Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Inspektur Jenderal Setyo Wasisto, Kadiv Humas Mabes Polri: Ini Kebangkitan Sel-Sel JAD

Jaringan JAD merupakan kelompok militan para kombatan terafilisiasi ISIS. Aman kini tengah menjalani sidang tuntutan atas kasus serangan Bom Thamrin di Jakarta pada Januari 2016 lalu.

Teror tak akan pernah berakhir. Itulah setidaknya gambaran tragis aksi terorisme dalam sepekan terakhir, mulai dari kerusuhan di Mako Brimob hingga pengeboman gereja Surabaya, peledakan bom di Wonocolo, Sidoarjo, dan di halaman Mapolsek Surabaya, Jawa Timur. Kepolisian melansir Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Aman Abdurrahman adalah dalang dibalik teror berdarah tersebut.

Jaringan JAD merupakan kelompok militan para kombatan terafilisiasi ISIS. Aman kini tengah menjalani sidang tuntutan atas kasus serangan Bom Thamrin di Jakarta pada Januari 2016 lalu. Ia ditengarai menjadi Amir JAD sekaligus tokoh sentral ISIS sepeninggalan Salim Mubarak at-Tamimi (Abu Jandal), Santoso (Abu Wardah), dan Bahrun Naim (Abu Rayyan) yang dikabarkan tewas dalam perang Suriah. Guna mendalami serangkaian "Teror Mei", wartawan GATRA, Andhika Dinata, mewawancarai Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa, 15 Mei. Berikut petikannya :

Adakah kaitan teror di Mako Brimob dengan serangkaian teror di Surabaya dan Sidoarjo ?
Saya yakin ini ada kaitan. Jadi, seperti yang sudah disampaikan Bapak Kapolri, ini kebangkitan dari sel-sel JAD. Yang paling besar JAD di Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Timur. Ini yang harus kita waspadai.

Ini kegiatan aksi terencana ?
Patut diduga, ini adalah serangan konspirasi, tetapi konspirasi di Surabaya ini tidak sempurna. Itu karena ada bom yang meletus sendiri sebelum melakukan aksi. Seperti yang meledak di Wonocolo (Sidoarjo). Ada yang meninggal, ada yang enggak.

Semua di bawah komando Aman ?
Aman jadi pimpinan JAD. Kemarin, teror di Surabaya itu, yang melakukan (aksi) pimpinan JAD Jawa Timur, Dita Oepriarto. Zainal Anshari (Ketua JAD cabang Jawa Timur yang tertangkap), Dita, dan Anton itu masih satu grup.

Bagaimana kekuatan komposisi pendukung Aman?
Jadi begini, teroris itu ada yang hard. Yang sudah kuat sekali, yang sudah menjadi ideolog. Lalu ada yang reguler, partisipan dan simpatisan. Kalau saya pribadi tidak tahu, tetapi Densus pasti sudah tahu berapa yang ideolog, berapa yang partisipan, di situ sudah bisa dipetakan.

Apakah serangan bom bunuh diri Surabaya dengan pelaku keluarga sebagai pola baru ?
Yang jelas ini salah satu cirinya ISIS. ISIS ini melibatkan anak-anak dan melibatkan perempuan.

Bagaimana relasi kelompok ini dengan ISIS Suriah ?
Kalau kita urut Abu Bakar al-Baghdadi, dari Indonesia tokohnya ada beberapa orang. Kalau tidak salah ada 20-30 orang yang di sana (Suriah). Salah satunya ada Bahrun Naim (meski beberapa media melansir Bahrun sudah tewas), yang ngontak langsung. Bahrun Naim ini juga bisa kontak dengan grup, bisa juga ke perorangan yang mengunggah Telegram-nya dia.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com