Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Baku Gertak agar Minyak Sawit Tetap ke Eropa

Selain negosiasi bersama, Indonesia juga melakukan pendekatan antar-pemerintahan sehubungan dengan rencana blokade CPO Uni Eropa. Gertakan yang bisa memicu perang dagang pun dilancarkan

Soal diplomasi dagang, Menteri Enggartiasto Lukita punya cara sendiri untuk negosiasi. Saat mendengar rencana Pemerintah Norwegia menahan minyak kelapa sawit (CPO) dari Indonesia masuk ke negeri itu, ia langsung memanggil duta besar Norwegia untuk Indonesia, Vigard Kaalee.

Kepada Vigard, Enggar menyampaikan pesan pedas: jika memang akhirnya Parlemen Norwegia menghambat masuk CPO Indonesia, Indonesia akan menghentikan impor ikan salmon dari negeri itu. ''Saya bilang impor ikan salmon kita akan kita pindah ke Cili,'' kata Enggar.

Argumen Enggar itu pun membuat Menteri Perikanan Norwegia, Per Sandberg datang ke Jakarta, pertengahan April lalu. Dalam pertemuan selama satu jam itu, Sanberg sempat berargumen bahwa inisiatif itu datang dari parlemen yang kontra-pemerintah sehingga itu menjadi blunder politik di sana. Enggar tak kalah alot, ia menyatakan DPR Indonesia juga akan setuju bila Perintah akhirnya mengalihkan impor salmon ke Cili.

Indonesia dan Cili sebelumnya telah sepakat membuat perjanjian perdagangan bilateral secara khusus. Keduanya telah menandatangani Indonesia-Chile Comprehensive Partnership Agreement (IC CEPA) atau Perjanjian Ekonomi Komprehensif Desember tahun lalu di Santiago. Enggar mengklaim, jika Indonesia benar-benar menghentikan impor salmon dari Norwegia, akibatnya bisa meluas, nelayan di sana bisa terkena dampaknya.

Dewan Seafood Norwegia (NSC) melaporkan, negara itu mengekspor 2,6 juta metrik ton seafood yang senilai US$11,7 milyar pada 2017. Data International Trade Centre (ITC) menunjukkan, pada 2016 Indonesia mengimpor salmon dari Norwegia senilai US$ 30 juta. Indonesia melakukan ekspor ke Norwegia sebesar US$ 64,5 juta, sedangkan impor dari Norwegia mencapai US$ 237,7 juta pada 2017.

* * *

Selain dDiplomasi dagang antar-pemerintahan yang sedang dilancarkan Enggar, pemerintah melobi pihak berwenang di Eropa untuk membuka akses perdagangan CPO dari Indonesia. Sebelumnya, tim lobi yang dikomandani Menteri Maritim, Luhut Binsar Panjaitan, dua bulan belakangan ini berkeliling ke negara-negara di Eropa untuk melakukan negosiasi. Lobi yang dilakukan Luhut mencapai puncaknya pada pertengahan Mei lalu, saat berlangsung seminar bertajuk ''Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pertanian dan Perkebunan demi Perdamaian dan Kemanusiaan" di Vatikan.

Konferensi ini menjadi forum dialog antar-pemangku kepentingan mewakili pemerintah, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan pengusaha agrikultur termasuk sawit dan kelompok-kelompok masyarakat sipil. Dalam seminar itu, Luhut melaporkan bahwa sektor pertanian, terutama kelapa sawit telah berperan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja serta pengentasan petani Indonesia dari kemiskinan. Ia pun berharap,Vatikan bisa menjadi fasilitator untuk menyampaikan fakta yang lengkap mengenai industri kelapa sawit dari sudut pandang kemanusiaan dan pengurangan angka kemiskinan.

Selama ini, serangan terhadap minyak sawit Indonesia dilakukan secara masif oleh Parlemen Eropa dengan mengeluarkan resolusi. Ada dua resolusi yang mereka sampaikan. Pertama, Palm Oil and Deforestation of the Rainforest, yang menyatakan bahwa pengembangan industri sawit di Indonesia menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan iklim.
Kedua, Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the Use of Energy from Renewable Sources yang melarang penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit sebagai pemenuhan target energi terbarukan mulai 2021.

* * *

Upaya pemerintah untuk membuka kembali pasar Eropa bagi sawit Indonesia memang sangat penting. Apalagi benua ini merupakan pasar terbesar kedua sawit Indonesia setelah India. Saat ini, ekspor minyak sawit Indonesia ke Eropa mencapai 5,03 juta ton per tahun.

Di sisi lain, ekspor sawit Indonesia terancam akibat berbagai hambatan dagang yang dilakukan negara tujuan ekspor. Selain Uni Eropa yang mengeluarkan resolusi Parlemen Eropa yang menuding sawit sebagai penyebab deforestasi, India juga mulai menaikkan bea masuk impor minyak nabati. Amerika Serikat di sisi lain melancarkan tuduhan anti-dumping biodiesel, dan Cina memperketat pengawasan terhadap minyak nabati yang diimpor.

Akibat hambatan itu, ekspor CPO Indonesia pada kuartal pertama tahun ini pun menurun. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, pada kuartal pertama 2017, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 8,02 juta ton, namun pada periode yang sama 2018, turun menjadi 7,84 juta ton.

Padahal kinerja produksi minyak sawit Indonesia pada kuartal pertama 2018 naik 24% dari periode yang sama 2017 atau dari 8,4 juta ton pada kuartal pertama 2017 naik menjadi 10,41 juta ton periode yang sama 2018.

Ancaman pada pemasaran sawit, menurut pemerintah, bisa mengancam perekonomian nasional. Setidaknya 41% lahan sawit di Indonesia dikelola petani kecil. Dalam hal penciptaan lapangan kerja sektor kelapa sawit menyerap 5,5 juta karyawan langsung dan 12 juta karyawan tidak langsung. Saat ini sekitar 17,5 juta orang bekerja di industri minyak sawit.

* * *

Gertakan Enggar soal perang dagang ke Norwegia, diklaim bisa menyurutkan niat negeri itu untuk menghentikan impor CPO dari Indonesia. Menurut Enggar, Pemerintah Norwegia telah menolak usulan parlemen mengenai pelarangan produk berbasis minyak kelapa sawit.

Faktanya, hingga saat ini Norwegia belum mengadopsi resolusi dari parlemennya menjadi peraturan, mengingat secara prosedur Pemerintah Norwegia harus terlebih dahulu melakukan koordinasi antar-kementerian lembaga dan mengkaji aspek legal, khususnya yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan pertentangan isi resolusi tersebut dengan komitmen-komitmen internasional Norwegia.

Gertak-menggertak ini bukan dilakukan Enggar saja. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga pernah menggertak dengan menyatatakan bahwa Indonesia tak akan membeli pesawat buatan Airbus bila ada diskriminasi atas produk sawit Indonesia oleh Eropa.

Namun langkah untuk memicu perang dagang perlu dipertimbangkan masak-masak. Meski selama ini memiliki neraca dagang defisit atas Norwegia, Indonesia mengekspor beberapa produk strategis ke negeri itu. Dari peralatan elektronik, alas kaki, tekstil, dan produk tekstil hingga beberapa hasil perkebunan seperti kopi dan teh. Produk-produk itu akan gampang dicarikan penggantinya, seperti ke negara-negara tetangga di Asia, bila pada akhirnya Indonesia berperang dagang melawan Norwegia. Sebaliknya, selama ini ekspor CPO Indonesia juga tidak terlalu besar.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Iklim (KLHI) Norwegia, penggunaan palm oil di negeri ini kurang dari 1% total biofuel Norwegia. Sementara berdasarkan data Biro Statistik Norwegia, keseluruhan impor palm oil dan by-product palm oil Norwegia dari Indonesia juga relatif kecil, yaitu kurang dari 1% keseluruhan produk yang diimpor Norwegia dari Indonesia. Karena itu, melepaskan satu produk yang nilainya sangat kecil itu, bisa jadi, akan memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Ketua GAPKI, Joko Supriyono, mengakui bahwa konsumsi palm oil Norwegia memang sangat kecil. ''Hanya puluhan ribu ton,'' katanya. Namun karena negara ini adalah bagian Uni Eropa yang suaranya ke mana-mana dan ikut berkampanye negatif, sudah tepat bila pemerintah Indonesia menghentikan langkah Norwegia tersebut.

Semua langkah itu akan menjadi penting untuk tujuan yang lebih besar. ''Uni Eropa ini kompleks, tidak cukup hanya melakukan negosiasi dengan Komisi Uni Eropa, tapi kepada semua negara anggota,'' tambah Joko.

* * *

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan, sepakat bahwa lobi-lobi antar-pemerintah ini bisa berdampak bagi perdagangan minyak sawit Indonesia di Eropa meskipun nilai ekspor ke negara yang dilobi tidak besar. ''Yang paling parah bukan negaranya. Tapi, begitu komunitas yang menolak sawit, selesai kita,'' ujarnya.

Isu tentang minyak kelapa sawit yang paling berperan adalah munculnya impresi negatif terhadap produk ini. Sebab, impresi negatif itu akan diikuti negara-negara lain. Dan memang, pekerjaan negosiasi ini tak akan gampang diselesaikan. Apalagi, belum beres masalah dengan Norwegia, kini Ukraina pun ikut-ikutan melarang penggunaan biofuel berbasis palm oil dari Indonesia.

Mei ini, menurut Oke, Parlemen Ukraina mengusulkan pemerintah untuk menyetop masuknya minyak sawit ke negeri itu. ''Ukraina juga mengajukan resolusi untuk menghentikan biofuel berbasis palm oil,'' ujarnya.

Sama seperti Norwegia, kata Oke, ekspor biofuel Indonesia juga tidak besar ke negara eks Uni Soviet ini. ''Memang kecil. Namun, Ukraina itu sangat berkepentingan karena ia merupakan salah satu negara produsen minyak nabati selain palm oil,'' ujarnya. Karena itulah, Oke menuding bahwa rencana menghambat masuknya biofuel ke Ukraina merupakan salah satu bentuk proteksi melalui parlemen Ukraina.

Saat ini, selain mengirim surat penjelasan tentang rencana pemerintah Ukraina, Kementerian Perdagangan juga akan membangun strategi agar rencana itu batal. Bisa jadi, langkah menggertak dengan menghentikan impor dari Ukraina juga dilakukan ''Kita lihat dulu. Sekarang ini sudah diembusin. Kita lihat produk apa yang harus kita banned. Jangan disebutin dulu. Nanti ketahuan,'' kata Oke.

Mukhlison S Widodo dan Hendry Roris P. Siantur

++++

Negara Utama Ekspor CPO di Eropa
Negara Tujuan Januari Februari Maret April Total Nilai Belanda 28.965 ton 47.130 ton 35.824 ton 26.999 ton 138.919 ton US$89,069 juta
Italia 24.600 ton 26.434 ton 26.168 ton 26.800 ton 104.002 ton US$64,170 juta
Spanyol 28.999 ton 2.999 ton 14.999 ton 10.199 ton 57.199 ton US$34,638 juta
Denmark 2.499 ton 2.499 ton - - US$1,611 juta
Jerman 12.400 ton 3.971 ton 4.001 ton - 20.374 ton US$13,464 juta

Sumber: Badan Pusat Statistik
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.31 / Tahun XXIV / 31 Mei - 6 Jun  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com