Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Siap Menjadi Kiblat Busana Muslim Dunia

Potensi ekonomi busana muslim sangat menggiurkan. Indonesia memiliki daya dukung cukup memadai untuk menjadi yang terbesar di dunia. Perlu kerja sama antara pemerintah dan industri.

Presiden Joko Widodo menerima 28 perwakilan Komunitas Muslim Fashion di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, akhir April silam. Pertemuan di ruang Garuda Istana Bogor itu berlangsung pukul 09.10 WIB. Presiden didampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, serta Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki. Presiden menyatakan kekagetannya saat menghadiri acara Muslim Fashion Festival (Muffest) Indonesia Tahun 2018, di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) pada 19 April lalu. "Saya melihat ada sebuah potensi, ada sebuah kekuatan kita, talenta-talenta dari para desainer busana muslim," kata Jokowi.

Presidenberharap ada pembicaraan antara pemerintah dan pelaku usaha di bidang busana muslim dalam rangka membidik pasar dalam negeri dan pasa untuk ekspor. "Saya yakin insya Allah akan bisa menjadi kekuatan besar dalam menguasai pasar busana muslim dunia," katanya.

Angka-angka pun disebutkan Jokowi. Insonesia sebagai negara dengan berpenduduk muslim terbesar di dunia, pasar busana muslim sangat terbuka lebar. Nilai pasar fashion nasional dalam satu tahun mencapai Rp166 trilyun, yang Rp54 trilyun di antaranya dari busana muslim. "Tetapi, memang harus ada kerja sama yang baik di antara para desainer, antara pengusaha-pengusaha muslim dengan pemerintah secara bersama-sama," katanya.

Saat ini Indonesia berada pada peringkat kelima sebagai negara pengekspor busana muslim di pasar dunia setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan. Untuk menjadi yang terdepan dan kiblat dari busana muslim dunia, pemerintah perlu terus mendorong ekspor busana muslim sehingga hasil kreativitas para perancang Indonesia dapat menguasai pasar dunia.

Berdasarkan laporan Thomson Reuteurs yang bertajuk "The 2015-2016 State of the Global Economy Report", masyarakat di negara-negara muslim membelanjakan sekitar US$230 milyar untuk pakaian, dan diperkirakan akan tumbuh menjadi US$327 milyar pada 2019. Hal ini merupakan pangsa pasar yang sangat besar yang bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin guna mendukung perekonomian nasional. Di tingkat nasional, industri pakaian terbukti merupakan salah satu industri kreatif penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Salah satu pasar potensial busana muslim adalah Turki. Dengan pendapatan per kapita Turki yang cukup besar, yaitu US$11.014, penduduk di negara itu merupakan konsumen produk busana muslim yang cukup besar pula. Hasil penelitian kantor berita Thomson Reuteurs, belanja warga Turki untuk produk busana muslim mencapai US$24.84 milyar per tahun.

Guna menggarap pasar gemuk tersebut, Konsulat Jenderal RI di Istanbul berupaya untuk terus mendorong produk busana muslim Indonesia agar dapat menembus pasar Turki. Untuk itu, industri kreatif busana muslim Indonesia memerlukan strategi terarah dan jangka panjang. Salah satu hal penting adalah pemahaman atas tren busana muslim masyarakat Turki, sehingga produk busana muslim Indonesia dapat diterima dengan baik. Sehubungan dengan hal itu, Konsulat Jenderal Indonesia di Turki mendatangkan pakar busana muslim dan toko online busana muslim terbesar di Turki, Modanisa.com, sebagai pembicara diskusi bertajuk "Istanbul the Global modest Fashion Gate of Indonesia" pada Muslim Fashion Festival (MUFFEST) di Jakarta.

Diharapkan, hasil diskusi akan memberikan bekal dan pemahaman yang mendalam bagi para perancang dan industri busana muslim Indonesia mengenai tren busana muslim di Turki. Tentunya, hal itu juga memerlukan mitra dan outlet yang dapat diandalkan di Turki. Kehadiran Toko online Modanisa.com merupakan kesempatan memulai pembicaraan dan penjajakan antara perancang dan industri busana muslim Indonesia dengan para pakar busana muslim Turki dan toko online Modanisa. Pembicaraan ini diharapkan bisa menciptakan jalur pemasaran produk busana muslim Indonesia ke Turki.

Konsulat Jenderal RI di Istanbul memfasilitasi dan mendorong terciptanya hubungan kerja sama dan jalur pemasaran bagi produk busana muslim Indonesia ke Turki sehingga produk busana muslim Indonesia meempati pijakan yang kuat di pasar Turki. Konsulat juga berupaya untuk terus memastikan kerja sama antara industri busana muslim nasional dengan pemangku kepentingan di Turki berjalan dengan baik dan mendatangkan manfaat semaksimal mungkin bagi perekonomian nasional Indonesia.

Gati Wibawaningsih, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, membenarkan bahwa potensi bisnis busana muslim di Indonesia sangat besar. ''Kami di kementerian yang bertugas membinanya senang, dan (angka Rp54 T) itu harus kita capai,'' katanya kepada GATRA. Jika Rp54 trilyun tercapai, menurut Gati, yang diuntungkan adalah masyarakat karena akan mendapat lapangan kerja.

Geliat industri busana muslim tidak hanya melibatkan industri kecil dan menengah saja, tapi juga insustri skala besar. Sebab, untuk kesuksesan industri sektor ini, perlu pengaturan menyeluruh mulai hulu sampai hilir, dari upstream, produksi, branding hingga marketing, semua melibatkan industri besar, menengah hingga kecil. Upstream misalnya pengadaan bahan baku, dan yangmenyedikannya adalah industri besar. ''Jadi, kita harus bikin link and match antara industri kecil dan menengah sebagai pengguna dan industri besar sebagai penyedia bahan baku,'' katanya.

Menurut pengamatan Gati, industri kecil dan menengah (IKM)-lah yang banyak terlibat dalam industri busana muslim ini. Sebab, IKM tidak memerlukan investasi yang terlalu besar sehingga bisa fleksibel untuk menyesuaikan perkembangan fashion yang dinamis. Sementara industri besar menghasilkan prosuk dalam partai besar. Karena itu tidak bisa sefleksibel IKM dalam menyesuaikan dengan dinamika fashion. Karena itulah, tidak banyak industri besar yang terlibat dalam bidang busana muslim ini.

Meskipun ada beberapa perusahaan besar yang ikut berkecimpung di dunia busana muslim, mereka tidak memiliki pabrik. Yang mereka jual adalah brand-nya. ''Jangan salah, biaya branding ini gede banget,'' katanya. Biaya branding, kata Gati, untuk rata-rata biaya produksi hampir mencapai 50% dari komponen biaya.

Taruna K. Kusmayadi anggota Indonesian Fashion Chamber, menilai bahwa fashion muslim menggambarkan kesejahteraan. Wanita yang berbusana muslim paling tidak menggunakan 6-7 meter bahan dengan harga per setel baju cukup mahal.

Melihat peluang bisnis besar dari fashion muslim dalam negeri, pemerintah mulai melirik bisnis ini dan tengah mengupayakan agar brand nasional dapat menembus pasar internasional. Untuk menciptakan sebuah brand membutuhkan ketelatenan. Brand bisa diibaratkan sebagai nilai kreasi yang paling tertinggi.

Taruna menuturkan, sejauh ini, pemerintah masih mencari pola dengan melakukan pendekatan dengan para pemangu kepentingan, seperti akademisi dan asosiasi pengusaha profesi, untuk menata industri dari hulu ke hilir. Hal itu dimulai dari pemilihan dan penetapan bahan mentahnya seperti apa, permesinannya, capacity building, bahkan penentuan SDM. '' Tujuannya, kita enggak jualan di luar negeri saja, kita tidak pameran di sana, tapi mereka datang ke sini, belanja di sini baik secara ritel atau wholesale. Di mana kita menjual brand kita,'' papar Taruna.

Dalam dua bulan terkhir pemerintah bersama pemangku kepentingan mengadakan rapat dan mengumpulkan pemain atau produsen besarnya. Indonesian Fahion Chamber sebagai asosiasi yang menfasilitasi desainer dan pengusaha bidang mode mengajak asosiasi lain seperti asosiasi garmen Indonesia dan asosiasi pertekstilan Indonesia. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membuat kebijakan agar para produsen dapat memasarkan dan mempromosikan produk dengan mudah, salah satunya tentang perizinan ekspor dan impor.

Pada usaha model macam ini, aturan ekspor dan impor menjadi hal yang sangat penting, mengingat bahan bakunya ada yang berasal dari luar negeri yang tentunya dikenai bea masuk. Dengan masuknya fashion muslim sebagai program nasional, nantinya untuk bea masuk diatur seminim mungkin.

Tentang bahan baku, menurut Gati, bisa dengan menggandeng industri besar. Industri ini harus diberi informasi tentang jenis bahan baku yang dibutuhkan IKM. Jika sudah link and match, ke depannya akan lebih mudah. Untuk itu, Kementerian Perindustrian membuka fasilitas material center. ''Industri besar menyediakan dalam partai besar, sementara kan IKM enggak bisa beli bahan dalam partai besar, makanya pemerintah memfasilitasi dengan material center,'' katanya.

Saat ini material center ada di Semarang. IKM bisa membeli bahan yang mereka butuhkan dalam partai kecil di material center ini. Untuk harga, pembelian partai besar dan kecil, tidak ada perbedaan. Jika ada perbedaan harga pun, tetap lebih murah dibandingkan membeli di pasaran. Selisih harga diambil dari CSR perusahaan besar tersebut. ''IKM tetap beli, tapi dibantu sama CSR-nya perusahaan besar itu,'' katanya.

Sayangnya, untuk nilai ekspor, Kemenperind tidak dapat membedakan ekspor garmen dengan fashion muslim. Hal ini karena nomor klasifikasi barang (HS) yang sama. Sementara untuk pengajuannya, akan sangat lama bahkan bisa dua tahun. Gati tidak mau menunggu lama. ''Karena kita harus ambil momen ini,'' katanya.

Rohmat Haryadi, Umaya Khusniah, dan Riana Astuti
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com