Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Kue Menggiurkan Bisnis Asuransi Syariah

Potensi kue bisnis asuransi syariah masih terbuka lebar. Kontribusinya masih rendah, baru 11% dari total insdustri keuangan. Keran untuk investor asing dibuka lebar dengan harapan menjadi katalisator pertumbuhan asuransi.

Prudential Indonesia tampaknya tak mau terburu-buru untuk spin-off unit usaha syariah Prudential Syariah miliknya. Target pemisahan bisnis asuransi jiwa syariah itu baru akan dilakukan bertepatan dengan batasan akhir dari ketentuan Otoritas Jasa Keuangan. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang perasuransian dan POJK Nomor 67/POJK.05/2016 menyebut tenggat maksimal kewajiban itu adalah tahun 2024 mendatang.

Menurut Presiden Direktur Prudential Indonesia, Jens Reisch, saat ini pihaknya masih mematangkan beberapa hal penunjangnya. “Untuk SDM, sistem dan setingan sudah kita siapkan beberapa opsi. Yang penting semua indikator harus cocok, sehingga kuat dan sukses,” ia mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Pada 2017, aset Prudential Syariah tercatat Rp9,9 trilyun dengan pendapatan kontribusi sebesar Rp3,4 trilyun. Dengan jumlah agen syariah berlisensi sebanyak 100.000 orang, angka kepesertaan barunya pun meningkat 14% dan peserta non-muslim tumbuh hingga 98%.

Aset Prudential Syariah tersebut menjadi bagian dari total aset asuransi syariah secara nasional yang mencapai Rp40,5 trilyun pada 2017 lalu. Angka itu naik 22% dari tahun 2016 yang mencapai Rp33,2 trilyun. “Persentase pertumbuhan aset syariah itu lebih besar daripada asuransi konvensional yang mencapai 17,6%,” ujar Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Literasi Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia, Bunbun Machbub, kepada GATRA.

Bunbun mengatakan bahwa kue asuransi di Indonesia masih besar. Tahun ini, asuransi syariah menargetkan pertumbuhan sebesar 15%. Konsumsinya diproyeksikan masih akan tetap tinggi. Berdasarkan riset Sharia Consumer Survey Nielsen tahun 2016 kepada 4.000 warga kelas menengah atas di 10 kota besar, 47% responden tertarik membeli produk asuransi konvensional dan sebanyak 40% ingin asuransi syariah.

Melihat data hasil riset tersebut, potensi pasar asuransi syariah masih terbuka luas. Kontribusi terhadap total industri keuangan juga baru erkisar 11%. Lalu, penetrasi ke total PDB pun masih rendah., yakni 2,65%, jauh di bawah rata-rata negara The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencapai 9%. Kemudian densitas industrinya pun masih rendah, yakni Rp1,27 juta, sedangkan rata-rata negara OECD mencapai Rp44,55 juta.

Lalu, hingga Desember 2017 ini, tercatat sudah ada 50 perusahaan dalam bentuk unit usaha syariah (USS). Rinciannya, 23 perusahaan asuransi jiwa syariah, 25 perusahaan asuransi umum syariah, dan dua reasuransi syariah. Sedangkan perusahaan yang mengajukan spin-off sebanyak 13 nama, terdiri dari tujuh perusahaan asuransi syariah, lima asuransi umum syariah, dan satu reasuransi syariah.

Meski demikian, Bunbun mengatakan, pertumbuhan perusahaan asuransi domestik tak mampu mengejar pertumbuhan permintaan jasa asuransi dalam negeri. “Itu sebabnya, investasi asing diperlukan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. Ia pun belum bisa menyebut angka kepemilikan asing hingga 80% sudah ideal atau belum.

Aturan itu mengikuti UU Nomor 40 Tahun 2014, tentang Perasuransian, di mana pada 17 April lalu Presiden Joko Widodo juga menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 14 Tahun 2018 tentang Kepemilikan Asing pada Perusahaan Perasuransian yang menyebut maksimal kepemilikan asing adalah 80%. Bunbun melihat semangat dari pemerintah itu sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan menguatkan pilar keuangan yang baik.

Memang, aturan ini lebih longgar dibandingkan dengan di negara-negara lainnya. Australia, misalnya, menerapkan 15%, India 49%, dan Malaysia 70%. Lalu Filipina menerapkan 40% dan Thailand 49%. Namun di luar itu, Bunbun melihat keterlibatan asing bisa juga memberikan ajang transfer ilmu dan pengetahuan dalam mendorong kualitas SDM di Indonesia.

Birny Birdieni dan Bernadetta Febriana
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.33-34/ Tahun XXIV / 14 - 27 Juni 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Focil
Internasional
Kesehatan
Nasional
Pariwara
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com