Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Bank Wakaf Mikro Atasi Kemiskinan

Dana wakaf disalurkan untuk kelompok menengah ke bawah. Dianggap jadi solusi ideal dibandingkan dengan rentenir, juga kredit perbankan. Potensi penerimaan wakaf bisa mencapai Rp81 trilyun per tahun.

Ada pondok pesantren menawarkan dana kredit? Jarang terdengar. Tapi kabar itulah yang diterima Eka Dwi Rahayu, 38 tahun. Warga Purwokerto Utara, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah ini sudah lama berangan-angan mengembangkan warung rujak dan loteknya. Eka sudah buka warung beberapa tahun ini untuk membantu suaminya yang petugas instalasi listrik. Cita-citanya, ''Kredit itu untuk menambah modal,'' katanya.

Rupanya, kredit itu adalah bagian dari program bank wakaf mikro (BWM) yang dikelola Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci, Purwokerto. Eka bergegas mendaftarkan diri. Syukurlah, Ia memenuhi syarat untuk dapat pinjaman sebesar Rp1 juta, sejak Oktober silam.

Eka hanya satu dari 245 warga di sekitar ponpes yang mendapat pinjaman dari BWM yang diberi namaAmanah Berkah Nusantara(ABN) tersebut. Karena itu, Eka mengaku sudah tak lagi ke "bankplecit"alias rentenir. Dulu ia pernah pinjam Rp400.000 malah harus mengembalikan Rp600.000.

Sekali waktu, saat butuh modal, ibu dua anak itu pernah berusaha mengajukan kredit ke bank. ''Saya pernah gagal karena setelah disurvei tak memenuhi syarat karena lantai rumah saya keramik,'' katanya. Tidak jelas benar alasan tersebut. Bisa jadi, petugas bank mungkin menganggap keluarga Eka tidak miskin-miskin amat sehingga tak layak dapat kredit. Eka juga pernah berusaha mendapatkan KUR (kredit usaha rakyat) untuk mengembangkan warungnya, tapi tak juga tembus.

Ketika itu, Eka sudah berhenti berharap, hingga ia mendapat informasi tentang bank wakaf ABN tadi. Hanya sebulan setelah pinjam, ia sudah bisa mencicil pembayarannya. Jumlahnya pun dianggap Eka cukup ringan, yakni Rp20.000 per pekan.

Pemimpin Ponpes Al-Hidayah, Ahmad Arif Noeris, menjelaskan bahwa ABN telah menyalurkan pinjaman Rp275 juta yang bersumber dari donatur. ''Program ini sangat mulia dan memberi manfaat bukan hanya untuk pondok pesantren tapi juga masyarakat sekitarnya,'' katanya. Saat ini, pinjaman memasuki termin kedua. Warga dengan performa baik dan bisa mengembalikan, boleh meminjam lagi hingga maksimal Rp3 juta.

Selain ibu-ibu bakul pecel, kupat tahu, serabi, es, dan jualan rumah lainnya, dari bantuan ABN para santri ponpes juga mulai usaha. Sebagai proyek pilot, santri setempat mengemas produk gula kelapa khas Banyumas, termasuk dicampurkan ke kopi Lampung dengan merek Kopi Bani Rosul. ''Di Kabupaten Banyumas ada 180 ponpes. Kami berencana membuka jejaring usaha di ponpes dengan produk beda-beda dan targetnya 20 produk dulu,'' ujar Ahmad.

Namun, dampak paling nyata adalah menggeliatnya ekonomi rakyat sekitar pesantren. Manajer ABN, Fuad Nur Rohman, bercerita, ada warga yang memulai usahanya kembali, yakni menjahit, dengan modal pinjaman setelah beberapa waktu usaha ini berhenti.

ABN menekankan, pinjaman disesuaikan dengan kemampuan mengangsur nasabah. ABN tak mau nasabah kesulitan sendiri atas pinjamannya dan terjebak seperti ketika meminjam pada lintah darat. Rentenir ini juga bertebaran di pasar-pasar tradisional. Ini jadi tantangan. ''Kami belum bisa masuk pasar karena dikuasai bank plecit yang sangat meresahkan,'' ujar Fuad, santri muda yang mengelola ABN bersama empat orang lain.

Eksistensi rentenir ini memang menjadi tantangan pengelola bank wakaf mikro. Maklum saja, bank plecit memang punya kelebihan tersendiri. Misalnya, tentu pencairan dana mereka lebih cepat dan tidak ribet sehingga warga kelas bawah yang kepepet berlomba mencari. Tapi setelah itu mereka tercekik dengan bunga pinjaman yang amat besar, mencapai 30%-50%.

BWM Amanah Berkah Nusantara termasuk 10 proyek pilot pertama dari kini total 20 BWM di Pulau Jawa. Lembaga ini dibuat untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan yang tinggi hingga 10,12%. Ponpes dipilih karena dianggap punya fungsi strategis mendorong ekonomi umat.

BWM sendiri adalah program yang diinisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ''Bank wakaf mikro ini wujud peran aktif dalam memberdayakan ekonomi umat. Ada pendampingan juga dari pesantren karena ada ketokohan. Harapannya BWM jadi inkubator dan mendekatkan usaha masyarakat yang non-bank menjadi bankable,'' tutur Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK Ahmad Sukro.

BWM memiliki karakter menyediakan pembiayaan dan pendampingan, tidak mengelola dana apapun dari masyarakat, imbal hasilnya rendah yakni 3%, berbasis kelompok, dan tanpa agunan. Dana berasal dari donator yang disalurkan melalui lembaga amil zakat.

Hingga 31 Maret lalu, 20 BWM tadi telah menjaring 3876 nasabah dengan total penyaluran dana Rp3,63 milyar. Sebentar lagi akan bertambah sepuluh unit dan berlokasi di Malang, Makassar, Balikpapan, Demak, serta Sukoharjo. Ke depannya, OJK merencanakan akan mendirikan 50 unit, termasuk di Kalimantan dan Papua.

''Semua sudah masuk dalam perencanaan kita. (Sejumlah pesantren) di Kalimantan sudah kita datangi. Tapi semua masih dalam proses,'' advisor pada Strategis Committee dan Pusat Riset OJK, Ahmad Buchori, menambahkan.

Badan Wakaf Indonesia (BWI) mengingatkan agar BWM tidak dilihat hanya sekedar peresmiannya, melainkan juga seperti apa nazir yang mengelolanya. Apakah para nazir sudah memiliki kapabilitas dalam mengelola aset-aset wakaf. ''Aset-aset wakaf itu perlu dijaga sustainability kemanfaatannya. Kami di BWI untuk tahap awal ini concern pada kesiapan kapabilitas dari bank-bank wakaf mikro itu,'' ujar Wakil Ketua BWI, Imam T. Saptono.

BWI sendiri masih menunggu profil dari masing-masing nazir tadi. Imam mengingatkan bahwa nazir yang mengelola wakaf uang harus benar-benar nazir yang terdaftar di BWI. Mengingat hitung-hitungan BWI menunjukkan, potensi penerimaan wakaf bisa mencapai Rp81 trilyun per tahun. Hitungan ini didasarkan pada jumlah masyarakat muslim menengah atas yang mencapai 116 juta, lalu dirata-ratakan dari jumlah pengeluaran per bulannya.

''Hal yang pasti akan kita assess adalah siapa nazirnya yang mengelola, siapa mauquf alaih atau yang menerimanya, kemudian benda wakafnya, uangnya. Demi menghindari isu di kemudian hari,'' ujar Imam.

Flora Libra Yanti dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

++++

Wakaf Digital Murah Meriah
Wakaf tak harus mahal dan tak harus merepotkan. PT Ammana Fintek Syariah berkolaborasi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Forum Wakaf Produktif (FWP) memperkenalkan solusi wakaf digital pertama di Indonesia. Dengan kolaborasi ini, masyarakat bisa berpartisipasi dalam wakaf mulai dari Rp10.000. Lebih lanjut lagi, para calon pemberi wakaf cukup mengunduh aplikasi Ammana di Play Store dan Apps Store.

''Kami hadirkanplatformteknologinya. Jadi, wakaf bisa mudah dan murah dengan layanan yang kami miliki untuk melengkapi layanan yang ada,'' kata CEO Ammana Fintek Syariah Lutfi Adhiansyah di sela-sela soft-launching Ammana di Jakarta, Senin, 14 Mei lalu. Dompet Dhuafa menjadi yang pertama luncurkan kampanye wakaf pembangunan RS Hasyim Asyari di kanalAmmana Fintek Syariah.

Sesungguhnya, Ammana Fintek Syariah sebagaifintechpeer-to-peer (P2P)lendingsyariah pertama sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 23 Desember 2017 lalu. Hingga saat ini, Ammana Fintek Syariah telah berhasil mengumpulkan 420 investor dengan dana kelolaan Rp2,5 milyar. Mereka menargetkan untuk menyalurkan dana investasi Rp100 milyar ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang 2018 ini.

Ketua FWP Bobby Manullang menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, ini akan mengubah persepsi wakaf yang selama ini identik ibadah yang mewah dan mahal. Padahal bisa ditunaikan dengan bilangan kecil. ''Dengan adanya program 1 juta wakif, maka potensinya bisa besar walaupun nilai minimal Rp10.000,'' kata Bobby.

Senada dengan itu, Wakil Ketua BWI Imam T. Saptono berharap, dengan adanya lembaga keuangan mikro wakaf ini bisa membuka literasi masyarakat. ''Karena memang kita harus akui literasi masyarakat terkait wakaf ini masih minim. Mereka tahunya wakaf itu hanya untuk kuburan, musala, masjid. Idealnya aset wakaf itu diproduktifkan terlebih dahulu, sehingga manfaatnya bisa digunakan,'' katanya.

Flora Libra Yanti
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com