Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Sentuhan Fintech Pertanian Syariah

Setelah sukses mengajak investor berinvestasi dengan sistem syariah di sektor pertanian organik, My Agro kini masuk bisnis fintech. Potensi besarnya bisa meningkatkan produk pertanian dan sekaligus menyejahterakan petani.

"Indonesia sebagai lumbung pangan dunia". Berapa banyak menteri pertanian di negeri ini yang memimpikan kondisi seperti itu? Mungkin tidak sulit untuk mewujudkannya, mengingat Indonesia memiliki potensi luar biasa. Namun cita-cita itu tak kunjung tercapai. Jangan kan dunia, tingkat nasional saja kadang-kadang tak tercapai.

Namun, hal itu tak menyurutkan mereka yang selalu jeli melihat peluang dan ulet berusaha. Salah satunya adalah Tiar Uray Fahrozy, pendiri My Agro, salah satu startup yang memanfaatkan teknologi digital, dengan lini bisnis di hulu pertanian, peternakan, dan budi daya yang berbasis syariah atau bagi hasil sesuai akadnya

Menurut Tiar, potensi lahan Nusantara yang dapat dimanfaatkan sungguh luas. Di Kalimantan Barat saja yang memiliki sekitar 14.000 hektare lahan, dari jumlah itu, lebih dari 60% merupakan "lahan tidur" atau belum dimanfaatkan. Melihat potensi besar itu, pada Januari 2017, Tiar mendirikan startup berbasis investasi syariah. "Awalnya, dari 2016 kita sudah start dengan branded My Agro. Lalu kita mencari skema investasi yang saling menguntungkan," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Skema syariah dipilih karena menurut Tiar bisa saling menguntungkan. Tujuannya, agar investor merasa terlindungi ketika berinvestasi dan meminimalkan risiko kerugian. Selain itu, juga untuk menghindari dari upaya saling mezalimi. "Akhirnya kita pilih skema syariah, di mana konsep ini benar-benar adil," ujarnya.

Selain bersiko minim, lanjut Tiar, pembagiannya pun proporsional dan adil. Ia mencontohkan, modal 100%, lalu nanti akan dibagi hasil misal 70:30, dan harus sesuai akad di awal. Setelah itu dalam perjalanan, bukan hanya salah si pengelola jika mengalami kerugian, tapi juga kerugian itu di tanggung 100% oleh si investor. "Karena saya sudah meluangkan waktu dan pikiran untuk bekerja. Karena namanya bagi hasil, mau namanya untung maupun rugi ya harus dibagi,'' katanya.

Maka itu, ia menilai bisnis dan riba berbeda. Menurutnya, riba itu tidak ada kerugian, sedangkan jual beli memiliki potensi kerugian. "Misalnya kita produksi cabai, modal kita per kilo Rp10.000. Waktu kita belum tanam pasaran masih Rp15.000, misalnya, pas kita panen harganya jatuh, Rp9.000. Itu kan rugi. Nah itu yang namanya bisnis atau jual beli, ada potensi kerugian," ujarnya.

Uniknya, lanjut Tiar, para investor non-muslim pun sepaham dengannya, bila bisnis memang mengandung potensi kerugian. Oleh karena itu, komunikasi menjadi kata kunci baik kepada investor maupun petani yang sehari-hari bergulat mengurus lahan.

Di sisi lain, ujar dia, solusi untuk mengantisipasi sewaktu-waktu harganya jatuh adalah memanfaatkan teknologi guna mengefisiensikan cost. "Kita mencoba supaya risiko kerugian investor juga rendah, tapi di satu sisi kita harus mengamankan kita sebagai pengelola agar terhindar dari wanprestasi," katanya.

Dengan begitu, kata Tiar, sistem syariah tidak hanya menawarkan hasil untungnya saja, tapi juga menegaskan potensi kerugiannya yang harus dipikul bersama. Terkait skema dan poin-poin kesepakatannya, termasuk untung ataupun ruginya sudah diatur dalam akad. "Jadi karena investor keluar dana 100%, kita sebagai pengelola itu mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu untuk mengelola bisnis tersebut. Jadi sebenarnya sangat adil ya," katanya yakin.

Sejak berdiri resmi pada awal 2017, kata Tiar, My Agro menerapkan sistem syariah. Hingga saat ini investornya 30-an dengan dana hampir Rp1 milyar. Para investor berasal dari Jakarta, Solo, Kalbar dan Kaltim.

Gambaran bagi hasil My Agro, kata Tiar, misalnya 100% investor menanam modalnya di My Agro. Maka, range untuk investor itu sebesar 20% sampai 30%. Sehingga masih ada sisa 70%, nah sisanya itu yang dibagi antara My Agro dan petani.

"Misalnya 60% untuk petani, 40% untuk my agro, bisa seperti itu, itu tergantung dari konsep yang mau kita kembangkan, intinya adalah keterbukaan. Misalnya kita komunikasikan juga ke petani, nih dana masuk sekian, kami dapat sekian. Karena konsep syarii ya keterbukaan," ia menjelaskan.

Tiar melanjutkan, para investor yang berinvestasi di platform akan mendapatkan profit pada awal sebesar 10%. Ia mencontohkan, jika investor masuk dengan Rp10 milyar, 10% bruto sudah masuk menjadi bagian platform. Dengan begitu, menurutnya, investor akan merasa nyaman bila berinvestasi di platform My Agro, karena risikonya rendah. Sedangkan untuk periode bagi hasilnya hitungannya adalah per tahun. "Kita tidak mungkin per panen, karena berat hitungannya. Kita 12 project yang kita rilis tapi kita bukanya 6 dulu," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Tiar, karena My Agro mengedepankan teknologi, lahan apa pun siap untuk digarap, terpenting, menurutnya lahan tersebut tidak mudah. Tapi kalo terkait dengan kesuburan tanah, struktur tanah, itu bisa diselesaikan dengan teknologi pertanian organik.

Saat ini sudah ada puluhan petani dan peternak yang bermitra secara langsung dengan My Agro. Ke depannya, ia menambahkan, jika konsep kawasan sudah jadi seperti di Rasau, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat bagian utara yang jumlah petani bisa sampai 7.000 dengan luas 1.000 hektare yang akan dikelola My Agro dengan BUMDes (badan usaha milik desa) dan BUMADes (badan usaha milik antar-desa).

Lebih lanjut, Tiar mengatakan, konsep pertanian My Agro diberi nama kaveling argo terpadu, seperti limbahnya, baik hasil ternaknya maupun pertaniannya dapat dimanfaatkan untuk satu sama lain. "Jadi, limbah peternakan, untuk pertanian, begitu juga sebaliknya. Kita konsepnya ramah lingkungan memakai teknologi organik," paparnya.

Konsep integrasi farming ini, katanya, diminati oleh para pengusaha dan pangeran kesultanan Malaysia. Bahkan, pada Juli nanti dirinya akan mempersiapkan presentasi di depan beberapa pangeran di Malaysia. "Rombongan Malaysia kemarin datang, dan mereka tertarik dengan konsep integrated farming. Ini lagi penjajakan, kemungkinan besar konsep ini akan di buat di Malaysia juga. Dan ini konsepnya B to B," katanya.

Lebih jauh, kata Tiar, sejak My Agro meraih juara 2 kompetisi antar-startup yang diikuti oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura, di Singapura April 2017 lalu, banyak investor, dari Malaysia dan Korea Selatan yang ingin berinvestasi. Meski begitu, Tiar berharap, adanya investor dari dalam negeri sebagai investor strategisnya.

Meski banyak investor tertarik kepada My Agro, Tiar bilang, saat ini sedang fokus mengurus perizinan agar dapat pengakuan sebagai perusahaan aplikasi di OJK. Dirinya, menargetkan agar pada akhir tahun ini sudah mendapatkan izin legal dari OJK. "Event yang di Singapura itu, membuat My Agro menjadi booming. Banyak investor menghubungi saya. Tapi karena belum resmi itu secara legalnya," ujarnya.

Untuk pemasaran produk pertanian dan peternakan My Agro menggandeng restoran, hotel, hingga rumah makan sebagai mitranya. Untuk terus berinvestasi di bidang pertanian organik ini, lanjutnya, My Agro memiliki tim inti yang terdiri dari doktor Ilmu tanah, ahli tanaman organik, chief technology officer yang membangun sistem platformnya.

Maraknya kesadaran masyarakat untuk menggunakan sistem syariah menjadi satu tanda positif dalam kehidupan masyarakat perkotaan yang terdidik. Menurut Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah, Yusuf Wibisono, hal ini dapat dilihat dari dua perspektif.

Pertama, pengaruh aspek sosial spiritual masyarakat yang semakin bersemangat untuk melaksanakan syariat Islam. Terutama, di kelas menengah perkotaan terdidik. "Jadi fenomena ini sifatnya bottom-up," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA, Kamis, 31 Mei, lalu., Yang kedua, dari perspektif ekonomi, kondisi saat ini bisa dibaca ungkapan ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem keuangan konvensional yang plus bunga. Apalagi, menurutnya, investasi non-ribawi ini tidak hanya diminati umat muslim saja, tapi oleh masyarakat yang lain.

"Nasrani bahkan Yahudi juga mereka menerapkan kok. Misalnya di beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat lembaga-lembaga keuangan menerapkan sistem bagi hasil," ia menjelaskan.

Kekecewaan masyarakat pada umumnya, menurutnya, dilatarbelakangi oleh sistem keuangan yang berbasis bunga yang dirasa tidak adil. Sehingga, ekonomi berbasis syariah, tidak hanya marak di Indonesia, melainkan sudah menjadi fenomena global. ''Sistem keuangan kovensional kan dianggap tidak mencerminkan fairness terhadap para pelaku ekonomi,'' katanya.

Lebih lanjut, ia bilang, indikator utamanya terlihat jelas dari kesenjangan ekonomi. Apalagi, isu kesenjangan ekonomi merupakan isu yang paling krusial bagi suatu negara. Meski begitu, ia menilai, kesejangan itu tercipta akibat sistem keuangan yang berbasis bunga, yang hanya menguntungkan kelompok kaya, karena mereka mendapatkan kepastian bahwa harta atau asetnya pasti akan tumbuh.

Yusuf juga mengapresiasi adanya bisnis pertanian dan peternakan yang mengadopsi sistem syariah. Terlebih, lanjut ia, seluruh akad-akad syariah pada prinsipnya adalah akad sektoral . "Jadi memang yang namanya keuangan syariah itu harusnya atau pasti berwajah sektor riil, sifatnya harus sangat sektoral," lanjutnya, "Beda dari sistem keuangan bunga yang justru fokusnya di sektor keuangan. Kalau keuangan syariah, seharusnya fokusnya di sektor riil," katanya

Walhasil ia mengatakan, aneh rasanya bila keuangan syariah tapi tidak berwajah sektoral. Padahal, menurutnya, sektoral khususnya pangan paling banyak diakomodasi dari dalam akad transaksi syariah. Hal ini terjadi dalam tradisi islam, yang mana sektor pertanian itu merupakan sektor yang paling penting, jika dilihat dari kemaslahatannya. Karena itu, ia bilang, hal wajar bila sektor pertanian banyak difasilitasi dalam syariah.

"Bahkan ada misalnya akad salam misalnya, akad salam nature-nya itu sebetulnya sangat highly speculative. Karena akadnya ini menetapkan harga komoditas pada awal, sedangkan delivery komoditasnya nanti pada masa depan, 3-6 bulan ke depan. Tetapi diperbolehkan oleh syariah karena sifat sektor pertanian itu daruriyat (prioritas)," katanya.

Kondisi ini, kata Yusuf, menjadi antitesias keuangan konvensional, yang mana sektor pertanian dianggap tidak penting dan tidak menarik, karena dianggap berisiko. Sehingga, tanpa disadari, kondisi ini berdampak pada terus menyusutnya bidang pekerja di sektor pertanian.

''Data 2003 jumlah petani masih 31 juta, 2013 tinggal 26 juta petani. Sisanya belum dapat dipastikan bermigrasi ke bidang pekerjaan lain,'' katanya. Investasi di sektor pertanian berbasis syariah seperti My Agro diharapkan mampu menyejahterakan petani sehingga banyak kaum muda yang mau terjun di sektor pertanian.

G.A. Guritno
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com