Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Saatnya Menyasar Wisatawan Muslim Milenial

Indonesia menduduki peringkat dua dalam daftar negara-negara OKI yang dijadikan destinasi wisata halal bagi pelancong muslim dunia. Tahun 2020 jumlah wisatawan muslim dunia diprediksi mencapai 158 juta, yang 60% di antaranya muslim milenial.

Sudah lebih satu tahun sejak diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, hasil renovasi Masjid Baiturrahman di jantung kota Banda Aceh, Provinsi Aceh masih terus menjadi bahan pembicaraan. Sebelum renovasi, banyak yang menyebut masjid bersejarah ini mirip Taj Mahal di India. Setelah renovasi, khususnya pada malam hari, payung-payung elektrik di halaman dalam masjid, mengingatkan pada lanskap Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.

Selain cantik, Masjid Baiturrahman hasil renovasi senilai lebih dari Rp400 milyar itu terlihat megah. Hamparan rumput di sekeliling kolam depan masjid yang didirikan pada 1612 ini, kini, berganti marmer putih yang mewah dan bikin sejuk. Marmer juga akan menghiasi tempat wudu dan toilet yang di ruangan bawah (basement).

Selain menambah kenyamanan umat yang menunaikan salat, Masjid Baiturrahman baru ini sangat digandrungi sebagai latar objek swafoto penduduk sekitar, turis domestik dan mancanegara. Bagi Provinsi Aceh, masjid ini tidak saja jadi tengaran penting sejarah masyarakatnya, tapi juga penanda utama skena periwisata syariah atau wisata halal yang menjadi trademark Negeri Serambi Mekah itu.

Paket wisata yang mencatumkan Masjid Baiturrahman sebagai destinasi menjadi salah satu yang digemari oleh wisatawan saat melancong ke Aceh. Hal itu dikemukakan oleh CEO Epic Group, Ervik Ari Susanto. Epic Grup adalah perusahaan payung yang mengembangkan sejumlah unit usaha ''halal'', di antaranya Halaltraveling.id. Yaitu sebuah jasa travel berbasis online, yang melayani paket-paket wisata halal dalam negeri dan luar negeri. ''Untuk destinasi halal travel domestik, permintaan paling banyak berkisar Aceh, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Barat,'' katanya.

Tiga daerah yang disebutkan Ervik itu, bersama dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat, telah ditetapkan sebagai lima destinasi prioritas pengembangan wisata halal (halal tourism) di Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI.

Di antara kelimanya, Lombok (NTB) bahkan sudah mengantongi sejumlah pengakuan dan penghargaan mentereng di luar dan di dalam negeri sebagai penyedia layanan wisata halal terbaik di Indonesia. Itu dibuktikan dengan raihan ''World Best Halal Tourism Destination'' dan ''World Best Halal Honeymoon'', keduanya pada 2015. Lombok juga meraih tempat pertama untuk kategori Wisata Halal Indonesia 2016.

Selain karena deretan penghargaan itu, Lombok menyandang reputasi sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik Indonesia karena potensi alam dan sisi religiositas masyarakatnya yang sebagian besar penganut Islam. Lombok yang memiliki pemandangan alam yang hijau dan pantai yang indah ini juga berjuluk ''Pulau Seribu Masjid'' sehingga para wisatawan muslim lebih mudah beribadah.

Di luar kelima daerah itu, daftar lebih panjang sudah disiapkan. Sejumlah daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam, Banten, Yogyakarta, Kalimantan Timur dan lainnya, mulai berlomba-lomba menyediakan destinasi dan infrastruktur pendukungnya yang family friendly atau muslim friendly.

***

Antusiasme daerah-daerah dalam menyediakan destinasi dan layanan wisata halal itu menguntungkan bagi Indonesia. Hal itu terlihat dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 yang dikeluarkan Mastercard-CrescentRating yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua negara destinasi pariwisata halal dunia.

Itu artinya, Indonesia berhasil naik satu peringkat dari tahun lalu, tetapi tetap di bawah Malaysia yang berada di peringkat pertama. Indonesia juga menduduki peringkat yang sama bersama Uni Emirat Arab.

Menurut Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal, Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan, antusiasme industri wisata untuk mengembangkan pariwisata halal di Indonesia ikut mendorong kenaikan itu. Sofyan yakin, dengan antusiasme dan peningkatan tersebut, target Indonesia untuk menduduki peringkat pertama negara destinasi pariwisata halal dunia akan cepat terealisasi.

''Kita akan mengalahkan Malaysia pada GMTI 2019. Indonesia akan ada di peringkat pertama,'' kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam acara pemaparan GMTI 2018 di Jakarta, April lalu.

Untuk memastikan target itu tercapai, Kementerian Pariwisata akan terus memperbaiki dan meningkatkan aspek-aspek seperti atraksi, amenitas, dan akses. Sofyan mengakui, negara-negaar kuat dalam industri wisata halal seperti, Malaysia, Turki,Singapura dan Thailand, punya keunggulan di aspek branding, terutama dalam urusan sertifikasi. Namun ia optimistis dengan modal keindahan sumber daya alam yang berlimpah, Indonesia akan segera menyaingi negara-negara itu."Kita ini hitungannya, baru-baru saja giat promosi dan memasarkan wisata halal,''ujarnya.

Dalam catatan Riyanto, sejak 2016 ada 2,7 juta wisatawan mancanegara yang mengakses wisata halal di Indonesia. Jumlah itu meningkat sekitar 17% setiap tahunnya. Mayoritas terbesar wisatawan muslim masih dari Asia. Tepatnya Malaysia dan Singapura. Jumlahnya mencapai 30-40%. Atau sekitar 1,1 juta orang. Sedangkan wasatawan Timur Tengah masih relatif kecil, yaitu sekitar 240.000. Adapun wisatawan asal Eropa, masih berkisar di angka 400.000.

Besaran dan komposisi pasokan negara-negara itu terhadap skena wisata halal Indonesia dipengaruhi oleh preferensi masing-masing wisatawannya. Wisatawan asal Asia lebih mencari objek atau destinasi yang bersifat religius. Sementara Turis Eropa tertarik dengan sightseeing dan heritage juga petualangan, dan pelancong dari Timur Tengah lebih menyukai lanskap alam, baik pantai maupun gunung, serta spa dan shopping.

Untuk 2018, menurut Sofyan, Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata sudah menyiapkan paket-paket wisata halal unggulan. Termasuk event dan atraksi yang dinilai dapat menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Contohnya adalah paket Masjid Islamic Centre di Lombok dan sejumlah destinasi wisata halal di Jakarta.

***

Fakta menarik yang lain dari perkembangan industri wisata halal adalah menggeliatnya segmen wisatawan muslim milienial. Mengutip laporan Muslim Millenial Travel Report (MMTR) 2017, pengamat pariwisata halal, Sapta Nirwandar, menggarisbawahi besarnya potensi wisatawan muslim milenial ini sebagai pasar wisata halal. Proyeksi MMTR 2017, pada 2020 pelancong muslim internasional mencapai 158 juta, ''sebagian besar adalah pelancong muslim muda,''ujarnya.

Dari 158 juta wisatawan muslim global pada 2020 itu terhitung jumlah pengeluaran untuk wisata sebesar US$220 milyar (sekitar Rp3.000 trilyun). Jumlah pengeluaran itu akan naik menjadi US$300 milyar pada 2026.

Laporan itu menyebutkan bahwa 60% dari populasi di negara mayoritas muslim ada di bawah usia 30 tahun. Pada 2030, 29% populasi global usia 15-29 tahun adalah muslim. Pertumbuhan populasi muslim terutama akan ada pada segmen muslim muda sejahtera.

Pada 2025 pengeluaran wisata muslim milenial diprediksikan mencapai sepertiga pengeluaran untuk wisata muslim global. Nilai itu lebih dari US$100 milyar (Rp1.400 trilyun). Indonesia punya cukup bekal untuk menangkap peluang itu dengan berada dalam posisi 10 besar pasar sekaligus tujuan wisata muslim milenial. Jepang, Malaysia, Singapura dan Thailand berada dalam daftar yang sama.

Prediksi itu tampak sangat optimistis jika merujuk pada pencapaian 2016. Dua tahun lalu, ada 121 juta wisatawan muslim global dengan pengeluaran untuk wisata sebesar US$156 milyar ( sekitar Rp2.150 trilyun). Pangsa milenial terhadap total wisatawan internasional pada 2016 ''hanya'' sebesar 20%. Dari jumlah itu, 36% di antaranya adalah wisatawan muslim milenial.

Ada banyak karakteristik wisatawan muslim milenial dalam laporan tersebut. Antara lain, 63% dari mereka selain berwisata untuk liburan, juga untuk tujuan menikmati budaya dan warisan lokal. Sementara 43% sisanya melancong dengan tujuan mengunjungi teman atau kerabat. Soal lamanya perjalanan, wisatawan muslim milenial rata-rata melakukan dua sampai enam kali perjalanan setahun.

Dalam urusan pengeluaran, wisatawan muslim milenial US$100 - US$500 untuk sekali perjalanan meliputi komponen biaya penerbangan, akomodasi, makanan dan belanja. Mereka bersedia mengeluarkan uang cukup besar untuk makanan lokal dan budaya baru, meski memang agak menekan urusan penginapan--yang bisa dicarikan solusinya lewat Airbnb.

Pesatnya pertumbuhan populasi wisatawan muslim milenial dengan belanja wisata cukup besar itu tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi informasi. Seperti telah disimpulkan dari sejumlah riset sebelumnya tentang karakteristik kaum milenial yang memiliki ketergantungan pada internet, muslim milenial pun demikian. Crescent Rating menangkap sekurang-kurangnya sejumlah isu teknologi terkait wisatawan muslim dalam GMTI 2018. Antara lain, isu tentang konektivitas internet, pencarian konten informasi, dan kecerdasan buatan di dalamnya.

Kesadaran tentang teknologi digital dan realisasi penggunaannya dalam mendeteksi jumlah wisatawan halal dan promosi dan pemasaran wisata yang langsung menyasar individu akan berperan besar dalam meningkatkan kemampuan kompetitif Indonesia untuk menenangkan persaingan di industri wisata halal sekarang ini dan di masa yang akan datang.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com