif dengan pohon kurma, tetapi juga membangun infrastruktur berupa fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) seperti pesatren tahfiz Al-Quran, islamic centre, gedung serbaguna, sarana olah raga memanah, sarana olahraga berkuda, bumi perkemahan tahfiz Al-Quran, kolam renang terpisah antara ikhwan dan akhwat, pasar rakyat dan wisata air. "Semua fasilitas itu otomatis akan menambah nilai jual tanah,"jelas Risky.

Risky menerangkan bahwa pembangunan fasos dan fasum ini melibatkan pihak ketiga yang dinamakan sebagai pewakif. Para pewakif ini, misalnya, mewakafkan tanah seluas 3 hekatre untuk dibangun sebuah pesantren di kawasan Kampoeng Kurma. Dengan demikian pesantren dibangun bersama dengan menggunakan dana yang diwakafkan oleh para pewakif. Pesantren itu nanti dikelola oleh ulama. Karena usia Kampoeng Kurma baru sekitar 1,5 tahun, fasos yang sudah dibangun baru pensatren thafiz Al-Quran.

Kini, Kampoeng Kurma mengembangan proyek kaveling produktif ke beberapa daerah di Pulau Jawa. Proyek pertama ada di Sukaresmi, yakni Kampung Kurma Jonggol, Kabupaten Bogor. Selanjutnya, masih di Kabupaten Bogor, adalah Kampoeng Kurma Tanjung Sari, Kampoeng Kurma Sinarsari dan Kampoeng Kurma Jasinga. Di Lebak, Banten ada Kampoeng Kurma Cipanas dan Kampoeng Kurma Pandeglang. Selanjutnya Kampoeng Kurma Cirebon Jawa Barat. "Rata-rata luas lahannya di masing-masing daerah itu 100 hektare," kata Risky.

Saat ini,kata Risky,fokus manajemen Kampoeng Kurma masih pada pengembangan kaveling kurmadi Pulau Jawa terutama di Jawa Barat. Sebab di wilayah itu banyak daerah-daerah yang belum terberdayakan. "Apalagi Jawa ini kan kota padat. Jangan sampai banyak masyarakat yang pengangguran,''ujar Risky. Untuk daerah lain,Risky berharap, hal yang dilakukan Kampoeng Kurmamenginspirasi orang lain untuk mengembangkan di seluruh Indonesia.

Manajemen Kampoeng Kurma sangat terbuka dan mendukung para pengembang lain untuk mengembangkan bisnis ini dengan catatan harus memiliki tujuan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, pihaknya juga mengimbau para pengembang yang ingin mengembangkan konsep serupa agar juga mempelajari teknologi agribisnis kurma ini. "Jadi bukan hanya mempelajari pola bagi-bagi lahan, tapi juga sisi agribisnisnya. Silakan mengembangkan karena kita harus saling dukung dan bantu," katanya.

Bagi Risky tantangan terbesar dalam mengembangkan Kampoeng Kurma di Indonesia adalah cara mengedukasi masyarakat awam. Sebab, masih banyak anggota masyarakat yang belum yakin dengan bisnis ini. "Di situ tantangannya, apalagi buah kurma sudah dijamin oleh Rasulullah Muhammad SAW bahwa tanaman ini dari ujung ke ujung bisa menghasilkan," kata Risky.

Sebagai perusahaan pertama yang mengembangkankaveling kurmadi Indonesia, Kampoeng Kurma menghadapi berbagai tantangan. Namun tantangan tersebut selalu diatasinya tanpa mengenal kata menyerah. Kampoeng Kurmadituntut untukterus belajar dan mengembangkan teknologi sekaligus mampu mengedukasi pasar. "Karena kita yang pertama, belum ada benchmark di Indonesia. Sementara orang di Indonesia kalau mau investasi kepenginnya cepat. Padahal, kita masih dalam tahap edukasi," katanya.

Risky juga menjamin bisnis kaveling produktif ini menggunakan pola syariah, sebab dilakukan tanpa riba. Saat ini manajemenKampoeng Kurma sedangmengupayakan proses sertifikasi syariah. Ini juga tantangannya luar biasa karena belum ada sebelumnya. ''Pada saat kita ajukan sertifikasi lembaganya juga masih bingung. Tapi ini kan harus kita lalui. Saya tekankan, mekanisme yang kita jalani syariah tanpa riba itu yang utama," ujarnya.

Sujud Dwi Pratisto dan Dara Purnama
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com