Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Investasi Syariah Terinspirasi Kandang Kosong

Platform investasi agribisnis syariah menjadi jalan dakwah para penggagas kandang.in. Kelompok usia produktif yang ingin berinvestasi secara syariah menjadi captive market utama mereka. Terselip juga misi pemberdayaan sosial.

Awalnya dari jalan-jalan iseng ke kampung halaman teman, Gilang Kurniaji dan Ginanjar Fachrul mendapat ide untuk proyek usaha rintisan (startup) mereka. Kira-kira pertengahan tahun 2016, kawan sekampus itu pelesiran ke Ciamis, Jawa Barat. “Di situ banyak kandang ayam, kambing, atau kolam milik warga yang kosong,” kata Gilang kepada GATRA, beberapa waktu lalu.

Setelah bertanya kanan-kiri, Gilang dan Ginanjar menemukan penyebab dari kekosongan itu. “Mereka tidak punya modal yang banyak untuk menjalankan bisnis peternakan,” kata Gilang. Masalah serupa juga rupanya terjadi pada peternak di lingkungan sekitar kampung halamannya di Trenggalek, Jawa Timur.

Para peternak berskala rumah tangga itu, menurutnya, kesulitan untuk mengakses modal dari perbankan. Karena mereka harus punya aset sebagai jaminan. Padahal, risiko usaha peternakan itu cukup besar. Salah kelola, atau bila kena musibah, ternak bisa musnah dan aset peternak pun ikut hilang disita bank. Gambaran itu menjadi momok bagi mereka untuk meminjam uang dari bank. Sedangkan bila para peternak ingin pinjam modal ke perorangan atau rentenir, mereka khawatir dengan bunga yang tinggi.

Dari kondisi tersebut, Gilang dan Ginanjar membuat konsep piranti lunak Kandang.In yang bisa mempertemukan antara peternak dan investor. Ide itu pun mereka ajukan ke ajang “1.000 Startup Digital Indonesia Chapter Bandung”, April 2017 silam. “Dari situ, kami terpilih menjadi tiga startup terbaik di Bandung,” ungkap Gilang.

Ia menjelaskan bahwa Kandang.In adalah startup di bidang teknologi finansial (Tekfin) berupa platform sesuai konsep syariah yang memberdayakan peternak kecil dan menengah di daerah pinggiran. Caranya adalah mempertemukan para peternak itu dengan investor yang ingin menanamkan modal di sektor pertanian.

Setelah lolos dalam ajang pencarian startup terbaik, Kandang.In dijalankan secara bootstrap, yakni menggunakan pembiayaan sendiri. “Kita modalnya Bismillah,” cetus Gilang sembari tertawa. Ginanjar, yang juga ada mendampingi Gilang, menjelaskan bahwa modal awal mereka bukanlah uang. Melainkan kemampuan mereka berdua sebagai programer dan software engineer. Saat ini, aplikasi Kandang.In masih berbasis website. Namun teknologinya sudah progresif, sehingga bila dibuka di ponsel pintar, maka tampilan dan fitur-fiturnya otomatis akan menyesuaikan.

“Sejak launching, kami prinsipnya seminimal mungkin. Yang penting jalan dulu,” demikian penjelasan Gilang ketika ditanya alasannya belum mengembangkan aplikasi berbasis Android atau iOS.

Versi beta aplikasi Kandang.In diluncurkan pada Maret 2017. Investor awal mereka adalah teman dan saudara sendiri. Proyek investasi awal mereka adalah penggemukan dua sapi di Trenggalek dengan investasi yang terkumpul sebesar Rp37 juta. Proyek itu berjalan satu siklus, yakni selama empat bulan. Dana investor yang masuk digunakan untuk membeli hewan ternak, perawatan, dan juga pakannya.

Dari modal Rp37 juta untuk dua sapi, datang keuntungan sekitar Rp4 juta karena dua sapi tersebut laku dijual seharga 41 juta. Menurut tim Kandang.In, ketika proses pembagian hasil, rata-rata investor mengantongi keuntungan 7%. Angka itu masih lebih besar bila dibandingkan dengan menaruh uang di bank dalam bentuk deposito, yang bunganya 5%-an selama lima tahun. “Kalau kami kan keuntungannya 7% selama tiga-empat bulan,” kata Ginanjar. Perhitungan potensi keuntungan dari bagi hasil itu tersedia di situs Kandang.In, sehingga investor bisa punya gambaran.

Selain itu, situs Kandang.In juga menyediakan informasi update mengenai kondisi hewan ternaknya. Dari kondisi kesehatan, konsumsi pakan, hingga penambahan berat badan. Bila hewan ternak yang menjadi objek investasi adalah ayam, maka yang dilaporkan kepada investor adalah tingkat kematian dari ayam per kandang.
Pada tahap lebih lanjut, Kandang.In bekerja sama dengan penyedia pakan ternak. Sehingga hewan ternak seperti sapi tidak sekadar diberi rumput, tapi juga pakan penggemuk yang lebih berkualitas.

Di mana syariahnya?

Setiap akan mulai berinvestasi, Kandang.In membuat akad mudarabah. Mengacu pada rubrik “Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama”, Mudharabah merupakan pembiayaan yang sepenuhnya untuk memodali usaha. Modal sepenuhnya dikeluarkan oleh pemilik modal (investor) dan penerima modal wajib menjalankan usaha.

Melalui skema ini, investor berpeluang memperoleh bagi hasil secara terus-menerus selama usaha masih berjalan. Besaran keuntungan dibagi atas dasar kesepakatan yang telah ditetapkan di kontrak/akad awal. Namun di situ tidak ada jaminan keuntungan tetap. Melainkan juga ada potensi sharing loss. “Bila ada untung, dibagi sesuai kontrak awal. Tapi bila rugi ditanggung sesuai kontrak” kata Gilang. Meski secara umum, bila ada kerugian, maka investor yang akan menanggungnya. Sedangkan penerima modal hanya diminta pertanggungjawaban jika kerugian terjadi akibat keteledorannya.

Pihak Kandang.In sendiri punya antisipasi, bila benar terjadi kerugian. Mereka menerapkan sistem takaful, yaitu dana urunan yang dipungut dari keuntungan. Setelah terkumpul, dana takaful itu bisa digunakan sebagai kompensasi sewaktu terjadi kerugian.

Alasan Gilang dan Ginanjar menerapkan konsep investasi syariah di Kandang.In adalah karena mereka ingin menggunakan kemampuannya ini sebagai dakwah. Selain itu, dari hasil obrolan bersama teman-teman sepergaulannya, Gilang dan Ginanjar menemukan bahwa banyak pekerja muslim berusia produktif yang belum terpikir untuk berinvestasi. Alasannya, karena mereka tidak menemukan saluran investasi yang sesuai dengan syariah. “Itu kan captive market yang sangat besar bila bisa diedukasi,” kata Gilang.

Kendati mengusung konsep syariah, kandang.in terbuka untuk investor dari berbagai latar belakang. Sehingga tidak terbatas pada agama Islam saja. Calon investor yang berminat bisa membeli slot senilai Rp500.000. “Itu adalah minimal investasi,” kata Gilang. Pembatasan berupa slot itu, menurutnya, untuk mempermudah hitungan bagi hasil nanti.

Sampai saat ini, Kandang.In telah memutar dana Rp1,3 milyar untuk investasi. Dana itu sudah tersalur ke beberapa peternak di wilayah Trenggalek, Cikampek, hingga Lombok Timur. Menurut hitungan Gilang, mitra peternak yang sudah mereka danai ada sekitar 20 peternak individu dan lima grup peternak. Para mitra itu berkonsentrasi pada penggemukan sapi, ayam kampung super, ayam petelur, dan domba. “Ada calon mitra peternak kambing yang juga sedang kami finalisasi,” kata Gilang.

Untuk dana operasional, Kandang.In memungut fee yang diambil dari keuntungan kotor. Besarannya berkisar antara 10%-20%. Setelah keuntungan kotor dikurangi fee untuk Kandang.In, maka tinggal dibagi dua oleh mitra peternak dan investor. Itulah yang menjadi keuntungan bersih.

Sebagai usaha rintisan, Kandang.In tetap butuh fundraising. Dalam rencana Gilang-Ginanjar, dana segar hasil fundraising akan digunakan sebagai buffer. Karena tiap investasi, mereka butuh anggaran bila terjadi risiko default. Selain itu, mereka juga punya rencana untuk mengembangkan lini bisnis lain. Misalnya Daging.In untuk menampung daging dari peternak dan menjualnya ke konsumen langsung. Investasi juga akan membuat Kandang.In mampu berpromosi.

Pernah gagal?

Sejauh ini, mereka pernah sekali gagal. Seekor sapi milik mitra peternak Kandang.In di Trenggalek jatuh sakit, sehingga harus dijual lebih cepat. “Karena kami punya sistem monitoring, investor juga sepakat untuk jual,” kata Ginanjar. Akibatnya hasil investasi dari sapi itu tidak sebesar yang sudah diproyeksikan. Pada kondisi tersebut, Kandang.In menggunakan dana cadangan dari iuran takaful yang mereka tarik. Sehingga investor juga tidak terlalu merugi.

Guswawan, peternak sapi dari Desa Karanggandu, Trenggalek, Jawa Timur, sudah merasakan sendiri manfaat menjadi mitra Kandang.In. Ia mengaku terbantu dengan adanya Kandang.In ini. “Tadinya cuma bisa ternak satu sapi. Sekarang bisa tiga sampai empat,” kata Guswawan dalam video testimoninya yang dipublikasikan di YouTube. Selain terbantu dari segi permodalan, Guswawan bercerita, Kandang.In juga membantu dalam memasarkan sapinya. Sehingga ia tidak perlu lagi menjual ke perantara. Melainkan langsung pada konsumen atau pembeli akhir. “Keuntungannya juga jadi lebih besar,” kata Guswawan.

Selain memberikan fasilitas permodalan, Kandang.In juga berupaya untuk menyediakan akses pasar pada peternak. Karena dari pengalaman yang mereka dengar, peternak kerap mengeluh. Mereka (peternak) sebetulnya lebih suka menjual langsung pada konsumen, tapi sering kesulitan aksesnya. Sedangkan cara mudah, yakni menjual ke perantara, tidak memberikan margin keuntungan yang layak.

Proses kerja sama Kandang.In dengan mitra peternak diawali dengan seleksi manual. Tim dari Kandang.In mendatangi lokasi peternak (individu atau koperasi) yang berpotensi menjadi mitra mereka. Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon mitra adalah punya pengalaman dan punya akses pasar. Bila si peternak memenuhi syarat, maka ia akan dipromosikan di web dan aplikasi Kandang.In. Promosi itu sendiri berupa foto peternak, kandang, contoh hewan ternak, rencana pengembangan bisnis ternak, estimasi biaya untuk investasi, dan estimasi besaran bagi hasil usaha.

Bila si mitra peternak dirasa sudah bisa dipercaya, ia boleh merekomendasikan temannya untuk menjadi mitra Kandang.In juga. Berhubung masih baru, Ginanjar mengakui bahwa mereka masih sedang tahap menyusun metode penilaian lapangan yang baku. Sehingga proses pencarian mitra peternak ataupun investor tidak perlu dilakukan secara manual turun ke lapangan. Melainkan dengan algoritma program.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com