Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Poros Pilpres Mengacu Pilkada

Hasil pilkada serentak 2018 sangat menentukan konstruksi poros yang dibangun partai politik pada pemilihan presiden 2019. Pilkada di lumbung suara di Jawa menjadi barometer bekerja-tidaknya motor politik partai. Poros ketiga masih berpeluang terbentuk.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 27 Juni mendatang, tinggal menghitung pekan. Suhu politik di daerah pun kian menghangat. Setiap pasangan yang didukung oleh mesin politik partai pendukung beradu strategi merayu pemilik suara. Hasil beragam survei pun menjadi salah satu, bahan rujukan, untuk terus memacu peluang kemenangan. .

Di Jawa Barat, misalnya, sejumlah lembaga survei secara bergiliran merilis hasil survei di daerah yang jadi barometer politik nasional ini. Populi Center, contohnya, merilis hasil surveinya pada pertengahan Mei lalu. Hasilnya menempatkan pasangan yang diusung NasDem, PPP, PKB, dan Hanura, yaitu Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum, bertengger di posisi pertama dengan elektabilitas 41,8%.

Di posisi kedua adalah pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Pasangan yang diusung Golkar dan Demokrat ini meraih elektabilitas 38,6%. Berikutnya, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu. Pasangan yang diusung Gerindra, PKS, dan PAN ini meraih elektabilitas 6,4%. Di urutan paling buncit, pasangan Tb. Hasanudin-Anton Charliyan. Pasangan calon dari PDIP ini hanya meraih elektabilitas 5,3% .

Lembaga survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) juga melakukan survei elektabilitas pasangan calon pilkada Jawa Barat. Survei yang dilakukan pada awal Maret lalu, menempatkan pasangan Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum diurutan pertama dengan elektabilitas 43,7%. Disusul Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (30,7 persen), Sudrajat-Ahmad Syaikhu (4,6%) dan Tb. Hasanuddin-Anton Charliyan (2,8%). ''Sentimen partai dalam memilih calon cukup terlihat, walaupun tidak selalu konsisten,'' kata peneliti SMRC, Deni Irvani kepada GATRA, Senin kemarin.

Menurut Direktur Populi Center, Usep S Ahyar, tingginya elektabilitas yang diperoleh kandidat dipengaruhi tiga faktor perilaku pemilih, yakni: sosiologis, psikologis, dan rasionalitas. Ketiga faktor tersebut selalu menghiasi perhelatan pilkada bahkan pemilihan presiden. ''Kalau saya lihat, ketiganya (faktor) ada, namun porsinya berbeda-beda (untuk pilkada dan pilres),'' ujar Usep kepada Riana Astuti dari GATRA.

Dari ketiga faktor tadi, lanjut Usep, rata-rata pemilih mengedepankan rasionalitas. Hal ini terlihat pada pola perilaku pemilih yang memilih kandidat berdasarkan program kerja, serta visi dan misi masing-masing. Selain itu, ketokohan juga menjadi faktor penting dibanding partai politik yang mengusung kandidat tersebut. ''Dalam pilkada biasanya tokoh itu sangat tinggi. Pemilih akan memilih tokohnya bukan karena diusung oleh partai apa,'' katanya.

Pilkada serentak yang akan diselenggarakan pada 27 Juni ini bernilai strategis bagi pilpres. Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang akan mencoblos dalam pilkada nanti cukup besar, lebih dari 152 juta pemilih. Angka tersebut diperkirakan mewakili 70% pemilih pada pemilihan presiden 2019. ''Jumlah DPT pilkada 2018 sudah final, total 152.057.054 pemilih," kata Komisioner KPU Viryan Aziz kepada para wartawan, Senin kemarin.

Selain itu, jumlah daerah yang mengelar pilkada juga cukup besar, total 71 pilkada. Yang menarik, di tingkat provinsi ada 17 pilkada. Empat di antaranya merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbesar pada pilpres 2014 lalu, Yakni: Jawa Barat (23,6 juta), Jawa Timur (21,9 juta), Jawa Tengah (19,4 juta) dan Sumatera Utara (6,3 juta).

Pelaksanaan pilkada juga berdekatan dengan masa pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden. Dua bulan setelah pilkada serentak atau pada awal Agustus, KPU membuka pendaftaran capres dan cawapres. Di tahap ini akan terlihat siapa saja pasangan capres dan cawapres yang akan mengikuti kontestasi pilpres. Apakah hanya ada poros Joko Widodo dan poros Prabowo Subianto, Atau muncul poros ketiga. Juga, siapa saja partai pengusung dari masing-masing poros.

Atas dasar tersebut, menurut Direktur Riset Monitor Indonesia, Ali Rif'an, pilkada serentak 2018 menjadi parameter utama peta politik menuju pilpres 2019. Partai politik menjadikan pilkada serentak sebagai ajang pemaksimalan mesin politik masing-masing, sekaligus uji kekuatan menjelang pilpres. Jika pasangan calon kepala daerah yang diusung suatu partai menjadi pemenang pilkada, bisa dibilang mesin politik telah berjalan optimal. ''Sebaliknya, jika gagal, mesin politiknya perlu dilakukan pembenahan sebelum menghadapi pilpres,'' ujar Ali kepada GATRA.

Tokoh senior parpol dikerahkan sebagai juru kampanye. PDI Perjuangan, misalnya,mengandalkan Ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri sebagai juru kampaye di 17 provinsi. Langkah serupa dilakukan Gerindra yang menempatkan ketua umumnya, Prabowo, sebagai juru kampanye di 17 provinsi. Demokrat, bahkan, tak hanya mengerahkan ketua umumnya, Susilo Bambang Yudhoyono tapi juga sang putra mahkota Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono sebagai juru kampanye. ''Karena pilkada ini strategis bagi pilpres, parpol akan all out memenangkan paslonnya,'' ujar Ali.

Hingga saat ini, baru ada dua poros pilpres 2019. Masing-masing, poros Jokowi yang disokong koalisi PDI Perjuangan, Golkar, PPP, Hanura, dan NasDem. Sedangkan, poros Prabowo didukung Gerindra dan PKS. Sementara, Demokrat, PKB dan PAN hingga saat belum memutuskan akan masuk poros Jokowi atau poros Prabowo. ''Karena tiga partai itu belum bersikap, muncul wacana lahirnya poros ketiga,'' ujar Ali. ''Tapi, itu masih sebatas wacana,'' ia menambahkan.

Jika hanya ada dua poros, pilpres 2019 akan menjadi rematch pilpres 2014. Pada pilpres 2014, dua pasangan yang ikut kontestasi adalah pasangan Jokowi - Jusuf Kalla dan pasangan Prabowo - Hatta Rajasa. Empat provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara menjadi rebutan suara pasangan Jokowi - Jusuf Kalla dan Prabowo - Hatta .

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Iding Rosyidin, memprediksi empat provinsi yang menjadi ajang pertempuran pada pilpres 2014 kembali akan menjadi medan pertempuran pada pilpres 2019. Untuk itu, pilkada di empat provinsi tersebut akan menjadi ajang pembuktian bagi partai pendukung poros Jokowi dan poros Prabowo menjelang pilpres. ''Daerah-daerah tersebut akan menjadi battle ground-nya mereka (poros Jokowi dan poros Prabowo),'' kata Iding.

Di pilkada Jawa Barat, lanjut Iding, poros Prabowo hanya punya satu jagoan, yakni pasangan Sudrajat - Ahmad Syaikhu. Pasangan ini didukung koalisi Gerindra, PKS dan PAN. Sementara kekuatan poros Jokowi menyebar di tiga pasangan, yakni Ridwan Kamil - UU Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan Tb. Hasanudin-Anton Charliyan. ''Siapapun pemenang dari tiga paslon itu akan menguntungkan poros Jokowi. Peluangnya besar bagi Jokowi bisa unggul di Jawa Barat,'' kata Kepala Program Studi Ilmu Politik, FISIP, UIN Jakarta, ini.

Untuk pilkada Jawa Timur, poros Jokowi diuntungkan. Boleh dibilang kedua kontestan berada di kubu Jokowi. Pasangan Khofifah Indar Parawansa - Emil Dardak mendapat "restu" langsung Jokowi. Adapun rivalnya, pasangan Syaifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno, merupakan besutan PDI Perjuangan, yang notabene partai pendukung utama Jokowi. ''Jadi siapa pun yang menang, Gus Ipul (Syafullah Yusuf) ataupun Khofifah (Khofifah Indar Parawansa), poros Jokowi yang diuntungkan,'' ujar Iding.

Pertarungan pilkada Jawa Tengah juga tak kalah menariknya. Poros Prabowo mengusung pasangan Sudirman Said - Ida Fauziyah. Sedangkan poros Jokowi mengusung pasangan Ganjar Pranowo - Taj Yasin. Menurut Idang, Ganjar berpeluang memenangi pilkada. Selain elektabilitasnya lebih tinggi dibanding dengan rivalnya, Jawa Tengah merupakan lumbung suara PDI Perjuangan. ''Poros Gerindra harus berjuang keras jika ingin mengalahkan Ganjar,'' katanya.

Dari berbagai survei pilkada Jawa Tengah, pasangan Ganjar-Yasin unggul jauh dari pasangan Sudirman - Ida. Rata-rata hasil survei mengunggulkan Ganjar selaku petahana memenangi pilkada Jawa Tengah 60% hingga 70%. Bahkan, pada survei yang dilakukan Indikator, Ganjar - Yasin menjadi top of mind atau nama yang pertama kali disebut oleh calon pemilih. Kepada GATRA, Ganjar mengaku optimistis akan memenangi pilkada. "Kebanyakan responden masih percaya petahana lantaran sudah ada bukti nyata dan merakyat," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Persaingan ketat diprediksi akan terjadi pula di pilkada Sumatera Utara. Uniknya, di Sumatera Utara, sebagian besar partai dari poros Jokowi, termasuk Golkar bergabung dengan poros Prabowo mengusung Edy Rachmayadi, mantan Pangkostrad sebagai calon gubernur. Sedangkan, PDI Perjuangan yang didukung PPP mengusung Djarot Saiful Hidayat sebagai calon gubernur. ''Siapa pun yang menang di pilkada Sumatera Utara, Jokowi diuntungkan. Daerah ini basisnya Golkar, saat ini Golkar adalah pendukung kuat Jokowi,'' kata Idang.

Wakil Ketua Partai Gerindra, Arief Poyuono, mengatakan bahwa partainya memiliki sejumlah strategi untuk memenangi pilkada. Di antaranya memperkuat kerja jaringan dengan mengoptimalkan mesin partai. Sejauh ini, menurut Arief, tingkat elektabilitas pasangan yang diusung Gerindra, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah terus meningkat. ''Hasil pilkada di Jateng maupun Jabar mudah-mudahan akan menjadi sebuah koalisi permanen nantinya di pilpres untuk mengusung Prabowo Subianto,'' katanya.

Adapun strategi yang diusung PDI Perjuangan, menurut Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Pareira, beragam disesuaikan dengan karakter daerah masing-masing. ''Oleh karena itu, untuk memenangkannya, partai mempunyai strategi yang berbeda untuk setiap daerah,'' ujarnya kepada GATRA.

Mengenai apakah hasil pilkada akan memengaruhi konsolidasi partai poros Jokowi, Andreas menyadari bahwa pengusung dan dinamika bisa saja bergeser karena politik bersifat dinamis. Dalam pilkada, lanjut Andreas, setiap partai mempunyai kepentingan masing-masing dan di setiap daerah berbeda kepentingannya. Namun pada tingkat nasional dalam pilpres, PDI Perjuangan, Golkar, PPP, NasDem dan Hanura mempunyai pandangan yang sama. ''Mendukung Jokowi memenangkan Pilpres 2019,'' katanya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto, mengatakan bahwa dalam konstalasi politik, semua kemungkinan selalu terjadi. Banyak faktor dan kepentingan yang menyertainya, antara lain faktor objektif dan subjektif yang datang dari internal dan eksternal. Untuk memenangi pilkada, lanjut Didik, Partai Demokrat membangun sinergi dengan partai lain. Misalnya, Demokrat bersinergi dengan Golkar di pilkada Jawa Barat. ''Belum lagi energi besar PD (partai Demokrat) dengan hadirnya SBY dan AHY sebagai Ketua Komisi Pemenangan Pemilu,'' katanya.

Soal kemungkinan Demokrat menjadikan hasil pilkada sebagai bekal membentuk poros ketiga, Didik mengatakan, peluang terbentuknya poros ketiga masih terbuka. Secara matematika politik, Demokrat, PKB, dan PAN masih terbuka untuk membangun koalisi di poros ketiga. Bahkan, tak tertutup kemungkinan, Golkar akan bergabung di poros ketiga. ''Apabila dalam penentuan wapres Jokowi, kepentingan Golkar tidak terakomodir, bisa jadi Golkar menjadi bagian dari poros baru tersebut,'' kata Didik.

Sujud Dwi Pratisto, Bernadetta Febriana, Anthony Djafar, Hidayat Adhiningrat P., dan Arif Koes Hernawan (Semarang)

++++

I. Elektabilitas 4 Pasangan Calon Pilkada Jawa Barat

Lembaga Survei : Populi Center
Pelaksanaan survei : 18 Januari 2018
Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum : 41,6 % : PPP, PKB, NasDem, Hanura
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi : 38,9 % : Golkar, Demokrat
Sudrajat-Ahmad Syaikhu : 03,0 % : Gerindra, PKS, PAN
Tb. Hasanudin-Anton Charliyan : 02,8 % : PDIP Tidak tahu/tidak jawab : 13,8 %

Pelaksanaan survei 18 April 2018
Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum : 41,8 % : PPP, PKB, NasDem, Hanura
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi : 38,6 % : Golkar, Demokrat
Sudrajat-Ahmad Syaikhu : 06,4 % : Gerindra, PKS, PAN
Tb. Hasanudin-Anton Charliyan : 05,3 % : PDIP Tidak tahu/tidak jawab : 08,0 %
Sumber : Populi Center

= = =

Pelaksanaan Survei : Februari 2018
Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum : 39,9 % : PPP, PKB, NasDem, Hanura
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi : 42,8 % : Golkar, Demokrat
Sudrajat-Ahmad Syaikhu : 07,8 % : Gerindra, PKS, PAN
Tb. Hasanudin-Anton Charliyan : 03.1 % : PDIP Tidak tahu/tidak jawab : 06,4 %

Pelaksanaan survei Mei 2018
Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum : 40,4 % : PPP, PKB, NasDem, Hanura
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi : 39,1 % : Golkar, Demokrat
Sudrajat-Ahmad Syaikhu : 11,4 % : Gerindra, PKS, PAN
Tb. Hasanudin-Anton Charliyan : 04,1 % : PDIP Tidak tahu/tidak jawab : 05,0 %

Sumber : Litbang Kompas

= = = =

Pelaksanaan survei : Maret 2018
Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum : 43,7 % : PPP, PKB, NasDem, Hanura
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi : 30,7 % : Golkar, Demokrat
Sudrajat-Ahmad Syaikhu : 04,6 % : Gerindra, PKS, PAN
Tb. Hasanudin-Anton Charliyan : 02,8 % : PDIP Tidak tahu/tidak jawab : 18,2 %

Sumber : SMRC

= = = =

II. Elektabilitas 2 Pasangan Calon Pilkada Jawa Timur

Lembaga Survei : Populi Center
Pelaksanaan Survei : 18 Januari 2018
Khofifah Indar Parawansa - Emil E. Dardak : 39,6% : Golkar, PPP, Demokrat, PAN, NasDem, Hanura
Syaifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno : 39,5 % : PDIP, PKB, Gerindra, PKS
Tidak tahu/ tidak jawab : 20,9 %

Pelaksanaan Survei : 18 April 2018
Khofifah Indar Parawansa - Emil E. Dardak : 44,0 % : Golkar, PPP, Demokrat, PAN, NasDem, Hanura
Syaifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno : 38,8 % : PDIP, PKB, Gerindra, PKS
Tidak tahu/ tidak jawab : 17,3 %

Sumber : Populi Center

= = =

Lembaga Survei : Litbang Kompas
Pelaksanaan Survei : Februari - Maret 2018
Khofifah Indar Parawansa - Emil E. Dardak : 44,5 % : Golkar, PPP, Demokrat, PAN, NasDem, Hanura
Syaifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno : 44,0 % : PDIP, PKB, Gerindra, PKS
Tidak tahu/ tidak jawab : 11,5 %

Sumber : Litbang Kompas
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.31 / Tahun XXIV / 31 Mei - 6 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com