Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Menggenjot Produk Alkes Domestik

Produk impor masih merajalela. Beberapa produsen alat kesehatan berusaha menguasai pasar dalam negeri. Hasil invonasi dan riset pun diadopsi. Tapi masih banyak kendaa. Salah satunya, persyaratan wajib e-catalog.

Upaya menjadi tuan rumah di negeri sendiri terus dilakukan sejumlah perusahaan alat kesehatan. Mereka berlomba-lomba berinovasi agar produknya laku di rumah sakit, kalau perlu bisa diekspor di luar negeri.

Lihat saja upaya yang dilakukan PT Swayasa Prakarsa, anak usaha PT Gama Multi Usaha Mandiri, perusahaan bentukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Swayasa rajin menampung, mengolah, dan memasarkan berbagai temuan para peneliti UGM sebagai produk kesehatan yang diharapkan bakal laris menarik minat masyarakat.

Perusahaan yang berdiri pada 2012 ini memiliki sejumlah bidang usaha. Selain memproduksi herba dan makanan sehat, Swayasa juga mengelola bisnis alkes. Beberapa produk yang telah diproduksi antara lain: Gama-CHA (bone graft pertama di Indonesia dan bersertifikat halal), INA-Shunt untuk terapi pada pasien hidrosefalus, dan NPC Strip G berupa tes deteksi dini kanker nasofaring.

Menurut Manajer Produk PT Swayasa Prakarsa, Gumilang Almas Pratama Satria, produk-produk tersebut telah memiliki sertifikat hak paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. ''Produk-produk ini juga sudah melalui serangkaian pengujian laboratorium, hewan uji, dan uji coba pada manusia,'' ujarnya kepada GATRA, Senin malam silam.
Swayasa pun menggandeng beberapa perusahaan farmasi, di antaranya dengan PT Kimia Farma dan PT Phapros untuk urusan distribusi dan pemasaran. Kerja sama tersebut sudah dikerjakan pada 2016.

Sejak diluncurkan pada tiga tahun lalu, kata Gumilang, Gama-CHA diklaim telah berhasil menjadi salah satu market leader untuk produk bone graft di Indonesia dengan omzet lebih dari Rp6 milyar dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik di kalangan sejawat dokter gigi di Indonesia.

Sedangkan ratusan unit INA-Shunt telah didistribusikan untuk digunakan di berbagai rumah sakit (RS) di Indonesia. Kini tengah dilakukan post-market surveillance dengan riset multicenter yang melibatkan peneliti RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS Sardjito (Yogyakarta), dan RS Soetomo (Surabaya).

Saat ini, INA-Shunt juga sedang berproses untuk dapat masuk dalam sistem pengadaan obat dan alat kesehatan nasional (e-catalog) untuk memastikan kemudahan akses alat kesehatan tersebut di berbagai rumah sakit utamanya pada pasien dengan jaminan kesehatan nasional.

Selain kedua alat kesehatan tersebut, masih banyak alat kesehatan hasil riset lain yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, antara lain NPC-Strip G (deteksi dini kanker nasofaring), CeraSpon (spons hemostatik halal), dan Oromdent-Tray (sendok cetak gigi dengan sistem lepas pasang).

Tak hanya Swayasa, beberapa produsen alkes dalam negeri juga mulai berebut pasar lokal. PT Sugih Instrumendo Abadi, menurut General Managernya, Sandra Arsani, bahkan sudah merambah ke pasar internasional. Pangsa pasarnya, sebanyak 80% untuk ekspor. ''Pasar terbesar ekspornya adalah Amerika Serikat dan Jerman,'' katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA, Senin lalu.

Sandra menyebut dua di antara beberapa produk Sugih, yakni sphygmomanometer dan stetoskop. Sphygmmanometer adalah alat pengukur tekanan darah (tensimeter) yang bekerja secara manual saat memompa maupun mengurangi tekanan pada manset dengan sistem non-invasif.

Ia mengklaim 30% pangsa pasar tensimeter di Indonesia dikuasai Sugih. Sebagian besar didistribusikan ke RS pemerintah dan swasta. Sedangkan untuk ekspornya, sudah mencapai sekitar US$8.2 juta atau sekitar Rp118,4 milyar.

Semua usaha yang dilakukannya adalah untuk menghadapi gempuran produk alat kesehatan impor yang belakangan ini masih merajalela. "Karena mudahnya izin mengimpor barang, sehingga pemain impor semakin banyak," kata Sandra.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesisa (Apaksi), Ardia Karnugroho, mengakui kondisi ini. Maklum saja, alkes yang membanjiri pasar Indonesia pada saat ini didominasi impor. Produk lokal hanya mengisi slot sebesar 8%, sedangkan pertumbuhan alkes nasional mencapai 12% per tahun.

''Padahal, produsen lokal sudah bisa memproduksi beberapa macam alat kesehatan,'' ujar Ardia. Mulai sarung tangan latek, kursi roda, ranjang rumah sakit, jarum suntik, merupakan beberapa contoh alat kesehatan yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri.

Kualitasnya pun, menurut Ardia, cukup baik. Sebut saja, ranjang pasien, jarum suntik, sarung tangan lateks, meja bedah, stetoskop, dan inkubator. Bahkan beberapa di antaranya sudah diekspor seperti ranjang pasien berteknologi tinggi, tensimeter digital, kursi roda, lensa kontak, dan lain-lain.

Meski masih mendapat slot kecil, Ardia tetap optimistis bahwa alkes lokal meningkat. Ia menyodorkan data terdapat penambahan 49 perusahaan alkes baru atau naik 25.3% yang beredar di pasar. Pada saat ini terdapat 242 produsen alkes lokal. Dari jumlah itu, 75 perusahaan di antaranya merupakan anggota Apaksi.

Toh, Ardia menyayangkan pemerintah masih membiarkan alkes impor masuk. Meskipun, diakui Ardia, sebagian produk lokal menggunakan teknologi yang relatif belum canggih. Ini yang dinilai mengurangi daya saing.

Kendala lainnya terkait dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Jika produsen ingin menjual alkes kepada pemerintah, produk-produk itu harus masuk katalog elektronik (e-catalog). Bahkan beberapa konsumen swasta ikut-ikutan mensyaratkan produk yang ditawarkan produsen harus terdaftar di e-catalog. Maklum, sebagian besar rumah sakit sudah terdaftar sebagai mitra Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Masalahnya, produsen tidak dapat mendaftarkan produknya ke LKPP setiap saat. Mereka harus menunggu LKPP membuka pendaftaran e-catalog, yang belum tentu setahun sekali. LKPP, kata Ardia, berdalih menunggu kebutuhan yang diajukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ada pun anggaran Kemenkes untuk pembelian alkes pada tahun lalu mencapai Rp12 trilyun dan diperkirakan meningkat jadi Rp18 trilyun di tahun ini.

Karena itulah, Apaksi berharap LKPP dibuka setiap saat. Kalau tidak begitu, ''Perusahaan akan kesulitan memasarkan produknya. Efek lanjutannya akan dapat mengancam keberlangsungan perusahaan,'' kata Ardia.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Maura Linda Sitanggang, mengakui alkes impor memang masih marak. Namun, secara perlahan jumlah industri alkes dan investasi terus tumbuh. ''Upaya yang dilakukan untuk mengatasi banyaknya produk impor adalah dengan meningkatkan keberpihakan kepada industri dalam negeri,'' katanya.

Hal ini juga didukung melalui sosialisasi. Kemenkes aktif mengajak para tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menggunakan alkes buatan dalam negeri. Juga, melakukan percepatan layanan perizinan. Namun, ''Kalau untuk persyaratan registrasi alat kesehatan, tentunya baik impor maupun lokal perlakuannya sama,'' ujar Maria. Selama lima tahun terakhir, Kemenkes telah mengeluarkan 4.199 izin edar untuk alkes dalam negeri.

Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Kuncoro Adi Purjanto, mengatakan sebenarnya banyak produk dalam negeri yang sudah diekspor, meskipun belum berteknologi canggih. Ia menyebut produk-produk buatan MAK Technologies yang tidak hanya diekspor ke negara di Asia, tapi juga Eropa.

Dari segi kualitas, menurut Kuncoro, produk-produk lokal tidak kalah dibandingkan dengan produk luar. Harganya juga bersaing dengan produk buatan luar. ''Misalnya, seperti plastik untuk medik, biji plastiknya bisa diproduksi dalam negeri sehingga kita tidak usah lagi mengimpor biji plastik tersebut,'' katanya.

Untuk menggenjot produk dalam negeri, Kuncoro meminta adanya regulasi pemerintah untuk memberilam kepastian tentang berapa persen produk dalam negeri yang harus digunakan oleh tempat pelayanan kesehatan.

Sejauh ini, kata Kuncoro, keterlibatan PERSI adalah dengan membuat MoU dengan Kementerian Kesehatan untuk membackup produk lokal yang diteken pada 2016. ''Poinnya adalah mengimbau dan mengajak rumah sakit maupun lembaga terkait untuk lebih menggunakan produk dalam negeri,'' katanya kepada wartawan GATRA Aulia Putri Pandamsari.

Aries Kelana, Umaya Khusniah, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.30 / Tahun XXIV / 24 - 31 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com