Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Lima Pilar Koperasi Dunia-Akhirat

Kemajuan Koperasi syariah Benteng Mikro Indonesia berdampak luas terhadap masyarakat sekitar, khususnya warga Kabupaten Tangerang. Fasilitas beragam dan syarat yang mudah, sangat membantu perkembangan usaha UMKM.

Masih membekas dalam ingatan Hanunah, ibu lima anak asal Mauk, Tangerang, Banten, ketika mengalami kesulitan ekonomi. Lika-liku pilu perjalanan hidupnya dimulai ketika Hanunah jatuh sakit pada 2001. Sejak itulah ia terpaksa keluar dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik garmen. Akibatnya, kondisi ekonomi keluarga Hanunah limbung. Ia tak lagi bisa membantu mengepulkan asap dapur. Sementara itu, sang suami, Sayutin, hanyalah seorang penarik becak yang berpenghasilan jauh dari cukup.

Hanya mengandalkan pendapatan suami tentulah sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Apalagi, uang yang dibawa pulang suami tergantung jumlah penumpang yang didapat. Enam tahun berjalan dengan kesulitan ekonomi, akhirnya Hanunah pada 2007 memberanikan diri meminjam modal dari Lembaga Keuangan Mikro --sebelum menjadi Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI)-- sebesar Rp 500.000 .

Otaknya pun berpikir keras. Tekadnya bulat untuk usaha. Ia pun memberanikan diri menggunakan uang pinjaman untuk berjualan ikan asin. Doa Hanunah akhirnya diijabah Sang Khalik. Di luar dugaan, dalam kurun waktu enam bulan ia mampu melunasi pinjaman awal. Karena lunas, Hanunah pun diberi kemudahan untuk meminjam dana kembali dengan limit sebesar Rp2 juta.

Karena ritme usaha telah ia nikmati, pinjaman selanjutnya ia gunakan untuk usaha lain. Yakni, usaha kosmetik dengan cara berdagang keliling kampung. Keputusannya menjual kosmetik terbilang sukses. Hasil penjualan kosmetik keliling ditabung di koperasi. Walaupun hanya berlatar pendidikan sekolah dasar, naluri bisnis Hanunah akhirnya terus terasah.

Perempuan berkacamata ini pun mencoba membuka peluang usaha baru, yaitu membuka percetakan batu bata, dengan modal pinjaman senilai Rp8 juta. Usaha percetakan batu batanya terbilang cukup maju. Sampai suaminya ikut andil menjalankan roda bisnisnya dan berhenti menarik becak.

Sekarang, bisnis percetakan batu bata Hanunah dan suami mampu menghasilkan omzet Rp7 juta per bulan. Bahkan, ia dapat menabung di koperasi sebanyak Rp2 juta per bulan. Tak hanya itu, ia pun sudah mampu memiliki rumah sendiri. “Prinsip saya cuma satu: apa yang saya lakukan saya bersungguh-sungguh, pasti Allah membukakan jalan,” katanya kepada Riana Astuti dari GATRA.

Semangat usaha Hanunah tak berhenti sampai di situ. Ia memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp50 juta untuk membuka usaha konveksi dan garmen di rumahnya. Hanunah melihat di areal rumahnya, usaha konveksi memiliki pasar yang cukup bagus. Terlebih, saat itu hanya Hanunah yang memiliki usaha konveksi.

Kini, usaha konveksi Hanunah sudah maju dan memiliki 20 karyawan. Omzet yang diterima pun cukup besar, per bulan laba bersih yang diterima sekitar Rp8 juta-Rp10 juta. “Awalnya saya mengerjakan bahan setengah jadi dari perusahaan. Tapi tahun ini saya punya ide saya ingin buka semua pengerjaan produksi dikerjakan sendiri,” kata Hanunah.

Dengan adanya beberapa lini bisnis yang dijalankan, ia yakin kecil kemungkinan untuk bangkrut. Target di tahun depan, Hanunah ingin semua hasil produksi konveksinya dipasarkan secara online agar omzet penjualan bisa lebih meningkat. Meski sudah mulai maju, ia tetap tidak lupa akan peran Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia, yang telah memberikan bantuan untuk usahanya.

Melihat kisah sukses Hanunah, wajar saja jika Kopsyah BMI mendapat penghargaan untuk kategori Bakti Koperasi dan UKM dari Kementerian Koperasi dan UKM pada 2017. Menurut Presiden Direktur Kopsyah BMI, Kamaruddin Batubara, awalnya Kopsyah BMI merupakan sebuah lembaga keuangan mikro yang didirikan pada 2003 oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang dan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor.

Modal awal berasal dari APBD Kabupaten Tangerang, senilai Rp260 juta, dan tiap tahun dana tersebut ditambah Rp500 juta, bahkan pernah mencapai Rp3,6 milyar. Seiring dengan berjalannya waktu, pada 2013 koperasi ini resmi berbadan hukum koperasi dan memiliki 17 cabang koperasi syariah dengan menganut semangat gotong royong sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945.

Dalam menjalankan usaha koperasi ini, Kamaruddin Batubara, yang juga perintis Kopsyah BMI, mengatakan kepada GATRA bahwa sistem koperasi syariah ini memiliki banyak keuntungan. “Yakni keuntungan dunia dan akhirat,” katanya penuh senyum.

Kelebihan lainnya, dapat bermualah sehingga dalam membuat kebijakan itu implementasinya tidak boleh hanya menguntungkan organisasi. Tapi harus melibatkan masyarakat juga. Kini Kopsyah BMI telah berkembang pesat dengan memiliki 137.000 anggota, termasuk Bupati Tangerang, Bupati Serang, dan sekeretaris daerahnya. Kopyah BMI memiliki 41 cabang yang tersebar di Kabupaten Serang, Lebak, dan Pandeglang.

Dalam lima tahun sejak berdiri, aset koperasi sudah senilai hampir Rp500 milyar. Kopsyah BMI juga telah memiliki dua koperasi binaan yang berada di Depok dan Bogor dengan SOP yang sama. “Kenaikan usaha setelah berbadan koperasi dan syariah sekitar 450%. Itulah potensi yang selama ini tidak tergali,” ujar Kamaruddin.

Kamaruddin menuturkan, hal menarik lainnya dari Kopsyah BMI adalah bukan hanya bergerak untuk ekonomi saja, melainkan juga sosial anggota. Terbukti dengan adanya lima pilar pembangunan, di antaranya ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan spiritual. Tiap anggota diberi pelatihan untuk mengasah kemampuan yang mereka miliki. Pelatihan memiliki instrumen pemberdayaan yang dimulai dengan sedekah, pinjaman, pembiayaan atau bisnis, menabung, serta investasi.

Program-program yang dimiliki Kopsyah BMI juga beragam. Misalnya, pemberian rumah gratis, rumah tanpa uang muka, renovasi rumah, dan pemberian pinjaman maksimal Rp80 juta tanpa agunan. Menariknya, persyaratan untuk mengajukan pinjaman dana hanya KTP, dan pencairan dananya hanya membutuhkan waktu seminggu.

Sistemnya memiliki beberapa model, yaitu pemberdayaan, infak atau sedekah, kemudian ada pinjaman, pembiayaan, menabung, dan investasi. Kamaruddin mengaku, pembagian hasil berdasarkan sistem syariah yang di dalamnya terdapat jual-beli dan kerja sama. Ia mencontohkan, untuk kerja sama bila ada anggota yang menjadi peternak kambing, maka akan dihitung untung-ruginya setelah panen dan biasanya dijual saat Idul Adha.

Deputi Bidang Pembiayaan, Kemenkop dan UKM, Yuana Sutyowati, mengimbau Kopsyah BMI agar terus mengembangkan layanan keuangan, terutama berbasis teknologi informasi, guna mempermudah transaksi dengan UMKM yang menjadi anggota. “Sehingga anggota Kopsyah BMI yang sebagian besar adalah pelaku usaha mikro dapat tumbuh dan berkembang,” kata Yuana.

Gandhi Achmad
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com