Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Amunisi Bank Sentral Amankan Rupiah

BI mengklaim memiliki banyak amunisi untuk menghadapi gejolak rupiah. Cadangan devisa masih cukup dan belanja pemerintah belum terganggu. Bagaimana jika rupiah terus terdepresiasi?

Rupiah perlahan-lahan mulai mendekati angka Rp14.000 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin lalu, sudah menembus angka Rp13.913 per dolar. Padahal pada Jumat pekan sebelumnya, banyak yang sempat lega lantaran rupiah menguat di angka Rp13.893.

Tentu, dunia usaha dirundung kecemasan kalau rupiah terus tergerus dan menembus angka krisis Rp 14.000, apalagi jatuh hingga Rp 15.000 per dolar. Bayangan krisis moneter 20 tahun silam, yang juga berawal pada bulan yang sama pun membayang. Pada waktu itu, rupiah terlempar ke angka Rp 15.000 per dolar.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tentu tidak ingin hal itu terulang. Untuk mencegahnya, BI berupaya melakukan berbagai cara. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah melakukan intervensi untuk menghambat 'keganasan' dolar. Cadangan devisa yang selama ini terhimpun dipakai sebagian untuk menahan gempuran dolar.

Menurut data yang disodorkan BI, memang terjadi penurunan angka cadangan devisa negara. Per Maret lalu, cadangan devisanya US$126 milyar. Angka tersebut merupakan angka terendah sejak November tahun silam. Pada bulan itu, cadangan devisa berada pada posisi US$125,97 milyar. Sebulan berselang melonjak menjadi US$130,20 milyar. Namun sejak saat itu, angkanya terus turun seiring dengan penurunan nilai rupiah terhadap dolar (lihat: infografis). Tak hanya rupiah yang tergoyang. Saham-saham yang berdagang di Bursa Efek Indonesia juga terpengaruh. Itu terlihat dari angka indeks harga saham gabungan (IHSG). Pada pekan lalu, perdagangan saham merosot hingga ke titik 5.918 dari semula sekitar 6.500. Beruntung dalam dua hari terakhir IHSG membaik ke posisi 5.994.

Toh, otoritas keuangan mengatakan tak perlu khawatir soal berkurangnya cadangan devisa. Seusai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan di kompleks perkantoran BI, Senin lampau, Gubernur BI, Agus Martowardoyo, mengatakan bahwa volitalitas nilai tukar memang bisa memengaruhi stabilitas sistem keuangan. Selain itu, hal tersebut juga bisa berdampak pada target inflasi yang dicanangkan pemerintah.

Tapi, BI sudah menyiapkan beberapa amunisi. Andaikata rupiah terus terdepresiasi, BI berencana melakukan penyesuaian BI 7 day repo rate. ''Tapi, ini tentu akan kita bahas secara baik dan tergantung datanya,'' ujar Agus. Langkah tersebut merupakan salah satu dari empat kebijakan BI dalam menghadapi gejolak perekonomian. Selain itu, BI juga akan melakukan lelang swap, yang berupa lelang operasi moneter valuta asing. Lelang diperlukan untuk menjaga likuiditas rupiah.

Pada 19 April lalu, BI menerapkan rezim suku bunga rendah yaitu sebesar 4,25% per tahun yang sudah dipertahankan sejak September tahun lalu. Sebelum itu, bunga BI 7 day repo rate ini pada angka 4.50% dan 4,75%, bahkan pada September 2016 di atas 5%.

Semula BI menurunkan angka tersebut untuk merangsang perbankan agar mau menurunkan bunga kredit pinjaman, termasuk bunga kredit kepemilikan rumah. Dengan begitu, minat konsumen membeli rumah meningkat.

Bersama dengan pemerintah, BI berusaha menjaga transaksi berjalan. Menurut Agus, transaksi berjalan pemerintah masih pada kisaran 2,2% dari produk domestik bruto. ''Selama masih di bawah 3%, kita meyakini itu dalam keadaan yang sehat,'' kata Agus. Selama 2 tahun, pada 2016 dan 2017, persentase transaksi berjalan 1,7-1,8%.

Karena itu, BI yakin, perekonomian Indonesia masih aman. Agus menyebutkan beberapa indikatornya. Pertama, inflasi tidak terlalu besar dan berada pada kisaran target yaitu 3,5 plus minus 1%. Kedua, defisit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman. Dan yang terakhir, kepercayaan asing masih kuat. Ini terlihat dari angka investasi. ''Sebetulnya ekonomi Indonesia dalam kondisi semakin baik,'' ujarnya dalam jumpa pers yang juga dihadiri wartawan GATRA, Annisa Setya Hutami.

Agus juga mengimbau masyarakat tidak hanya melihat nilai rupiah, tetapi juga persentase yang berpengaruh. Ia melihat, transaksi dengan menggunakan rupiah menguat. Ada kenaikan 0,22%. Itu terlihat dari transaksi dengan menggunakan valuta asing yang tinggal US$1,6 milyar. Padahal, pada 2014, transaksinya masih sebesar US$7-8 milyar. Menurutnya, masyarakat telah patuh untuk membayar dengan rupiah.

Sejak 2015, BI mengeluarkan regulasi, salah satunya, pembeli dan penjual yang melakukan transaksi di dalam negeri harus menggunakan rupiah. ''Kita sudah mempunyai perusahaan-perusahaan yang lebih sehat dan tidak berisiko terhadap nilai tukar. Transaksi dalam negeri menggunakan rupiah,'' kata Agus.

Pernyataan Agus juga diperkuat oleh hal yang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kepada pers. Cadangan devisa US$126 milyar dinilai cukup untuk menutup 7,9 bulan impor dan 7,7 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah. ''Angka ini jauh di atas benchmark (standar) internasional yang dianggap aman, yaitu 3 bulan,'' ujar Ani, panggilan akrabnya.

Pemerintah akan terus menjaga anggaran pendapatan dan nelanja negara (APBN), agar defisitnya tetap berada pada kisaran 2,19%, sesuai dengan yang ada di Undang-undang APBN. Ia juga mengatakan, penerimaan pajak, khususnya pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan badan. ''Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan penerimaan pemerintah,'' katanya.

Bagaimana dengan belanja pemerintah pada APBN tahun ini sebesar Rp2.200 trilyun? Ani masih yakin belanja pemerintah tidak akan terganggu. Ini karena setiap kenaikan belanja pemerintah bisa meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas dan infrastruktur, yang pada gilirannya akan meningkatkan efisiensi.

Ani juga menegaskan, pemerintah sudah mengeluarkan sukuk global sebesar US$1 milyar dan 1 milyar euro sebelum terjadi turbulensi rupiah. ''Tingkat harganya yang luar biasa baik,'' katanya. Ia menganggap hal itu sebagai amunisi juga. Obligasi pun sudah disiapkan untuk menghadapi gejolak rupiah.

Menanggapi langkah pemerintah, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik, Universitas Gadjah Mada, A. Tony Prasetiantono, mengatakan bahwa BI hanya rajin melakukan intervensi untuk memasok valuta asing sehingga menggerus cadangan devisa.

Tony menyarankan BI agar konservatif menggunakan cadangan devisa yang sudah dipupuk dengan susah payah. Sebaiknya, BI menggunakan suku bunga. ''Selama ini suku bunga belum dimanfaatkan. Padahal, itu instrumen yang paling efektif,'' ujarnya. Ia menilai, sudah waktunya suku bunga acuan dinaikkan. Sebab, Pemerintah Amerika Serikat saja sudah meninggalkan rezim tersebut.

Berbeda dari anjuran Tony, peneliti pada Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, justru menilai opsi menaikkan suku bunga acuan bukan solusi jitu. Opsi itu, selain menaiknya yield rupiah, juga akan membawa dampak bakal naiknya tingkat suku bunga kredit perbankan. ''Kalau tingkat suku bunga ikut naik, pelaku usaha akan ikut tertekan,'' katanya saat dihubungi GATRA.

Aries Kelana, Fitri Kumalasari, dan Putri Kartika Utami

***

Empat Kebijakan BI
Pertama, berada di pasar untuk memastikan ketersediaan likuiditas dalam jumlah yang memadai, baik valas maupun rupiah, serta berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk mendorong lindung nilai.
Kedua, memantau perkembangan perekenomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
Ketiga, memperkuat second line of defense bersama dengan institusi eksternal yang lain.
Keempat, apabila tekanan terhadap nilai tukar berlanjut serta berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian, BI tidak menutup ruang penyesuaian suku bunga BI 7 days repo rate.
Berbagai kebijakan itu akan dilakukan secara berhati-hati dan terukur, serta mengacu pada perkembangan data terkini dan perkiraan ke depan.
Sumber: Agus Martowardojo, Gubernur BI, saat jumpa pers 30 April 2018
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com