Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Siapa Mainkan Teror Bom Surabaya

Kerusuhan Mako Brimob dinilai menjadi pemicu serangkaian teror bom Surabaya-Sidoarjo. Sel-sel teroris Jawa Timur paling banyak merespons seruan jihad. Polisi menuding Jamaah Ansharut Daulah berada di belakang aksi teror Surabaya. Namun, melihat jenis bom dan sasaran teror, dugaan pelaku mengarah ke Jamaah Ansharut Khilafah. Baru kali ini terjadi, satu keluarga menjadi eksekutor teror.

Awal Februari 2018, Abu Ridwan (bukan nama sebenarnya), mantan narapidana teroris, berencana mengunjungi seorang kenalan lama. Sebut saja, Fulan. Ia adalah mantan napi teroris yang pada 2016 keluar dari Lapas Nusakambangan. Tapi, rencana kunjungan itu batal atas saran kurir yang diutus Abu Ridwan. Kurir itu bilang, sebaiknya Fulan tidak ditemui dulu karena sedang menyusun aksi teror berskala besar, ''Kurir saya bilang, Fulan akan 'main' antara bulan Maret hingga April 2018,'' Abu Ridwan mengisahkan.

Hingga lewat bulan April, tidak ada peristiwa teror. Abu Ridwan mulai menduga-duga dan menghubungkan dengan kemungkinan Fulan akan menjalankan aksinya pada perhelatan besar Asian Games yang diselenggarakan pertengahan Agustus hingga awal September 2018.

Pada Selasa, 8 Mei, terjadi kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Kerusuhan yang melibatkan lebih dari 150 napi teroris menjadi drama yang menyita perhatian nasional. Para napi teroris menguasai sejumlah area rutan dan menyandera petugas dalam peristiwa yang berlangsung sekitar 36 jam itu. Sejumlah tahanan membunuh lima anggota polisi dan menyandera satu polisi lainnya. Di pihak tahanan, satu korban tewas tertembak.

Dalam kurun waktu 36 jam itu, Abu Ridwan mendapati banyak materi broadcast yang mengetengahkan aksi-aksi pemberontakan napi teroris di Rutan Mako Brimob itu. Materi itu terpantau di sejumlah platform media sosial, yakni Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya hingga ke grup-grup WhatssApp. ''Kesimpulan saya, kerusuhan itu adalah ulah napi teroris Jamaah Ansharut Daulah,'' ujarnya. Dari lalu lintas pesan dalam beberapa grup WA yang berisi para mantan napiter, radikalis dan fundamentalis, Abu Ridwan mendapat informasi tentang sejumlah pergerakan para simpatisan napiter dari berbagai penjuru daerah dengan sasaran Mako Brimob. Pergerakan mereka dipicu juga oleh seruan-seruan jihad yang disebarkan oleh para tahanan melalui media sosial dan layanan perpesanan dalam jaringan.

Pada Rabu pagi, 9 Mei, seruan jihad semakin gencar. Abu Ridwan memperlihatkan beberapa grup WA yang diikutinya yang menyebarkan seruan sejenis. Yaitu, ajakan untuk melawan pihak-pihak yang mereka kafirkan dan thogut-kan. Juga seruan untuk merusak konsentrasi aparat keamanan dengan melakukan amaliyah (istilah untuk menyebut serangan teror) di berbagai wilayah.

''Buat ikhwan2 di luar tolong rusak konsentrasi thoghut agar mereka tak berkumpul di mako, diharapkan membuat amaliyah2 di berbagai tempat agar konsentrasi thoghut pada buyar.'' Begitu bunyi pesan dari seorang napiter pemberontak yang online pada pagi itu.''Saatnya membangunkan sel-sel tidur,'' kata seorang anggota grup menanggapi.

Dari situ, Abu Ridwan menarik garis merah peristiwa kerusuhan di Mako Brimob dengan serangkaian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, pada 13-14 Mei lalu. Ia teringat kembali pada rencana aksi teror Fulan. Abu Ridwan menduga, pecahnya kerusuhan di Rutan Mako Brimob yang disertai seruan jihad, membuat Fulan mengaborsi rencananya 'bermain' di Asian Games dengan beraksi di Surabaya. ''Daripada keburu ketahuan Densus dan rencana gagal, buat mereka mending 'main' di Surabaya,'' katanya kepada GATRA.
Dalam kesempatan terpisah, pengamat terorisme, Al Chaidar menyebut bahwa seruan jihad dari Mako Brimob disambut oleh sel-sel teroris Jawa Barat (57 orang), Jawa Tengah (71 orang), Bima-Nusa Tenggara Barat (13 orang) dan Jawa Timur (106 orang). ''Yang merespon paling besar adalah sel-sel dari Jawa Timur,'' ujarnya.

Teror Bom Surabaya-Sidoarjo Ada tiga peristiwa teror bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo. Pertama adalah serangan bom bunuh diri di tiga gereja (Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Utara, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno) di Surabaya pada Minggu pagi, 13 Mei, pada waktu hampir bersamaan.

Pelaku pengeboman ini adalah satu keluarga. Suami, istri dan empat anak, semua tewas. Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, sang ayah, Dita Oepriarto adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Pada hari yang sama, malamnya, warga Rusun Wonocolo Taman, Sidoarjo, dikejutkan oleh bunyi ledakan bom. Sumber ledakan berada di lantai 5 blok B kamar nomor 2, yang dihuni oleh keluarga Anton Ferdiantono, 47 tahun, Puspitasari, 47 tahun, bersama 4 anaknya. Anton, Puspitasari dan anak sulungnya tewas, tiga anak mereka yang lain luka-luka dan selamat.

Esok harinya, Senin pagi pukul 08.50 giliran Markas Polrestabes Surabaya di Jalan Sikatan, Surabaya, yang menjadi sasaran serangan bom. Lagi-lagi, pelaku serangan adalah satu keluarga utuh, yakni pasangan suami istri Tri Murtiono - Emawati beserta tiga anaknya. Mereka menggunakan dua sepeda motor, dan meledakkan bom yang dibawanya di pintu masuk areal parkir Markas Polrestabes Surabaya.

Data dari Polda Jatim, hingga Selasa pagi, 15 Mei, jumlah korban tewas akibat rangkaian ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo itu berjumlah 25 orang. Tiga belas di antaranya adalah pelaku bom bunuh diri dan ledakan di rusunawa.

Terkait dengan teror itu, Tim Densus 88 juga menggerebek sejumlah terduga teroris di Jawa Timur. Dari penggerebekan itu, mereka berhasil membekuk dan melumpuhkan 13 orang terduga teroris, 4 di antaranya tewas.

Tito mengatakan, tiga keluarga pelaku teror bom itu memiliki jaringan yang sama dan saling menjalin komunikasi. Ia menyebut mereka terhubung lewat jaringan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan JAD, pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia. Anton Ferdiantono pernah bersama-sama Dita Oepriarto mengujungi napi teroris di Lapas Tulungagung, ''Mereka bersahabat di JAD,'' ujar Kapolri.

Menurut Tito, motif pelaku didorong faktor tekanan internasional dan dalam negeri. Motif di tingkat internasional, ISIS semakin terpojok setelah mendapat berbagai tekanan dari berbagai pihak, sehingga pimpinan mereka memerintahkan anggotanya untuk melakukan serangan pembalasan. "Ada instruksi dari ISIS, sentral. Mereka terdesak dan mereka memerintahkan sel-sel di seluruh dunia untuk bergerak,'' katanya.

Dalam catatan kepolisian, ada sekitar 1.100 orang Indonesia yang berangkat ke Suriah. Sekitar 500 orang masih bertahan, 103 orang tewas, dan 500-an orang kembali ke Indonesia lewat deportasi ataupun jalur sendiri, "Ini menjadi tantangan kita karena mindset mereka masih ideologi ISIS," kata Tito.

Sementara motif dalam negeri, karena pimpinan JAD, Aman Abdurrahman ditangkap. Upaya pembalasan kelompok JAD atas penangkapan Aman tampak pada aksi teror di Mako Brimob.

Kapolda Jatim, Irjen Machfud Arifin, mengatakan bahwa kediaman Dita sering dijadikan sebagai tempat pengajian rutin bagi kedua keluarga pelaku peledakan bom di Mapolretabes Surabaya dan Rusunawa Sidoarjo. "Di sana mereka juga menonton film jihad, belajar membuat bom. Ada gurunya juga. Ini yang sedang kita cari. Ada dua orang yang menjadi guru mereka," katanya.

Berdasarkan informasi yang beredar, salah satu dari guru yang dimaksud adalah Khalid Abubakar.

Jaringan Para Pendukung ISIS Abu Ridwan mengenal Khalid Abubakar. Lewat profil Khalid dan beberapa alasan lain, ia meragukan kesimpulan Kapolri yang menyebut JAD sebagai dalang teror bom Surabaya-Sidoarjo. ''Ustaz Khalid tidak disukai orang-orang JAD,'' ujarnya.

Abu Ridwan memaparkan versinya yang membagi pendukung ISIS di Indonesia sekurangnya dalam empat kelompok. Yaitu JAD, Jamaah Ansharul Khilafah (JAK), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan kelompk Bahrun Naim.

JAD dengan Aman Abdurrahman sebagai ''amir'' kerap bersitegang dengan JAK yang dipimpin Abu Husna atau Abdurrahim. JAD menganggap Abu Husna telah memecah belah pendukung ISIS dengan membuat JAK. Sementara JAK menganggap JAD seringkali bertindak liar. JAD lebih banyak diisi para teroris newbie, termasuk hasil rekrutan dari media sosial. Sementara JAK banyak diisi sayap militer mantan Jamaah Islamiyah yang berpengalaman, ''JAK sering disebut ISIS rasa Al-Qaeda,'' kata Abu Ridwan.

Khalid, kata Abu Ridwan, pada 2016 pernah sembilan bulan berada di Turki dalam usahanya masuk ke Suriah. Namun hingga akhirnya dideportasi ke Indonesia pada Januari 2017, ia tidak pernah berhasil menginjakkan kaki di Suriah. Selama di Turki, warna mu'tazilah dalam pemikiran Khalid membuatnya tidak disukai oleh orang-orang JAD. Karena itu, bagi Abu Ridwan, pendekatan ideologi Khalid, lebih bercorak JAK.

Namun, menurut Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, Khalid tidak termasuk dalam daftar 200-an orang Indonesia yang kembali dari Suriah dan Turki yang terdeteksi oleh lembaganya. ''Masih kita lacak,''kata Irfan.

Selain faktor Khalid, model serangan bom (terutama di tiga gereja di Surabaya), daya ledak bom dan target serangan pada teror Surabaya-Sidoarjo, bagi Abu Ridwan, lebih mengingatkan pada peristiwa teror Bom Natal tahun 2000 yang tersebar hampir serempak melanda lebih dari 20 gereja di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan para anggota Jamaah Islamiyah.

Meskipun demikian, Abu Ridwan tidak yakin Khalid berada dalam posisi memberi perintah untuk mengeksekusi teror bom di Surabaya itu. Sebab, posisinya lebih sebagai simpul penyebaran ideologi. Yang berada pada posisi memberi perintah, menurut takaran Abu Ridwan, adalah Abu Husna selaku pimpinan JAK.

Meski tidak akur dan memiliki perbedaan dalam pemikiran, pola gerakan dan karakter teror, JAD dan JAK punya kesamaan yang membuat ancaman teror yang mereka lakukan begtu kuat. Yaitu sama-sama berafiliasi dengan ISIS. Menyerang polisi merupakan salah satu garis teror yang dtetapkan ISIS. Itulah sebabnya, meski JAK mewarisi platform JI, mereka juga ikut menjadikan polisi sebagai target teror.

Keluarga sebagai Eksekutor Teror Sabtu petang, 12 Mei 2018, seusai salat magrib di musala Al Ikhlas, perumahan Wisma Indah, Jalan Wonorejo Asri XI Kelurahan Wonorejo, Rungkut, Surabaya, anak kedua Dita Oepriarto, Firman Halim, 16 tahun, menangis tersedu-sedu di samping kakaknya, Yusuf Fadhil, 18 tahun. ''Lalu, oleh ayahnya dirangkul dan dicium,'' kata Ketua RT setempat, Khorihan.

Sementara menurut keterangan Kunjung, 45 tahun, tetangga Dita, Ahad 13 Mei, sekitar pukul 1 dini hari, beberapa jam sebelum bom di tiga gereja meledak, rumah Dita kedatangan beberapa tamu. ''Yang perempuan terlihat bercadar,'' ujarnya.

Dita dan keluarganya, di mata para tetangga, bukan sosok yang memperlihatkan tanda-tanda keradikalan. Karena itu mereka kaget ketika mendengar informasi bahwa Dita sekeluarga adalah pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya.

Yang lebih mengagetkan, dari hasil identifikasi polisi eksekutor teror bom di Surabaya dan Sidoarjo melibatkan keluarga batih. ''Model serangan (dengan semua anggota keluarga sebagai eksekutor) ini belum pernah terjadi sebelumnya,'' kata pengamat terorisme, Sidney Jones dalam analisis tertulisnya.

Pada puncak pengaruh Jamaah Islamiyah, tepatnya sebelum peristiwa Bom Bali pertama, eksekusi menjadi urusan laki-laki dewasa. Tidak pernah wanita mengambil atau diberi peran sebagai kombatan-bahkan dalam konflik komunal seperti di Poso dan Ambon. Sementara praktik melibatkan anak-anak sebagai kombatan hanya terjadi saat si anak berstatus yatim piatu. ''ISIS berhasil mengubah konsep jihad menjadi urusan keluarga,'' Sidney menjelaskan.

Peneliti senior dari Division for Applied Sosial Psychology Research (DASPR) Universitas Indonesia, Any Rufaedah, menyebut sejumlah alasan yang mendorong keluarga-keluarga dari Indonesia pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Sudut pandang tersebut didapatnya dalam proses pendampingan terhadap sebuah keluarga besar, yang terdiri dari 26 anggota keluarga, termasuk anak-anak, yang pada Agustus 2015 meninggalkan Indonesia menuju Suriah.

Dari jumlah itu 19 orang berhasil masuk Suriah, tujuh lainnya tertahan di Turki dan dideportasi ke Indonesia. Belakangan, yang 19 orang kembali ke Indonesia pada Oktober 2017 setelah mendapati kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh ISIS. Beberapa dari mereka mengaku pergi bersama keluarga karena pengaruh doktrin tentang negeri Syam yang dihubungkan dengan kehidupan lebih baik dan jihad dengan tujuan masuk surga bersama-sama dengan orang-orang yang dicintai.

''Motif lainnya adalah faktor finansial. ISIS berjanji akan melunasi utang-utang mereka dan mengganti biaya perjalanan ke Suriah,'' kata Any.

Lalu bagaimana dengan keluarga pendukung ISIS yang tidak mampu dan tidak bisa berangkat ke Suriah? ''Mereka melakukan jihad di Tanah Air,'' kata peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Nava Nuraniyah. Dan dengan doktrin yang sama dengan yang diterima mereka yang pergi ke Suriah, istri dan anak-anak dilibatkan dalam jihad.

Dalam pernyataan sikap bersama di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad lalu, para tokoh lintas agama menegaskan bahwa model jihad yang dilakukan eksekutor bom di Surabaya telah merusak dan menodai doktrin amar maruf nahi munkar yang menjadi makna jihad sesungguhnya. ''Negara tidak boleh kalah,'' kata Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, yang menjadi tuan rumah acara tersebut.

Ada enam butir pernyataan yang dibacakan secara bergiliran oleh perwakilan dari umat Buddha Indonesia (Walubi), Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Muslimat NU dan PBNU itu. Di antaranya, mengutuk keras tindakan terorisme atas latar belakang apa pun dan mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk bersatu menahan diri, tidak terporovokasi, serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan.

Bambang Sulistiyo, Aditya Kirana, Hidayat Adhingrat P., Abdul Hady JM, dan M. Nur Cholish Zaein (Surabaya)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.29 / Tahun XXIV / 17 - 22 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ikon
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Lingkungan
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com