Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Berpacu Mewujudkan Rumah Sakit Islami

Indonesia menjadi pencetus rumah sakit berkonsep syariah. Ada 10 rumah sakit bersertifikat syariah dan akan menjadi 50 buah di penghujung tahun. Pasar rumah sakit syariah sangat menjanjikan.

Sertifikasi sebagai rumah sakit syariah diperoleh Rumah Sakit Islam (RSI) Nur Hidayah pada 2017 lalu. Namun, jejak konsep islami sebenarnya sudah ada sejak rumah sakit itu berdiri pada 1996 lalu yang saat itu masih sebagai praktik dokter rumahan. Hal itu tercermin dalam persyaratan SDM di semua level rumah sakit beralamat di kawasan Imogiri, Pleret, Bantul tersebut. Mereka minimal harus hapal 15 surat Al-Quran.

''Standar syariah kami terstruktur dan terukur, baik yang halal maupun yang tayib,'' kata Kepala Bidang Umum dan Keuangan RSI Nur Hidayah, Kuncoro Wahyudianto. Bahkan lima bab pedoman RS Syariah yang diberikan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) pun diperluas menjadi 50 bab dan dibuat menjadi 173 elemen nilai halal dan tayib. ''Ini menjadi indikator pelayanan syariah,'' ujarnya.

Beberapa contoh sederhana penerapan konsep syariah dalam RS di bawah bimbingan penasihat Yusuf Mansyur itu antara lain, pendampingan pasien akan disesuaikan dengan gender. Lalu, saat rawat jalan dan tindakan rawat inap menyediakan "selimut antimalu", yaitu selimut khusus dengan resleting di bagian tubuh tertentu. Pihak rumah sakit pun selalu mengingatkan saat waktu salat tiba. ''Rawat inap kami ada juga bimbingan rohani dan diagnosis spiritual,'' kata Komite Syariah, Nur Hidayah Najwa Nugroho.

Nur Hidayah adalah satu dari 10 rumah sakit syariah yang beroperasi di Indonesia. Rumah sakit syariah lainnya adalah RS Sultan Agung Semarang, rumah sakit pertama yang mendapat sertifikat syariah, yakni pada 2017. ''RS Sultan Agung menjadi pilot project rumah sakit syariah,'' kata staf Humas RS Sultan Agung, Syharial Faza kepada GATRA.

Ketua MUKISI yang juga Direktur Utama RS Sultan Agung Semarang, Masyhudi, mengatakan bahwa saat ini ada 11 RS yang sedang dalam proses pendampingan dan prasurvei menjadi RS syariah. Pendampingan adalah proses pengarahan, penstandaran, dan pennyiapan dokumen RS syariah. Adapun prasurvei berati MUKISI sudah memberikan rekomendasi kepada RS tersebut. ''Artinya RS ini sudah siap untuk sertifikasi ke Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI),'' kata Masyhudi.

Setelah itu, proses terakhirnya adalah pengajuan sertifikat ke DSN MUI. MUKISI dan DSN MUI menargetkan adanya 29 RS syariah baru pada tahun ini, sehingga totalnya menjadi 50 RS syariah.

Bicara tentang pasarnya, Masyhudi mengatakan, bisnis ini cukup menjanjikan. Sebab, ada 18%-19% masyarakat muslim yang ingin segala kebutuhan pribadinya sesuai syariah. Indonesia juga termasuk pencetus awal konsep tersebut. Setelah pelaksanaan pertemuan Internasional Healthcare Expo (IHEX) 2018 lalu, beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Turki, dan Amerika Serikat pun mulai meminati konsep serupa.

Menurut Ketua DSN MUI, Endy Astiawara, prosedur standar seleksi dilakukan oleh DSN, tanpa mekanisme MUKISI. Namun semua RS yang mengajukan sertifikasi adalah anggota MUKISI. ''Selama ini belum ada yang dari luar [MUKISI],'' katanya.

Standardisasi dan sertifikasi syariah ini bisa membuat pasien tenang karena layanan perawatan yang diberikan sesuai ajaran agama Islam. Menurut Endy, calon RS yang tertarik sertifikasi ini bukan dari RSI saja, melainkan juga RS umum. Beberapa RS itu adalah RS Sultan Agung, grup RS Sari Asih, serta RSUD di Banda Aceh, seperti RS Zainal Abidin, RS Meuraksa dan RS Ibnu Sina.

Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi), dr. Koetjoro, menyambut baik dan mendukung RS yang ingin menjadikan pelayanannya berkonsep syariah. ''Tak mudah untuk itu (ajukan RS Syariah) karena harus lulus akreditasi RS terlebih dahulu,'' katanya kepada Bernadetta Febriana dari GATRA. Ia berharap RS yang menargetkan sertifikat syariah harus mengubah pola pikir bahwa semua proses itu demi tujuan lebih baik.

Birny Birdieni, Aditya Kirana, dan Arif Koes Hernawan (Semarang)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com