Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Makin Kinclong dengan Perbankan Syariah

Kinerja industri perbankan syariah nasional mengalami kemajuan signifikan. Pencarian dana segar pun mulai dilakukan dengan menjadi perusahaan terbuka. Di NTB bank daerah berubah jadi bank syariah.

Penjualan saham perdana (IPO) PT Bank BRI Syariah pada pekan pertama Mei lalu sukses besar. Harga saham pada awal penawaran melejit 19,6%, ke level Rp 610 per lembar saham. BRI Syariah hari itu melepas 2,62 milyar saham atau setara dengan 27% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum perdananya dengan harga Rp 510 per saham. Penjualan ini juga sempat oversubscribe dua kali.

Dalam gelaran IPO ini, perusahaan berhasil meraup dana segar sebesar Rp1,33 trilyun. Rencananya, dana hasil IPO secara umum digunakan untuk 3 hal, yaitu: 80% untuk mendukung pertumbuhan bisnis, 12,5% untuk pengembangan teknologi dan sistem informasi, dan 7,5% untuk pengembangan jaringan kantor. Antusias pasar terhadap penjualan saham BRI Syariah ini menjadi salah satu indikasi bahwa industri keuangan syariah--khususnya perbankan--saat ini, mulai mendapat kepercayaan publik.

Menurut anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Adiwarman Karim, perbankan syariah mengalami kemajuan signifikan. Beberapa bank yang kinerjanya kurang mengesankan pada Desember 2017, mulai mengalami perbaikan kinerja signifikan pada Maret 2018 apalagi pada Juni 2018. ''Contohnya Bank Panin Dubai Syariah dan Bank Jabar Banten Syariah. Bank Muamalat Indonesia juga mengalami perbaikan pada beberapa aspek,'' kata Adiwarman.

Bank Panin Dubai syariah, pada Maret lalu mengumumkan akan melakukan penambahan modal dengan mengeluarkan saham baru. Rights issue ini diharapkan setidaknya bisa mendatangkan dana segar Rp750 milyar dan maksimal Rp1,37 trilyun.

Bank BJB Syariah mencatat pertumbuhan laba bersih 250% atau sekitar Rp6,8 milyar pada triwulan I/2018. Meningkatnya perolehan laba bersih ini ditopang pendapatan margin bersih senilai Rp94,9 milyar. Selain itu, juga kontribusi oleh penyaluran pembiayaan yang hingga Maret lalu mencapai Rp5,03 trilyun.

Adiwarman menambahkan, beberapa bank syariah yang lain juga bertambah kinclong kinerjanya dibandingkan pada Desember 2017. Bank itu antara lain BTPN Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah. ''Bank Syariah Mandiri juga siap-siap IPO dengan kinerjanya saat ini,'' kata Adiwarman. Beberapa unit usaha syariah milik beberapa bank nasional seperti Unit Usaha Syariah CIMB Niaga, Maybank, Bank Permata, dan Ban BTN kemajuannya juga signifikan.

Secara keseluruhan, kata Adiwarman, industri perbankan syariah memperlihatkan kinerja yang baik sehingga berhasil keluar dari five percent traps. Ini karena market share atau pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia pada 2017 sudah mencapai 5,74%.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan(OJK), industri perbankan syariah saat ini terdiri dari 13 bank umum syariah(BUS), 21 unit usaha syariah (UUS), dan 167 bank pembangunan rakyat syariah(BPRS). Pada triwulan I/2018, fungsi intermediasi perbankan syariah semakin meningkat dengan pembiayaan yang disalurkan (PYD) dan DPK yang tumbuh masing-masing 14,41% (yoy) dan 18,81% (yoy).

Pertumbuhan PYD dan DPK tersebut berdampak pada pertumbuhan aset yang tetap terjaga dua digit yaitu sebesar 19,33% (yoy). Pertumbuhan positif aset perbankan syariah mendorong peningkatan pangsa pasar perbankan syariah, sebesar 5,80% terhadap total aset perbankan nasional. Yang meningkat 51 bps dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 5,29%.

Ketahanan perbankan syariah secara umum juga tergolong kuat. Ini tercermin dari meningkatnya permodalan bank yang ditunjukkan oleh rasio kecukupan modal atau CAR yang tumbuh 149 bps (yoy) dari 16,98% menjadi 18,47%. Penguatan permodalan perbankan syariah tersebut didukung oleh penambahan modal disetor oleh pemilik dan meningkatnya rentabilitas dan efisiensi bank umum dengan resturn of aset atau ROA dan biaya operasional pendapatan operasional ( BOPO) masing-masing sebesar 1,59% dan 85,65%.

Likuiditas perbankan syariah terjaga baik dengan financing to deposit ratio (FDR) sebesar 84,32%. Kualitas pembiayaan perbankan syariah juga membaik dengan turunnya NPL gross sebesar 43 bps (yoy) menjadi 3,86%. dan NPF net yang turun dari 2,33% menjadi 2,19%.

Juru bicara OJK, Sekar Putih Djarot, mengatakan bahwa hingga saat ini terdapat tiga bank syariah yang mencatatkan namanya di bursa, yakni PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk, PT Bank BRI Syariah dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah.

Dengan semakin banyaknya yang listing di bursa, perbankan syariah diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan aset dan kapasitas, tapi juga good corporate governance, yang diikuti dengan pemenuhan prinsip kehati-hatian dan prinsip syariah. ''Sehingga dapat tumbuh secara berkualitas, stabil, dan fundamentally strong,'' kata Sekar kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

***

Investasi di sektor industri ini juga cenderung meningkat. Ini karena peluang industri syariah di Indonesia cukup besar. ''Beberapa tahun ke belakang pertumbuhan perbankan syariah dua kali dari pertumbuhan perbankan konvensional,'' kata Sekretaris Perusahaan BRI Syariah, Indri Tri Handayan. Industri perbankan syariah tumbuh cukup tinggi, yakni 15,2% tahun lalu atau jauh lebih tinggi dari pertumbuhan perbankan konvensional secara nasional yang mencapai 8,4%.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar, pengembangan perbankan syariah memang masih menjanjikan. Meski demikian, ada beberapa tantangan yang perlu diselesaikan, seperti peningkatan awareness masyarakat akan manfaat bank syariah.

Dalam layanan keuangan, bank syariah sekarang sudah menyamai bank konvensional, Meskipun berbagai produk dan layanannya masih terbatas dan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tantangan yang lain adalah ketersediaan SDM bank syariah yang mampu memberikan solusi kebutuhan keuangan. ''Ini terkait kesiapan SDM perbankan syariah dalam mengembangkan produk dan layanan agar mampu bersaing dengan bank konvensional,'' kata Indri.

Geliat industri sektor ini juga mulai diikuti perbankan syariah di daerah-daerah. Tak hanya perbankan syariah nasional, perbankan syariah berbasis di daerah juga mulai menggeliat. Contohnya, Unit Usaha Syariah Bank DKI yang pada triwulan I/2018 meningkat cukup baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Utama Bank DKI Kresno Sediarsi, peningkatan dana pihak ketiga ini didorong oleh peningkatan aktivitas pemasaran produk dan layanan Bank DKI, pengoptimalan cross selling nasabah existing dan nasabah baru.

UUS Bank DKI juga terus mendorong pengembangan teknologi seperti produk digital banking melalui JakOne Mobile. ''Juga pengembangan cash management system dan virtual account," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Secara umum, Kresno mengatakan, peningkatan kinerja UUS Bank DKI juga ditandai oleh peningkatan total aset unit usaha syariah per Maret 2018 yang mencapai Rp3,96 trilyun atau meningkat 4,95% jika dibandingkan Maret 2017 yang sebesar Rp3.77 trilyun. Adapun laba bersih UUS Bank DKI tercatat sebesar Rp38 milyar per Maret 2018.

* * *

Di sisi lain, pengembangan bank syariah di daerah ternyata juga positif. Bahkan, beberapa unit syariah bisnisnya lebih bisa besar dari induknya. Ini dialami Unit Usaha Syariah Bank NTB. Karena kinerjanya yang luar biasa, Bank NTB pun akan dikonversi menjadi bank syariah tahun ini. ''Tinggal kita tunggu izin dari OJK, tak ada kendala berarti,'' kata Direktur Utama Bank NTB, Komari Subakir.

Konversi Bank NTB Syariah telah diupayakan sejak 2016. Menurut Komari, manajemen Bank NTB telah menjalani sejumlah proses, mulai studi banding ke BPD Aceh, konsultasi ke Kemendagri, dan juga OJK. Selain itu, Bank NTB juga bekerja sama dengan sejumlah konsultan profesional untuk membantu kelancaran proses konversi, meliputi pendampingan SDM sampai standardisasi IT.

Di samping itu Bank NTB telah melibatkan Kejaksaan sebagai pengarah kebijakan hukum untuk menghindari berbagai persoalan hukum pada proses konversi ini. ''Kejaksaan Tinggi NTB sudah memberikan lampu hijau, bahwa seluruh tahapan sudah prosedural," jelasnya.

Komari juga menyebutkan, OJK juga telah melakukan asistensi ke Bank NTB pada Maret lalu dan meminta pemenuhan kelengkapan sejumlah syarat-syarat konversi. Langkah Bank NTB ini meniru keberhasilan Bank Aceh yang sejak 2015 berhijrah dari bank umum menjadi bank syariah.

Corporate Secretary Bank Aceh, Amal Hasan, mengatakan bahwa sejak Bank Aceh berubah dari sistem konvensional menjadi sistem syariah, aset Bank Aceh Syariah per 31 Desember 2017 mencapai Rp 22,61 trilyun, dengan peningkatan pencapaian market share hingga 43.80%.

Menurut Amal, meningkatnya pangsa pasar syariah karena dukungan yang kuat dari seluruh stakeholder. Apalagi, dengan pemberlakuan ketentuan hukum syariat Islam di Aceh secara menyeluruh yang dilandasi dengan komitmen penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat merupakan kebijakan yang monumental, dan sangat strategis dalam transfomasi ekonomi Aceh di masa depan.

Saat ini secara nasional Bank Aceh Syariah berada dalam kelompok 5 besar bank umum syariah nasional. ''Secara regional Bank Aceh juga merupakan bank umum syariah dengan penguasaan pangsa pasar yang sangat besar di atas rata-rata nasional,'' kata Amal.

Bank Aceh juga sudah berekspansi keluar Aceh yaitu di kota Medan dan memiliki 6 Jaringan kantor. ''Kita juga sedang merintis rencana pengembangan jaringan yang lebih luas dengan program ekspansi ke pusat ibu kota di Jakarta,'' kata Amal.

Mukhlison S. Widodo, Putri Kartika Utami, T. Dedi Irawan (Aceh), Hernawadi (NTB)

++++

Perbankan Syariah Indonesia 2017
Aset Rp 435,02
Dana pihak ketiga Rp341,07 trilyun
Pembiayaan Rp291 trilyun
Pertumbuhan (yoy)
Aset 18,97%
Pembiayaan 15,23%
Dana pihak ketiga 19,83%

CAR 17,91%
FDR 85,31%

NPF Gross 3,87%
NPF Nett 2,13%

ROA 1,17%
BOPO 89,62%

Market Share Perbankan Syariah

5,78% terhadap Perbankan Nasional

>Perbankan Syariah
>Perbankan Konvensional

Bank Umum Syariah (BUS) 66,21%
Unit Usaha Syariah (UUS) 31,30%
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) 2,49%
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com