Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Pesona Tandus Bukit Jaddih

Di balik alamnya yang tandus, Pulau Madura menyimpan banyak keindahan alam. Bukit Jaddih, area bekas penambangan kapur yang tandus itu terlihat memesona. Kini, bukit itu menjadi salah satu ikon wisata Madura.

Semula, Bukit Jaddih bukan tempat wisata. Ia tak lain adalah lokasi penambangan batu kapur putih selama berpuluh-puluh tahun. Bahkan, sampai sekarang, penambangan masih berlangsung. Wajar kalau tiap hari masih banyak truk lalu-lalang mengangkut kapur. Namun, kini, Bukit Jaddih menjadi salah satu destinasi wisata populer di Madura. Bukit ini berada di Desa Jaddih, Kecamatan Socah. Ia berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Bangkalan atau sekitar 26 kilometer dari Jembatan Suramadu. Bukit itu ramai dikunjungi wisatawan, baik warga setempat maupun orang dari luar daerah. Tiap hari jumlah pengunjungnya mencapai ratusan orang. Mereka dipatok harga tiket masuk Rp5.000 perorang.

Pekan lalu, GATRA mengunjungi Bukit Jaddih. Begitu memasuki lokasi, deretan bongkahan dan guratan dari kapur putih berukuran raksasa yang membentuk tebing terhampar di kanan-kiri jalan. Sebuah hamparan pemandangan yang cukup indah. Kawasan Bukit itu cukup luas. Terdiri dari bebatuan kapur yang terbentuk dari aktivitas penambangan batu kapur. Bentuk bukitnya cukup unik dan eksotis. Para pengunjung seolah merasa mengunjungi tempat wisata di Timur Tengah. Bahkan, ada yang menyebutnya mirip dengan salah satu destinasi wisata di dunia, Cappadocia, di Turki.

Tidak hanya pahatan dan ukiran, bukit itu juga membentuk sejumlah gua-gua kecil yang cukup menarik. Ada pula yang menjadi danau yang airnya berwarna hijau. Danau itu kini dimanfaatkan sebagai kolam renang sehingga menambah atraksi dari Bukit Jaddih. Menurut Mustofa, pengelola Bukit Jaddih, semua tebing kapur tersebut tidak terbentuk secara alamiah, tapi karena ''pahatan'' para penambang kapur putih yang bekerja dan mengais rezeki selama puluhan tahun.

Selain menyuguhkan pemandangan ukiran bebukitan, Bukit Jaddih juga menawarkan wisata sejarah. Tak jauh dari Bukit Jaddih, terdapat bunker bekas peninggalan Belanda. Bunker ini terdiri dari beberapa ruang yang dulu merupakan tempat penyimpanan senjata oleh Belanda. Kata Mustofa, pada zaman penjajahan Jepang, bukit Jaddih menjadi tempat persembunyian para pejuang. ''Lubang-lubang gua di sini itu sebagian sisa zaman dulu yang dipakai sebagai kamar persembunyian,'' kata Mustofa. Selebihnya, gua-gua kecil tersebut adalah bekas penambangan.

Awalnya tak banyak orang yang mengenal dan tertarik pada Bukit Jaddih. Apalagi, selain berdebu, area penambangan kapur putih tersebut memang tidak dibuka untuk umum. Namun pemandangan perbukitannya yang unik dan memesona ternyata menarik banyak orang. Tiap hari jumlah turis yang datang bisa mencapai 100-500 orang. ''Jumlah pengunjung tidak pasti. Paling banyak akhir pekan dan hari libur,'' kata Mustofa. Melihat kunjungan semakin banyak, akhirnya para penambang pun berinisiatif menyulap bukit Jaddih menjadi tempat wisata. Tapi aktivitas penambangan tetap berlangsung.

Di sebelah utara Bukit Jaddih terdapat pemandian atau kolam renang yang terbentuk secara alami dan berada tepat di tengah-tengah bukit kapur putih. Masyarakat sekitar menyebut ''Aeng Goweh Pote'' yang berasal dari Bahasa Madura, yang berarti ''Air Gua Putih''. Disebut demikian karena kolam itu dikelilingi bukit-bukit kapur putih.

Kolam renang ini bermula dari lubang galian tambang kapur putih. Lubang tersebut kemudian mengeluarkan atau memancarkan air. Pemerintah Kabupaten Bangkalan pun merenovasi dan menjadikan lubang galian itu kolam renang. Kolam renang itu dibuka secara resmi pada 2014 lalu, yang kemudian dikenal sebagai Danau Biru.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangkalan, Lily Setiawaty Mukti, menjelaskan bahwa sejauh ini Bukit Jaddih masih dikelola swasta dan belum mendapatkan izin resmi dari pemerintah. Beberapa kali ia sudah menyarankan pihak pengelola untuk mengajukan surat izin resmi. ''Mungkin dalam waktu dekat akan mengajukan,'' kata Lily kepada GATRA.

Bila ada izin resmi, lanjut Lily, pemerintah akan lebih mudah terlibat mengembangkan tempat wisata Bukit Jaddih. Ia berharap lokasi itu dikelola dengan baik dan turut menyumbangkan pendapatan bagi pemerintah daerah.

Bukit Jaddih mirip dengan Tebing Breksi di Yogyakarta. Keduanya sama-sama bekas tambang yang disulap menjadi tempat wisata. Namun Bukit Jaddih lebih menarik, karena memiliki lebih banyak pilihan bagi pengunjung, seperti berenang, bermain perahu, dan berkuda keliling kolam.

Para pengunjung tak cuma menikmati keindahan bebukitan tapi juga bisa memandang hamparan alam Pulau Madura secara keseluruhan dari atas puncak Bukit Jaddih.

Bukit Jaddih secara umum cukup tandus dan panas. Namun, ada beberapa bagian bukit dipenuhi tetumbuhan hijau yang cukup menyejukkan. Dengan demikian, setelah berpanas-panasan, pengunjung juga bisa menikmati sejuknya embusan angin di tempat yang ditumbuhi pepohonan lebat.

Bukit Jaddih bukan hanya menjadi tujuan wisata. Banyak para penganten baru juga menjadikannya sebagai tempat untuk foto pre-wedding. ''Pada musim nikah, hampir tiap minggu saya ke sini. Motret,'' kata Muhammad Ali, fotografer asal Surabaya.

Abdul Hady JM (Surabaya)

Cover Majalah GATRA edisi No.30 / Tahun XXIV / 24 - 31 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com