Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Keindahan yang Memesona Para Sineas

Sumba Timur kini moncer sebagai destinasi wisata baru. Banyak film yang laris manis di pasaran mengambil lokasi syuting di tempat ini. Panorama alam berupa vegetasi savana yang membentang serta perbukitan menjadi andalan.

Marlina menunggang kuda yang melenggang menyusuri savana kuning yang menghampar di kiri-kanan jalan. Wajahnya dingin. Sepotong kepala berambut gondrong terikat di tali kuda sebelah kiri. Ia baru saja memenggal kepala perampok yang menyatroni rumahnya.

Adegan mencekam itu hanya cuplikan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak yang diperankan Marsha Timothy sebagai tokoh Marlina. Film garapan Mouly Surya ini sukses melanglang buana di berbagai festival film internasional. Imbasnya, Sumba Timur yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang menjadi lokasi syuting, ikut-ikutan moncer di kalangan pelancong lokal dan internasional.

Nasib Sumba Timur setali tiga uang dengan Belitung, yang masyhur setelah jadi latar film Laskar Pelangi. Kini, salah satu kabupaten di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, itu menjadi destinasi favorit baru para wisatawan.

Tak pelak lagi, lanskap Sumba Timur memang luar biasa. Karena itu, tak mengherankan jika para sineas jatuh cinta kepada kawasan dan menangkapnya di layar kaca. Vegetasi savana menghampar nyaris sejauh mata memandang. Pada saat musim kemarau, hamparan permadani kuning tersaji. Kala musim hujan, hijau rumputnya terlihat menyegarkan. Pada musim apa pun, Sumba Timur tetaplah cantik dan menarik. GATRA berkunjung ke sana pada awal Mei, saat padang rumputnya menguning.

Eksotisme kabupaten ini bukan hanya savana. Area perbukitan menjadi objek wisata wajib bagi para pelancong. Yang paling terkenal adalah Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, yang lagi-lagi pernah menjadi lokasi syuting, untuk film Pendekar Tongkat Emas.

Tidak ada kendaraan umum yang menuju ke sana. Pilihannya menyewa motor, mobil, atau menyewa jasa ojek. Jangan khawatir merental kendaraan tanpa sopir. Pasalnya, rute-rute di Sumba Timur tidaklah rumit. Sebagian besar jalannya satu lajur, tidak banyak cabang. Pada umumnya jalan-jalan sudah beraspal dan dalam kondisi baik. Beberapa lokasi wisata juga terdeteksi dalam sistem navigasi berbasis satelit atau GPS. Nilai plus lainnya, kabupaten ini aman meski jalanan lengang dan Anda berkendara sendirian.

"Kalau di Sumba Barat agak rawan. Jangankan orang asing, saya yang orang Sumba pun tidak berani keluar di atas jam sembilan malam. Seperti di film Marlina itu, orang-orangnya bawa parang untuk jaga diri." Begitu cerita Pak Rudi, sopir yang mengantar GATRA berkeliling.

Wairinding berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota, Waingapu. Di pintu masuk lokasi yang dikelola warga, ada penyewaan kain tenun Sumba untuk properti foto. Masyarakat setempat sepertinya paham betul keperluan pelancong untuk narsistik dengan berselimut tenun khas Sumba di tengah panorama perbukitan.

Tenun Sumba Timur memang khas dan menjadi buruan. Coraknya tidak terbatas pada ilustrasi bunga. Banyak terdapat corak hewan seperti buaya, kura-kura, kuda, singa dan burung.

Ada juga yang bercorak tengkorak. Yang istimewa adalah teknik pewarnaan yang menggunakan berbagai bahan alami seperti warna merah dari akar mengkudu atau biru dari daun nila. Tak mengherankan bila keistimewaan tenun Sumba Timur menarik desainer kenamaan Indonesia, Didiet Maulana. Ia mengaku jatuh hati dan banyak terinspirasi oleh tenun Sumba dalam menelurkan karya berlabel IKAT Indonesia.

Tidak ada atraksi wisata apa pun di Bukit Wairinding. Pedagang pun nihil. Hanya bagus untuk foto-foto atau menghabiskan waktu sambil membaca buku atau aktivitas santai lainnya. Pemerintah daerah entah abai atau lambat dalam merespon minat pasar. GATRA hanya berjumpa sepasang pelancong dari Jakarta.

"Kalau libur, di sini ramai," kata Aren. Bocah kelas dua SD yang menemani GATRA naik-turun bukit, bersama dua kawannya, Erik dan Ujer. Erik, yang paling tua di antara mereka, menyanyikan sebuah lagu daerah untuk GATRA, lagu berjudul "Oh Ina Oh Ama". "Ini lagu tentang keluarga," ucapnya malu-malu, saat menjelaskan yang barusan ia tembangkan.

Eksotisme Sumba Timur lainnya adalah pantai. GATRA melaju ke Desa Watukamba. Mencari pantai yang digadang-gadang sebagai lokasi terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam. Namanya Pantai Walakiri. Tidak seperti kebanyakan pantai di Sumba yang ombaknya cukup besar ombak Walakiri tergolong landai sehingga asyik untuk berselancar,
Terlihat lima bocah, warga setempat, seru bermain di bibir pantai, cukup jauh dari pengawasan orang tua mereka yang tengah makan siang di gazebo di tepian pantai. Di sini juga terdapat beberapa warung makan yang menyediakan menu khas pesisir: berbagai tangkapan laut, cah kangkung, dan air kelapa muda. Selain disambangi banyak turis, di wilayah ini terdapat permukiman penduduk.

Sekilas, Walakiri sama seperti pemandangan pantai pada umumnya: deretan pohon cemara dan nyiur tumbuh di bibir pantai. Warna air lautnya bergradasi hijau-muda cerah dengan biru lembut. Sayang, pantai indah ini tercemar sampah plastik yang menyebar di sisian yang kering.

Cobalah cermati pasirnya. Faktor ini yang membuat Walakiri tergolong unik. Pasirnya ada dua jenis. Yang di wilayah tepian teksturnya sangat halus dan berwarna putih. Tapi kalau berjalan lebih jauh ke wilayah bekas airnya surut, butir-butirnya agak kasar, besar-besar dan berwarna putih gading.

Jangan salah, bukan tekstur pasir yang menjadi ikon Walakiri. Berjalanlah ke arah hutan mangrove. Tunggulah saat airnya surut dan melangkah agak ke tengah. Di sana Anda akan menjumpai pohon-pohon bakau muda yang tumbuh berjauhan dan tidak teratur.

Bakau-bakau kecil itulah primadonanya! Rantingnya yang masih kecil dengan daun yang jarang-jarang mengingatkan GATRA pada tokoh fiksi Baby Groot, karakter pohon hidup dalam film Guardians of The Galaxy keluaran rumah produksi Marvel. Bakau-bakau berukuran imut itu seolah menyapa keindahan Walakiri: I am Groot!

Putri Kartika Utami (Sumba)

Cover Majalah GATRA edisi No.31 / Tahun XXIV / 31 Mei - 6 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com