Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Zakat Menguatkan Ekonomi Umat

Dari petani hingga siswa pondok pesantren mendapat manfaat dari program filantropi Islam. Penerimaan zakat, infak, dan sedekah yang selalu meningkat tiap tahun akan berdampak positif bagi pemberdayaan ekonomi umat.

Ada yang beda dari acara pembekalan kewirausahaan di Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) 67, Benda, Tasikmalaya, Jawa Barat, pertengahan April lalu. Bila biasanya materi disampaikan alumni yang sukses berbisnis, tahun ini pematerinya tim dari Bukalapak, salah satu e-marketplace besar Indonesia.

Bukalapak mengadakan pelatihan kewirausahaan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk para santri di Ponpes Persis 67. ''Yang dari pesantren sekitar 107 orang. Bukalapak minta ajak yang lain, cuma tempatnya di sini,'' kata Ustaz Asep Abdul Hamid, Pimpinan Pesantren Persis 67.

Antusiasme santri untuk berwirausaha cukup tinggi. Apalagi ketika mengetahui bahwa bisnis saat ini bisa dilakukan tanpa modal besar jika dilakukan secara online. Tidak perlu menyewa toko, mengurus perizinan usaha dan lainnya. Minimal, modalnya cuma paket data internet. Dan pelatihan kewirausahan seperti ini ternyata memang efektif mendorong para santri terjun langsung ke dunia bisnis.

Sebut saja usaha jualan pakaian muslim empat sekawan santri kelas XII yang sudah punya clothing label sendiri. Shafa Bella Zharifa, Salsabila Dwi Salma, Zenna Ghasani Adhani, dan Haniffahnaa membuka usaha bisnis fesyen dengan label Shaz.co, yang merupakan akronim nama mereka. Mereka mulai merintis bisnis saat kelas X.

Produk Shaz.co mendapat respon positif di internal pesantren. Bahkan, ada kecenderungan santri perempuan lebih suka menggunakan produk Shaz.co daripada merek jilbab dari label besar. Asep menyadari, pesantren punya potensi ekonomi yang besar.

Sayangnya, saat ini pesantren hanya menjadi pasar. Perilaku santri cukup konsumtif. Contohnya, setiap hari pasti ada petugas kurir ekspedisi yang datang mengantar paket belanjaan siswa. ''Di satpam hampir setiap hari itu kiriman belanja online, padahal mereka tidak membawa hp. Mungkin ada yang bawa tapi sembunyi-sembunyi,'' ujarnya.

Kini dengan pelatihan perusahaan, pesantren ingin membalikkan semua hal itu. Santri dibuat agar lebih produktif, bukan konsumtif. Pesantren menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan seperti ini menggandeng Pusat Zakat Umat PP Persis dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sebelumnya, lembaga zakat memang hanya dikenal sebagai pembagi uang zakat dari pembayar zakat atau muzaki, ke penerima. Namun, kini, lembaga zakat mulai difungsikan lebih dalam, khususnya untuk pemberdayaan umat.

Selain itu, sejak pengesahan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, lembaga-lembaga pengelola zakat mulai berkembang, termasuk pendirian lembaga zakat yang dikelola oleh pemerintah, yaitu Baznas dan lembaga zakat yang dikelola masyarakat dengan manajemen yang lebih baik dan modern.

Dalam undang-undang itu juga disebutkan, organisasi pengelola zakat dibedakan menjadi dua, yaitu badan amil zakat yang dikelola oleh pemerintah dan lembaga amil zakat yang dikelola oleh masyarakat. Kedua organisasi pengelola zakat tersebut pada dasarnya merupakan pengganti peran pemerintah dalam pengelolaan zakat. Aturan ini mendorong pembentukan lembaga pengelola zakat yang amanah, kuat dan dipercaya masyarakat.

* * *

Menurut Ketua Baznas, Bambang Soedibyo, selama ini, lembaganya memiliki beberapa program untuk pemanfaatan zakat-zakat yang dikumpulkan. Program-program tersebut meliputi santunan kepada fakir miskin dan lansia.

Di samping itu ada santunan yang bersifat pengembangan usaha seperti memberikan modal usaha dan pendistribusian zakat yang sifatnya produktif seperti pemberian beasiswa kepada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Pendistribusian zakat yang produktif itu juga bisa berupa beasiswa bagi calon dai yang kuliah di perguruan tinggi atau sedang dikader dari asnafnya fi sabilillah--orang-orang yang berjuang di jalan Allah. ''Calon dai cukup banyak, ada ratusan. Mereka diseleksi oleh MUI,'' kata Bambang.

Selain itu, Baznas juga berkontribusi di bidang kesehatan dengan mendirikan rumah sehat semacam poliklinik di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya bertempat di daerah Sunda Kelapa, Jakarta. ''Pelayanannya gratis dan standar,'' kata Bambang.

Kemudian ada juga program bernama Zakat Development Community yang diberikan kepada petani miskin di daerah untuk mengembangkan usaha bertaninya. ''Di Kulon Progo, ada beberapa desa yang dibina. Di sana petani memberdayakan itik untuk diambil telurnya atau ketika musim haji, kambingnya kita beli, untuk ibadah korban,'' kata dia.

Saat ini, memang tak hanya Baznas yang bisa memungut zakat. Daerah-daerah sudah berdiri lembaga zakat. Bahkan banyak yang berprestasi. Sebut saja Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Padang yang tahun lalu, berkat perolehan dalam penghimpunan zakat lebih besar dari kota lainnya, mendapatkan Baznas Award. Pada 2016 zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang dihimpun mencapai Rp 25,1 milyar.

Keberhasilan Baznas Kota Padang mulai terlihat pada 2014. Mereka mampu mengumpulkan ZIS senilai Rp20,8 milyar, lalu pada 2015 sebanyak Rp22 milyar. Menurut Episantoso, Ketua Baznas Kota Padang, selain perolehan ZIS tinggi, Baznas Award yang diperoleh ada kaitannya dengan pengelolaan, termasuk transparasi.

Baznas Kota Padang selama ini sudah menyalurkan kepada 43.200 kepala keluarga (KK) penerima manfaat se-Kota Padang. Mereka juga merehabilitasi 4.300 rumah yang tidak layak huni melalui 'bedah rumah'. Selain itu, lembaga ini aktif dalam berbagai program, seperti Padang Religius, Padang Sehat, Padang Cerdas, dan Padang Makmur.

Sementara dari jumlah pengumpulan ZIS 25,1 milyar 2016, sebanyak 2,8 milyar merupakan hak Amil dan sebanyak 2,1 milyar sudah di salurkan untuk mustahik. Selama ini penyaluran Baznas Kota Padang, 70% dalam bentuk bantuan uang, 30% pendayagunaan, yang efeknya luar biasa. ''Pendayaan disalurkan untuk modal usaha riil 120 KK. Dan 80% sudah menjadi Muzaki,'' kata Episantoso.

* * *

Usaha pemberdayaan umat melalui zakat diterapkan hingga ke daerah. Salah satunya yang dilakukan kepada para peternak di Yogyakarta yang mendapat program peternakan terpadu 'Zakat Community Development'. Program ini dirintis Baznas yang menggandeng Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Program ini dimaksudkan untuk pemberdayaaan masyarakat dalam pengembangan wilayah agropolitan untuk mendukung program ketahanan pangan pada 2014.

Program ini bisa menjadi model penyaluran zakat untuk kegiatan produktif. Kelompok ternak Ngudi Mulyo di Dusun Kemloko, Desa Srimartani, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu yang mendapat bantuan program ini.

Anggota Ngudi Mulyo kini berjumlah 17 orang. Mereka menerima bantuan 7 sapi dari Baznas. Setiap tiga orang mengurus seekor sapi. ''Baznas juga membantu bahan bangunan untuk kandang. Kami warga yang gotong royong membangun," ujar Adi Paima, Bendahara Kelompok Ternak Ngudi Mulya. Paima tak tahu persis alasan keterpilihan Srimartani kala itu. Sepengetahuannya, ada petugas Baznas di desa setempat yang mendatangkan program ini di Srimartani.

Ketika itu, Paima didatangi petugas beberapa kali untuk disurvei. Saat itu ia punya seekor sapi. Seperti peternak lain ia memelihara sapi di kandang di dekat rumah. ''Saat itu, kami diminta pindah dan kandang dijadikan satu,'' kata Paima yang rumahnya berjarak setengah kilometer dari kandang.

Karena lahan terbatas, apalagi ada sumbangan sapi, Paima membongkar kandangnya dan ikut di kandang kelompok Ngudi Mulyo. Bersama tiga rekannya ia mendapatkan sapi seharga Rp9 juta, kala itu. Kalau sekarang, harganya sampai Rp 13 juta. ''Dari Baznas tidak ada aturan, pokoknya sapi dikembangkan. Kami sepakat dan tanggung jawab penuh tidak menjual induknya. Wong ini bantuan kok, kalau dijual enggak enak sama yang mbantu,'' kata dia.

Sapi Paima sudah beranak tiga. Melalui sistem jual tambah anak sapi dengan dua anggota bantuan indukan lain, Paima kini jadi pemilik sapi induk. Harga jual anak sapi usia 6 bulan - 1,5 tahun juga tinggi, yakni mencapai Rp 10 juta. ''Rencananya biar beranak lagi terus,'' kata dia.

* * *

Pemberdayaan umat melalui zakat, infak dan sedekah, nyatanya memang berdampak positif bagi perekonomian umat. Ke depan, metode filantropi Islam ini diperkirakan akan lebih baik, mengingat perolehan zakat selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Data statistik Baznas menunjukka, pada 2012 hingga 2017 rata-rata pengumpulan zakat mencapai 3,8%. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi, rata-ratanya sekitar 5,38%. ''Itu artinya pertumbuhan zakat jauh melampaui pertumbuhan ekonomi,'' kata Bambang Sudibyo.

Mengapa bisa demikian? Bambang menduga sudah semakin banyak masyarakat muslim yang sadar bahwa menunaikan zakat adalah kewajiban dan mereka memilih untuk menyalurkannya melalui negara. Di samping sudah semakin banyak yang bayar, semakin banyak juga yang disalurkan melalui Baznas dan lembaga amil zakat (LAZ). ''Itu artinya kredibilitas lembaga pengelola zakat semakin baik di samping kesadaran muzaki yang kian meningkat,'' kata Bambang.

Selain itu, pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia, kata Bambang, termasuk pesat di antara negara-negara lain di ASEAN. Misalnya dari kelas menengah yang berprofesi sebagai pegawai negeri, yang mulai mendapatkan tunjangan profesi. Dengan take home pay yang semakin baik, mereka yang semula bukan muzaki kini pun menjadi muzaki.

Karena itu, menurut Bambang, potensi penerimaan zakat di Indonesia sangatlah besar. Berdasarkan kalkulasinya, potensi zakat adalah sekitar 1,57% dari PDB. Ia mencontohkan, ketika PDB 2017 berkisar Rp13,88 trilyun potensi zakatnya sekitar Rp 214 trilyun.

Realisasinya, Rp 6,2 trilyun dibayarkan ke Baznas dan LAZ resmi yang diakui oleh pemerintah. Sebagian lagi disalurkan sendiri oleh para muzaki. Kemudian ada juga yang disalurkan ke lembaga zakat yang tidak resmi. ''Yang mana yang lebih besar, kami tidak tahu,'' kata dia.

Mukhlison S Widodo, Putri Kartika Utami, Zulfikar Effendi (Padang), dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

++++

Penyaluran Zakat Baznas
Januari -Desember 2017

Target 500.000 jiwa
Realisasi : 563.756 jiwa
112,75%

Pendidikan
10 ribu jiwa
21.181 jiwa
211,81%

Ekonomi
10 ribu jiwa
10.472 jiwa
104,72%

Kesehatan
15 ribu jiwa
256.439 jiwa
170,96%

Kemanusiaan
175 ribu jiwa
101.626 jiwa
58,07%

Zakat Community Development
19.500 jiwa
37.801 jiwa
193,85%

Dakwah Mualaf
500 jiwa
454 jiwa
90,80%
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com