Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

WAWANCARA

Kepala BPS, Kacuk Suhariyanto: Yang Bisa Dilakukan Adalah Diversifikasi Produk Ekspor

Pada Puasa dan Lebaran terjadi kenaikan pada sejumlah komoditas. Bawang putih dan daging sapi akan menyumbang inflasi terbesar. Neraca perdagangan juga defisit cukup besar. Perlu diversifikasi ekspor.

Ramadan, Piala Dunia, Asian Games, neraca perdagangan defisit, rupiah melemah dan terorisme, merupakan peristiwa yang sedang dan akan dialami masyarakat Indonesia. Berbagai peristiwa besar itu berdampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mikro dan makro-ekonomi? Berkenaan dengan persoalan tersebut, peran Badan Pusat Statistik sangat penting dan sentral bagi pemerintah dalam menentukan kebijakannya untuk mengantisipasi beragam peristiwa tersebut.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menjelaskan perihal itu kepada Aries Kelana, G.A. Guritno, Aulia Putri Pandamsari, dan pewarta foto AdiWijaya dari GATRA. Pertemuan berlangsung di Kantor Pusat BPS, Jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis pagi pekan lalu. Petikannya:

Pada Puasa dan menjelang Idul Fitri, bagaimana BPS memetakan pergerakan ekonomi?

Harga kenaikan harga pangan menjelang Puasa dan Lebaran itu hal yang biasa. Itu benang rutin dari tahun-tahun sebelumnya. Karena banyak permintaan. Ketika pasokannya lagi bagus enggak masalah. Yang, jadi masalah ketika pasokan tidak bagus. Kalau kurang, itu bisa jadi gejolak. Dan, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah. Kita telusuri tetap ada komoditas tertentu yang kadang-kadang di luar dugaan, tetap saja. Misalnya Bawang putih, daging sapi dan daging ayam. Kalau telur enggak masalah. Itu memang perlu dijaga, dan bumbu-bumbuan. Bumbu-bumbuan itu dalam inflasi pengaruhnya besar. Kita kan seneng-nya yang sangat berbumbu.

Bagaimana dengan inflasi yang terjadi?

Bisa tergantung. Misalnya saja, April lalu inflasinya 0,10%. Bawang merah 0,07%, daging ayam beras 0,03%. Karena harga berasnya turun, ini tentu ada pengaruh, inflasinya minum 0,08%. Tentunya bisa berubah-ubah sumbangannya dari bulan ke bulan. Penting menjaga stabilisasi selama Puasa dan Lebaran.

Bagaimana antisipasinya?

Memang kita (pemerintah) mengimpor daging beku. Itu meningkatkan barang konsumsi akan naik. April ini agak besar impornya, senilai US$42,7 juta. Itu memang sudah direncanakan supaya harganya stabil, meskipun kita paham betul bahwa konsumen kita tidak terbiasa dengan daging beku. Sedangkan impor bawang putih senilai US$61,5 juta dari Tiongkok.

Kenapa inlasi pada beras turun sampai minus?

Kalau dulu trennya. Beras meningkat harganya dari Oktober 2017 sampai yang paling tinggi Januari 2018. Kenapa bisa turun, karena mulai panen dan puncaknya pada Maret. Penanamannya pada bulan November. Di April-nya masih tinggi. Sehingga, ketika pasokan banyak harga beras turun. Tapi turunnya harga beras menjadi tidak signifikan karena gudang-gudang stok beras kita masih kurang. Sehingga harus diisi dulu, karena cadangan beras di Bulog masih kurang. Karena itu diputuskan impor untuk mengisi stok yang ada di Bulog.

Bagaimana dengan dugaan permainan mafia beras sehingga harga beras tetap tinggi?

Itu bukan wilayah saya. Tapi yang terjadi, harga pembelian dari pemerintah (HPP) terlalu rendah. HPP kita untuk gabah kering panen di tingkat petani Rp3.700 per kilogram sedangkan harga gabah kering penggilingan Rp3.750. Kalau kita lihat data BPS Maret lalu, harga GKP di pasaran sudah Rp 4.757. Memang rendah. Jika dinaikkan 20% masih jauh dari harga pasar. Ketua Penggilingan Padi, Pak Tarto, meminta HPP itu perlu ditinjau lagi.

Apakah itu dibicarakan di rapat kabinet?

Di kabinet khusus belum dibahas. Pembahasannya lebih pada pertumbuhan ekonomi 5,06%. Apa yang perlu dibenahi. Atau kemarin juga dibahas mengapa defisitnya (neraca perdagangan) dalam sekali.

Bagaimana langkah BPS untuk memperbaiki kondisi pangan kita?

Pada saat ini BPS tengah menyempurnakan metode penghitungan padi. Mulai tahun ini, kita bekerja sama dengan BPPT (Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi) menerapkan kerangka sampel area (KSA). Kita menggunakan peta di antaranya dari Batan. Data produksi kita menggunakan luas panen dan produktivitas. Selalu begitu dan di negara mana pun. Ini dilakukan dari survei yang berbeda.

Dari produktivitas, kita ambil sampel dari yang dipanen dan berapa kilo hasil panen. Dari peta itulah stratifikasi sawah, kemudian diambil potongan sampel dan koordinatnya kita catat. Petugas kita harus terjun memotret keadaan riil. Dari hasil potret bisa kelihatan fasenya lagi tumbuh generatif atau seperti itu. Tiap minggu terakhir setiap bulan kita mengunjungi 198.000 petak atau titik yang dipotret. Di saat diambil 2,5x2,5 meter untuk dipanen.

Itu yang baru?

Kita mulai Januari tahun ini. Tahun lalu kita mulai di Jawa dalam bentuk pilot.

Metode itu sudah ada sebelumnya?

Sebenarnya metodenya yang menciptakan adalah BPPT, penelitinya mendapat penghargaan dari LIPI. Ini merupakan salah satu metode yang bagus, kenapa tidak kita gunakan. Di tempat lain sudah pula digunakan tapi tergantung pada kemampuan masing-masing. Negara maju sudah menggunakan satelit. BPS sebenarnya sudah berusaha mencoba dengan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), tapi resolusi masih rendah.

Ini baru padi saja?

Iya. Namun kalau berhasil, kita gulirkan ke tanaman lain, seperti jagung.

Bagaimana komentar Anda mengenai permintaan Presiden soal penggunaan data BPS sebagai satu-satunya data beras? Apakah KSA merupakan permintaan dari Presiden?

Ini yang sudah saya tunjukkan tadi. Sebetulnya kita sudah lama merencanakan. Waktu itu, kita mikirnya siap enggak, karena daerah luasnya sekali. Kita bilang go.

Berarti Agustus nanti sudah siap?

Mudah-mudahan ya. Officially belum kita rilis sampai betul-betul pasti dulu. Makanya, kita mengundang banyak ekonom untuk memberikan masukan.

Berarti Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian enggak usah ribut-ribut lagi soal data beras?

Seharusnya enggak. Hahahaha….

Apakah ada pembengkakan anggaran untuk KSA itu?

Kita enggak minta anggaran khusus. Kita ambilkan dari efisiensi di sana-sini. Kira-kira butuh Rp70 milyar.

Anggaran total BPS tahun ini berapa?

Tahun ini kita mendapat Rp4,7 trilyun. Tahun lalu, sekitar Rp4 trilyun. Tapi perlu dicatat pegawai BPS di seluruh Indonesia sekitar 16.000 orang, 2.000 mahasiswa. Tapi, paling tidak 55% anggaran dipakai untuk belanja pegawai dan sebagainya. Ada kenaikan karena BPS diminta untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan prioritas pembangunan nasional, seperti infrastruktur dan industri manufaktur.

Apa yang pertama dilakukan BPS dalam kaitan dengan pembangunan nasiomal?

Untuk pertama kalinya BPS mengenakan disagregigasi pembentukan modal tetap bruto (PMPB). Bahasa umumnya dampak investasi yang lebih rinci. Presiden beberapa kali menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan infrastruktur dan ekspor-impor. Kita bicara infrastruktur investasi, komponennya antara lain, PDB dan PMTB. Ke depan kita perlu tahu investasi masing-masing sektor. Kita perlu tahu investasi swasta. Kalau uang pemerintah untuk investasi kan kecil sekali enggak sampai 10% dari APBN. Meski kecil, tapi bisa mendorong swasta untuk ikut masuk.

Disagregisasi mengukurnya dari mana?

Kita menggunakan seluruh data dari asosiasi. Menghitung pertumbuhan ekonomi rumit memerlukan 700 manual, antara lain system of national account (SNA) yang ditetapkan 2008. Semua negara harus mengikutinya. Kami juga tidak sembarang merilisnya. Kami harus membahasnya lebih dulu dengan forum masyarakat statistik yang terdiri 23 orang independen memberikan masukan dan kritikan. Sekarang ketuanya Bustanul Arifin.

Mungkinkah data itu dimanipulasi?

Enggak mungkin. Sebab orang IMF setiap tahun dua kali datang ke sini. Mereka mengecek satu per satu data dari BPS. Mereka punya data berdasarkan versi mereka. Kalau sampai terjadi apa-apa, itu nanti akan dilaporkan ke PBB. Kalau itu terjadi bukan hanya BPS, melainkan negara dipertaruhkan.

Kasus seperti itu pernah terjadi?

Di Argentina dan Yunani. Di Argentina soal inflasi. Inflasinya diduga diarahkan oleh pemerintah, sehingga menjadi bagus. Trial statistic bisa terjadi. Kalau itu terjadi Yunani. Trial itu pada kepala BPS setempat. Dengan begitu independensi BPS tetap ada. Pemerintah yang nanya ke BPS hanya sebatas apa yang menjadi masalah. Misalnya, 5,06% itu dibawah ekspektasi. Kemudian neraca perdagangan tak ada satu orang pun yang melihat defisit neraca perdagangan begitu dalam. Inflasi masih oke, pada 3,41%.

Bagaimana dengan independensi?

Yang paling penting, kantor statistik harusnya lembaga independen. Tak bisa diintervensi siapa pun. Karena intinya kita memotret keadaan lapangan, menunjukkan bahwa yang paling penting mana pekerjaan rumah yang harus diperbaiki. Jika kita diminta.

Bagaimana Anda melihat pertumbuhan ekonomi?

Produk domestik bruto (PDB) mempunyai dua sisi: sisi produksi dan pengeluaran. Kalau dari produksi, itu terjadi dari sektor mana. Ada 17 sektor, yaitu sektor konstruksi, pertanian, industri, pertambangan, dan sebagainya. Untuk sektor konstruksi bagus. Triwulan I tahun 2018 bagus. Jika konstruksi bagus akan berdampak pada infrastruktur, PMTB. Kemudian yang bagus adalah industri manufaktur.

Bagaimana dengan sektor pertanian?

Yang perlu diperhatikan dari sektor pertanian, perlu ada catatan bahwa orientasi kita perlu dirubah. Selama ini orientasinya pada produksi padi. Semestinya, meningkatkan kesejahteraan petani. Kalau petani merasa sejahtera, pasti mereka akan terpacu meningkatkan produksinya. Sebaliknya, kalau produksinya yang ditingkatkan belum tentu kesejahteraan petani akan naik karena ada faktor harga.

Ada sektor lain?

Untuk industri pengolahan, ada industri yang sedang menggeliat seperti makanan dan minuman yang tumbuh dua digit. Itu wajar, karena mereka menggenjot produksinya pada saat Puasa dan Lebaran. Kemudian, ada tekstil dan pakaian jadi. Yang saya lakukan, saya highlight ndustri mana yang bagus dan mana yang membutuhkan.

Kalau dari sisi pengeluaran?

Sisi pengeluaran yang saya warning yang membuat pertumbuhan tertarik ke bawah, karena performa ekspor kita pada triwulan I dibanding secara year on year tahun lalu lebih buruk.

Mengapa ekspor kita kurang bagus?

Karena impor kita terlalu tinggi. Ekspor kan menambah, sementara impor mengurangi dan membuat tertarik ke bawah sehingga kembali kalau dilihat pada rilis yang kemaren defisit kita -1,62%. Di satu sisi apa yang terjadi di bulan April ekspor kita hanya Rp14,5 milyar.

Bukannya ekspor kita naik?

Kita lihat ekspor kita masih naik 9%, tapi di satu sisi impor kita juga sebesar Rp16,1 milyar, naik sebanyak 35%. Itu yang menjadi masalah. Migas turun, juga industri pengolahan dan tambang mineral--seperti batu bara, CPO, dan besi baja. Ekspor itu kita lakukan ke Eropa, Cina, dan Amerika Serikat.

Apa manfaat data BPS?

BPS perlu memberikan warning tidak hanya ke pemerintah tapi juga ke semuanya. Data ada di website. Kita publikasi dengan harapan data BPS bisa jadi dasar dalam membuat kebijakan, tidak hanya untuk pemerintah, tapi bisa juga untuk bisnis.

Apa saja yang perlu diandalkan untuk mengganti ekspor?

Sebetulnya kalau dilihat, yang bisa dilakukan adalah diversifikasi produk ekspor memungkinkan misalnya kalau kita membicarakan CPO produk turunannya kan bisa ratusan kalau berkiblat pada itu, intinya memerlukan diversifikasi produk yang diekspor.

Bagaimana potensi kita di sektor kerajinan tangan?

Potensi kriya dan kerajinan tangan besar sekali. Cuma, kita memang harus membaca apa yang diminati oleh konsumen. Yang sedang dilakukan juga adalah diversifikasi pasar. Perannya masih kecil, tapi sudah ada pengembangan seperti ke Turki sudah mulai naik. Jadi, jangan dilihat share-nya yang masih kecil, tapi ini yang harus dilakukan, yang ketiga adalah meningkatkan daya saing ekspor kita. Daya saingnya akan bagus kalau kita mampu memproduksi barang dengan kualitas bagus tapi murah.

Pemerintah juga sedang concern untuk menyederhanakan perizinan lewat satu pintu atau one single submission yang sedang dikemas oleh Kementerian Kordinator Perekonomian. Bagus sekali, bisa mengurangi biaya ongkos produksi supaya menjadi lebih kompetitif.

Bagimana soal tenaga kerja asing?

Perlu saya tegaskan bahwa BPS tidak mengumpulkan data mengenai tenaga kerja asing (TKA). Kami hanya melakukan survei angkatan kerja secara nasional 2 kali setahun serta untuk menghitung tingkat pengangguran terbuka, tingkat partisipasi kerja, dan kualitas dari pekerja kita. Data soal TKA itu di Kementerian Tenaga Kerja.

Bagaimana dengan ekonomi kreatif?

Yang berjaya besar secara kontribusi terhadap ekonomi kreatif adalah kuliner, fashion, dan kriya atau kerajinan tangan. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sekitar 7,44%. Lumayan besar. Sementara ekspor ekonomi kreatif sebesar Rp 20 milyar itu data di tahun 2011 sampai 2016.

Trennya?
Ke depannya, mereka yang akan lebih berkembang adalah hal yang berkaitan dengan film, sehingga yang perlu kita lakukan adalah revolusi digital. Apakah kurikulum yang ada di universitas kita sudah menyiapkan sampai sana? Pekerjaan ekonomi digital itu perlu disiapkan dari data BPS.

Banyak event mendatang seperti pilkada, Piala Dunia, dan Asian Games. Apakah ada perkiraan pada ujungnya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita?

Pasti ada. Kalau pengalaman dari pilkada saja pasti menggerakkan ekonomi. Yang jelas bergerak itu seperti kaos dan bendera. Kemudian uang yang beredar selama masa kampanye meluas ke PDB. Itu kelihatan ditangkap Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga(LNPRT). Tapi share-nya masih kecil, 1,22%, tapi pertumbuhannya di triwulan I/2018, 8,1% akibat Pilkada.

Apakah BPS melakukan sensus berdasarkan etnik?

Kita melakukannya pada saat sensus penduduk. Di situ ada suku bangsa, bahasa, satu agama. Dilakukan 10 tahun sekali.

Apa alasannya 10 tahun sekali?

Kalau kita bicara ini karena mahal, kecuali bagi negara yang punya uang seperti Australia mereka lakukan itu lima tahun sekali. Bisa sampai Rp3,5 trilyun. Kita akan lakukan lagi 2020. Perintah dari PBB juga minimal 10 tahun sekali.

Bagaimana dengan susenas (survei sosial ekonomi nasional)?

Kalau susenas dilakukan dua kali setahun pada 300.000 rumah tangga. Susenas penting dilakukan karena ada angka kemiskinan dan angka ketimpangan, gini ratio, dan indeks manusia. BPS juga diminta untuk mengumpulkan data stunting ini menjadi sesuatu permasalahan yang harus dipecahkan kalau anak kita kerdil maka masa depan Indonesia kan di situ.

Ada suara miring yang menilai kalau sampel BPS tidak terlalu mewakili.

Tidak mungkin, untuk Susenas saja sampel kita ada 300.000 rumah tangga. Itu besar sekali dan didasarkan dari sampel 82 kota dari 514 kota. Mulai tahun depan kita perluas lagi. Kalau diminta seluruh kota, saya menolak, karena enggak ada gunanya juga.

Cover Majalah GATRA edisi No.30 / Tahun XXIV / 24 - 31 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com