Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Propaganda Media Digital ISIS Menyebar Teror

Media digital propaganda radikalisme Al Fatihin beredar lewat media sosial dan aplikasi pesan, selepas teror bom Surabaya. Diterbitkan oleh agensi media ISIS dan diterjemahkan orang Indonesia di Suriah. Pemerintah memblokir situs yang terafiliasi dengan Al Fatihin bersama 2.528 konten radikalisme lainnya. Pemblokiran justru akan merangsang kreativitas mencari bentuk baru propaganda radikalisme?

Sebuah artikel berjudul ''Tiga Serangan Istisyahadi Guncang Indonesia'' menjadi headline dalam surat kabar mingguan berbahasa Indonesia Al Fatihin edisi 10, yang terbit pada Senin, 28 Sya'ban 1439 H. Isinya menjabarkan tentang keberhasilan aksi yang mereka klaim sebagai bentuk jihad di tiga gereja kota Surabaya Indonesia. Sabtu pagi dua pekan lalu itu, serangan bom oleh ''pengantin keluarga'' terjadi di Gereja Pantekosta, Gereja Santa Maria, dan Gereja Kristen Indonesia.

Isi dari buletin 14 halaman terbitan Daulah Islam ini muncul selang sehari setelah aksi teror Surabaya. Tidak hanya itu, surat kabar yang beredar dalam bentuk digital ini juga memuji pemberontakan 155 narapidana terorisme yang ada di Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, sebagai Junud Khilafah di Indonesia. Al Fatihin menyebut kematian Abu Ibrahim Al Indonesi dalam peristiwa yang menewaskan enam personel Detasemen Khusus 88 itu sebagai gugur syahid.

Koran Al Fatihin disebut merupakan terbitan Furat Media, yang merupakan afiliasi agensi media ISIS. Dengan tujuan menciptakan Daulah Islamiyah di Asia Tenggara, surat kabar propaganda ini didistribusikan ke Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, serta Singapura dan Thailand Selatan.

Pada 23 Juni 2016 lalu, peneliti terorisme Jasminder Singh dan Muhammad Haziq Jani dari the S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, pernah mengungkapkan Al Fatihin sebagai surat kabar ISIS pertama yang berbahasa Melayu. Edisi pertamanya terbit pada Ramadan 1437 H atau 20 Juni 2016 di Filipina Selatan.

Dengan tagline "Surat Kabar bagi Muhajirin Berbahasa Melayu di Daulah Islamiyyah", keberadaan Al Fatihin diyakini melayani pejuang dari Asia Tenggara, utamanya Indonesia dan Malaysia.Harapan ISIS adalah menjadikan mereka sebagai bagian dari kekhalifahan, terutama saat melihat berita yang menjadi bagian dari Baghdad, Mosul, Raqqa, dan lainnya.

Namun mulai edisi keduanya, Al Fatihin mengubah tagline-nya menjadi ''Surat Kabar Mingguan Berbahasa Indonesia'', diterbitkan dari Daulah Islam. Namun, sedari edisi perdananya, bahasa yang digunakannya memang sudah berbahasa Indonesia. Surat kabar ini tersebar secara senyap dan masif di kalangan internal kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang merupakan sel jaringan ISIS di Indonesia.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung, menyebutkan bahwa salinan buletin Al Fatihin ditemukan pasca-kejadian teror bom di Surabaya pada 13-14 Mei lalu. ''Pihak cybertroop kita mendapatkannya setelah pengeboman,'' ujarnya kepada GATRA. Inti buletin ini, menurutnya, adalah untuk memprovokasi sekaligus menyampaikan ujaran kebencian.

Barung mengatakan bahwa begitu majalah tersebar, upaya untuk memblok media propaganda ISIS itu pun langsung dilakukan. ''Sejauh ini, hasil penemuan buletin itu hanya dalam bentuk digital. Belum ditemukan dalam bentuk lain,'' ia mengungkapkan. Meski upaya pemblokiran dilakukan, penelusurannya masih agak sulit dilakukan sebab penyebarannya dalam bentuk siber. ''Berbeda kalau dia berbentuk cetak. Jadi sementara baru bisa memblokir,'' ia menambahkan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Polisi Setyo Wasisto, menduga bahwa Al Fatihin dibuat oleh orang Indonesia yang ada di Suriah dan bergabung dengan ISIS. ''Diduga dibuat oleh orang Indonesia yang ada di Suriah, di mana mereka menerjemahkan langsung [isi Al Fatihin]. Penerbitan ini upaya [propaganda] mereka,'' ia mengungkapkan kepada Andhika Dinata dari GATRA.

Pengamat terorisme Muhammad Jibril mengatakan, buletin seperti Al Fatihin bukan hal baru yamg diterbitkan jaringan ISIS. Buletin sejenisnya sudah banyak tersebar di kalangan terbatas, yang bahkan kontennya bisa lebih parah dari itu. Keberadaan media propaganda ini, menurutnya, menjadi alat penyampai pesan, baik dari tokoh ISIS yang masih hidup maupun telah mati. ''Al Fatihin ini pesan lama dalam konten khusus yang menarik dan kekinian. Ini menjadi inspirasi bagi anak-anak pemula ISIS,'' kata Jibril kepada GATRA.

Putra ustaz Abu Muhammad Jibril, Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), itu menyebut Al Fatihin sebagai media kecil tak berbentuk yang sengaja disebar dengan berbagai bahasa di seluruh dunia. Buletin ini diterjemahkan sesuai dan beradaptasi dengan masing-masing wilayah. ''Permasalahannya, media ISIS ini sebelumnya sudah banyak, tapi pemerintah biasa-biasa saja. Baru ramai setelah terekspose,'' ujar mantan narapidana terorisme tersebut.

Media propaganda yang tersebar di kalangan terbatas gerakan jihadis menyimpang ini biasanya selain tersebar melalui media sosial Facebook, Twitter, dan sebagainya. Juga lewat aplikasi pesan WhatsApp, Telegram, ataupun dengan tautan unduhan di berbagai situs file sharing. Distribusinya selain melalui grup-grup bisa juga melalui pesan jaringan pribadi. ''Lalu bagaimana memberangusnya selagi berbasis media sosial? Itu susah untuk dilakukan,'' Jibril menegaskan.

Jejak ISIS dalam media propaganda ini terdeteksi sejak Maret 2013 lalu. Mereka membentuk I'tisaam Media Foundation, yang didistribusikan Global Islamic Media Front (GIMF). Pada 2014 menjadi kebangkitan media ISIS dengan hadirnya beberapa propagandanya, yakni mendirikan Al-Hayat Media Center dalam bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan Prancis. Bersamaan itu juga diluncurkan Ajnad Media Foundation, yang melantunkan nasyid jihad.

Kemudian pada 31 Juli 2014 juga muncul video pertama warga negara Indonesia yang mengajak orang Indonesia untuk bergabung ISIS melalui YouTube. Pada tahun yang sama, Amaq News Agency didirikan oleh Baraa Kadek, jurnalis Suriah yang telah bergabung dengan ISIS pada 2013. Ketika itu, penyebaran propagandanya dalam bentuk website, namun pada 2015 berkembang menjadi aplikasi mobile dan juga Telegram. Akan tetapi, aplikasi mobile itu kemudian dilaporkan sebagai unofficial karena dituduh disusupi mata-mata.

Dalam analisis Lauren William dari Lowy Institute for International Policy tentang "Islamic State Propaganda and the Mainstream Media" pada Februari 2016, penyebaran melalui video panjang, media sosial, dan surat kabar, serta publikasi sayap tangan Media ISIS tersebut telah menjadi propaganda luar biasa. Materi yang disebarkan pun dikontrol ketat, di mana kontennya dicap dengan logo Negara Islam.

Dalam penyebarannya, ISIS juga merekrut profesional media dari Barat. Salah satunya adalah jurnalis Inggris John Cantilie, yang ditangkap pada Februari 2015 karena terlibat dalam konten media ISIS berbahasa Inggris. Namun ada dugaan dia melakukannya dalam keadaan di bawah tekanan dan paksaan.

Dalam kaitan dengan media berkonten jihad di Tanah Air, ada beberapa media yang disebut terafiliasi dengan ISIS maupun pro-ISIS. Misalnya, pada Maret 2015 lalu Densus 88 Mabes Polri telah menangkap pimpinan redaksi media Islam Al-Mustaqbal, M. Fachry, yang dituduh sebagai pendana dan perekrut jaringan anggota ISIS Indonesia.Terpidana hukuman lima tahun itu meninggal setelah menjalani masa tahanan selama 2,5 tahun.

Nama lainnya adalah situs Shoutussalam.com. Pada 2015 juga, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir situs tersebut karena dinilai terafiliasi dengan ISIS. Nama lain media online yang disebut-sebut terafiliasi dengan ISIS adalah VOA Islam.

Ini juga terkonfirmasi dalam penelitian Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang meneliti radikalisme dan intoleransi di website dan media sosial pada September-Desember 2017. Dari 15 situs objek penelitian dengan metode web scraping dan web mining ini, VOA Islam disebut sebagai media yang mengandung konten radikal.

Namun menanggapi riset itu, Pemimpin Redaksi VOA Islam, A. Furqan, mengatakan, bila menggunakan standar umum mengenai radikalisme, konten yang ada di medianya memang bisa jadi dianggap radikal. Namun menurutnya, ini harus dilihat dari cara pandang berbeda, ''Tidak bisa pakai standar umum,'' ia mengungkapkan.

Adapun Jibril menyebut beberapa media Islam Indonesia yang ikut memberitakan ISIS itu hanya dalam kaitan kaidah pemberitaan. ''Jadi sekadar memberitakan seperti media umumnya,'' ujar pendiri dan CEO Arrahmah.com itu. Namun, ia menegaskan, Arrahmah.com sejak awal memang sudah memosisikan diri sebagai media anti-ISIS. ''Dulu situs kami sempat diblokir, tapi kami bukan indikasi (ISIS),'' ia menambahkan.

Lalu seperti apa upaya pemerintah dalam memberangus media propaganda ISIS seperti Al Fatihin, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengatakan bahwa pihaknya sudah memblokir situs yang terafiliasi dengan buletin tersebut, termasuk 80 akun yang terkait di media sosial. Hingga Minggu, 20 Mei lalu, Kominfo sudah memblokir 2.528 konten radikalisme dan ada sebanyak 19.500 akun yang masih diverifikasi. ''Kemungkinan akan bertambah 3.000 akun yang diblokir,'' kata pria yang akrab disapa Chief itu kepada Riana Astuti dari GATRA.

Akun-akun tersebut teridentifikasi menyebarkan konten radikalisme dan terorisme sejak kerusuhan di Mako Brimob dan serangan teror bom Surabaya-Sidoarjo lalu. Dari jumlah itu, sebanyak 50% akun itu berasal dari platform medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube. Konten yang diblokir adalah yang bermuatan ajakan berbuat radikalisme ataupun tutorial tentang membuat bom.

Lalu bagaimana dengan penyebaran melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp? Menurut Rudiantara ini butuh penanganan yang berbeda karena berdasarkan percakapan pribadi dan dengan penyebaran secara individu. Karena itu, harus dilakukan secara personal, dan pengusutannya ada di pihak kepolisian. ''Kalau kita kumpulkan pesan di WA akan terlihat siapa yang menyebarkan dan siapa yang menerima,'' ia mengungkapkan.

Namun, sebagai tindak lanjut, Rudiantara mengatakan bahwa ia sudah bertemu Menteri Hukum dan HAM, Yassona Laoly, untuk membuat aturan yang ditujukan kepada platform. Regulasi yang bisa berbentuk peraturan menteri ini akan menyisir platform medsos tadi untuk bertanggung jawab akan konten radikal, terorisme, dan hoaks. Hukumannya bisa berupa denda atau penalti dengan asumsi melakukan pembiaran penyebaran konten negatif tersebut.

Adapun pihak Facebook mengaku telah menghapus ribuan konten radikal, 472 di antaranya merupakan atas permintaan Kominfo. ''Jumlah 472 itu hanya untuk insiden Surabaya di luar Mako Brimob. Di luar itu ada ribuan yang memang kita secara proaktif menyisir langsung,'' ungkap Public Policy Lead Facebook Indonesia, Ruben Hattari, kepada wartawan GATRA Dara Purnama.

Cara penyisiran Facebook, menurut Ruben, dilakukan oleh tim kebijakan konten yang ada di 11 kantor di seluruh dunia dengan klasifikasi konten yang dilarang medsos besutan Marck Zuckerberg tersebut, seperti ujaran kebencian, keamanan anak, serta terorisme. Terkait dengan teror bom di Surabaya, Ruben menyebut ada dua klasifikasi larangan. Pertama adalah gambar atau video tak layak Kedua, pengguna yang mengunggah kembali kejadian teror yang tertangkap CCTV.

Untuk klasifikasi gambar dan video, menurut Ruben, unggahan akan langsung dihapus. Sedangkan untuk klasifikasi kedua akan disebut sebagai marked as disturbing. ''Kita tutup ada filtering, sehingga kalau user mau mengakses konten itu akan muncul based on discretion, sehingga mau melanjutkan atau tidak,'' ia menambahkan.

Namun, cara membendung saluran radikalisme lewat pemblokiran ini, di mata Jibril, bukan sebagai solusi tepat. ''Makin diblokir bisa membuat semakin kreatif,'' ujarnya. Ia mengatakan, harus ada penyeimbang dalam melihat perjuangan dalam jihad. ISIS adalah jihadis menyimpang dalam koridor terorisme dan harus diimbangi dengan informasi jihad Islam sesungguhnya. ''Jihad Rasul saat perang tidak boleh bom gereja, bahkan pohon pun. Tidak dengan teror,'' ujarnya.

Sepakat dengan Jibril, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, mengatakan bahwa harus dibuat a counter-radicalism. ''Counter-propaganda harus dibangun. Tidak bisa dengan main blokir saja, karena patah satu tumbuh seribu,'' kata Irfan Idris.

Selain lewat program deradikalisme, upaya menangkal itu adalah juga dengan membuat Duta Damai di setiap provinsi. Kegiatan ini melibatkan pelajar dan mahasiswa aktif untuk bersuara di dunia maya. Selama ini, glorifikasi dari situs radikal telah memancing emosi masyarakat. ''Ini yang perlu kita luruskan. Yakni, bagaimana memberikan narasi alternatif yang mengedepankan konsensus berbangsa,'' ia menambahkan.

Birny Birdieni, Hidayat Adhiningrat P., dan Aditya Kirana

+++

Jejak Media Propaganda ISIS:
- Maret 2013: ISIS membentuk I'tisaam Media Foundation yang didistirbusikan melalui Global Islamic Media Front (GIMF)
- 2014: Amaq News Agency didirikan oleh Baraa Kadek, jurnalis Suriah yang bergabung dengan ISIS pada 2013
- 2014: ISIS mendirikan Al-Hayat Media Center dalam bahasa Inggris, Jerman, serta Rusia dan Prancis
- 2014: ISIS meluncurkan Ajnad Media Foundation yang melantunkan nasyid jihad
- 2014: Amaq News Agency didirikan oleh Baraa Kadek, jurnalis Suriah yang bergabung dengan ISIS pada 2013
- 31 Juli 2014: Di YouTube muncul video pertama WNI mengajak untuk bergabung ISIS
- 2015: Kominfo memblokir situs Shoutussalam.com yang dinilai terafiliasi dengan ISIS
- 20 Juni 2016: Surat kabar Al Fatihin versi bahasa Melayu terbit di Filipina Selatan
- Mei 2018: Buletin Al Fatihin terungkap di Indonesia dan diblokir.

Sumber: Buku Waspada ISIS yang diterbitkan BNPT 2015 dan data diolah
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.30 / Tahun XXIV / 24 - 31 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com