Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Membangunkan Sel Tidur

Tragedi di Rutan Mako Brimob diduga membangunkan sel teroris dari tidurnya. Aksi brutal selama 36 jam tersebut, diduga, dirancang kelompok Aman Abdurrahman karena "amir" mereka kembali diadili. Perlu pengawasan lebih ketat terhadap napi teroris di tahanan agar kejadian serupa tak berulang.

Situasi mencekam 36 jam di Markas Komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob) Kelapa Dua, Depok, berakhir pada Kamis pagi pekan lalu. Tepat pukul 07.15 WIB, Polri menyatakan operasi penanganan 156 tahanan teroris di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob sudah selesai. Penanggulangan kerusuhan tersebut melibatkan ribuan personel polri.

Dalam kerusuhan yang terjadi sejak Selasa malam pukul 19.30 WIB itu lima anggota Polri gugur. Tercatat, empat orang berasal dari Densus 88 Antiteror, yakni Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto, Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli, dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamingkas. Lalu seorang lagi, berasal dari Polda Metro Jaya, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi. Adapun satu tahanan yang tewas tertembus timah panas didadanya adalah Abu Ibrahim alias Benny Syamsu Trisno, narapidana terorisme asal Pekanbaru, Riau.

Setelah puluhan jam berada dalam ketegangan, akhirnya 155 tahanan teroris menyerahkan diri--sebelumnya 10 tahanan sempat bertahan. Mereka kemudian dipindahkan ke Lapas Nusakambangan. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengakui bahwa polri tidak terburu-buru mengatasi kerusuhan karena melakukan soft approach. ''Setelah itu diultimatum kalau mereka enggak menyerah maka akan kita serbu,'' katanya kepada GATRA, Selasa lalu.

Kenapa polisi memberi ruang lebih untuk berdialog? Menurut Setyo, karena pihaknya memperhatikan persoalan hak asasi manusia (HAM). Sebetulnya, kalau langsung menyerbu saja, polri pasti lebih unggul. Dari segi jumlah personel dan senjata jauh lebih banyak. ''Kalau kita langsung serbu pasti dunia internasional akan mengecam. Tidak hanya Polri yang dikecam, tapi dunia akan mengecam Indonesia, makanya kita berpikir itu,'' ucapnya.

***

Bila ditilik dari awal mula terjadinya kerusuhan di Rutan Mako Brimob, memang terkesan sepele. Semua itu bermula dari soal makanan. Ketika itu Wawan Kurniawan alias Abu Afif mengamuk gara-gara makanan yang dibawa keluarganya disita sipir. Singkat cerita, karena tak puas dengan respons petugas, ia mengajak kawan-kawannya dalam rutan untuk berontak melawan aparat. Provokasi Wawan itu memicu konflik. Di kalangan tahanan, Wawan sangat berpengaruh. Ia adalah pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Pekanbaru, Riau, yang ditangkap Densus 88 Antiteror pada 24 Oktober 2017.

Wawan ditangkap bersama empat anggota jaringannya, yakni Yoyok Handoko alias Abu Zaid, Abu Ibrahim alias Benny Syamsu Trisno, Handoko alias Abu Buchori, dan Nanang Kurniawan alias Abu Aisha. Mereka diciduk ketika sedang melakukan latihan fisik untuk persiapan teror (i'dad) di Bukit Gema, Kabupaten Kampar, Riau. Terduga teroris ini, berencana melakukan penyerangan dengan target kantor polisi. Peran Wawan ketika itu sebagai pemberi motivasi kepada kelompoknya.

Sofyan Tsauri, mantan narapidana teroris (napiter) menyatakan bahwa Wawan atau kelompok JAD inilah yang paling keras melawan polisi dalam kejadian di Mako Brimob. JAD adalah kelompok yang berafiliasi atau sudah berbaiat kepada jaringan terorisme global Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS. Abu Afif juga merupakan jaringan Aman Abdurrahman alias Oman Rochman yang saat ini menjalani persidangan kasus teror Bom Thamrin pada awal 2016. Aman didakwa menjadi otak serangan bom di Starbuck Cafe dan Pos Polisi Lalulintas Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Selain itu, Aman juga didakwa sebagai aktor intelektual kasus teror lain, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda (2016) dan Bom Kampung Melayu (2017), serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017). Sebelumnya, pria kelahiran Sumedang, 5 Januari 1972, ini divonis sembilan tahun penjara untuk kasus Bom Cimanggis pada 2010. Sebagai pimpinan tertinggi ISIS di Indonesia, Aman cukup disegani dan berpengaruh besar terhadap gerakan teroris di Nusantara. Aman merupakan pimpinan JAD yang sering keluar-masuk bui sejak 2003.

Pengaruh Aman ini bahkan menjadi bagian dari proses negosiasi polri dengan teoris yang melakukan perlawanan. Saat melakukan penyanderaan dan pemberontakan di Mako Brimob, salah satu tuntutan para napi teroris adalam meminta bertemu dengan Aman. Akhirnya, polisi menghubungkan para tahanan dengan Aman. Para napiter diwakili oleh Abu Qutaibah alias Alexander Rumatrey alias Iskandar, terpidana kasus Bom Kampung Melayu.

Komunikasi berlangsung dalam bentuk pertukaran rekaman. Aman berbicara selama 1 menit 58 detik, sedangkan Abu Qutaibah sepanjang 11 menit 35 detik. Proses tersebut, merupakan rangkaian dari tahapan negosiasi. Aman dalam rekamannya berupaya menenangkan penghuni blok napiter (A,B, dan C). ''Untuk malam ini agar meredam dulu. Agar bukan penghuni biar pada keluar dulu saja. Itu saja mungkin dari ana. Mudah-mudahan bisa dipahami karena tidak ada manfaat juga bikin keributan di kandang singa, mungkin seperti itu,'' kata Aman dalam rekaman yang beredar tersebut.

Sedangkan Qutaibah, menjadi juru bicara para tahanan untuk menjelaskan duduk persoalan dari kerusuhan tersebut. Hal itu bermula dari perlakukan yang tidak menyenangkan dari aparat hingga persoalan kiriman makanan yang ditahan sipir. ''Jadi ini berawal dari semua permasalahan yang sudah dikumpul-kumpul, diakumulasi oleh ikhwan-ikhwan. Dari mulai masalah pembatasan tentang hak-hak, makanan, kemudian masalah besukan dan sebagainya,'' kata Qutaibah dalam rekaman.

Setyo Wasisto menduga, tragedi Mako Brimob sudah dirancang jaringan Aman Abdurrahman. Dari dalam tahanan, kata jenderal bintang dua ini, mereka menggerakkan kawan-kawan teroris yang belum tertangkap untuk merapat ke sekitar Mako Brimob. Sehingga ketika terjadi keributan di dalam Mako Brimob, jejaring mereka yang berada di luar sudah siap melakukan aksi susulan. "Jadi skenario ini muncul karena mereka [pengikut Aman] marah lantaran Ustad Aman Abdurrahman diproses lagi untuk kasus bom Thamrin," ucapnya.

Walaupun kasus sudah selesai, Setyo Wasisto menyatakan, di balik tragedi Mako Brimob ada dugaan skenario besar yang disiapkan jaringan Aman Abdurrahman. Jenderal bintang dua ini mengakui, pihaknya sudah memantau pergerakan napiter. Mereka, dari dalam sel sudah menyiapkan kawan-kawan teroris untuk berada di sekitar Mako Brimob. Sehingga, ketika para napiter mulai ribut, jejaring mereka yang berada di luar diminta sudah siap. ''Jadi skenario ini muncul karena mereka (pengikut Aman) marah Ustaz Aman Abdurrahman diproses lagi untuk kasus bom Thamrin,'' ucapnya.

Pengamat terorisme Al Chaidar juga mengungkapkan, pada Rabu, 9 Mei, para napiter menyerukan jihad. Seruan itu disampaikan melalui telepon pintar--yang seharusnya mustahil bisa masuk ke dalam sel jika tidak disusupi dari luar--baik lewat broadcast maupun secara live disiarkan melalu media sosial.

Seruan tersebut juga sudah disebarkan melalui kantor berita ISIS, Amaq News Agency. Karena itu, tidak mengherankan bila ISIS langsung mengklaim sebagai dalang kerusuhan itu. Hasilnya, seruan jihad tersebut mendapat respons dengan baik. ''Disambut oleh kelompok Jawa Barat ada 57 orang, kemudian Banten, Sukabumi, Bogor, Bekasi, Tanggerang. Lalu, dari Jawa Tengah ada 71 orang. Terus ke Jawa Timur itu ada 106 orang, dan Bima 13 orang,'' kata Chaidar kepada GATRA.

Siapa sangka, ternyata respons yang paling besar dari sel Jawa Timur. Berselang beberapa hari muncul teror bom bunuh diri di Surabaya. Rentetan aksi teror pun terjadi diberbagai tempat hingga Selasa lalu. Kejadian di Mako Brimob, bagi para sel tidur ini sebagai sebuah kebenaran dan salah satu pertolongan dari Allah. Kegigihan para tahanan yang mampu melawan, menguasai lokasi, merebut senjata, bahkan menyandera dan menewaskan polisi, menjadi penyemangat bagi para teroris yang berada di luar.

Tentu saja, hal itu menjadi trigger kebangkitan sel-sel JAD yang selama ini tiarap. Dalam catatan polri, anggota JAD paling banyak berada di Jawa Barat, Jabodetabek dan Jawa Timur. Aksi teror di Surabaya pun, mengutip pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, diduga dilakukan oleh keluarga dari pimpinan JAD Jawa Timur, Dita Oepriarto.

Selain itu, ciri khas teror yang dilakukan oleh jaringan ISIS, adalah dengan memperbolehkan perempuan dan anak-anak menjadi ''pengantin''. Menurut Haris Amir Falah, bekas napiter, para jaringan ISIS dalam melakukan aksinya ada dua hal yang mereka tunggu. Pertama, instruksi dari pimpinanya yakni Aman Abdurrahman. Kedua, melihat momentum atau perkembangan situasi. Contohnya, munculnya kasus di Rutan Mako Brimob.

Gandhi Achmad, Andhika Dinata dan Hidayat Adhiningrat P

***

Ladang Subur Radikalisme
Haris, bekas Ketua Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) DKI Jakarta, masih ingat betul saat mendekam di Rutan Mako Brimob selama hampir empat tahun, dari 2010-2013. Semua lantaran dirinya terbukti dengan sengaja mengumpulkan dana untuk pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar pada awal Januari 2010.

Dari pengalaman itulah, ia menilai bahwa sebenarnya kondisi deradikalisasi tidak sampai ke Rutan Mako Brimob. Justru di sanalah tumbuh dan berkembangnya radikalisme. Bahkan hingga kini, ketika rutan dihuni 156 tahanan teroris. ''Bukan karena pengaruh Wawan (Abu Afif) tetapi karena modelnya mereka yang sudah keras lalu bertemu dengan orang-orang yang keras, maka semakin terpelihara itu,'' ucap Haris kepada GATRA.

Sebab, radikalisasi yang paling efektif itu adalah di dalam penjara. Karena intensitas mereka ketemu itu setiap hari. Apalagi, di blok A, B dan C di Rutan Mako Brimob semuanya khusus diisi tahanan teroris. Dimulai dari salat subuh berjamah, kajian dan lainya dilakukan dalam ruangan yang sama. Terlebih, di dalam itu tidak ada fungsi kontrol dan pengawasan untuk mencegah orang jadi tidak radikal.

Menurut Haris, kontrol dilakukan hanya untuk absen. Sebaliknya, di dalam sel para narapidana teroris bisa didoktrin banyak hal. Apalagi kalau sudah bersentuhan dengan Aman Abdurrahman dan jaringannya, sudah pasti akan sulit diredam. Sekalipun Aman tidak ada di tiga blok tersebut, mereka bisa melakukan kajian seperti telekonferensi dengan menggunakan telepon pintar. Sejak di Lapas Nusakambangan, Aman Abdurrahman sudah biasa menggunakan teknologi dalam menyebarkan doktrinya.

Karena itu, ketika di Mako Brimob ia ditempatkan di ruang isolasi yang letaknya jauh dari blok A, B dan C. Kalau dia sampai bergabung, atau pun berkomunikasi dengan tahanan lainya, bisa semakin bahaya.

Haris menyarankan, pola efektif untuk mencegah radikalisasi di dalam penjara adalah dengan memisahkan para narapidana teroris dengan kelompok pro-ISIS. ''Saya lihat sejak awal itu seharusnya ada orang yang memberi masukan agar narapidana dipindah ke LP (Lembaga Permasyarakatan). Di Mako Brimob itu tiga blok sudah dikuasai ISIS semua. Dahulu saya bisa mencegah, memilih khatib yang tidak terlalu ekstrem. Sekarang semua dikuasai mereka,'' jelas Haris.

Kalau ada tahanan yang bukan ISIS, sudah pasti akan dikucilkan dan dimusuhi. Bahkan bisa diancam pembunuhan, karena sudah dianggap berkhianat atau kafir. ''Kadang juga sampai ribut fisik, itu juga enggak bagus,'' kata Haris.

Ia membeberkan, bahwa dari 156 napiter itu, tidak semuanya merupakan pengikut Aman Abdurrahman. Dalam rutan tersebut, terpecah ke dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok jaringan ISIS, Aman Abdurrahman (ekstrem). Kedua ada kelompok pendukung ISIS di luar dari Aman (radikal). Ketiga, kelompok teroris yang sudah bertobat. ''Ada enam orang yang bertobat, namun mereka diam-diam. Kalau terbuka, habis mereka di sana,'' ucap Haris.

Jaringan Aman paling berbahaya di antara kelompok teroris lainnya. Mereka lebih sadis dan menganggap kafir semua orang di luar kelompoknya. Kericuhan di markas komando salah satunya dipicu oleh pengikut Aman yang bernama Wawan Kurniawan alias Abu Afif. Bahkan 10 tahanan terakhir yang bertahan pada saat negosiasi itu merupakan jaringan Aman.

''Di mata para napiter yang sudah punya ideologi keras ini, apa pun ceritanya bahwa polisi itu adalah thogut, musuh, kapan pun ada kesempatan itu pasti dihabisin,'' kata Haris. Karena ideologinya sangat keras pasti aturannya meningkat. ''Bagi mereka itu senyum saja pada polisi bisa membatalkan iman mereka, jadi mereka enggak boleh senyum,'' katanya.

Menurut Al Chaidar, program deradikalisasi BNPT sudah gagal total. ''Tidak berhasil. Ini buktinya (teroris terus bermunculan) dan sebaiknya memang program itu ditutup saja, bila perlu BNPT-nya dibubarkan saja,'' ucapnya penuh semangat.

Gandhi Achmad dan Hidayat Adhiningrat

***

Kerusuhan Mako Brimob
Selasa, 7 Mei
21.30 WIB: Amaaq News Agency, kantor berita yang terafiliasi dengan ISIS, menyampaikan informasi bahwa telah terjadi kerusuhan di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat. Para tahanan teroris menjebol sel penjara. Enam polisi disandera oleh para tahanan teroris. Informasi ini viral di media sosial.
23.30 WIB: Polri membenarkan terjadi kerusuhan di Mako Brimob. Kerusuhan terjadi karena persoalan makanan.
Rabu, 9 Mei
00.05 WIB: Polisi melakukan penjagaan ketat di depan Mako Brimob. Kawat berduri dipasang di depan Mako Brimob.
08.15. WIB: Enam mobil ambulans memasuki Mako Brimob.
11.30 WIB: Enam mobil ambulans tiba di RS Polri, Jakarta Timur
15.30 WIB: Polri menyampaikan informasi bahwa ada lima anggota Polri dan satu tahanan teroris yang meninggal dalam kerusuhan Mako Brimob.
21.30 WIB: Polri melakukan negoisasi dengan para tahanan teroris agar membebaskan anggota polisi yang disandera. Sebagai imbalannya, polisi memberikan pasokan makanan untuh tahanan.
22.00 WIB: Para tahanan meminta bertemu dengan Aman Abdurrahman yang juga sedang ditahan di Mako Brimob. Disepakati, Aman akan memberikan penjelasan melalui rekaman. Dalam isi rekaman itu, Aman meminta para tahanan untuk meredam dulu.
23.00 WIB: Rekaman pembicaraan Aman diserahkan polisi ke utusan para tahanan, Abu Qutaibah Iskandar alias Alexander. Kemudian, lewat rekaman pula, Abu Qutaibah menyampaikan informasi penyebab kerusuhan Mako Brimob, yang dipicu persoalan makanan.

Kamis 10 Mei
02.00 WIB: Anggota polisi yang disandera, Iwan Sarjana, dibebaskan dalam kondisi selamat.
04.00 WIB: Polisi memberikan ultimatum tenggat hingga pukul 07.30 kepada para tahanan teroris untuk menyerahkan diri.
05.30 WIB: 145 tahanan teroris menyerahkan diri tanpa syarat. Masih ada 10 tahanan yang belum mau menyerahkan diri dan masih memegang senjata api.
07.10 WIB: 10 tahanan teroris akhirnya ikut menyerahkan diri.
08.00 WIB: Seluruh tahanan teroris dipindahkan dari Mako Brimob ke Lapas Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
17.15 WIB: Tahanan teroris tiba di Lapas Pasir Putih, Nusakambangan.

Korban Meninggal dalam Kerusuhan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat Anggota Polri: 1. Iptu (anumerta) Yudi Rospuji Siswanto 2. Aipda (anumerta) Denny Setiadi 3. Briptu (anumerta) Wahyu Catur Pamungkas 4. Briptu (anumerta) Syukron Fadhli 5. Brigpol (anumerta) Fandy Setyo Nugroho
Tahanan Teroris: Benny Syamsu Tresno
Barang bukti: Sekitar 36 pucuk senjata api, di antaranya senapan jenis SIG Sauer MPX, Pindad SS-1, M-16, dan Glock 17.

***

Kamis, 10 Mei, pukul 01.35 WIB
Penangkapan Terduga Teroris di Tambun, Bekasi, Jawa Barat
Terduga Teroris: Randy Aziz - Meninggal Jajang Gunawan - Terluka

***

Jumat, 11 Mei, pukul 02.29 WIB
Penyerangan anggota Polri di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat
Korban: Bripka Marhum Frenje - Meninggal
Terduga penyerangan: Tendi Sumarno - Meninggal

***

Sabtu, 12 Mei, pukul 14.30 WIB
Penangkapan dua wanita yang diduga akan menyerang anggota polisi di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat: Dita Siska Millenia Siska Nur Azizah
Barang bukti: gunting yang diduga untuk menusuk anggota polisi.

***

Minggu, 13 Mei, pukul 01.00 WIB
Penangkapan empat terduga teroris di Cianjur, Jawa Barat
Batti Bagus Nugraha - meninggal Dwi Cahyo Nugroho - meninggal Agus Riyadi - meninggal Haji Saputra - meninggal
Barang bukti: 1 mobil Honda Brio, dua busur anak panah dan panah, tiga tas yang diduga berisi bahan peledak, 2 senjata api jenis revolver dengan 8 butir peluru.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com