Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Tetap Optimistis walau Defisit

Neraca perdagangan Indonesia berturut-turut defisit. Pemerintah dan pengusaha menyebut hal itu tak menjadi masalah. Struktur ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas.

Namanya berdagang, tentu berujung untung atau buntung. Begitu juga dengan neraca perdagangan negeri ini. Sejak 2015 kondisinya selalu surplus, namun kenikmatan itu lenyap ketika pergantian tahun ini ditandai dengan defisit berturut-turut. Pada Desember 2017, terjadi defisit sebesar US$270 juta, lalu Januari dan Februari 2018 masing-masing US$756 juta dan US$52,9 juta. Defisit perdagangan bertubi-tubi ini adalah kali pertama terjadi sejak Jokowi-JK memimpin pada 2014.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa neraca perdagangan sempat surplus US$1,1 milyar pada Maret 2018. Namun, memasuki April, neraca kembali terpuruk dalam lembah defisit senilai US$1,63 miliar.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, defisitnya neraca perdagangan karena jumlah impor yang naik secara signifikan, yaitu sebesar 11,28%, menjadi US$16,09 milyar. "Mengapa ekspor kita kurang bagus? Karena impor kita yang terlalu tinggi. BPS perlu memberikan warning tidak hanya kepada pemerintah tapi ke semuanya," katanya kepada GATRA di kantornya, di kawasan Jakarta Pusat, Kamis, 17 Mei.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, mengatakan bahwa pihaknya sedang mempelajari laporan BPS mengenai defisit perdagangan tersebut. Laporan yang masuk ke kantornya baru data sampai Februari. "Sedang dipelajari komoditas yang mana yang menggerek turun neraca perdagangan kita. Apakah dari barang konsumsi, barang bahan atau penolong, atau dari barang modal," kata Oke kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Oke menjelaskan, jika memang komoditas yang menurunkan neraca perdagangan berasal dari kelompok barang bahan atau barang modal, itu bukan masalah. Sebaliknya, bila dari kelompok barang konsumsi, harus dicek lebih detail, barang konsumsi apa saja. Mengingat perdagangan sejumlah komoditas sudah bebas, semisal alat-alat elektronik.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri, menyampaikan gambaran umum defisit April terutama bersumber dari defisit migas yang mencapai US$1,1 milyar dan defisit non-migas US$495 juta. Defisit migas itu, selain karena volume yang naik, harga minyak dunia juga sedang naik.

Senada dengan Oke, Kasan mengatakan, kenaikan impor bahan baku penolong tidak perlu dikhawatirkan. Alasannya, bahan baku banyak tersedia untuk merespons investasi dan kegiatan produksi industri manufaktur di dalam negeri baik yang berorientasi ekspor maupun untuk tujuan pasar domestik. Kenaikan impor barang konsumsi diperkirakan terkait dengan peningkatan kebutuhan menjelang Puasa dan Lebaran serta perhelatan lain seperti Asian Games.

Beberapa produk yang mengalami defisit pada April 2018 antara lain mesin/pesawat mekanik, peralatan listrik, plastik dan barang plastik, besi baja, bahan kimia organik, gandum, perangkat optik, pakan ternak, serta komponen pesawat terbang. Kasan memperkirakan, pada Mei ini migas masih defisit. Sebaliknya, defisit non-migas akan menurun, bahkan neracanya cenderung kembali surplus.

Oke menyatakan optimistis dengan tindakan pemerintah baru-baru ini. Pada Selasa pekan lalu, Presiden Joko Widodo didampingi empat menteri melepas produk ekspor Indonesia dari pelabuhan Tanjung Priok ke Los Angeles, Amerika Serikat. Kapal raksasa CMA CGM Group yang diberangkatkan dari Tanjung Priok itu membawa muatan produk ekspor Indonesia sebanyak 100.000 ton yang senilai US$11,98 juta.

"Pelayaran langsung itu supaya meningkatkan daya saing kita. Tidak (dikirim) melalui mana-mana, langsung dari kita. Hal itu juga menurunkan biaya logistik sehingga beban tersebut bisa diminimalkan daripada harus melalui rantai perjalanan yang panjang," kata Oke.

Indonesia, menurut Oke, harus terus berusaha membuka pasar non-tradisional dengan negara-negara di Afrika dan negara-negara di Timur Tengah. "Semua produk kita tawarkan dan masih dalam perundingan dari segi misalnya untuk menurunkan tarif. Untuk tenggat waktu penandatanganan perjanjian, masing-masing wilayah berbeda," katanya.

Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia (Kadin) juga tidak melihat defisit neraca perdagangan ini sebagai sebuah masalah. Pasalnya, kebanyakan yang diimpor adalah produk bahan baku. "Saya belum lihat komoditas persisnya. Hanya jenisnya yang saya lihat kebanyakan impor bahan baku. Mesin-mesin seperti itu yang untuk memacu produksi. Jadi yang memang dibutuhkan. Bukan barang jadi," kata Shinta W. Kamdani, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional.

Menurut Shinta, faktor yang harus menjadi catatan adalah strategi yang dibuat pemerintah dalam memetakan produk unggulan seperti apa ke negara yang bagaimana. Rumusan strategi ini sedang dikerjakan Kadin bersama Kemendag. "Jadi, bisa dilakukan strategi yang lebih fokus untuk negara-negara tersebut. Makanya, kita juga mendukung promosi ekspor nasional lewat pameran dagang, misi dagang dan lainnya untuk dimaksimalkan," katanya..

Kadin, kata Shinta, mendorong pemerintah mengindentifikasi negara-negara yang ideal menjadi target pasar baru. Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada Amerika Serikat dan Eropa. Pasar non-tradisional seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan belum banyak digarap.

Shinta mencontohkan India. Meskipun India termasuk pasar tradisional karena sudah banyak kerja sama dagang, neraca Indonesia surplus. Kerja sama ini bisa jadi contoh Indonesia masuk ke pasar-pasar baru di Asia Selatan. Opsi lain adalah Bangladesh yang sudah mulai dibuka dan Srilanka yang selama ini tidak menjadi fokus Indonesia.

Prospek lain tentu saja negara-negara di Afrika. Sudah ada kerja sama meski masih tergolong baru dan terbentur sejumlah masalah tarif. Produk-produk halal Indonesia punya tempat di Timur Tengah. Produk makanan dan minuman sangat potensial menjadi produk unggulan ekspor. Produk Lain adalah produk consumer goods. Produk seperti palm oil, tekstil, dan produk-produk sabun dari UMKM juga sudah mulai ke sana.

Bagi Center of Reform on Economics (CORE), lonjakan defisit pada April lalu memang ada faktor situasional tapi lebih banyak faktor fundamental. Faktor Ramadan-Lebaran mendorong peningkatan impor pangan dan impor minyak. "Tapi yang fundamental adalah struktur ekspor kita yang masih sangat bergantung pada komoditas, khususnya yang terbesar batu bara dan CPO," kata Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE.

Keduanya, menurut Faisal, justru sedang mendapat tekanan di pasar internasional. "Di sisi impor, ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor yang tinggi membuat impor meningkat saat nilai tukar melemah yang terjadi sejak awal tahun," ujarnya.

Faisal menyebut tiga faktor yang harus diwaspadai sehubungan dengan kondisi neraca perdagangan kita. Pertama, pelemahan rupiah lebih banyak memengaruhi peningkatan impor daripada mendorong ekspor. Hal itu terkait dengan ketergantungan impor industri dalam negeri yang tinggi. Sehingga, meskipun rupiah melemah dan barang impor menjadi lebih mahal, impornya tidak bisa dikurangi karena industri memang butuh. Terkait ekspor, rupiah yang lebih murah tidak banyak membantu karena sebagian besar ekspor Indonesia adalah komoditas yang lebih terpengaruh harga

Kedua, menjelang Ramadan dan Lebaran, impor bahan pangan juga meningkat. Tak mengherankan bila impor golongan serealia pun meningkat. Ketiga, peningkatan impor minyak menjelang Ramadan dan Lebaran. Di satu sisi volume meningkat, di sisi lain, harga minyak dunia juga tengah naik. "Juni nanti potensi untuk defisit masih kuat," kata Faisal.

Terkait dengan janji pemerintah untuk membuka pasar-pasar non-tradisional, Faisal mengatakan, hingga saat ini pertumbuhan ekspor ke pasar non-tradisional masih jauh lebih rendah dibanding pasar tradisional. Pada triwulan pertama 2018, ekspor ke negara-negara tujuan utama (ASEAN, Tiongkok, AS, Jepang, India, Uni Eropa) tumbuh 12,3%. Namun, ekspor ke negara-negara non-tradisional hanya tumbuh 1,4%.

Flora Libra Yanti dan Putri Kartika Utami
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.30 / Tahun XXIV / 24 - 31 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com