Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Kian Nyaman dengan Hotel Halal

Pertumbuhan hotel halal kian pesat. Peningkatan jumlah kamar dan angka pendapatan hotel halal selama dua tahun terakhir meningkat lebih dari 100%. Beragam inovasi hotel halal mulai mengemuka untuk bersaing dengan hotel konvensional. Butuh peraturan yang tepat untuk menunjang perkembangan hotel halal.

Kalimat "I shall return" atau "aku akan kembali'' dengan aksara tegas bercorak militer tertulis di tembok salah satu kamar Hotel Rhadana, Kuta, Bali. Di sampingnya terdapat beragam koleksi replika senjata api laras panjang yang berjejer di dinding. Di bawahnya, ada poster besar kendaraan tempur lapis baja atau tank menjadi latar belakang dari ranjang berukuran dobel dengan bantal bergambar prajurit.

Kamar seluas 22 meter persegi ini pun semakin berkesan ''macho'', dengan beragam ornamen. Mulai dari koleksi senjata, granat, rompi, helm perang, bahkan kotak amunisi pun ada. Ditambah lagi, gambar-gambar tentara dan cat loreng diselingi warna putih menghiasi dinding. Benar-benar serasa berada barak tentara.

Sebagai hotel bintang empat dengan branding hotel halal, memberikan pelayanan terbaik dan unik merupakan cara ampuh Hotel Rhadana untuk bersaing dengan hotel konvensional di Bali. Di antaranya, hotel itu menawarkan 74 kamar tematik yang beragam. Ada tema militer, sepeda, kereta, pesawat dan lainnya. Setiap kamar disediakan sajadah, mukena, sarung, Al-Quran tiga bahasa, arah kiblat, dan jadwal salat. Ada pula musala di dalam hotel.

Menurut Indra Sanjaya, Owner Representative Hotel Rhadana, sejak didirikan pada 2014, hotel itu sudah menggunakan konsep hotel modern moslem friendly dan memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hotel yang berada di Jalan Raya Kuta Nomor 88 ini tidak hanya menyasar wisatawan muslim, tetapi juga yang non-muslim. ''Pasar wisatawan muslim memang tinggi, tapi kita juga tidak menolak tamu yang non-muslim,'' katanya kepada GATRA. ''Yang penting mereka menerima dengan konsep hotel kita saja.''

Dengan konsep yang diterapkan itu, hotel ini meraih beragam penghargaan. Contohnya penghargaan ''Hotel Ramah Wisatawan Muslim Terbaik'' pada ajang Kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional yang diselenggarakan pertama kalinya oleh Kementerian Pariwisata pada 2016. Kemudian, pada tahun yang sama mendapat penghargaan ''World's Best Family Friendly Hotel'' pada ajang tahunan paling bergengsi dunia, yaitu World's Best Halal Tourism Awards yang diselenggarakan di Abu Dhabi, akhir 2016.

Lalu, pada Desember 2017, Hotel Rhadana kembali dinobatkan sebagai ''Best Halal Boutique Hotel in Asia'' untuk kategori hotel bintang 4 di ajang bergengsi Asia Halal Brand Award's di ShangriLa, Kuala Lumpur. Sebagai hotel halal, Rhadana memang cukup mumpuni di tengah hotel halal lain yang bertumbuh, khususnya di Bali. Di luar tamu domestik, pangsa pasarnya juga mencapai Australia, Eropa, serta Asia.

Konsep hotel halal juga diterapkan Hotel Princess Keisha di Jalan Teuku Umaran Barat, Denpasar, Bali. Hotel yang berdiri pada 2014 itu sudah lama menerapkan konsep tersebut. Makanan yang disajikan jamin halal. Terdapat fasilitas musala, kemudian di setiap kamar tersedia sejadah, Al-Quran dan penunjuk arah kiblat. Bila tamu yang datang berpasangan dan menginap dalam satu kamar, mereka harus suami istri. Para yang berenang pun diharapkan mengenakan pakaian yang sopan. Di hotel ini tidak tersedia alkohol dan para tamu dilarang membawa minuman jenis itu, apalagi narkoba.

Menurut General Manager Hotel Princess Keisha, Ishaq Zam, dengan memopulerkan hotel halal itu secara otomatis akan memfilter para tamu. ''Jadi, enggak ada tamu yang mau berbuat maksiat datang ke hotel kita. Mereka mikir dua kali juga,'' katanya kepada GATRA.

Bahkan, untuk penyewaan ballroom, jika penyewa membawa katering dari luar, syaratnya harus makanan halal. ''Banyak yang gelar pernikahan di kita, tapi syaratnya tetap, kalau mau pesan makan dari luar harus makanan halal. Kalau tidak, kita enggak terima,'' kata Ishaq.

Walaupun hotel yang ia kelola tersegmentasi, Ishaq tidak khawatir kekurangan tamu. Sebab, ternyata yang berkunjung ada juga tamu non-muslim, bahkan yang dari luar negeri, seperti Cina. ''Pasarnya memang wisatawan domestik, tapi juga ada dari Malaysia dan Cina,'' kata Ishaq.

Menurut pemilik Bali Muslim Tours, Dody Finalosa, pertumbuhan hotel halal di Bali memang cukup signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Ia mengakui, untuk hotel syariah memang belum terbiasa didengar, lantaran masyarakatnya lebih nyaman dengan nama hotel halal. ''Karena itu lebih dikenal hotel halal dibanding syariah, tapi konsep semua sama,'' kata ayah beranak tiga ini.
Makin meningkatnya hotel halal, mempermudah perusahaan jasa travel untuk menawarkan pilihan hotel bagi para wisatawan muslim, baik domestik maupun mancanegara. Menurut Dody, sekarang mencari hotel halal di Bali sudah tidak susah lagi. Hampir di setiap daerah ada, dari hotel yang murah sampai yang berkelas tinggi pun ada.

Ia mengakui masih ada beberapa tempat yang belum terjangkau hotel halal. Contohnya di daerah Karangasem, Singaraja, Bangli, dan Klungkung. Namun, ia masih bersyukur dengan perkembangan hotel halal sekarang ini. Usahanya pun ikut terkerek dan mudah dalam menawarkan paket. ''Kita bisa ambil dari kelas menengah ke atas, dan sekarang pelanggan sudah banyak dari Timur Tengah,'' ucap Dody.

***

Lain di Bali lain pula di Solo. Untuk urusan brand hotel syariah memang cukup terbuka di daerah asal Presiden Joko Widodo ini. Seperti halnya Syariah Hotel Solo (SHS) yang mengaku gencar memopulerkan hotel syariah. ''Sebagai hotel syariah, jika dulu pasarnya masih coba-coba, sekarang SHS sudah mendapat brand dan segmennya kuat,'' kata Humas SHS, Paramita Sari Indah Widarini.

Perempuan yang akrab disapa Mita ini mengakui, saat ini banyak tamu muslim yang jenuh dengan layanan hotel konvensional. ''Kalau di sini (SHS) dilayani dengan ramah dan salat juga enak. Apalagi sekarang digalakkan wisata halal,'' tutur Mita.

Ia tidak takut bersaing dengan hotel syariah lain yang sudah banyak di Solo, bahkan hotel syariah berlabel bintang lima sekalipun. Hotel yang berdiri pada 11 Maret 2014 ini sudah terkenal menjadi hotel syariah terbesar di Indonesia. Hotel 12 lantai ini memiliki 300 kamar.

SHS berada di Jalan Adi Sumarmo, satu kawasan dengan 'saudaranya' Hotel Lor In yang juga milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Hotel ini memiliki interior dan eksterior hotel yang khas, yakni dihiasi ornamen simetris. Di lobi terdapat patung abstrak berbentuk kurva, mirip huruf arab "wawu", yang berwarna keemasan.

Sebagai hotel syariah, interiornya tanpa ornamen berbentuk makhluk hidup, yang ada berupa kaligrafi dari ukiran kayu. Di setiap lantai terdapat musala dan di setiap kamar disediakan Al-Quran dan saluran televisi yang 'aman'. Jika tiba waktu salat, azan akan didengar di tiap koridor lantai. SHS memiliki tujuh ruang rapat atau pertemuan. Tak jauh dari lobi terdapat ruang makan Al Kautsar, ada minibar dan coffee shop. Minibar menyediakan minuman halal non-alkohol, terutama jus.

Dapur, perlengkapan, bahan, dan produknya telah memenuhi sertifikasi halal MUI sejak dua tahun lalu. ''Kami mencari sendiri, seperti penyedia daging halal. Semua produk dapur sudah halal, tapi ada juga yang menuntut sertifikasi halal itu hingga ke tiap menu,'' kata Mita.

Kamar hotel minimalis modern dengan sentuhan warna keemasan ditawarkan Rp 800.000 hingga Rp 3 juta. Namun pada Ramadan ini ada tawaran spesial Rp 350.000 per malam. Untuk tingkat hunian, SHS berada di angka 25-35%. Persentase maksimal saat ada acara pertemuan, libur panjang, dan libur hari raya.

Menurut Ketua Tim Percepatan Wisata Halal, Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan, industri halal di dunia sudah berevolusi dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2000-an, sudah bergerak ke sektor gaya hidup. Pergerakan tersebut terjadi karena jumlah populasi muslim di dunia yang terus bertambah.

Mengutip data dari Thomson Reuters tahun 2016, populasi muslim di 57 negara anggota Organisasi Kerja-sama Islam (OKI) berjumlah 1,7 milyar orang. Sementara itu terdapat sekitar 500 juta orang muslim di luar OKI. Dengan besaran jumlah tersebut, populasi muslim--jika disetarakan dengan sebuah negara--menjadi kekuatan ekonomi ketiga dengan PDB US$8 trilyun, di bawah Amerika Serikat dan Cina dengan PDB US$9,2 trilyun dan populasi 1,5 milyar orang.

Dari angka PDB US$ 8 trilyun tersebut, kata Sofyan, US$4 trilyun di antaranya adalah disposible income. ''Jadi middle class-nya muslim itu sudah mulai meningkat seiring dengan kemampuan ekonominya yang meningkat,'' kata Sofyan kepada Dara Purnama dari GATRA.

Masih berdasarkan data dari Thomson Reuters tersebut, konsumsi populasi muslim pada 6 sektor riil, yakni: food, travel, clothing, pharmaceutical, media recreation dan cosmetic adalah yang terbesar di dunia dengan nilai US$2 trilyun. Jumlah itu mengalahkan konsumsi dari Cina yang sebesar US$1,9 trilyun. Market share populasi muslim juga cukup besar, 10-18%.

Berdasarkan data dari Traveloka Mei 2018, ada sekitar 730 hotel syariah di Indonesia. Namun, jumlah tersebut, kata Sofyan, akan dikurasi kembali bersama Dewan Syariah Nasional (DSN) sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Sebelumnya, standar tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah.

Dalam peraturan menteri tersebut, standar hotel syariah ada dua: hilal 1 yakni basicsharia complience dan hilal 2 yakni moderate sharia complience. Namun, peraturan menteri tersebut saat ini telah dicabut dan Kementerian Pariwisata tengah merumuskan aturan baru. Pencabutan tersebut terjadi setelah focus group discussion (FGD) dengan pemangu kepentingan terkait. Ke depan nomenklatur syariah akan diganti menjadi halal. ''Jadi nomenklatur yang digunakan untuk pariwisata itu pasnya adalah halal, makanya berubah jadi pariwisata halal, bukan syariah. Bahkan hotelnya juga menjadi hotel halal,'' katanya.

Perkembangan penjualan kamar hotel berdasarkan data yang dirilis Traveloka tersebut, kata Sofyan, sangatlah pesat. Terlihat dari data pertumbuhan penjualan kamar dari 2015 ke 2016 sebesar 390%. Sementara pertumbuhan dari 2016 ke 2017 sebesar 126%. Seiring dengan data pertumbuhan tersebut, peningkatan pendapatan penjualan kamar juga sangat besar. Tercatat pada 2015 ke 2016 terjadi peningkatan pendapatan sebesar 411%, sedangkan pada tahun 2016 ke 2017 meningkat 118%.

Berdasarkan data di Kementrian Pariwisata, jumlah hotel yang restoran yang memiliki sertifikasi syariah ada 75 hotel. Adapun hotel yang bersertifikat syariah dari DSN MUI hanya dua, yakni SHS Solo dan Hotel Sofyan Jakarta.

Gandhi Achmad dan Arif Koes Hernawan (Solo)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com