Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Dakwah Ekonomi Sarekat Dagang Islam

Sarekat Dagang Islam pernah memainkan peran penting dan menginspirasi sebagian tokoh ekonomi umat Islam. Kini ekonomi Islam harus memberikan perhatian pada rules of the game yang bersifat inklusif untuk semua pelaku ekonomi.

Tak banyak yang tahu, di belakang kantor Kelurahan Sondakan, Laweyan, Surakarta, terdapat sesuatu yang istimewa dan cukup penting bagi sejarah gerakan ekonomi Islam Indonesia. Di sanalah Museum Samahoedi berada. Wajar saja, karena Samanhudi, sang pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), berasal dari daerah ini.

Museum yang berdiri pada 2008 ini berupa satu ruang kecil memanjang seukuran 6x2 meter. Kehadiran museum ini atas prakarsa Ketua Yayasan Warna-Warni Indonesia, Krisnina Maharani, istri politisi Akbar Tandjung. Semula berada di rumah peninggalan Samanhudi, tapi sejak 2012 museum dipindah di kantor kelurahan.

Museum banyak berisi riwayat Samanhudi dan foto-foto lawas hitam putih. Dari foto masa muda, keluarga, di organisasi, hingga penyematan Bintang Maha Putra oleh Presiden Soekarno pada 1960. "Koleksinya baru saja dikembalikan, usai pameran di Bank Indonesia di Semarang," kata Sayim, 50 tahun, penjaga museum, sambil merapikan foto-foto yang ada, saat disambangi GATRA pada Rabu pekan lalu.

Samanhudi sosok pendiri SDI, organisasi yang menggerakkan ekonomi umat Islam di awal Republik berdiri patut terus dikenang. Kepala Pusat Kajian Ekonomika dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Akhmad Akbar Susamto menyebut secara historis SDI jelas memainkan peran penting. SDI menginspirasi sebagian tokoh-tokoh ekonomi umat Islam.

"Tetapi, sejak SDI berubah maka pengaruh langsungnya terhadap ekonomi umat Islam sudah tak banyak lagi. Terlebih dinamika perkembangan ekonomi umat Islam saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan pada masa penjajahan Belanda saat SDI aktif," kata Akbar.

Harus diakui, banyak juga umat Islam pelaku ekonomi saat ini yang bahkan tidak mengetahui sejarah SDI. Jika membaca ulang sejarah, kata Akbar, Samanhudi mendirikan SDI terdorong keinginan untuk membangkitkan ekonomi umat Islam. Begitu juga, peralihan dari SDI menjadi Sarekat Islam pada 1912 dengan tokoh-tokoh seperti H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim.

"Mungkin karena keadaan waktu itu, SDI atau pun SI belum berbicara tentang penerapan ekonomi syariah. Sebagai organisasi Islam, tentu saja SDI ataupun SI tunduk dan patuh pada ajaran Islam. Tetapi, penekanan pada rules of the game yang bersifat inklusif untuk semua pelaku ekonomi,tampaknya belum dilakukan," kata doktor dari Australian National University ini.

Menurut Akbar, faktor eksternal cukup berperan terhadap penerapan ekonomi syariah di Indonesia. Ia mencontohkan sejarah Bank Muamalat yang terinspirasi keberadaan bank-bank syariah di negara-negara lain. "Saat ini, pengembangan industri halal di Indonesia juga dipengaruhi oleh momentum penerimaan dan perkembangan industri halal di negara lain, termasuk negara nonmuslim," katanya.

Menurut Akbar, saat ini peluang organisasi lain mengikuti jejak SDI tetap ada, namun tiap masa memunculkan tantangan yang berbeda dan melahirkan tokoh dan organisasi yang berbeda. SDI ataupun SI yang muncul sebagai respons atas tantangan umat Islam pada waktu itu termasuk sukses.

Sayang, SI bubar karena perbedaan pandangan di antara tokoh-tokohnya dalam menyikapi komunisme. Sebagian tokoh SI, khususnya Semaun, membawa doktrin sosialisme dan komunisme dalam organisasi SI "Merah". Sebaliknya, tokoh SI "Putih" pimpinan H.O.S. Cokroaminoto menentangnya. Waktu itu, perdebatan antara kapitalisme dan sosialisme masih mencerminkan dua kutub ekstrim.

"Jika saya harus menyebutkan pembelajaran terpenting dari SI, adalah pentingnya organisasi Islam untuk menggali dan menerapkan ajaran-ajaran Islam yang genuine dalam bidang ekonomi. Jangan sampai kita hanya membawa ide dari luar Islam untuk kemudian dipas-paskan dengan Islam. Jangan sampai yang mengemuka hanya semata-mata isu umat Islam versus bukan Islam," tutur Akbar.

Menurut Akbar, hal itu bukan sesuatu yang diajarkan Islam dalam berekonomi. Organisasi Islam harus memberikan perhatian padarules of the game. Rasulullah dalam sejarah tercatat pernah bertransaksi dengan umat lain. Begitu pula para sahabat terdekatnya, berinteraksi secara terbuka dengan umat-umat lain. Tentu saja, berdasarkan aturan main ekonomi yang sesuai dengan ajaran Islam.

Untuk perkembangan saat ini, Akbar mencatat, perlu dibedakan antara aktivitas ekonomi umat Islam dengan penerapan ekonomi syariah. Sebab, aktivitas ekonomi umat Islam lebih merujuk pada subyek pelaku, sedangkan penerapan ekonomi syariah lebih merujuk pada rules of the game atau aturan main, terlepas dari siapa pun pelakunya. Baik umat Islam maupun umat lain.

Jika yang dimaksud aktivitas ekonomi umat Islam adalah keterlibatan dan kesejahteraan umat Islam secara ekonomi, saya kira perkembangannya positif. Menurut Akbar, dilihat dari ukuran-ukuran baku seperti pendapatan per kapita, indeks pembangunan manusia dan keadaan kemiskinan absolut, jelas kondisi umat Islam sekarang lebih baik dibandingkan dengan 20-30 tahun lalu.

"Ini hal wajar. Seiring dengan waktu, terjadi pertumbuhan ekonomi, terjadi peningkatan kesejahteraan. Dan ini bukan hanya terjadi pada umat Islam saja, melainkan juga umat-umat lain di Indonesia," katanya.

Tetapi, masalah yang terjadi juga makin banyak, misalnya kesenjangan ekonomi yang makin lebar. "Di satu sisi banyak umat Islam yang mampu umrah berkali-kali. Di sisi lain, banyak juga yang sekadar makan sehari-hari pun tak mampu," katanya.

Secara historis, SDI yang berdiri pada 16 Oktober 1905 terus mengalami metamorfosis. Pada kongres I SDI di Solo tahun 1906, namanya menjadi Syarikat Islam atau Sarekat Islam. Pada 10 September 1912, karena keadaan politik dan sosial masa itu H.O.S. Tjokroaminoto membuat SI sebagai badan hukum dengan anggaran dasar SI yang baru.

Yuridiksi SI tidak hanya mencakupi ekonomi dan sosial, tapi juga kearah politik dan agama sebagai bentuk semangat perjuangan terhadap kolonialisme. Selanjutnya, SI telah berganti nama beberapa kali, yaitu Central Sarekat Islam (CSI) pada 1916, Partai Sarekat Islam (PSI) pada 1920, Partai Sarekat Islam Hindia Timur (PSIHT) pada 1923, dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada 1929.

Pada 1973, SI sempat meninggalkan gelanggang politik Indonesia dan menjadi organisasi massa keagamaan. Ketika reformasi menggelora pada 1998, SI kembali tampil dengan menggunakan nama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Pada Majlis Tahkim (Kongres Nasional) ke-35 di Garut 2003, namanya kembali menjadi Syarikat Islam (SI). Sejak kongres itu eksistensi dan pergerakan SI yang masih ada dan tetap bertahan hingga sekarang disebut Syarikat Islam.

Majlis Tahkim ke-40 di Bandung 2015 mengukuhkan Hamdan Zoelva sebagai Ketua Umum Laznah Tanfidziyah. Melalui keputusan tertinggi organisasi, SI kembali ke khitahnya sebagai gerakan dakwah ekonomi.

G.A. Guritno dan Arif Koes Hernawan
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com