Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Ekonomi Umat Dongkrak Ritel Syariah

Bisnis ritel syariah justru booming di tengah kelesuan industri ritel. Para pemain besar pun melirik dan ikut berebut "kue" syariah. Wujud potensi ekonomi umat.

Tahun 2017 bisa dibilang masa suram bagi ritel. Pasalnya sepanjang tahun itu sejumlah ritel modern berguguran. Lihatlah nasib 7-Eleven, misalnya, yang tutup pada Juni 2017. Penyebabnya, mereka rugi besar. Hingga Maret 2017, kerugian 7-Eleven sudah mencapai Rp 447,93 milyar. Padahal, pada 2016, perusahaan ritel itu sempat mencatatkan untung sampai Rp 21,3 milyar. Apa boleh buat. Peritel asal Amerika Serikat --yang sejak 2005 dibeli perusahaan Jepang-- itu akhirnya mengangkat bendera putih di Indonesia.

Lalu, seperti efek domino, para peritel lain, termasuk dari dalam negeri, pun menyusul menutup beberapa gerai mereka. Ramayana, misalnya, menutup delapan tokonya pada Agustus 2017. Kedelapan itu berlokasi di Gresik, Banjarmasin, Bulukumba, Bogor, Pontianak, Sabang, dan dua gerai di Surabaya.

Lalu, Matahari juga menutup dua gerai mereka di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M, Jakarta, pada September 2018. Disusul Lotus Department Store, yang menutup tiga gerai mereka di Jakarta pada Oktober 2017.

Selain toko serba ada, tekanan juga dirasakan oleh peritel minimarket. PT Alfaria Triajaya Tbk, pemilik minimarket Alfamart, yang juga mengalami penurunan laba. Sepanjang 2017 lalu, Alfmart hanya mampu meraup laba sebesar Rp 300,27 milyar, alias turun 50% dibandingkan dengan 2016, yang mencatatkan laba sampai Rp 601,58 milyar. "Tahun lalu, industri [ritel] memang cukup berat, dan saya rasa bukan kami saja yang mengalami," kata Hans Prawira, CEO Sumber Alfaria Trijaya Tbk, kepada para awak media pada April 2018 lalu.

Hans memang benar. Bukan cuma Alfamart yang mengalami penurunan. Pesaing utama mereka, yaitu PT Indoritel Makmur Indonesia Tbk., yang memiliki minimarket Indomaret, bahkan mencatatkan penurunan drastis pada semester 1-2017 lalu. Ketika itu, laba bersih mereka hanya Rp 30,5 milyar. Padahal, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, mereka mampu meraup sampai Rp 105,5 milyar. Ini berarti terjadi penurunan laba sampai 71,03%.

Mengapa industri ritel mengalami tekanan pada 2017? Apakah karena masyatakat memang mengalami penurunan daya beli? Belum tentu. Sebab, ketika ritel modern mengalami tekanan, pada saat yang sama segmen ritel lain justru tumbuh,yaitu ritel syariah.

Berbeda dari kelesuan ritel modern, tahun 2017 justru bisa dibilang sebagai awal dari kebangkitan ekonomi umat, setidaknya di sisi ritel. Sepanjang tahun itu berbagai ritel syariah terus tumbuh. Gerakan politik 212 bertransformasi menjadi gerakan ekonomi lewat koperasi dan Minimarket 212.

Perkembangan Minimarket 212 terbilang pesat. Sejak diluncurkan pada April 2017, hingga April 2018 gerai Minimarket 212 sudah mencapai 107 unit. Bahkan ditargetkan akan mencapai 200 gerai pada akhir 2018. Minimarket 212 bukan satu-satunya brand yang muncul. Beberapa minimarket syariah dengan brand lain juga berkembang, mulai dari LEUMart, KitaMart, Sodaqo Mart, dan masih banyak lagi.

LEUMart, kepanjangan dari Lembaga Ekonomi Umat (LEU)-Mart, misalnya adalah gerai yang didirikan oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Ma'ruf Amin. Peluncuran gerai pertama LEUMart, yang berlokasi di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara pada 14 Maret lalu, bahkan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.

Lalu ada Kitamart, yang juga muncul pada pertengahan 2017. Minimarket ini digagas oleh Majelis Tak'lim Wirausaha (MTW) yang dipimpin motivator muslim Valentino Dinsi. Ada juga Sodaqo Mart, yang digagas oleh PT Hydro Perdana Retailindo. Perusahaan distributor ini yang juga memasok barang ke Minimarket 212.

Mengapa ritel syariah justru muncul di tengah kelesuan industri ritel? Mengutip buku Muslim Zaman Now (2018) yang juga hasil riset tim riset Investure, pakar marketing Yuswohady menjelaskan bahwa saat ini memang tengah berkembang umat-nomic.

Istilah itu mengacu pada gerakan ekonomi umat yang ingin tetap mengikuti kaidah syariah di satu sisi, tapi tetap juga tetap modern dan profesional. "Umat-nomic muncul sebagai kekuatan baru untuk menjawab anxiety dan desire muslim zaman now," tulisnya.

Yuswohady yang juga staf ahli Menteri Pariwisata ini dalam bukunya menjelaskan bahwa pangsa pasar muslim terus berevolusi dari mulai market euforia pada 2010-2015, lalu fase sharia deepening pada 2015-2018, hingga puncaknya diprediksi adalah fase halal boom pada 2019-seterusnya. Minimarket syariah hanya salah satu gejala dari bangkitnya umat-nomic muslim Indonesia.

Meski memang, menjamurnya minirmarket syariah juga tidak lepas dari faktor yang sifatnya praktis. Minimarket syariah seperti 212, Kitamart, LEUMart, SodaqoMart, dan sebagainya tidak mengenal biaya-biaya seperti royalty fee, management fee, atau franchise fee. Franchise minimarket syariah biasanya menggunakan sistem konsinyasi dan bagi hasil.

Ini yang membuat beban pemilik toko tidak terlalu berat dibandingkan dengan mengikuti paket francise ritel umum. Apakah rilet syariah ini mampu bertahan? Memang masih harus diuji lagi. Tapi yang pasti, ada fenomena menarik dari industri ritel umum.

April lalu, para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) meluncurkan sebuah minimarket baru bernama Ummart. Ummart rencananya akan didirikan di lokasi pesantren karena konsepnya memang bekerja sama dengan pesantren. Sebagai pilot project, sebanyak 10 pesantren sudah setuju untuk menjadi lokasi Ummart.

Rencana yang didukung oleh Kementerian Perdagangan ini juga melibatkan para peritel besar sebagai mitra, antara lain Alfmart, Indomaret, Hypermart, Transmart, dan Superindo.

Di luar soal pro-kontra rencana ini --karena khawatir pesantren hanya akan dijadikan sebagai pasar oleh peritel modern-- terlihat bahwa industri ritel tidak sesuram yang dibayangkan. Umat-nomic di sektor ritel sudah muncul dan terus berkembang. Kini para pemain besar juga mulai memperebutkan "kue" ritel syariah tersebut.

Basfin Siregar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com